
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca! Selamat menikmati!...
...-----...
Membawa Katryn pergi dari rumah ini tanpa mengatakan sepatah kata pun semakin membakar kemarahan Katryn. Tiba di bandara, Katryn memahami apa keinginan Allard, membawanya pergi jauh.
“Mau kemana?” tanyanya, menolak turun.
“Turun!”titah Allard.
“Aku ingin bersama keluargaku lebih lama!”protesnya.
Sekali tarikan, Katryn turun karena paksaan Allard. Lalu, menariknya hingga ke pesawat yang telah siap take off.
“Turuti kemauanku, jangan membantah!” ucap Allard memasang seat belt ke tubuh Katryn.
Membuang pandangannya, Katryn lebih memilih memandang pemandangan luar. Katryn berharap Allard meminta maaf atas apa yang ia lakukan tadi malam. Pada kenyataan, pria itu diam seolah tak merasa bersalah.
“Selamat siang, Tuan. Apa ada yang Anda butuhkan?”
Seseorang pramugari menghampiri, Katryn memandang wanita itu seksama. Pakaian seksi, mata wanita itu melirik penuh ketertarikan pada pria di sampingnya. Wanita itu lebih cocok berada di club melayani pria hidung belang menurut Katryn.
“Sampanye!”pintanya bernada tegas.
“Ada lagi, Tuan?”tanya sang pramugari.
Kenapa suara itu terdengar mendesah? Batin Katryn.
“Kau ingin sesuatu?” tanya Allard memperhatikan Katryn.
“Tidak!” ketusnya.
Wanita itu pergi setelah mendapat perintah Allard. Sejak wanita itu kembali menghidangkan minuman untuk Allard, tak ada yang membuka suara. Pria itu terlihat fokus mengerjakan pekerjaannya di dalam notebooknya.
“Karenamu pekerjaanku berantakan!” Allard menyalahkannya, Katryn tentu tidak terima. Namun, hanya diam tak menjawab.
“Aku sarankan, untuk mengontrol emosi nantinya!” ucap Allard lagi yang berhasil menarik Katryn untuk berbicara.
“Maksudmu?”
“Lihat saja nanti,”jawab Allard.
Malas mendengar suara pria itu, Katryn mengatur kursinya agar ia dapat tidur nyaman.
Tiga jam berlalu, co pilot memberitahukan mereka akan mendarat. Allard membangunkan Katryn, gadisnya hanya berdehem. Beberapa menit kemudian, pesawat telah mendarat sempurna di bandara Leonardo da Vinci.
“Dimana ini?” tanya Katryn.
“Itali.”
Ya, mereka berada di Itali saat ini, negara kelahiran Allard. Tanpa banyak bertanya, Katryn mengikuti Allard menuruni tangga pesawat.
“Berjalan cepat, kau bukan siput!”cemooh Allard.
“Tidak usah banyak komentar!” balas Katryn ketus.
Menaiki mobil, Katryn duduk agak jauh. Allard membiarkan saja, dan ketika hampir sampai di tempat tujuan, Allard baru mengatakan tujuan mereka.
“Kau akan bertemu keluargaku,”beritahu Allard.
__ADS_1
Katryn tidak tahu harus menjawab apa, kemarahannya masih ada terhadap kelakuan Allard.
“Lupakan yang telah terjadi, aku tidak bermaksud demikian!” ucap Allard begitu entengnya.
“Kau juga melakukannya dengan wanita lain, kan?”
“Tidak pernah sejauh apa yang aku lakukan padamu,” balas Allard.
“One night stand?” Allard mengangguk jujur.
Katryn tidak paham kata ‘sejauh’ yang Allard maksud. Bukankah one night stand adalah perbuatan yang sudah sangat jauh.
“Menyentuh inti wanita tidak pernah aku lakukan! Kau paham? Atau ingin praktik langsung?” ucap Allard dengan seringai mengesalkan bagi Katryn.
"Tidak, Tuan Jerk!" balas Katryn menekan setiap katanya, Allard terkekeh.
"Aku suka caramu mengatakannya, menggairahkan."
"Tidak salah aku mengataimu!"
"Kelihatan sekali kau cemburu," ucap Allard menatap Katryn.
"Cemburu? Maksudmu aku cemburu kau sudah mencicipi banyak wanita?" sungut Katryn.
"Tepat sekali!"
"Yang benar saja!" Reaksi Katryn membuang muka, memperjelas semuanya.
Mereka sampai di sebuah mansion mewah bergaya klasik. Setiba di muka pintu, seseorang pelayan menyambut mereka. Katryn sama sekali tidak menikmati bangunan klasik di mansion ini, moodnya buruk.
“Selamat datang tuan dan nyonya,” sambutnya.
Di sebuah ruang keluarga, terdapat tiga orang yang sepertinya adalah keluarga Allard. Wanita cantik seusia ibunya menyambut dan memeluknya hangat. Lalu, wanita yang Katryn ketahui bernama Caroline itu memperkenalkan Filbert sebagai ayah dari Allard, dan terakhir Evelyn, adik satu-satunya Allard.
“Salam kenal, Om dan Evelyn!” ucap Katryn ramah tersenyum.
“Salam kenal kembali,” balas Evelyn, sedangkan Filbert hanya mengangguk.
“Mari, silakan duduk,”persila Caroline.
“Ah... terima kasih, Aunty!”
"Tidak perlu mendesah, Amour. Kau sedang tidak berada di ranjangku, " ujar Allard tiba-tiba.
