
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca! ...
...-----...
Katryn tersentak bangun di pelukkan Allard. Nafasnya terengah-engah, ia lelah mimpi itu kembali datang.
“Hay.” Allard mengelus punggung Katryn.
“Mimpi itu lagi,” lirih Katryn.
“Ingin mengunjungi Katlyn?” Katryn menggeleng cepat.
“Katlyna memintamu mengunjunginya, Amour.”
“Tidak!”
“Berikan satu alasan, mengapa kau tidak mau?” Allard berulang kali menyarankan agar Katryn mengunjungi tempat peristirahatan Katrlyna, selalu ditolak.
“Melihat tempat peristirahatanya, bayangan itu menari-nari dipikiranku,” ucap Katryn.
“Aku tak bisa menolongnya. Yang kulakukan hanya diam melihat kembaranku tergeletak tidak berdaya,” sambungnya bercerita.
“Katlyna mati dalam keadaan hamil, aku tidak tahu itu. Aku baru sadar sekarang, dia tertutup padaku, dan ternyata dia menyimpan kesakitan karena Earnest.”
“Kakak macam apa aku? Aku tidak mengetahui apa yang terjadi pada adikku.”
“Masa lalu, akan terus menggenggam tanganmu. Kau harus melepaskan genggaman itu atau genggaman itu semakin menggerogotimu,” ucap Allard lembut menatap atap.
“Bagaimana caranya?”
“Maafkan semua yang terjadi. Terutama, maafkan dirimu.” Allard menatap sang istri, mencium sudut bibirnya.
“Katakan pada dirimu dengan ketulusan, aku memaafkan diriku.” Katryn mengikuti intruksi Allard.
“Aku tidak bisa!”
“Pejamkan matamu!” pinta Allard dan Katryn mengikuti.
“Tenangkan pikiranmu. Buang semua rasa bersalah itu, karna kau tidak bersalah sama sekali!”
“Katakan pada dirimu. Katlyna sudah tenang di alam sana dan aku memaafkan diriku.” Katryn mengangguk.
Tak lama Katryn membuka matanya dan merasa hatinya lebih lega dari sebelumnya. Allard tersenyum, melihat senyum sedih di wajah Katryn.
“Tidak apa. Tidak sepenuhnya kau bisa memaafkan dirimu,” ucap Allard lembut.
“Terima kasih, My Husband!” ucap Katryn tersenyum tulus.
“Aku merindukan istriku,” balas Allard.
“Aku disini.”
“Aku merindukan dirimu yang sesungguhnya. Terus tersenyum seperti ini, aku menyukai senyum ini,” ucap Allard mengelus bibir Katryn lembut.
__ADS_1
“Apa menurutmu aku menjadi orang lain?” tanya Katryn, Allard mengangguk jujur.
“Katryn-ku tidak pernah tersenyum aneh.”
“Maksudmu?”
“Senyum manismu menyiratkan keterpaksaan.”
“Aku ... merasa menjadi orang lain, aku tidak nyaman dengan itu,” ucap Katryn.
“I know it, My Bunglon!”
“Aku lebih suka kau memanggilku amour,” ujar Katryn dan terkekeh.
Ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Allard, matanya mengantuk mendapat elusan kecil di pipinya.
“Allard, ayo, tidur.”
“Tidurlah.”
“Kembalilah menjadi Katryn-ku yang dulu.” Katryn masih mendengar ucapan Allard walau sayup.
Allard melepaskan pelukannya setelah Katryn terlelap. Lalu, turun dari ranjang perlahan, agar tak membangun wanitanya. Ia berjalan ke sudut ruangan yang terdapat sebuah lemari kaca berisi beragam minuman alkohol. Mengambil satu botol, ia meneguk langsung dari botol tersebut.
Kemudian, dia mendudukan tubuhnya di sofa yang bersampingan dengan ranjang. Menatap Katryn tertidur adalah sebuah kesenangan tersendiri. Allard meneguk kembali minuman tersebut, kepalanya berputar bayangan Katryn tersenyum tulus dan manis.
Allard sebenarnya suka dengan senyuman yang menghiasi wajah Katryn. Akan tetapi, senyum Katryn akhir-akhir ini lebih aneh dan paksaan. Jujur saja, dia benci senyum itu. Katryn banyak menutup diri sehingga ia susah membaca sang istri. Biasanya Katryn mudah sekali dibaca bak buku terbuka.
Sekarang, Katryn-nya berubah menjadi pribadi yang berbeda. Wanitanya lebih banyak menutup diri, seolah ia bukanlah dirinya. Bukan Allard tak menyukai sikap itu, ia menyukai semua yang ada pada diri istrinya. Allard pun mengerti, mengapa Katryn memilih menutup diri. Masalah akhir-akhir ini tiada hentinya menghampiri, seolah tidak membiarkan Katryn tenang barang sejenak.
Allard merindukan sikap Katryn yang berubah cepat bak bunglon. Sikap Katryn yang murni dari dirinya tanpa paksaan. Setengah botol Allard menghabiskan minumannya. Lalu, dia kembali membaringkan tubuhnya di samping Katryn.
Allard dan paksaannya mungkin sudah mendarah dading, bagaimana tidak? Pria itu memaksa Katryn untuk berbelanja pakaian yang diharuskan bewarna merah. Malam ini katanya ada acara perusahaan yang wajib Katryn hadiri.
