
...Telah direvisi! ...
...---...
Dua hari telah berlalu, ketiga pria itu tidak kembali. Keluarga kahwatir, Fillbert memerintahkan semua anggota mencari.
“Mereka berada di Helbert Hospital, Tuan.” Beritahu Jordan.
Langsung saja, Katryn dan keluarga menyusul ketiga pria itu. Sesampai di rumah sakit, Katryn lemas mendengar Allard koma. Cassandra mengambil alih Allanzel yang hampir jatuh karena gendongan Katryn pada sang putra melemah.
“Kalian tidak mengatakan apapun?” Tanya Kyle tajam, Keynand dan Ruldlof diam.
“Ruldlof! Keynand!” Bentak Kyle hilang kesabaran.
“Kalian akan khawatir jika mengetahuinya,” ucap Ruldlof lesu.
“Dengan cara kalian ini semakin membuat kami khawatir!” sergah Fillber, keduanya menunduk.
Posisi Allard berbaring telungkup, luka sayatan di punggungnya parah akibat tembakan itu. Katryn memegang tangan Allard yang dingin, dan menciumnya.
“Al, bangun. Jangan membuatku takut...” lirih Katryn.
“Sayang, istirahatlah. Kau belum istirahat, pikirkan kondisimu juga,” ucap Caroline.
Katryn kurang istirahat selama dua hari ini, ditambah Allanzel yang rewel sekali. Katryn mencium kening Allard dan beranjak mengistirahatkan tubuhnya di sofa. Ketika Katryn istirahat, Fillbert menanyakan kejelasan dalam kejadian tersebut.
“Jadi, dia memiliki seorang putri?” tanya Cassandra setelah mendengar cerita keseluruhannya.
“Ya, tapi ia tidak menyayangi putrinya,” komentar Ruldlof.
“Tidak heran, bajingan itu hanya menyayangi harta!” ucap Kyle menggeleng.
Besok harinya, di siang hari, Katryn bersiap pulang bersama Selena dan Aleesa. Namun, tiba-tiba Jordan mengatakan Mansion Hellbert diserang.
“Bagaimana bisa diserang?” tanya Fillbert tidak percaya.
“Mudah saja, paman. Peretasan!” jawab Alessa santai.
“Ini kedua kali dalam setahun mansion utama diserang. Jadi, mereka sudah hapal bagaimana sistemnya!” sambung Aleesa dengan gaya santai.
“Ada kemungkinan juga, mereka akan menyerang mansion Allard!” ucap Cassandra.
Sedari tadi malam, semua keluarga menginap disini. Kecuali Mikhael dan Kyle yang harus mengurus markas utama selama Allard dirawat.
“Mereka menuju kemari, Tuan.” ucap Jordan memberitahu.
“Fu*k!” umpat Fillbert.
“Mereka mengincar tuan muda!”sahut Jordan mulai panik.
“Siapa mereka?”
“Mr Yan!” Fillbert terdiam sebentar, ia menatap satu per satu wajah di ruangan ini. Menarik nafas dalam, Fillbert membuangnya perlahan.
“Baiklah! Ini bukan lawan yang mudah seperti sebelumnya!”
“Dia sangat segan pada Allard. Tapi, mendengar kabar putraku koma, dia akan menggunakan kesempatan untuk menyerang kita” ucap Fillbert, kembali menarik nafas.
__ADS_1
“Terutama Anzel, dia ingin melenyapkan keturunan selanjutnya!” ucap Fillbert menatap sang cucu yang tertidur dipelukan Katryn.
“Dengarkan aku baik-baik,” ucap Fllbert.
Fillbert memerintahkan Aleesa untuk memperketat keamanan setiap ruangan pasien, untuk berjaga-jaga. Dan yang paling penting, mengamankan ruangan rahasia di rumah sakit agar Allard bisa disembunyikan di sana bila suasana tidak sesuai perkiraan. Fillbert menjelaskan secara terperinci pada Aleesa.
