
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca! ...
...---...
Pelayan mengatakan Allard berada di kandang singa. Ya, satu kecintaan Allard pada hewan liar satu itu. Allard pernah menceritakan bagaimana sukanya ia pada hewan liar seperti Singa dan Harimau, pria itu sedari kecil lebih suka bermain dengan hewan peliharaannya dibanding bermain dengan teman-teman seumurannya.
“Kau tidak takut?!” tanya Katryn, ketika sampai di kandang itu.
Kandang ini sangat jauh dari taman belakang. Baru kali ini Katryn melihat secara langsung hewan buas di depan matanya, dan melihat Allard berinteraksi dengan Singa di dalam kandang sana membuat bulu kuduk Katryn berdiri. Bagaimana jika nanti hewan itu menerkamnya?
“Dia tidak akan menerkammu!” Allard seolah membaca isi pikiran Katryn.
“Apa yang kau takutkan? Selagi mereka tidak lapar, mereka tidak akan menerkammu,” ucap Allard santai, sambil mengelus kepala singa tersebut.
Katryn merinding melihat Singa tersebut hampir mengigit tangan Allard, begitulah cara hewan liar bermain. Allard lihai menghindar serangan hewan tersebut.
“Kau ingin mencoba mengelus bulunya?”
“Oh, tidak. Terima kasih!”
Katryn duduk di kursi yang tersedia di depan kandang. Dari sini ia bisa melihat sekilas sepasang harimau di seberang kandang yang terletak agak jauh.
“Kau memburu mereka?”
“Aku mendapatkan mereka secara hukum negara yang berlaku!” Katryn mengangguk.
“Akan lebih baik, jika kau memelihara Kucing!”
“Memelihara hewan jinak, tidak ada tantangannya!” Katryn menggeleng mendengar jawaban tersebut.
Wajar saja jika Allard suka dengan hewan liar ini. Secara Allard adalah Mafia dan menyukai aksi gila. Jika tidak ada tantangan, Allard tidak hidup, pikir Katryn.
Allard berjalan keluar dari kandnag besar itu, Katryn takjub melihat Singa itu seperti mengantar Allard untuk keluar dari rumahnya.
“Itu sudah biasa,” ucap Allard menyadarkan.
“Dia sangat jinak padamu!”
“Karena aku tuannya.”
“Hewan liar, tak memandang siapa tuannya!” Ketus Katryn. Allard mendekatinya dan Katryn mengangkat tangannya.
“Tanganmu!”
“Jadi, Katryna, menjadi pembersih sekarang?!” komentar Allard, lalu berjalan ke arah keran yang tersedia di sana.
“Memang sedari dulu!” Dalam hati, Allard membenarkannya.
Mereka berjalan beriringan. Katryn berhenti di kolam teratai, ia terlihat sangat antusias dikarenakan Teratai-nya sedang bermekaran.
“Kenapa kau menyukai bunga itu?” Katryn tersenyum.
“Teratai adalah bunga pertama yang Grandma berikan padaku,” jawab Katryn.
“Grandma?!”
“Ya. Grandma-mu.”
“Kapan?”
“Saat pertama kali aku bertemu grandma.” Allard ingat, Saat itu grandma mengunjunginya dan keluarga, tanpa sepengetahuan Nyle tentu saja. Allard memperkenalkan Katryn pada sang nenek. Wanita tua itu, menyukai Katryn kecil dan selalu mengatakan Katryn adalah cucunya juga. Tapi, Allard tidak tahu jika grandma memberikan bunga Teratai pada Katryn.
__ADS_1
...***...
Katryn berbaring miring ke kiri di pangkuan Allard sambil memejamkan matanya. Perutnya mengalami kontraksi palsu beberapa saat yang lalu. Allard tidak tega melihat wajah kesakitan itu, ia mengelus pipi cabi sang istri lembut.
Semakin mendekati hari kelahiran, Katryn semakin susah berjalan. Untuk berdiri saja lemas, tetapi Katryn berusaha memperbanyak jalan dan olahraga ibu hamil sebagaimana dianjurkan dokter, agar proses bersalin mudah.
