
...Telah direvisi!...
...S****elamat** membaca**!...
...-----...
Wajah Katryn begitu pucat, penampilannya berantakan. Ia membaringkan tubuh lemahnya di ranjang, menangis kesakitan, bibirnya bengkak dan berdarah.
Earnest di depan pintu menatap perut Katryn intens, sulit menjelaskan bagaimana tatapan itu. Katryn sadar perutnya di tatap demikian, dia memeluk perutnya seolah melindungi.
“Allard...” lirih Katryn pelan.
Telinga tajam Earnest mendengar itu, ia menatap Katryn bengis. Nama itu sangat ia benci, keinginannya semakin besar melenyapkan kandungan Katryn.
“Gugurkan bayi sialan itu.”
“Kau yang sialan, Brengsek!” maki Katryn tidak terima.
Perut Katryn terasa nyeri, bayi-nya seakan memberontak di dalam sana. Katryn memejamkan matanya, perutnya benar-benar sakit. Perlahan dia mengatur nafasnya yang mulai pendek seraya mengelus lembut.
Earnest hanya menatapnya tenang, tanpa mempedulikan rintihan Katryn. Dia mengambil sebuah plastik kecil berisi bubuk putih dari kantong celananya. Lalu, mencampurkan bubuk itu ke dalam gelas berisi air putih. Katryn sadar apa yang akan dilakukan pria itu. Perutnya semakin memberontak, seolah bayinya tahu dia akan dilenyapkan.
"Minum!" Katryn menggeleng kuat.
"Minum!!" teriak Earnest.
"Earnest bayi ini tidak bersalah! Aku mohon jangan!"
"Dia bersalah, karena dia adalah bayi Allard!" marah pria itu.
Earnest memegang gelas tersebut, dan menyodorkannya tepat di mulutnya. katryn menutup mulutnya kuat, benar-benar tak akan rela jika Earnest melenyapkan bayi-nya. Tak sabaran Earnest memaksa Katryn meminum air dalam gelas tersebut.
Katryn kualahan menahan tangan Earnest yang memaksanya untuk membuka mulut, sambil meletakan ujung gelas tepat di bibirnya. Earnest berhasil memaksa air tersebut masuk ke mulutnya. Sekuat tenaga dia menahan air itu, agar tak menelannya. Tiba-tiba pintu terbuka, Anggelo datang dan memukul titik lemah Earnest dan pria itu jatuh pingsan.
"Muntahkan air itu!" Teriak Anggelo.
Seakan sadar, Katryn memuntahkan air tersebut. Air matanya mengalir deras. Anggelo menghampirinya, meminta Katryn berdiri dan Anggelo mengantarnya ke kamar mandi untuk berkumur-kumur.
"Terimaksih," lirih Katryn setelah pria ini menuntunnya kembali ke tempat tidur.
"Sama-sama." Setelah itu, Anggelo menyerahkan air putih padanya. Katryn menatap gelas itu waswas.
"Ini air putih biasa," ucap Anggelo geli. Katryn menerima uluran gelas tersebut dan meminumnya perlahan.
"Aku rasa kau butuh waktu untuk membersihkan diri," ucap Anggelo.
Katryn menatap dirinya, seperti nya benar. Bajunya basah, karena air itu tumpah tepat mengenai bajunya.
"Aku akan keluar." pamit Anggelo, lalu berjalan ke arah Earnest dan menyeret tubuh Earnest keluar.
"Hai!" Teriak Katryn. Anggelo menoleh.
"Siapa namamu?"
"Anggelo." Jawabnya, lalu pergi.
__ADS_1
Dalam hati Katryn berterima kasih pada pria bernama Anggelo. Dia mengelus perutnya dengan perasaan yang lega.
"Kamu akan baik-baik saja, Baby." Katryn berkata pelan.
Di tempat lain, Aleesa dan Nick dicegat oleh pengawal Allard. Aleesa mengamuk pada pengawal tersebut, sampai terdengar oleh Allard yang tengah mendiskusikan rencana mereka malam ini.
"Selena. Lihat apa yang terjadi!" titahnya.
"Baik, Father." Selena berjalan keluar dan melihat tidak menyangka Alessa di sana.
“Biarkan Alessa masuk, kecuali Mr Fernand!” ucap Selena.
“Oh, really?! Karna aku wanita seksi ini bebas!" protes Nick.
“Tutup mulut brengsek-mu itu, Nick!” ketus Alessa.
“Dia bersamaku. Dia juga ikut masuk!” ucap Alessa pada Selena.
“Ah, Kau takut kehilanganku, Baby Girl?" Nick menatap Aleesa menggoda.
"Tutup mulutmu! Ini bukan waktunya untuk bercanda!" ucap Aleesa lalu pergi menghampiri Allard.
Aleesa tanpa tahu tata krama, membuka handel pintu dan masuk ke ruangan tersebut tanpa rasa bersalah. Dari belakang Nick dan Selena mengikutinya.
