Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 47. With You


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca!...


...-----...


Dua hari di rumah sakit, Katryn sudah diperbolehkan pulang. Katryn pulang bersama Alessa dan Caroline, sedangkan Allard masih diharuskan dirawat karena luka di punggungnya belum mengering.


Sesampai di mansion keluarga Helbert. Para pelayan menyambut Katryn dengan acara kecil-kecilan, Katryn menangis haru ketika disambut dengan tulisan-tulisan manis, ia merasa disayang oleh mereka.


“Terima kasih banyak,” ucapnya tersenyum tulus.


“Ya sudah. Izinkan Katryn beristirahat,” ucap Caroline. Para pelayan mengangguk mempesilakan.


Caroline dan Alessa mengantarnya sampai ke kamar Allard. Lalu, mereka pamit dan menyuruh Katryn untuk beristirahat.


“Aleesa. Istirahatlah, lukamu belum sembuh. Jangan terlalu memaksa diri,” ucap Caroline tegas setelah keluar dari kamar.


Katryn yang berada di kamar memilih melangkah ke ruang rahasia milik Allard. Ia tak habis pikir bagaimana bisa pria itu berpikir membuat ruang rahasia di balik sebuah lukisan. Ah, senyum Katryn tidak pernah lepas dari bibirnya.


Ternyata Allard baru menambah dua lukisan baru di ruangan ini secara bersisian dan ada juga sebuah album baru di rak yang mana Katryn temukan album sebelumnya. Katryn tersenyum lebar, album ini berisi foto-foto Katryn selama hamil diambil tersembunyi dari segala sisi. Masih banyak tempat kosong di dalam album ini, Katryn pikir suaminya itu belum selesai dengan album ini.


“*Daddy* sangat menyayangimu, Nak.” Katryn berucap sambil mengelus perutnya.


Ruangan ini akan menjadi tempat favoritnya. Dia berpikir, sepertinya dia lebih menyukai ruangan ini dari pada ruangan musik. Dia terkekeh, mendengar pikirannya sendiri.


Katryn menghabiskan waktunya di ruangan ini. Dia mengabaikan perkatan Caroline untuk beristirahat. Dan di ruangan yang berbeda, Aleesa menahan sakit di perutnya dikarenakan luka itu pada dasarnya belum membaik. Sedikit pun dia tidak mengatakan tentang luka ini, biarlah Katryn menenangkan diri tanpa memikirkan dirinya.


...***...


“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Caroline yang telah duduk di sampingnya. Katryn hanya menggeleng.


“Ingin sesuatu?” Katryn kembali menggeleng.


“Ingin bertemu Allard?” Katryn memandang ibu mertuanya lama lalu, menggeleng.


“Lalu?”


“Es Cream!” Caroline terkekeh.


“Tunggu disini *mommy* ambilkan,” ucap Caroline dan Katryn hanya tersenyum senang.


Kepergian Caroline, Katryn tersenyum masam. Setelah bangun dari tidur tadi pagi, Katryn merasa mood-nya sangat buruk. Dia meraup wajahnya dengan kedua tangan. Tak lama, Caroline datang dengan dua mangkuk es krim di tangannya. Dengan memasang senyum paksa, dia menerima es krim tersebut.


“Terima kasih, Mom.”


“You’re welcome, Sayang.”


Katryn menyendokkan es krim ke mulutnya sedikit demi sedikit. Melihat kolam renang, sepertinya dapat menenangkan pemikiran ini. Katryn meletakkan mangkuk es krim lalu, berjalan ke arah kolam renang. Tanpa membuka bajunya terlebih dahulu, dia langsung memasuki kolam renang tersebut.


Caroline membiarkan saja. Merasa ada yang aneh dengan kelakuan mantunya sejak tadi pagi. Caroline pun berjalan ke arah kolam renang, lalu duduk di pinggir kolam renang.


“Hati-hati, Katryna.”


“Iya, Mom.”


Caroline memperhatikannya, Katryn sadar sebenarnya. Tetapi, seakan-akan tak menyadari itu. Dia sesekali menenggelamkan dirinya ke dalam air, lalu naik lagi untuk mengambil nafas, begitu seterusnya.


“Pergilah!” batin Katryn.


“Pergi dari pikiranku!”gumamnya.


Katryn kembali naik kepermukaan, mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Nafasnya ngos-ngosan, karena terlalu lama berada di air. Setelah nafasnya stabil, Katryn menghampiri Caroline yang masih menatapnya khawatir.


“Ada masalah, Sayang?” Katryn menggeleng.


“Aku ingin bertemu Allard,” ucapnya, Caroline mengangguk.


“Bersiaplah!”


Sebenarnya Katryn harus tetap di rumah, Fillbert menyarankan agar Katryn tidak perlu keluar menengok Allard. Berjaga-jaga mana tahu musuh-musuh memanfaatkan keadaan Allard yang tengah sakit menyakiti Katryn.


