
...Telah direvisi...
...Selamat membaca! ...
...---...
"Amour.” Katryn menoleh ke arah Allard.
“Aku akan pergi mengunjungi mereka.”
“Mereka?”
“Anak-anak itu,” ucap Allard datar. Katryn hanya mengangguk.
Sore ini, Allard baru tiba di mansion. Mandi dan bersiap untuk pergi ke makam. Allard berharap, ketika dia mengatakan tujuannya, Katryn ikut, tetapi nyatanya tidak.
Dari mansion ke makan tersebut, memakan waktu setengah jam. Allard tak berlama-lama, hanya memberi bunga di setiap pusara dan berdiam beberapa saat. Selanjutnya, Allard meninggalkan tempat peristirahatan terakhir mereka.
Allard menjalankan mobil. Dia tak langsung pulang, dia memilih mengelilingi pusat kota. Dua jam kemudian, barulah dia pulang ke mansion. Tiba di mansion, keluarga besarnya dan Katryn tengah menikmati makan malam. Aleysia memintanya bergabung, Allard menurut.
Satu hal yang Allard sukai di tengah keluarga Katryn, yaitu sebuah kedamaian. Berada di keluarga ini membuat Allard merasakan kedamaian yang tidak bisa ia jelaskan, sejak dulu seperti itu. Memang tidak bisa dihindari, setiap keluarga memiliki masalahnya tersendiri, tetapi ketika ia bergabung dengan keluarga ini rasanya mengalir di air tenang.
“Marcell!” teriak Katryn, membuyarkan lamunannya.
“Apa?!”
“Jangan mengangguku, aku sedang makan!” gerutu Katryn kesal, Allard tersenyum tipis. Ingatannya kembali di saat remaja, Marchell senang sekali menggangu sang kakak dan pada akhirnya Katryn akan mengadu padanya.
“Selama hamil, kau tidak seru. Kau selalu marah!” komentar Marchell.
“Salahkan dirimu, jangan salahkan anakku!”
“Siapa yang yang menyalahkan keponakanku, aku sedang jujur padamu!” Katryn melirik Marchell sejenak, lalu melanjutkan suapannya.
“Marchell!” teriak Katryn kesal karena Marchell menarik piringnya disambut tawa bahagia oleh Marchell.
Makan malam ini diwarnai oleh keributan Katryn dan Marcell. Satu hal lagi yang membuat Allard merasa tak bisa seperti Katryn, kedekatannya bersama sang adik. Evelyn dan dirinya mempunyai hubungan yang datar.
“Marchell, berhenti menganggu kakakmu!” tegur Thomas.
“Aku ke kamar dulu,” pamit Allard pada semua setelah dia selesai menghabiskan makanannya.
Katryn sadar sedari tadi Allard mencuri pandang ke arahnya. Seharusnya Katryn tidak mendiami sang suami, tetapi Katryn rasanya masih sulit menerima kenyataan Allard membunuh anak-anak kecil yang tidak bersalah.
“Aku nyusul, Allard. Good night!” ucap Katryn dan pergi menyusul Allard.
“Pasti mereka sedang ribut,” batin Aleesa.
Katryn masuk ke kamar mereka di lantai satu, ia melihat Allard duduk di atas ranjang dengan berkas dan ipad di hadapannya. Katryn duduk di sebelah Allard, melihat Allard sedang mengetik sesuatu di dalam ipad tersebut.
“Mengerjakan apa?” tanya Katryn.
“Propasal,” jawab Allard cuek.
“Kau sudah mengunjungi mereka?” Allard hanya mengangguk.
Katryn menatap Allard, yang ditatap sedikit pun tak teralihkan. Katryn memegang tangan Allard, seketika Allard berhenti mengetik. Barulah, tatapan pria ini beralih padanya. Hanya beberapa detik saja, selebihnya Allard melepaskannya.
__ADS_1
“Aku sedang mengerjakan ini!” Katryn menghela nafas.
“Besok, apa bisa kau menemaniku mengunjungi anak-anak itu?” tanya Katryn pelan.
“Untuk?” tanya Allard balik, sambil fokus mengetik.
“Aku ingin mengunjungi mereka.”
“Kenapa tidak sore tadi?” tanya Allard cuek.
“Kau marah?!”
“Aku tidak marah sedikitpun.”
“Lalu, kenapa kau mendiamiku?!” Suara Katryn naik satu oktaf. Allard benar-benar menghentikan ketikannya, ia menutup ipad, lalu menatap wanita di hadapannya.
“Katryna, aku mengikuti apa yang kau lakukan. Kau tidak meresponku setelah itu, apa yang harus aku lakukan?”
“Aku tidak tahu harus meresponnya seperti apa, aku bingung.” Katryn berucap sendu. Allard menghela nafas.
“Kau tidak suka dengan masa laluku?” tanya Allard menanyakan langsung, Katryn mengggeleng kuat.
“Kenapa kau berkata seperti itu?”
“Melihat dari sikapmu yang diam, kau menolak masa laluku!”tembak Allard langsung.
“Aku mengatakan padamu sebelumnya, aku menerima masa lalumu!” balas Katryn.
“Allard, jangan salah paham dengan sikapku. Aku diam, bukan berarti aku tidak suka. Aku tidak ingin menyakitimu dengan kata-kataku. Ketika kau menceritakan itu, hatiku berteriak ingin memakimu.”
“Mereka anak kecil, mereka tidak tahu permasalahan orang tuanya. Dan kau semudah itu membunuh anak-anak itu.” Allard memejamkan matanya sejenak.
“Dan aku tahu itu, aku menyesal membunuh anak-anak itu,” ucap Allard sendu. Katryn memeluk tubuhnya dan menangis tersedu-sedu.