Kemudian, pria itu menduduki sofa tanpa bersusah payah memperkenalkan Katryn kepada keluarganya. Katryn sendiri malu, apa pria ini tidak punya rasa segan berbicara vulgar di hadapan sang keluarga?
“Bagaimana kabar keluargamu, Nak?” tanya Caroline tak mempedulikan perkataan putranya.
“Baik, Tante.”
“Sudah lama sekali aku tidak bertemu keluargamu,” ucap Caroline.
Katryn menatap Caroline penasaran, apa wanita ini mengenal keluarganya?
“Evelyn, bawa Katryn bersamamu!” perintah Allard. Mengerti akan suasana, Evelyn mengajak Katryn.
“Ayo!” Sesaat, Katryn memandang Allard, setelahnya dia mengikuti Evelyn.
Evelyn membawanya ke sebuah ruangan, Katryn tidak paham ruangan apa ini, hanya ada lcd transparan menampilkan gambar-gambar abstrak yang berubah-ubah.
“Aku suka penampilanmu yang simpel,” puji Evelyn.
__ADS_1
“Terima kasih.”
“Santai saja, tidak perlu kaku. Aku tidak akan memakanmu, aku bukan kanibal!” canda Evelyn tertawa di akhir kalimatnya. Katryn tertawa pelan.
“Astaga, aku melupakan sesuatu!” ucap Evelyn menepuk jidatnya.
“Apa?” Evelyn merongoh kantong celana jeans yang ia kenakan, mengeluarkan kalung berliontin Teratai.
“Untukmu,” ucapnya seraya memberikan kalung tersebut.
“Untukku?” Katryn memastikan, Evelyn mengangguk cepat.
“Mommy mengatakan Allard akan membawamu kemari. Aku jadi berpikir untuk memberimu kalung sebagai tanda pertemanan kita,” ucap Evelyn semangat.
Oh, Katryn tak memprediksi ini, ucapan dan perlakuan Evelyn menyentuh hatinya. Apalagi gadis ini memberi kalung berliontin Teratai kesukaannya.
“Terima kasih banyak, Evelyn. Lain kali aku akan membalasnya sebagai tanda aku menerima pertemanan kita,” balas Katryn tulus.
“Aku tidak sabar menunggu!” Mereka tertawa bersama, Katryn beranggapan Evelyn adalah seorang yang seru untuk dijadikan teman.
“Kita pergi sekarang!” ucap seorang dari arah pintu, siapa lagi jika bukan Allard.
“Kemana?”tanya Katryn kebingungan.
“Kau tidak perlu tahu!”
Menghela nafas kasar, Katryn mengalah. Lagi, Allard menarik tangannya melewati Evelyn. Ketika sampai di ruang yang terdapat orang tuanya, pria itu tetap menariknya tanpa mengucapkan kata pamit.
“Apa kau gila? Kau melewati orang tuamu tanpa pamit, kau tidak sopan!” ucap Katryn menyentak genggaman Allard.
“Diam dengan sendiri, atau diam dengan caraku?!” ancam Allard, ada kekesalan di mata itu.
“Mati saja kau!” makinya, dan saat itu juga Allard mencium bibirnya ganas.
“Berbicara lagi, aku akan melakukannya lebih kasar!” ancam Allard lagi, Katryn menggeleng, bibirnya sakit dan kaku.
“Masuk!” titahnya membuka pintu mobil, Katryn menuruti.
Allard menyusul masuk setelahnya, tak ada yang bersuara, hanya suara kendaraan yang berlalu lalang. Merasa diperhatikan, Katryn menoleh pada Allard yang memperhatikan lehernya. Refleks, Katryn memegang kalung pemberian Evelyn. Mata mereka bertemu beberapa detik, Allard lah lebih dulu memutuskannya.
Mobil berhenti di halaman gereja, detik itu Katryn panik. Tidak ada kesempatan Katryn kabur, Allard menariknya memasuki gereja.
“Untuk apa kemari?” Pertanyaan bodoh sebenarnya.
“Kau tahu jawabannya, Amour.”
Katryn memberontak, ingin menyentak tetapi Allard sangat kuat menahan pergelangan tangannya. Jengah dengan sikap Katryn, Allard mengendongnya bagaikan karung beras. Sesampai di depan pendeta, Allard menurunkannya dan memeluk pinggang Katryn erat agar tak bisa lari.
“Mulai!” perintahnya pada sang pendeta.
“Ba—baik, Tuan.”
Pendeta itu meminta untuk mereka saling berhadapan dan saling menggenggam. Proses ritual pernikahan dimulai, Allard mengucapkan janji suci di hadapan pendeta dan beberapa bawahannya termasuk Jordan.
“Aku, Allard Edbert Helbert mengambil engkau Katryna Helena Vinson sebagai istriku untuk saling menjaga dan saling memiliki dari detik ini dan untuk selama-lamanya. Baik itu saat senang maupun sedih, saat sehat maupun sakit, saat kelimpahan maupun kekurangan. Aku berjanji, akan selalu mengasihi dan menghargai engkau sampai maut memisahkan kita. Kau akan menjadi milikku dan aku akan menjadi milikmu,” ucap Allard, pertama kalinya dia
berbicara amat panjang.
Gliran Katryn yang mengucapkan janji suci, tetapi Katryn hanya diam terpaku. Jujur, dia tersentuh dengan kalimat pria itu. Allard tak sabar, dia menekan telapan tangan Katryn, mengancamnya lewat tatapan tajam.
“Miss Helbert,” tegur pendeta. Katryn menghela nafas tipis, menatap mata tajam itu dan mengucapkan janji suci.
__ADS_1