Katryn telah siap dengan dress ibu hamil, mereka segera berangkat ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung naik ke lantai Allard di rawat. Di depan pintu rawat, ada beberapa penjaga yang menjaga.


“Paman Jo,” sapa Katryn, lalu tersenyum pada pengawal yang tidak di tahu namanya.


“Nyonya.” Jordan menyapa Katryn dan Caroline sopan.


“Paman apa kabar?” tanyanya.


“Baik, Nyonya. Kenapa Anda di sini?” tanya Jordan khawatir.

__ADS_1


“Aku ingin bertemu Allard, Paman.” Jordan tersenyum mempersilakan.


Katryn dan Caroline masuk, di ruangan tersebut juga ada Darick yang tengah berbincang dengan seorang pria tua. Katryn baru melihat pria tua itu, ia canggung ditatap tajam oleh pria itu. Katryn membuang pandang, tidak nyaman dengan aura pria itu.


“Dad,” sapa Caroline pada pria tua itu.


“Ya.”


“Katryn. Ini Nyle, kakek Allard dan menjadi kakekmu juga,” ucap Caroline tersenyum padanya.


“Hallo. Saya Katryn,” ucap Katryn yang gugup melihat pandangan menilai dari kakek Allard.


“Not bad.” Ucap Nyle menilai.


“Lebih cantik dari Caroline,” ucap Nyle lagi.


“Di mataku Caroline lebih cantik!” ucap Fillbert membalas ucapan sang ayah. Fillbert menutup notebook-nya kasar, bisa menebak apa yang akan di lakukan ayahnya. Bukan pada istrinya, tetapi pada Katryn.


“Jangan membuat menantuku takut, Dad.”peringat Fillbert jengah.


“Apa? Aku tidak melakukan apa pun,” ucap Nyle menatap sang anak polos.


“Bukan begitu Katryna?” Katryn kaget dengan sebutan itu.


“Ya, Grandpa.”


“Amour.. kemarilah,” ucap Allard, mereka menatap Allard bersamaan.


“Ayo, Caroline, Darick. Tinggalkan mereka!”pinta Fillbert.


“Kau tidak mengajakku, Son?!”singgung Nyle.


“Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Dad. Jangan memancing Allard berbuat hal yang sama, sepertiku dulu!”


“Kau lihat Katryna, ayah mertuamu itu sama sekali tak pernah sopan padaku!” ucap Nyle pada Katryn


“Mungkin Anda berbuat sesuatu hal yang membuat dad kesal,” ucap Katryn.


Mereka yang mendengarnya terdiam. Pasalnya tidak ada yang berani berkata seperti itu padanya. Fillbert dan Allard tersenyum bangga pada Katryn. Sedangkan Katryn, bersembunyi di balik punggung Caroline. Merasa omongannya salah, dia tidak berani menatap mata Nyle yang menatapnya lekat.


“Aku salut dengan keberanianmu,” ucap Nyle dan berlalu, diikuti oleh yang lainnya.


“I'm proud of you,” ucap Allard.


“Kau orang pertama yang berani berkata seperti itu,” sambungnya terkekeh.


“Aku salah berbicara,”cicit Katryn.


“Kau tidak salah,” balas Allard


“Berbaringlah,” ucap Allard beberapa saat kemudian.


“Lukamu, bagaimana?” tanya Katryn, dilihat Allard sudah bisa berbaring namun agak miring.


“Tidak buruk.”


Katryn membaringkan tubuhnya di samping Allard, ia merasakan kenyamanan berada di dekat suaminya. Sesaat dia lupa dengan pikiran yang menganggunya malam tadi. Allard seperti mengerti memberi elusan di perut sang istri.


“Amour.”


“Hm.”


“Aku ingin mengadakan pernikahan kita,” ucap Allard.


“Tidak perlu!” ucap Katryn, masih memejamkan matanya. Allard seketika berhenti mengelus perut Katryn.


“Itu perlu!”


“Allard, kau tak memikirkan apa yang di katakan orang-orang nantinya? Kau telah menikahi Tania. Jangan lupakan itu,” ucap Katryn malas.


Seketika Allard mengingat Tania. Wanita mandiri yang menyukainya dan menjadi temeng untuk melindungi Katryn. Terakhir mendengar kabar wanita itu lewat Jordan, yaitu ia telah meninggalkan New York.


“Tak perlu mendengarkan perkataan orang lain,” ucap Allard.


“Aku yakin Tania tak mengizinkan itu.”


“Tidak ada hubungannya dengan Tania!”


“Kedatanganku ke mari bukan ingin berdebat!” sergah Katryn cepat.


“Tania bukan istriku!”beritahu Allard.

__ADS_1


“Maksudmu?” tanyanya menatap Allard.


