
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca! ...
...---...
“Eve lebih memilih digiring ke altar bersama kakak ipar yang cantik. Apalah aku, hanyalah si gadis buluk,” ucap Maria dramastis.
“Hello, Buluk!” Katryn menggoda Maria. Para sepupu yang mendengar tertawa puas.
“Sudah. Itu acara udah di mulai,” ucap Cassandra.
Pernikahan Evelyn dan Javier berjalan dengan lancar. Katryn melihat bagaimana tatapan yang Javier berikan pada Evelyn, mendamba dan mengagumi. Juga, prosesi pernikahan ini dilaksanakan sebagaimana tradisi yang pernah Katryn jalani, pertukaran darah. Pihak pembelai pria tidak protes, mereka seperti baik-baik saja dengan tradisi aneh itu
“Tapi, Tante. Apakah pernikahan kami sah?” tanya berbisik.
“Kau melakukan pemberkatan, bukan?” Katryn mengangguk.
“Tentu, sah.”
“Ada yang kau pikirkan?”
“Pria itu menikahiku dengan tidak normal,” bisiknya. Cassandra tidak dapat menahan tawanya.
“Maksudmu, dia memaksamu tanpa persetujuan dari kedua keluarga?” Katryn mengangguk.
“Dia memang sama gilanya seperti Fillbert.” Katryn menahan tawa, takut Allard mendengar percakapan mereka.
“Puas membicarakan suamimu?” Allard berbisik di telinganya, Katryn jelas kaget.
“Kau mendengarnya?”
“Sangat!”
Kedua pembelai pengantin sudah turun dan menyalami kerabat. Allard memeluk pinggangnya, ikut menyalami kerabat dari pembelai pria. Dan saat menyalami Mrs Teodor―Ibu Javier―wanita itu memujinya.
“Astaga, kau cantik sekali!” Katryn tersenyum.
“Terima kasih, Tante.”
“Madre saja,” ucap nya.
“Iya, Madre.” Madre berarti ibu di dalam bahasa Spanyol.
“Kau sangat manis, cocok dengan karakter suamimu yang tegas.” Katryn kembali tersenyum.
“Oh, ya. Perkenalkan, ini Lethisa, Adik Javier.”
“Hai, Lethisa!”
“Hai.” Kesan pertama, gadis ini sangat kaku dan pemalu.
Katryn penasaran dengan tatapan gadis itu, dia mengikuti arah pandang Lethisa. Ternyata, Lethisa memandang Javier dan Eve dengan kesedihan. Berbagai spekulasi di otaknya bermunculan, Lethisa terdengar seperti bukan nama Spanyol.
“Lethisa.”panggil Katryn, gadis itu memandang ke arahnya.
__ADS_1
“Berapa umurmu?”
“Delapan belas tahun.”
“High school?”
“Baru lulus.”
“Oh, nice. Jadi, kau akan melanjutkan sekolahmu?”
“Ya.”
“Jurusan apa yang akan kau ambil?”tanya Katryn.
“Tata busana.”
“Katryna, bisa mengajarimu,” ucap Caroline masuk ke pembicaraan mereka.
“Kau lulusan Tata Busana?” tanya Lethisa.
“Dalam proses untuk lulus,” ucap Katryn tersenyum.
“Kau bisa bertanya-tanya dahulu pada Katryn sebelum mengambil jurusan itu,” ucap Mrs Teodor. Lethisa hanya mengangguk.
“Saya dan istri, pamit dulu!” ucap Allard langsung membawanya.
Oh, tidak! Allard membawanya ke toilet. Dia tahu apa yang akan dilakukan pria ini. Allard terus meremas bokong-nya dan berbisik menggoda. Bagaimana tidak tergoda, jika caranya seperti ini, gerutu nya dalam hati.
“I want you, now!”
“Kita sering melakukannya!” ucap Allard santai, sambil menanggalkan celananya.
“Apakah tidak bisa nanti?”
“Tidak. Aku gerah melihat tubuhmu, sangat menggoda. Kau tidak sadar pria-pria itu menatapmu nafsu? Kau dan kehamilanmu, mengundang mata mereka!”gerutu Allard.
“Ah...” Katryn mendesah pelan ketika Allard memasuki dindingnya, posisi mereka berhadapan memudahkan Katryn memeluk leher sang suami.
Satu jam mereka saling memuaskan. Katryn kelelahan, ia bersandar pada dinding di belakangnya, dengan Allard yang menahan tubuhnya dari depan. Allard tak tanggung melakukannya, walaupun dalam keadaan Katryn yang hamil sekalipun.
“Aku lapar,” ucap Katryn. Allard fokus pada leher sang istri, tidak mengindahkan ucapannya. Sentuhan terakhir ia berikan di leher sang istri.
