Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Ekstra Part 2


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...---...


1 tahun kemudian~


Pergulatan panas terjadi beberapa menit yang lalu, Katryn maupun Allard masih berbaring di bawah selimut dengan Katryn yang berada dipelukan sang suami. Sedangkan Allard mengelus punggungnya abstrak, mereka sama-sama memejamkan mata.


“Aku masih belum percaya dengan semua yang terjadi dalam hidupku,” ucap Katryn membuka suara.


“Kukira, aku akan terus berada di bawah kendali Earnest!” sambungnya dengan senyuman.


“Lalu, kau datang dan mengubahnya!” Allard tak bersuara, hanya mendengarkan perkataanya.


“Kau tahu, aku tak pernah membayangkan akan bertemu lagi denganmu,” ucap Katryn, lalu membuka matanya. Katryn mengubah posisinya, menimpa dada suaminya. Allard pun melingkarkan tangannya pada pinggang rampingnya, mereka saling tatap satu sama lain.


“Al... terima kasih telah kembali padaku!” ucapnya berkaca-kaca. Allard menatap wanitanya dengan penuh cinta. Katryn-nya, lebih terbuka padanya dan kembali seperti Katryna yang dulu.


“Kau tak perlu berterima kasih, Amour...” ucap Allard, lalu mencium kening Katryn lembut.


“Kau adalah tempatku untuk berpulang, dan sudah seharusnya aku kembali padamu.” Sambung Allard tersenyum tulus.


“Ah, kau membuatku ingin menangis!” ucapnya serak.


“Amour, jangan mendesah.” Peringat Allard. Katryn menatap suaminya menggoda, dengan mata berkaca-kaca ia tertawa geli. Berpura-pura polos, Katryn mencium bibir Allard dan sedikit mengigitnya.


“Ayo, Baby!” ucapnya dengan berbisik menggoda di telinga Allard. Dengan mudahnya, Allard membalikan posisi mereka. Jadilah, ia yang berada di bawah kendali suaminya.


“Bersiaplah, istrikuu...” bisik Allard dan mengigit cupingnya. Desahannya tak bisa ia tahan, pria berada di atas tubuhnya ini selalu bisa membuatnya tergoda.


...***...


Katryn tersenyum puas dengan hasil dekor yang telah terpampang di hadapannya. Berkat bantuan Aleesa dan Mila, kepala pelayan di sini, ia berhasil menyiapkan acara untuk Allard. Dan tentu, ia juga telah menyiapkan pakaian untuk anak-anaknya di hari spesial Allard ini, mungkin Allard tak menganggapnya spesial, tapi baginya spesial.


“Mommy, kenapa daddy lama sekali?” tanya Allanzel yang terlihat gerah dengan pakaian yang dikenakannya.


Ya, Allanzel dan si kembar sudah siap dengan pakaian rapinya. Allanzel dan Alland dengan jas biru dongker mengkilat, sedangkan Allena dengan gaun yang senada dengannya. Tinggal dia yang harus bersiap, sebelum Allard pulang.


“Cepatlah bersiap! Kau hanya punya waktu 30 menit!” ucap Aleesa tegas.


“Bawel. Tolong jaga mereka,” pintanya pada Aleesa, dan disanggupi Aleesa. Katryn berlari ke kekamar, dan secepat kilat bersiap. Ia memakai make up tipis, dan diakhiri dengan polesan lipstik merah menyala di akhir. Perfect!


“Mother, Father telah diperjalan pulang!” beritahu Jeff.


“Ya. Terima kasih, Jeff!”


“Oh ya. Kau Caitlyn hadir, bukan?” tanyanya.


“Ya, Mother.”


“Kau harus segera menikahinya, Jeff. Kau sudah terlalu tua sekarang!” ucap Katryn terkekeh, dan berlalu.


Katryn berjalan dan menuruni tangga masih dengan tawa yang tak lepas dari bibirnya, bagaimana tidak? Jeff sudah berumur 31 tahun sedangkan Caitlyn masih berumur 23 tahun. Sebenarnya ia tahu betul alasana Jeff yang belum ingin menikah, tapi Katryn terkadang memaki Jeff yang menjadikan Allard sebagai alasannya yang belum memberi izin. Padahal pada dasarnya, Jeff sendiri yang memiliki trauma di masa lalu.


“Kau lama!” protes Aleesa.


“Hei, ini belum sampai 30 menit!” Belanya.


“Aunty, dimana Allena?” tanya putri Aleesa yang baru saja menghampiri.


“Aunty tidak tahu. Mungkin bersama Grandpa Jo,” ucapnya. Tak mengatakan apapun, Angel berlari mencari si kembar. Katryn tersenyum memandang kepergian Angel, buah hati Aleesa.


“Aku senang, kau telah mendapatakan kebahagianmu kembali!”


“Begitu juga denganmu, Beb!” ucap Aleesa sedikit berlebihan.

__ADS_1


“Maaf, Mother. Father telah sampai!” Suara Jeff mengintruksi mereka. Segera mereka yang hadir menyiapkan poisisi masing-masing. Setelah lampu dimatikan, mereka tak ada yang mengeluarkan suara.