“Setelah keamanan itu digandakan, susul Katryna!”
“Kau punya waktu sepuluh menit dari sekarang!” Alessa berlari cepat melaksanakan perintah Fillbert.
“Dan kau Keynand, temani Aleesa!” perintah Fillbert. Keynand ikut berlari menyusul Alessa.
Setelah itu, Fillbert kembali menjelaskan kepada Ruldlof, Selena dan Jordan untuk membawa Katryn ke rooftop. Ada sebuah helikopter yang menunggu di sana. Sedangkan dia sendiri, Caroline, Cassandra dan Tikha― Istri Mikhael― tetap berada di sini.
“Jika dalam lima menit Aleesa dan Keynand belum datang. Tinggalkan mereka!” Ucap Fillbert.
“Tapi, Dad. Bagaimana Allard?” Tanya Katryn sendu.
“Dia akan bersamaku. Terpenting, Allanzel selamat!” Jawab Fillbert.
Dan terakhir, Fillbert menyuruh Javier dan Evelyn untuk pergi dari rumah sakit ini. Karena dia yakin, Javier bisa menjaga Evelyn.
“Dad, aku ingin ikut kakak ipar!” Bantah Eve.
“Eve, ini bukan saatnya berdebat! Pergilah bersama Javier!” ucap Fillbert.
Javier membawa Evelyn pergi dari sini. Katryn mendekati ranjang pasien, mengelus rambut Allard, suaminya masih saja menutup matanya.
“Al. Cepatlah, bangun!”
“Aku mencintaimu!” bisiknya dan mengecup bibir Allard.
“Hati-hati, Nak!” pesan Fillbert.
“Kalian, jaga mantu dan cucuku!” ucap Fillbert pada Ruldlof, Selena dan Jordan.
“Baik, paman!”
“Baik, Tuan!” ucap mereka serempak.
Jordan mengarahkan mereka. Ketika mereka sampai di rooftop, mereka langsung menaiki helikopter tersebut. Helicopter lepas landas tanpa Alessa dan Keynand, dan saat itulah seseorang menembak helicopter tersebut yang membuatnya oleng. Namun, Jordan berhasil mengendalikan helicopter tersebut.
“Apa kalian membawa ponsel?” Tanya Ruldlof, Selena mengangguk.
“Buang!” Ucap Ruldlof.
Selena membuang ponselnya dari ketinggian tersebut, sama halnya dengan Ruldlof. Karena jika mereka mendapatkan lokasi mereka, hasilnya sama saja, mereka dapat menemukan di mana mereka bersembunyi.
Di rumah sakit, para dokter dan pasien sudah lebih dulu diasingkan sebelum Mr. Yan datang. Hanya ada pengawal di luar ruangan yang tengah baku tembak dengan pengawal Mr Yan. Penembakan tersebut mengenai pintu-pintu ruangan pasien. Namun, tidak menembus karena Allard telah merancang sedemikian rupa agar tidak mudah tembus.
Mr Yan tiba di lantai sepuluh, lantai di mana Allard dirawat. Ia berjalan menyusuri ruangan dan melihat Fillbert berdiri di depan pintu yang terbuka lebar.
“Hai, Mr Helbert!” sapa Mr Yan dengan senyuman mengembang.
“Hai, Mr Yan!” balas Fillbert datar.
“Kalian sudah tahu kedatanganku,” ucap Mr Yan.
__ADS_1
“Tentu saja. Kau tamu kehormatan kami,” ucap Fillbert dengan nada tidak enak.
Mr Yan tertawa dengan gamblang. Lalu, memasuki ruang rawat tanpa disuruh masuk terlebih dahulu. Fillbert menatap waspada dengan gerakan pria tersebut.
“Sejak kapan, seorang Edbert bisa sekarat seperti itu? Setahuku, Edbert selalu pulang dengan selamat!” ucap Mr Yan dengan nada mengejek.