“Air mata lagi,” batin Allard. Dia benci air mata ini, dia ingin Katryn menangis bahagia. Tapi, Katryn selalu menangis sedih karenanya!
...***...
Allard dan Katryn tengah berkumpul bersama keluarga mereka di ruang keluarga. Istrinya ini menempel padanya dan tidak mengizinkan Allard pergi. Katryn dengan mudahnya tertidur di lengan Allard, tak tega membangunkan, Allard mengendong sang istri ke kamar mereka di lantai satu.
Ketika sudah membaringkan Katryn, Allard menyelimutinya. Sebelum keluar, Allard mengelus rambut Katryn. Ia harus pergi menyelesaikan urusan terdesak di markas utama.
Katryn terbangun tiga jam kemudian, ia mencari Allard. Tidak menemukan Allard dimanapun, ia menanyakan pada Alessa dan mendengar jawaban Alessa, ia kesal.
Jam sepuluh malam Allard pulang, bukannya beristirahat, dia langsung memasuki ruang kerjanya di lantai atas. Katryn yang menunggu di kamar, tak juga melihat Allard. Dia keluar dan menanyakan pada salah satu pengawal yang berjaga.
Setelah tahu Allard di mana, Katryn menghampiri suaminya di ruang kerja. Ketika masuk, Katryn mendengar Allard sedang berbicara dengan seseorang di telpon.
“Bunuh mereka tanpa tersisa!” ucap Allard dengan nada yang tajam.
Katryn mendengar ucapan itu merinding. Ia berjalan perlahan, dan memeluk Allard dari belakang. Dia menyenderkan kepalanya di punggung lebar Allard.
“Kita bahas nanti!” ucap Allard dengan orang di seberang sana.
“Ada apa?!” tanya Allard ketus.
Katryn menggeleng, Allard merasa gelengan tersebut. Ia melepaskan pelukan Katryn, lalu berjalan ke meja kerja.
__ADS_1
“Kau berbohong,” ucap Katryn pelan.
“Aku tidak mengatakan iya!” jawab Allard, tahu maksud perkataan Katryn.
“Berarti kau tidak mau mengantarkanku, kan? Jadi, di sini aku yang berharap kau mau menemaniku mengunjungi mereka.”
“Katryna, bisa kau tidak membahas apapun saat ini?!” Allard membentaknya.
Katryn terdiam, ekspresinya datar seketika. Ia berbalik membelakangi Allard, menyembunyikan genangan air mata yang akan menerobos keluar. Katryn mengatur nafas teratur, merasa lebih baik, Katryn keluar dari ruangan kerja itu dengan membanting pintu.
Dia memasuki kamar mereka di lantai ini, tidak lupa mengunci otomatis pintu tersebut dan membaringkan tubuhnya di kasur. Allard tak pernah berkata dengan membentak keras seperti tadi.
Keesokan paginya, Caroline datang ke mansion mengantarkan baju yang akan mereka kenakan di pernikahan Evelyn lusa besok.
“Kenapa mommy yang mengantarnya?” tanya Katryn.
“Menemuimu dan cucuku tentu saja.” Katryn terkekeh.
“Dimana, Al? Aku tidak melihatnya sejak tadi,” tanya Caroline.
“Tidak tahu, Mom.”
“Mungkin mengurus masalah bersama Fillbert, sebab pagi tadi dia terburu-buru pergi,” ucap Caroline.
Di sore harinya, Allard pulang dan tiba-tiba mengajak mengunjungi pemakanan tersebut. Katryn menuruti Allard tanpa mengatakan apapun. Ketika Katryn tengah bersiap, Allard keluar dari kamar tersebut. Selesai berpakaian, Katryn keluar dan bingung mencari Allard dimana. Selena yang menghampirinya berkata,
“Father berada di ruang kerja, Nyonya. Sebentar lagi beliau akan turun.”
Katryn mengiyakan. Dan memutuskan untuk menunggu Allard di taman depan, ia duduk di bangku taman berdekatan dengan kolam ikan. Alessa dan Selena menemaninya menunggu Allard. Wajah Aleesa masam ketika Katryn perhatikan, ditanya mengapa, dia hanya menggeleng.
Dua puluh menit kemudian, Allard keluar bersama Nick. Katryn dapat melihat itu karena taman ini hanya dibatasi sebuah pagar sebatas pinggang yang berhadapan langsung ke pintu mansion.
“Hai, Baby Girl” sapa Nick pada Aleesa setelah mendekat.
“Aku bukan baby-mu!” Ketus Aleesa, Nick terkekeh.
“Sampai jumpa kembali, Ms Beata. Aku tidak sabar menghabiskan malam bersamamu, lagi.”
“Nick!” Teriak Aleesa, Nick hanya terkekeh dan pamit pada Allard.
Allard mengajak Katryn untuk pergi sekarang. Sebelum Katryn menaiki mobil, dia berteriak pada Aleesa.
“Kau hutang cerita padaku, Ms Beata!”
Sesampai di pemakaman, Allard mengiringnya menghampiri pemakaman mereka satu persatu. Pemakaman ini dibangun sangat rapi, berjejer empat makam keluarga Haven.
“Dimana dua makam lagi?” tanya Katryn.
“Keluarga Byle, memakamkan kedua anaknya di Rusia.” Katryn mengangguk.
“Allred.” Katryn membaca nama salah satu dari anak-anak itu.
“Namanya hampir sama denganmu,” ucap Katryn mengalihkan matanya beberapa detik pada Allard.
“Keluarga mereka, sering berkunjung kemari?” Allard mengangguk.
“Ayo, hari hampir gelap!”
__ADS_1
“Bye, Haven 's Junior...” bisik Katryn pelan. Ia merasakan anak-anak itu tersenyum dari kejauhan.