Sedangkan Allard yang baru memasuki mansion, mengerutkan dahinya. Dimana semua orang? mengapa semua lampu dimatikan? Namun, tak lama lampu menyala.


“Happy birthday!!!” teriak semua orang.


Allard terpaku di tempat dengan wajah datar andalannya. Semuanya menjadi sunyi, reaksi datar Allard membuat semua orang takut. Katryn menghela nafas, dengan berhati-hati dia berjalan dengan membawa kue di tangannya.


“Hey, My Husband... Aku tahu kau tak suka merayakan ulang tahunmu. Sebenarnya, aku tak punya alasan apapun untuk melakukan semua ini. Aku ... hanya ingin membuatmu melakukan sesuatu yang romatis untukmu. Aku tidak tahu melakukan apa, jadilah aku berpikir untuk melakukan ini,” ucap Katryn ketar-ketir dipandang datar oleh suaminya dan semua orang yang berada di sini.


Semua orang yang melihatnya menjadi tegang, termasuk keluarga dan sahabat Allard, mereka tahu betul jika Allard sangat tidak suka merayakan ulang tahunnya.


“Kau tidak belajar dari yang pernah terjadi sebelumnya?” tanya Allard datar.


“Aku ingat itu.”


“Bukankah, kita telah berdamai dengan semua yang ada di masa lalu? Dan sekali lagi, aku ingin melakukan sesuatu yang romantis untuku, itu saja! Maaf.” sambungnya. Allard berjalan mendekat ke arahnya. Tak berani dengan tatapan datar Allard, ia menunduk takut.


“Lihat aku!” perintah Allard, perlahan dia mendongak menatap mata pria-nya.


“Lalu, kau tidak mengatakan apapun padaku, Amour?” Alisnya berkerut, apa maksudnya?


“Ucapkan, Bodoh!” Suara Aleesa memberitahu maksud Allard.


“Kau tak marah?”


“Apa aku terlihat marah padamu?” tanya Allard balik, Katryn menggeleng. Allard gemas dengan ekspresi wajah Katryn yang menatapnya polos. Langsung saja, ia mencium bibir itu dan sedikit **********.


“Hei! Di sini masih ada anak-anak!” Teriak Ruldlof kesal, ditanggapi kekehan oleh semua orang.


“Segera tiup lilin itu, Brother!” ucap Keynand mengejek.


“Oh, tidak! Terima kasih!” Tolak Allard tanpa segan.


“Diam, Leon! Atau ku beritahu pada ibumu!” Ancamnya dengan tatapan tajam.


“Kau tak seru!” ketus Neon, membela kembarannya.


Caroline menegur si kembar. Lalu, Fillbert memberi aba-aba pada pelayan untuk memasang musik dansa. Allard tersenyum miring, menatap Katryn dan menariknya ke lantai dansa. Katryn mendesah secara refleks, bagaimana tidak? Allard dengan santainya meremas bokongnya.


“Allard, apa yang kau lakukan?” ucap Katryn dengan raut kesal.


“Apalagi, aku tak sabar menunggu hadiahku!” balas Allard tersenyum. Katryn memicingkan matanya, sedangkan Allard menuntun tubuhnya untuk terus berdansa. Katryn mendapatkan ide!


“Oh, aku tak bisa!”


“Kenapa?” Allard menghentikan dansa.


“Aku sedang berhalangan!” bisiknya menggoda. Bukannya sesuai harapan, Allard malah menyeringai padanya. Lalu, ia menarik Katryn agar merapat ke dada bidangnya. Katryn terkejut bukan main, pria ini mencium kasar lehernya dan dapat dipastikan akan berbekas.


Tak berhenti sampai di situ, Allard menciuml bibirnya di depan semua orang. Dapat ia dengar bahwa sahabat Allard berteriak mendukung Allard dan keluarga yang lain tertawa.


“Masih ingin berbohong, Mi Amour?” tanya Allard setelah melepaskan ciuman.


“Kapan aku bisa menang darimu, hm!?” ucapnya dengan nafas terengah-engah.


“Kau tidak bisa!” jawab Allard terkekeh.


...***...


Katryn membuka pintu ruang kerja Allard, dan satu tangannya memegang nampan. Matanya bertubrukan dengan mata Allard yang memandangnya dengan senyuman.


“Terbangun?” tanya Allard yang diangguki Katryn.


“Karna tidak ada aku?” tanya Allard lagi dengan nada menggoda.

__ADS_1


“Kau tahu sangat baik, Sayang!” puji Katryn, dan Allard tersenyum bangga.


“Kemarilah!” ucap Allard memberi isyarat untuk duduk di pangkuannya. Meletakkan nampan yang berisi segelas coklat hangat di dekat Allard, Katryn menuruti perintah sang suami. Ini adalah posisi ternyaman dan akan terus menjadi tempat ternyaman baginya. Oh tidak, mungkin semua orang akan berpendapat seperti itu!