“Kedatanganmu kemari, hanya untuk mengejeknya? Atau ada keperluan lain?” tembak Fillbert sarkas.
“Hanya ingin melihat keadaan putramu,” ucapnya santai.
“Terima kasih atas kunjungannya. Tapi, kurasa keponakanku butuh istirahat!” Ucap Cassandra muak.
“Bagaimana kabar, Kyle? Aku merindukan perkataan kasarnya itu!” Mr Yan menatap Cassandra, sedangkan yang ditatap tersenyum mengejek.
“Sangat baik. Dia merindukan menyayat anak buahmu,” ucap Cassandra kalem. Mr Yan terdiam menatap Cassandra marah, tak lama dia tertawa. Padahal tidak ada yang lucu di sini, batin Cassandra.
“Kau semakin pemberani, My Love!” Cassandra berdecih.
“Jika suamiku mendengarnya, kupastikan mulutmu menjadi sasaran sayatannya!” Mr Yan tertawa kembali.
Mr Yan mendekati ranjang pembaringan Allard. Detik berikutnya dia melihat ke arah Fillbert, dan tersenyum mengejek. Fillbert mengepalkan tangannya, sangat tidak suka dengan sikap pria ini.
Fyi, Mr Yan adalah rekan mereka di dunia gelap. Salah satu saingan mereka, tapi pria itu sangat tidak berani terhadap Allard. Rekan bisnis di dunis gelap, tidak ada yang berani memanggil sebutan Allard, mereka memanggilnya dengan Edbert.
Fillbert sangat tahu, keadaan Allard yang koma. Akan menjadi kesempatan untuk Mafia lain untuk menyerang markas, terutama keluarga. Tapi, Fillbert tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Aku turut berduka atas kematian Nyle,” ucap Mr Yan mengubah topik.
“Terima kasih banyak, Mr Yan. Tidak perlu mengatakannya, jika hatimu senang atas kematian ayah kami!” Sarkas Cassandra.
“Oh, My Love! Kau sangat tahu isi hatiku!”
“Baiklah, Mr Yan. Cukup basa-basimu, aku sudah mulai muak mendengar kalimat basimu!” sarkas Fillbert. Mr Yan tertawa, lalu dia mendudukan dirinya di kursi.
“Sangat tidak tahu diri!” komentar Caroline.
“Aku ingin melihat istri dan putra Edbert!”
“Sayang sekali, mereka berada di mansion,” ucap Fillbert berpura-pura terkejut.
“Kau bermain-main denganku, Fillbert!” balas Mr Yan tidak senang.
“Bukankah, kau demikan?!” Fillbert tersenyum culas. Beberapa saat, mereka saling menatap tajam satu sama lain. Fillbert berjalan mendekati Mr Yan, menatap pria ini dengan mata elangnya.
“Maksudmu kemari, ingin membunuh cucuku. Aku tahu itu, Yan! Kau ingin melenyapkan keturunan kami!” ucap Fillbert, berubah ramah.
“Tidak segampang itu, dan tidak akan pernah mudah melenyapkan cucuku!” Fillbert sekejab berubah tidak sahabat.
Fillbert meraih kerah baju Mr Yan, dan melemparnya keluar dari ruangan ini. Ternyata, anak buah Mr Yan berada di luar menunggu sang tuan.
“Dengar baik-baik, Yan! Ketika putraku bangun, jangan harap kau bisa menghirup udara di dunia ini!” ucap Fillbert penuh penekanan.
“Aku tidak pernah takut pada putramu itu!!” balasnya.
“Benarkah begitu? Lalu, kenapa kau tidak menyerang di saat putraku dalam keadaan sehat?”
“Karena, kau takut jika putraku membongkar semua kebusukanmu pada mafia lainnya, bukan?”tandas Fillbert.
__ADS_1
...***...