
...Telah direvisi!...
...HAPPY READING!!...
...---...
Seminggu berada di RS jiwa, Allard membaik tidak lagi melukai dirinya. Caroline senang, dia meminta Alard untuk tinggal di mansion Helbert, namun Allard menolak halus permintaan sang ibu. Sesampai di mansion miliknya, Allard memasuki kamarnya bersama Katryn. Ia bersandar di balik pintu kamar, memperhatikan tempat tidur dengan sendu.
Mereka salah, Allard sengaja bersikap seolah-olah telah membaik. Ini adalah taktik agar ia bisa keluar dari tempat itu, Allard tidak tahan untuk tidak menyakiti dirinya secara bebas. Hanya cara ini yang bisa membuatnya tenang. Tidak terhitung sudah berapa kali Allard menyakiti dirinya semenjak sang istri pergi, ia merindukan Anzel dan Katryna-nya.
“Katryna, kembalilah...” lirihnya.
...***...
Di belahan negara lainnya, Katryn telah mendengar keadaan Allard. Terkejut? Sangat! Dia tidak menyangka Allard memiliki penyakit mental semengerikan itu. Caroline menceritakan semuanya pada Katryn, dan Caroline meminta Katryn pulang.
“Kau memikirkan Allard?” Tanya Aleesa.
“Self-harm. Aku tidak pernah berpikir penyakit itu dimiliki orang terdekatku. Aku pergi, dan memicu self-harm-nya kembali,” ucap Katryn sendu.
“Maka, kembali lah padanya.”
“Kau mengizinkanku?” tanya Katryn menatap Alessa.
“Sebenarnya, aku tidak setuju. Aku benci rasa Allard pada Selena yang membuatmu sakit hati!”
“Bukan kehendaknya!” ucap Katryn pelan.
“Kau masih membelanya?”
“Bukan aku membelanya, tapi itulah kenyataan!”
“Aku tidak mengerti jalan pikirmu!” ucap Aleesa.
“Katryna, buka pikiranmu! Wanita betina itu sudah ada di hati suamimu. Itu bukan tidak mungkin, jika Allard akan menyerahkan seluruh hatinya untuk jal*ng itu!” Aleesa sedikit membentak, dan berlalu dari hadapan Katryn.
Katryn hanya menatap kepergian Aleesa dengan sedih. Kata-kata itu seperti belati yang menusuk hatinya. Tidak! Dia tidak ingin Allard memberikan hatinya pada wanita manapun. Allard selamanya akan menjadi miliknya!
__ADS_1
Beranjak dari kursi yang ia duduki, Katryn memasuki kamar yang ia tempati di apartemen milik Fillbert. Fillbert sendiri yang memberikan apartemen ini untuk dia tempati. Semua jejaknya berhasil dihilangkan oleh Fillbert, seperti permintaan Katryn pada Fillbert.
Setelah berada di negara ini, Aleesa menyusul. Dia sudah lama tidak mengetahui kabar Aleesa, karena memang Aleesa sudah lama bersama Nick. Akhir cinta yang manis bagi kedua pasangan itu, benci menjadi cinta. Namun, tidak bagi Katryn, perjalanan cinta terlalu rumit dan penuh tantangan, tapi mengapa dengan Allard sangat menyakitkan baginya.
Yang terkejam adalahh Earnest dalam menyakiti fisiknya. Well, tidak seberapa sebenarnya, menurut Katryn akan lebih baik Allard menyakiti fisik daripada hatinya. Bagaimana pun itu, Allard adalah pemilik hatinya.
Oh, Tuhan! Lagi dan lagi air matanya jatuh. Selama jauh dari Allard, jujur saja Katryn berhasil meyakinkan hatinya untuk siapa. Tapi, masih bimbang apakah dia kembali bersama Allard atau mencari kebahagian baru bersama Allanzel?
Allanzel, putra kecilnya ini sangat mengidolakan Allard. Berjauhan dengan Allard, adalah pertama kali bagi Allanzel. Putra kecilnya ini menangis meminta ingin bertemu dengan sang ayah.
“Apakah aku tega memisahkan mereka?” batinnya bertanya.
...***...
Seminggu lalu, Katryn meminta Marchell untuk menamaninya ke dokter. Sekembalinya dari sana, Katryn tampak lebih murung dan lebih banyak diam. Kini, secara tiba-tiba Katryn mengatakan ia akan kembali pada Allard.
“Kau mendukungku, kan?” tanya Katryn menatap Alessa sendu. Alessa menghela nafas pelan.
“Semua keputusan ada ditangamu. Ini pertama dan terakhir kali kau memberi kesempatan pada Allard, jika masih ada setitik rasa pria itu kepada Selena, kau tahu apa yang harus kau lakukan!” tegas Alessa, Katryn mengangguk.
“Pergilah, Nak.” Katryn memeluk sang ibu erat.