Allard setia menunggu hingga Katryn mengumpulkan energinya yang terkuras habis setelah percintaan mereka. Merasa pulih, Katryn merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan. Setelah rapi, mereka kembali ke ballroom.
Katryn menuju stand makanan yang tersedia. Semua makanan ini tampak menggiurkan, ia segera mengambil piring dan mengisinya.
“Kau makan juga?” tanya Katryn, Allard mengangguk.
Katryn mengambil porsi lebih banyak dalam satu piring. Mereka duduk di meja yang agak jauh dari yang lain. Allard menyuapi sang istri, mereka makan di satu sendok yang sama.
__ADS_1
“Kenyang?” Katryn tampak berpikir, ia tersenyum dan menggeleng.
Tanpa kata, Katryn bangkit dan berjalan. Allard mengikuti, ia menggeleng melihat Katryn mengambil Tortilla Espanola, makanan khas Spanyol, sejenis omlet yang terbuat dari paprika, bawang, kentang dan telur yang ditumbuk. Pada suapan terakhir, Eve dan Javier mendekati mereka.
“Sister!” Teriak Eve dan memeluk Katryn.
“Darimana saja? Aku mencarimu sejak sejam lalu!” cerocos Eve, setelah pelukan mereka terlepas. Katryn gelagapan ditanya seperti itu.
“Bercinta,” ucap Allard kelewatan santai. Katryn meringis mendengar jawaban jujur itu.
“Ternyata, kakakku maniak ***!” ucap Eve terkekeh.
“Eve dan Kak Javier, selamat atas pernikahan kalian. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai tua,” ucap Katryn tulus.
“Terima kasih. Panggil Javier saja,” balas Javier. Katryn tersenyum dan mengangguk.
“Terima kasih, My Sister!” ucap Eve. Katryn memeluk Eve, paham ada banyak ketakutan dalam dirinya menikah di usia muda.
“Kau, tidak mengucapkan selamat dan memberiku pelukan?!” Eve cemberut menatap Allard.
Allard tersenyum tipis, ia memeluk sang adik dan berbisik. Katryn tidak tahu apa yang Allard ucapkan sampai Evelyn menangis di bahu sang kakak.
“Eve, temani Katryn menjelajahi makanan,”titah Allard.
“Dengan senang hati!” balas Evelyn. Setelah kepergian mereka, Allard menatap pria yang tiga tahun lebih tuanya.
“Jaga Evelyn dengan baik. Perlakukan dia sebagai istrimu, sekali kau menganggap dia sebagai pemuas nafsumu, aku berjanji akan memisah kalian. Ingat kataku ini, Javier... sekali kau menyakiti adikku, saat itu pula adikmu akan lebih tersakiti,” ucap Allard menakan kata ‘lebih’.
“Akan aku lakukan, aku akan menjaganya. Keluarga kita tidak ada bedanya. Sangat menjunjung tinggi pernikahan,” ucap Javier.
“Good! Kasihi dan cintai dia, tinggalkan wanita-wanitamu itu!”ucap Allard datar.
“Kau bisa pegang kata-kataku,” ucap Javier datar.
...***...
Kandungan Katryn memasuki bulan kedelapan. Tidak sabar rasanya menunggu sang bayi lahir ke dunia. Walaupun ada ketakutan dalam dirinya, tapi Katryn selalu berdoa untuk keselamatan bayi ini.
“Katryn...” Seseorang mengetuk pintu kamar mandi. Katryn membuka matanya, dengan berhati-hati ia bangun dari bathup sangat hati-hati, lalu berjalan ke arah shower membersihkan tubuhnya.
“Ryn!” Panggil orang itu lagi tak sabaran.
“Sebentar, Sa!” teriaknya.
Menyelesaikan mandi, Katryn mengambil bathrobe dan memakainya. Ia membuka pintu kamar mandi, Aleesa berdiri di sana. Segera Alessa memakai pakaiannya di walk in closet dan menghampiri Alessa.
“Kenapa, Sa?”
“Allard mengurus bisnis ke Fransisco.” Katryn mengerutkan dahinya.
“Bukannya, minggu lalu dia dari sana?” Aleesa mengedikkan bahunya.
“Hanya itu yang ingin aku sampaikan, bye!” Pamit Alessa. Aneh, kenapa Aleesa tiba-tiba datang dan mengatakan seperti itu?
“Mungkin di terburu-buru,” batinnya.
Katryn tidak begitu mempedulikan, ia memutuskan untuk bersantai di taman kolam Teratai. Allard sudah kembali ke mansion pribadinya sejak tiga minggu lalu, Katryn awalnya menolak, mengingat kejadian Tania yang ia temui di kamar pribadi mereka. Allard menjelaskan, Tania masuk tanpa seizinnya, wanita itu tidak tidur di ranjang mereka. Tentu Katryn tidak percaya, pria itu memperlihatkan cctv rahasia di kamar mereka, barulah ia percaya.
__ADS_1