“Aku tidak menikahi wanita itu!”


“Jangan membohongiku. Aku tidak suka itu!” balas Katryn ketus.


“Aku berkata jujur!!” Katryn hanya terdiam, mencerna semua informasi yang baru saja dia dengar.


“Pernikahan itu hanya sandiwara untuk mengelabui mereka saja,” ucap Allard.


“Bukankah, kau mengatakan akan melangsungkan pernikahan itu secara nyata?” tanya Katryn menatap dinding.


“Aku mengikuti perkataanmu waktu itu. Kau tidak ingin dijadikan yang pertama atau pun kedua. Maka dari itu, aku mengikuti perkataanmu saat itu. Karena, jika aku menikahinya secara nyata, itu tidak adil bagimu,” ucap Allard memperjelas ucapannya.


“Mereka mengetahuinya?” tanya Katryn memastikan, Allard mengangguk.


Katryn menatap mata Allard. Satu hal yang membuat Katryn tidak menyangka, pria ini mengikuti perkataannya. Selama ini, Allard tak pernah mau mengikuti apa yang dia katakan.


“Maaf...” ucap Katryn merasa bersalah.


“Untuk?”


“Karenaku, kau seperti ini.”


“It’s not your mistake, lebih baik aku yang terluka. Aku tidak bisa membayangkan bila pisau itu mengenaimu, kau tengah hamil,” ucap Allard. Katryn menggeleng, dia menangis.


“Hai, jangan menangis. Aku tidak apa-apa.”


“Aku takut,” ucap Katryn.


“Aku baik-baik saja, Amour. Tidurlah, mom mengatakan kau murung semenjak keluar rumah sakit empat hari lalu,” pinta Allard. Tak ada balasan Katryn, wanitanya tertidur dipelukannya.


Ruangan ini hening. Allard menatap atap ruang inap, memikirkan sesuatu hal yang harus dilakukan nanti setelah dia keluar dari rumah sakit. Allard yang hanya terdiam saja, merasa kantuk melandanya. Sebelum Katryn datang, dia baru tidur setengah jam.


Beberapa jam kemudian, Allard terbangun dan melihat sang ibu duduk di atas pangkuan sang ayah. Allard jadi ingat, perjuangan kedua orangtuanya sampai bisa seperti sekarang ini. Dari reaksi kakeknya tadi, dia dapat menyimpulkan bahwa Nyle menentang hubungan mereka.


“Mom, Dad. Stop bermesraan!” peringat Evelyn jengah yang duduk di single sofa berdekatan dengan orang tuanya.


“Allard sudah bangun!” sambungnya.


Caroline menatap Allard, lalu ia segara bangun dari pangkuan Fillbert dan duduk di samping suaminya. Allard hanya menggeleng, ibunya seperti anak remaja yang malu ketika ketahuan. Lima menit kemudian, Katryn terbangun karena pergerakan Allard.


“Punggungmu sakit?” tanya Katryn, Allard menggeleng.


“Bohong!”


“Lepas, aku ingin ke kamar mandi,” ucapnya lagi, Allard melepaskan pelukannya.


Katryn berjalan ke arah kamar mandi. Tak lama ia keluar dan duduk di samping Caroline, matanya kembali terpejam, kantuk masih menguasai matanya.


“Katryna, makan dulu,” ucap Caroline mengangsur semangkuk nasi berisi lauk.


“Mom sudah makan?” tanya Katryn memegang mangkuk.


“Sudah, dad dan Evelyn juga sudah.”


“Allard kau mau makan?”


“Makan saja, aku tidak lapar.” Katryn menganggguk mengerti.


Selesai makan Katryn menghampiri Allard, dia kembali duduk di samping ranjang. Lalu, menatap Allard dengan seksama. Ingin menanyakan sesuatu tapi, ragu untuk menanyakannya.


“Katakanlah.”


“Apa ... apa kau tahu kabar Alessa?” tanyanya pelan. Allard menggeleng, Katryn menghela nafas pelan.


“Mungkin dia mengatakan sesuatu padamu?” Allard kembali menggeleng.


“Baiklah.”


Allard menatap pada sang ibu bermaksud bertanya, sang ibu menggeleng tak tahu. Allard menangkup wajah Katryn, mencium bibirnya beberapa detik, lalu melepakan ciumannya.


“Aku akan mencarinya untukmu,” ucap Allard.


“Terima kasih, Allard.”


“Anything for you!”


Allard kembali mencium bibirnya sedikit lebih dalam. Caroline dan Filbert, hanya tersenyum melihat. Beda halnya dengan Eve, menutup wajahnya. Bukan karena dia tak terbiasa melihat itu, tapi karena merasa geli jika yang dia lihat adalah kakaknya yang dingin dan datar.


...***...

__ADS_1


__ADS_2