Katryn membuka matanya, teringat percakapannya dengan Laurent. Ia ingin membicarakan sesuatu pada Allard.
“Ingin memakan sesuatu?” tanya Allard, Katryn menggeleng.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”
“Katakan!”
“Apa melakukan sesuatu pada Laurent?” Katryn mendonggak. Allard menatapnya datar.
“Memberi sedikit pelajaran.”
“Itu bukan salahnya.”
“Bagiku dia bersalah!” Katryn menghela nafas kasar. Katryn menceritakan pada Allard tentang Laurent. Allard mendengarkan saja, padahal dia sudah tahu Laurent dikeluarkan.
“Bisakah kau menolongnya?” Katryn berucap sendu.
“Aku merasa bersalah padanya. Karenaku, dia tidak berkuliah selama dua minggu.”
“Amour, kejadian itu hanya berlangsung setengah hari. Tidak selama dua minggu!”
“Setelah kejadian itu, apa kau tidak berpikir keadaan mentalnya?!”
“Jadi, apa mau-mu?”tanya Allard.
“Setidaknya, berikan Laurent kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya.”
“Baiklah. Apapun untukmu!” Katryn tersenyum.
...***...
Katryn merasa sangat senang, karena keluarganya dan juga keluarga Allard menyempatkan diri untuk datang dan menemaninya sampai melahirkan. Walaupun tidak keseluruhan, karena sebagian dari mereka memiliki pekerjaan masing-masing, contohnya Keynand dan paman Allard lainnya.
“Leo. Kau benar-benar kakak tak punya hati!” gerutu Neo berteriak.
Baiklah... si kembar akan selalu membuat keributan kapanpun dan dimanapun. Katryn memandang keluarga ini dengan rasa haru-biru. Dadanya menghangat, merasa kasih sayang dari orang sekitarnya.
Malam harinya, Katryn terbangun merasa perutnya begitu mulas. Katryn perlahan bangun dari ranjang, Allard terlihat tertidur. Dia duduk di sofa seraya mengepalkan tangannya. Sakitnya bukan seperti kontraksi palsu, Katryn khawatir.
“Kenapa?” Allard menatap Katryn datar, sedikit kesal dengan sikap Katryn yang tidak berbicara di saat seperti ini.
“Sakit.”
“Aku suami-mu, jangan sungkan mengatakan sesuatu.”
“Maaf...” Allard memperhatikan Katryn sesaat. Lalu, ia bangkit dan langsung menggendong Katryn menuju rumah sakit. Sebelum pergi, ia berpesan pada seorang pelayan untuk membangun yang lain.
Sesampai di rumah sakit, dokter langsung menangani Katryn. Allard berada disana, melihat bagaimana proses Katryn melahirkan anak mereka. Ketenangannya hilang saat melihat wajah Katryn yang kesakitan.
“Amour, kau bisa melakukannya...”
“Sakit,” Lirih Katryn.
“Sedikit lagi. Ayo, Sayang!”
Allard membisikan kata-kata sayang di telinga Katryn. Hampir satu jam, akhirnya bayi tersebut lahir. Air mata Allard terjun bebas tanpa permisi mendengar tangisan bayi mereka. Dia membisikkan kata terima kasih pada Katryn.
“Berjenis kelamin, laki-laki!” Katryn semakin menangis mendengar itu. Dokter menelungkupkan bayi itu ke dadanya, Katryn mencium kepala malaikat kecil ini, dan memeluknya lembut.
__ADS_1
“Hello, Boy! Kau harus menjadi pria yang kuat seperti ayahmu!” Setelah di bersihkan, bayi tersebut di berikan kepada Allard. Katryn menyukai pemandangan itu, dan tidak akan pernah bosan.
“Al, aku lelah...” ucap Katryn.
“Tidurlah, Amour!” Allard mengecup kening Katryn sebelum meninggalkan Katryn yang akan dipindahkan ke ruangan lain.
Allard membawa bayi-nya keluar, di depan ruangan semua orang berseru melihat ketampanan bayi kecil itu.
“Boleh mom mengendongnya?” tanya Caroline.
“Hanya mom dan Mom Aley saja!” ucap Allard posesif.