“Kau maniak sekali, Allard. Di walk in closet banyak sekali pakaian bewarna merah yang belum terpakai!” ucap Katryn kesal.
“Aku menyuruhmu memilih, bukan menasehatiku!” balas Allard datar.
“Terserah!”
“Pilih!” perintah Allard.
“Tidak!”
“Kau ingin aku membeli lingerie itu, untuk wanita lain?!” Ucap Allard, menunjuk sebuah lingerie di hadapan mereka.
“Fine!” ucap Katryn, lalu pergi memilih baju.
Katryn bosan memilih, tidak ada satu baju pun yang menarik perhatiannya. Entah apa mau pria itu, di walk in closet masih banyak baju-baju yang belum dipakai, didominasi pula dengan warna merah. Dia tertarik pada sebuah lipstik yang terpajang di butik ini.
“Selena. Bantu aku memilih baju ini,” ucapnya dan berjalan mendekati lipstik tersebut.
Setelah melihat, Katryn meminta pelayan membungkusnya. Seraya menunggu Selena, Katryn duduk memijat betisnya yang terasa sakit.
“Nyonya,” panggil Selena dengan dua gaun merah di kedua tangannya.
__ADS_1
“Menurutku ini lebih bagus!” ucap Selena mengangkat dress di tangan kanannya memberi saran
“Terlalu seksi.”
“Sedikit balas dendam pada father, tidak masalah!” ucap Selena tersenyum menggoda.
“Aku jadi teringat, saat kau membalas dendam dengan cara seperti ini,” kenang Selena di mana Katryn tidak mau memakai gaun yang telah di pilih Allard. Malah dia memakai gaun yang lain yang terbuka.
“Oh, tidak. Aku tidak mau mencari masalah,” balas Katryn.
“Baiklah, kalau begitu ini cocok untukmu,” ucap Selena mengangkat tangan kirinya.
“Itu saja,” putus Katryn.
“Ada apa, Nyonya?”
“Kau tidak lihat dengan siapa Allard berbincang saat ini?” Selena mengikuti arah mata Katryn, di depan sana Allard tengah bercakap-cakap dengan Tania.
“Ini butik milik Tania,” ucap Selena pelan. Katryn memandang Selena, lalu mengangguk.
Ia melangkah keluar butik menuju sebuah toko kosmetik, ia tidak mempedulikan panggilan Allard. Selena mengikuti langkah Katryn dari belakang.
“Kau cemburu?!"
“Hanya berpikir, Allard tak pernah sedekat itu dengan wanita lain.” Selena mengangguk menyetujui.
Katryn mengelilingi toko kosmetik. Matanya jatuh pada sebuah rak-rak menyediakan lipstik. Rasanya berada disini lebih menyenangkan dari pada toko sebelah, pikirnya.
“Hanya satu?!” tanya Selena kaget, Katryn mengangguk.
“Kau tak ingin berbelanja yang lain?!”
“Tidak!”
“Baiklah, biarkan aku membayarnya. Kau tunggu disini!” ucap Selena.
Mungkin ada yang bertanya, kenapa Selena yang membayar? Karena, Allard menetapkan Selena sebagai pelayan pribadinya dan semua kebutuhan Katryn diurus oleh Selena, termasuk kartu debit atau kredit. Katryn malas memegangnya, dia tidak suka berbelanja.
“Ayo!”
Katryn berdiri dari duduknya, kakinya sangat letih sekali. Kehamilan ini membuatnya tidak bisa terlalu lama berdiri. Ketika keluar dari toko tersebut, Katryn menggerutu, Allard menunggunya di depan toko, dengan Tania di samping pria itu.
“Hai, Katryna!”
“Hai!”
“Saya Tania,” ucap wanita itu, sambil menjulurkan tangannya, memperkenalkan diri.
Demi sebuah kesopanan, Katryn menerima uluran tersebut. Tania, wanita yang sangat pandai dalam bersosialisasi. Mungkin semua pria akan sangat betah memiliki hubungan dengan wanita ini.
“Let’s go. Aku akan menunjuk restoran favoritku disini!” ucap Tania bersemangat. Katryn mengerutkan dahinya, dia tidak salah dengar bukan? Mereka akan makan bersama?
Dan pria ini sama sekali tidak membantah, Katryn semakin jengkel. Ia dengan cepat merangkul lengan Selena, memberitahu pada Allard bahwa dia kesal. Dengan gampang, Allard membiarkan semakin membuat Katryn panas dan gerah dalam waktu bersamaan.
Di restoran tersebut, Katryn tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia duduk bersebelahan dengan Selena dan Allard duduk di hadapannya, yang mana Allard duduk tepat di samping Tania.
__ADS_1
Mereka berada dalam obrolan yang sama sekali tidak Katryn ketahui apa itu. Makanan di hadapan mereka telah habis, Katryn meminta untuk pulang. Tapi, satu penglihatan yang tidak Katryn harapkan, Tania mencium bibir Allard dan pamit, tanpa rasa bersalah di wajahnya.
Di perjalanan pulang, Katryn memasang wajah datar. Pikiran negatif ini, menari-nari di kepalanya. Sampai di Mansion pun, Allard sedikitpun tidak menjelaskannya apapun.