“Ingat satu hal, Nak. Bila tidak ada lagi obat untuk mengobatimu hatimu, pergilah, kejar kebahagianmu...” bisik Aleysia, Katryn mengangguk.
“Kau tahu tempatmu berpulang, kami keluargamu...”
Tangis Katryn pecah, ia tak tahan mendengar perkataan sang ibu. Aleysia tidak ada berkomentar apapun tentang Allard, dia hanya menyarankan Katryn untuk membicarakan masalah mereka baik-baik.
Setelah pamit kepada semuanya, Katryn diantar hingga pintu apartemen. Aleysia belum ingin pulang ke California, dia masih ingin menenangkan hatinya. Setelah kepergian Thomas, Aleysia lebih banyak menghibur diri dengan mengurus semua urusan perusahaan. Dan mendengar Katryn berada di Dubai, Aleysia dan Marcell langsung terbang menyusul Katryn.
“Aku pamit,” ucap Katryn, sambil mengendong Allanzel yang tertidur.
“Hati hati, Nak.”
Katryn pergi dan diantar oleh Marchell hingga ke New York. Sesampainya mereka di Bandara International Dubai, Katryn menghubungi Caroline dan mengatakan dia akan kembali. Namun, Katryn meminta jangan memberitahu pada siapapun.
Perjalanan akan ditempuh selama 14 jam lamanya, Katryn masih berpikir apakah keputusannya ini benar atau tidak. Walaupun hatinya yakin untuk kembali tapi, Katryn masih ketakutan soal hati Allard yang sedikit terbuka untuk Selena.
__ADS_1
“Apa keputusanku ini benar?” tanya Katryn menatap sang adik di sebelahnya.
“Jika melihat bagaimana gilanya si bangsat itu, menurutku benar!” balas Marchell.
“Tidurlah. Biar Allanzel bersamaku,” ucap Marcell seraya mengambil Allanzel dari pelukan sang kakak.
Melihat Katryn telah berada di alam mimpi, tanpa terasa air mata Marchell menetes. Jujur saja, Marchell benci menyaksikan sang kakak murung. Dia ingin Katryn bahagia tanpa ada yang menyakitinya. Marchell berjanji, suatu saat nanti jika Allard kembali menyakiti Katrym, Marchell akan memisahkan mereka!
...***...
Tiba di bandara International John F. Kennedy, Katryn memutuskan untuk beristirahat di hotel bersama Marcell. Mengetahui keduanya telah sampai, Fillbert dan Caroline langsung menemui mereka. Caroline amat merindukan cucunya!
“Bagaimana perjalanan kalian?”
“Baik, Mom.”
“Allanzel rewel?” Katryn menggeleng.
“Dia persis seperti Evelyn, tidak rewel ketika di pesawat, malah senang.”
“Kau tahu, Sayang? Dia mempunyai impian membuat sebuah rumah berbentuk pesawat!” celoteh Caroline. Katryn tertawa, dia tahu itu.
“Bagaimana Evelyn sekarang, Mom?” tanya Katryn.
“Suaminya tidak asyik! Posesif!” komentar Caroline, Katryn tertawa ringan.
“Apa Allard berhenti menyakiti dirinya?” tanya Katryn berhati-hati. Caroline tersenyum hangat, tanpa mereka sadari Fillbert hanya tersenyum kecut.
“Anak itu, sudah tidak menyakit dirinya. Hanya saja, dia kembali seperti Allard yang tidak kami kenal.”
“Tidak apa dia menjadi Allard yang tak tersentuh. Asal tidak menyakiti dirinya.” Ucap Caroline tulus.
Fillbert menatap Caroline sendu, dalam hati dia juga ingin Allard seperti itu. Entahlah, Fillbert tidak berdaya ketika melihat Allard yang melampiaskan semua kemarahannya dengan menyakiti dirinya. Allard adalah cerminan dirinya, melihat semua yang terjadi dengan Allard, mengingatkannya pada masa dulu. Apa yang dilakukan Allard pada Katryn, tidak semenyakitkan seperti apa yang dia lakukan pada Caroline dulu.
Dia mencintai Caroline, akibat dari tidak-setujuan Nyle, Fillbert memanipulasi semuanya dengan cara meniduri wanita di luar sana agar Nyle menganggap bahwa Fillbert tidak mencintai wanitanya. Cara yang sangat fatal sehingga menyebabkan Caroline hampir merenggang nyawa saat itu. Fillbert ingat jelas apa yang dia lakukan agar menembus rasa bersalahnya adalah dengan cara menyakiti dirinya sepuas dia bisa.
Pada intinya, Fillbert paham yang terjadi pada Allard, dia hanya dapat berharap semua pemikirannya saat ini tidak sesuai dengan kenyataan yang dilakukan putranya. Walau harapannya ini hanyalah semu semata, Fillbert amat berharap putranya benar-benar telah sehat.
__ADS_1