Fillbert menggeleng sambil terkekeh. Semua memprotes, yang paling keras adalah Cassandra, tetapi Allard tidak peduli. Pandangannya teralih pada Nyle yang menatap bayi-nya lekat.
“Dia akan menjadi penerus!” ucap Nyle tiba-tiba.
“Dia baru lahir! Belum saatnya membahas hal itu!” Sarkas Fillbert. Dulu pun, belum genap sehari kelahiran Allard, Nyle mengucapkan kalimat yang sama.
“Katryna bagaimana, Al?” Tanya Caroline.
“Baik,” ucap Allard datar, sambil menatap Nyle tajam.
...***...
“Terima kasih melahirkan bayi tampan ini,” ucap Allard mengelus pipi bayi mereka yang tengah menyusu digendongan sang istri. Katryn terkekeh, pria ini sudah banyak mengucapkan terima kasih.
“Berapa banyak kau mengucapkan itu? Aku bosan.”
“Aku tidak pernah bosan.” Katryn menggeleng, ia kehilangan kata-kata.
“Jadi ... siapa nama bayi tampan ini?” Tanya Caroline penasaran.
“Allanzel Kyle Helbert.” Katryn langsung melihat Allard. Dia mengira, Allard menyiapkan nama lain.
“Kyle?! Seperti nama suamiku,” ucap Cassandra.
“Allanzel, singkatan dari Allred dan Danzell. Dan Kyle, singkatan nama Katryna Helena. Aku berharap Allanzel Kyle, selalu di tempat dalam kebaikan dan memiliki keberadaan yang kuat,” terang Allard.
“Nama yang bagus!” puji Fillbert.
Katryn memandang Nyle yang sedari tadi diam, Nyle tersenyum tulus padanya. Katryn antara yakin dan tidak, mata Nyle berkaca-kaca. Ketika dia mengedipkan matanya, Nyle kembali pada wajah datarnya.
“Ngomong-ngomong, dimana Aleesa?!” Tanya Katryn, Allard mengedik bahu tak tahu.
“Mungkin Nick menculiknya.” Katryn mengangguk paham.
Katryn menyerahkan Allanzel pada Allard untuk menidurkannya di box bayi. Dengan secepat kilat, si kembar mendekati Allanzel. Kakak-beradik itu, baru berani mendekati Allanzel ketika Allard kembali duduk di samping kasur Katryn. Kelakukan mereka, sukses membuat para orangtua tertawa.
Di pagi hari, Alessa baru menampakkan diri. Katryn mengerutkan dahinya bingung, pasalnya Alessa datang dengan wajah lesu tak bersemangat.
“Kenapa?” Aleesa menggeleng.
Posisi Aleesa menunduk sedang melihat Allanzel yang tertidur di box bayi membuat kerutan dahi Katryn semakin dalam. Pasalnya, bercak-bercak keungungan di leher Aleesa meyakinkan Katryn bahwa keduanya telah menghabiskan malam panas.
“Nick?!” Introgasi Katryn tegas.
“Apa?!” Tanya Aleesa tak mengerti.
“Lehermu diserang pria mana, Nick?” Aleesa merapikan rambutnya, menutupi bekas tersebut.
“Tidak, hanya gatal. Jadi, aku menggaruknya.”
“Pembodohan! Aku bukan anak kecil!” ucap Katryn, Aleesa menghela nafas.
“Iya, dia.”
“Kalian bertengkar?” Alessa terdiam. Membohongi Katryn bukan satu hal bagus, sahabatnya ini pasti tahu. Mereka sangat mengerti satu sama lain.
__ADS_1
“Nick memiliki tunangan. Aku merasa merebut tunangan orang,” ucap Alessa lemah, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Yang Katryn lihat, tangisan Alessa bukan tangisan merasa bersalah. Namun, lebih kepada kecewa dan sakit hati.
Katryn termenung sesaat, Aleesa tidak pernah menangis seperti ini. Wanita ini selalu menjalani kehidupannya tanpa air mata. Begitu pun dulu, saat sang ibunda meninggal, Aleesa tersenyum sedih tanpa mengeluarkan air mata.