“Alessa, kau membawa musuh kemari?”tanya Allard tersenyum sinis.
“Dia menyelamatkanku, dia berada dipihak kita!”
“Aku suka sekali kau membelaku, Baby.”sahut Nick.
“Oke, aku diam.”
“Cukup sulit dipercaya kau dipihakku. Ngomong-ngomong, kau tidak bergabung bersama mereka? Barangkali kau membalaskan dendam-mu,” ucap Allard santai.
"Kau ingin aku membalaskan dendamku pada istri tercintamu?"
Allard yang merasa di tantang, meninju rahang Nick yang tepat sekali berdiri di sampingnya. Ketika Nick ingin membalas, Aleesa menahannya dan memberi tatapan peringatan.
"Jangan memancing singa yang tengah marah!" ucap Aleesa tajam. Keadaan mulai tenang, Aleesa menanyakan kapan rencana itu akan dilakukan.
“Malam ini,” jawab Allard.
"Penyerangan?" tanya Aleesa.
"Ya."
"Itu tidak akan berhasil. Kecuali, kau mengumpulkan lebih banyak pasukan. Perkampungan itu dijaga ketat oleh anggota mereka dan ditempatkan di setiap pemukiman," ucap Nick menatap Allard serius.
"Ya. Itu benar!" Ucap Aleesa.
"Apa rencanamu, Alessa?" Aleesa memaparkan apa yang di rencanakannya dan Nick.
"Apa aku bisa memegang perkataan pria itu?" Allard masih tak percaya dengan pria itu.
"Aku sebagai taruhannya. Jika dia berkhianat, kau dapat membunuhku!" ucap Aleesa, menatap Nick dingin. Allard mengerutkan dahinya, hubungan mereka tampak serius dan tersembunyi.
__ADS_1
"Jadi, kau sangat yakin. Dia berada di pihak kita?"
"Ya, aku yakin!"
"Baiklah. Aku percaya padamu!"
Setelah rencana mereka telah tersusun. Aleesa menatap Allard, ragu mengatakannya sekarang atau tidak.
"Ada apa?" Tanya Allard, sadar bahwa Aleesa menatapnya.
"Aku bertemu Anggelo." Allard yang sedang duduk sambil menggoyang pulpen di tangannya terhenti.
"Aku tak ingin mendengarnya."
"Dia memberi tahu bahwa Katryn akan di bawa, besok malam." Aleesa tak mempedulikan perkataannya, ia menceritakan seluruh kejadian pada saat itu.
"Bersiap, malam ini kita akan menyerang mereka," ucap Allard tak merespon ucapan Allesa, lebih tepatnya menolak.
"Jangan sampai musuh tahu kita menyerang malam ini, atau kalian yang akan mendapatkan hukuman yang tidak pernah kalian bayangkan!" sambungnya memberi peringatan kepada Nick, lalu meninggalkan ruangan tersebut.
Allard memasuki kamarnya bersama Katryn. Ya, dia sekarang berada di mansionnya yang menjadi mansion Katryn juga. Tadi malam, mansion keluarganya diserang oleh kelompok mereka.
Sebelum itu, memang ada seseorang memberi informasi padanya bahwa mansion keluarganya akan di serang. Dia tak percaya begitu saja, dia melacak nomor tersebut. Dan menemukan lokasi pengirim itu, berada di mansion keluarga Fernand. Allard yakin pengirim itu adalah Nick!
Pintu kamarnya terbuka lebar disebabkan seseorang, Allard menatap tajam sang kakek, Nyle Helbert.
"Sudah pernah kukatakan padamu. Wanita hanya akan menjadi kelemahan bagimu," ucap Nyle.
"Dia bukan kelemahanku!" bantah Allard.
"Begitu. Lalu, bagaimana saat ini?”
"Diamlah, Kek!" geram Allard.
"Oh, Cucuku. Aku hanya bertanya," ucap Nyle.
"Aku tidak butuh pertanyaan ataupun ceramahmu!”
“Dirimu sendiri yang membuat lemah, Helbert. Kau membiarkan dirimu mencintai wanita itu,” ucap Nyle menyerang Allard dengan kata-katanya.
Allard terdiam, percuma berbicara pada kakek tua ini. Dia tak akan pernah bisa menang melawan pria tua yang sayangnya menjadi kakeknya.
"Biarkan saja wanita itu bersama mereka. Selesai bukan?" ucap sang kakek begitu mudahnya.
"Kau gila?"
"Aku berkata benar, bukan?"
"Salah!!!"
"Kau dan ayahmu sama saja. Hanya karena wanita kalian menjadi lemah!"
"Ya. Karena aku memiliki hati, sedangkan kau tidak dan begitu munafik!" sengitnya.
"Seorang psikopat itu tak memiliki hati, Boy. Apakah aku harus mengatakan juga, jika kau adalah cucu dari orang yang munafik ini?" ucap Kakek Helbert itu seolah tak tersinggung dengan perkataan cucunya. Malah dia menanggapi perkataan Allard dengan santai.
__ADS_1