Hal yang dilakukan ketika berada dipangkuan Allard adalah melingkarkan tangannya di leher Allard, lalu menenggelamkan wajahnya di bahu Allard. Suaminya pun tak banyak omongan, dia melingkarkan tangannya di sekeliling pinggangnya.


“Kerjakanku sangat banyak. Tapi, aku rela meninggalkan semua pekerjaanku demi memelukmu seperti ini,” kata Allard.


“Lanjutkan, Al.” Pintanya.


“Nanti. Aku terlanjur nyaman memelukmu!” bantah Allard.


“Aku juga!” bisiknya.


“Tetap seperti ini, okey! Dan aku akan menyelesaikan ini!” ucap Allard setelah beberapa menit.


Dengan santai, Allard kembali mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Adanya Katryn di sini, semakin membuatnya semangat untuk cepat menyelesaikan pekerjaan ini. Sebenarnya, Allard tidak suka membawa pekerjaan kantor ke rumah. Namun, Allard banyak mengurus markas mafia belakangan ini.


Setelah berpikir panjang, dan mendiskusikannya pada Katryn, dia memutuskan untuk menyerahkan urusan Klan Hellbert ke tangan Jordan. Tidak secara keseluruhan, Allard juga akan turun tangan jika memang sangat dibutuhkan.


Untuk sekarang, Allard ingin berfokus pada perusahaan dan terutama pada keluarga. Nanti, ketika Allanzel dewasa semua urusan Klan Hellbert akan sepenuhnya menjadi kekuasaan Allanzel. Untuk perusahaan dan beberapa properti, akan jatuh pada Allan.


Penyerahan Klan Hellbert banyak menimbulkan kontraversial dari pimpinan cabang markas lainnya. Namun, semua keputusan ada ditangan Allard dan tidak bisa diganggu gugat sama sekali. Lagipula, ada atau tidak adanya Allard, tidak berpengaruh pada musuh yang ingin menjatuhkannya. Pasti akan ada yang ingin mencelekainya, tapi Allard sudah menimbang itu semua.


“Mengapa kau makin sexy saja?” Pertanyaan Katryn membuyarkan konsentrasi Allard.


“Apa kau bilang?”


“Mengapa kau makin sexy?”


“Pertanyaan macam apa itu, Amour?!” ucap Allard tidak mengerti.


“Itu pertanyaan bagus! Mengapa kau semakin sexy?” Ulang Katryn.


“Karena pada dasarnya aku memang sexy!” ucap Allard percaya diri.


“Benar juga! Tapi ... aku kesal!”


“Apa yang kau kesalkan, hm?” tanya Allard mencium rambutnya.


“Beberapa hari yang lalu. Aku berjalan-jalan bersama Aleesa, dan kau tahu? mereka membicarakanmu!” ucap Katryn mengerucutkan bibirnya. Allard terkekeh mendengar nada manja istrinya.


“Mereka memiliki fantasi liar terhadapmu!” ucap Katryn semakin kesal.


“Mereka tidak bisa mendapatkan itu, Amour. Buktinya, aku menjadi milikmu dan begitu sebaliknya!” ucap Allard tenang.


“Ya, ya. Asal jangan tergoda dengan wanita lain lagi!” katanya menekan nada di akhir kalimat.


“Kurasa kau harus mengoreksi kalimatmu itu! Aku tidak tergoda!” bantah Allard, dan Katryn membalasnya dengan tertawa pelan.


Allard semakin kesini, semakin bisa menerima pembicaraan mereka tentang Selena. Bukan awal yang mudah untuk Katryn, sebab Allard sering mendiaminya ketika sedikit saja dia membawa Selena kepembicaraan mereka. Terkadang membawa Selena ke dalam pembicaraan mereka adalah hal yang harus Katryn lakukan untuk selalu mengingat Allard untuk tidak melakukan hal bodoh untuk kedua kalinya. Terkadang juga, Katryn menjadikan itu sebagai lelucon ringan untuk mereka.


Hanya pada Katryn dia mau membahas tentang Selena, tapi tidak untuk orang lain. Bagi Allard, hanya Katryn yang paham tentang hatinya, sedangkan orang lain hanya bisa mengomentari tanpa memahami.


“Aku berharap, kita akan terus seperti ini,” ucap Allard berharap penuh.


“Karna kau suka dengan apa yang kita jalani seperti saat ini, bukan?” ucap Katryn mengerti kemana arah pembicaraan ini.


Setiap akan tidur, Allard selalu membahas tentang hari tua mereka bagaimana. Allard ingin dia bermanja, menggodanya, memanjakan, dan hal menyenangkan lainnya sampai mereka tua nanti. Katryn tak pernah sampai berpikir ke arah sana, namun Allard selalu mengingatkan bahwa mereka akan tua bersama. Mereka akan melihat anak-anak tumbuh dewasa, melihat anak-anak menikah.


“Kau milikku! Dan kau tak boleh meninggalkanku, ingat itu!” ucap Allard berbisik di telingannya dan mencium rambutnya.


“Aku selalu ingat, Sayang. Dengan catatan, kau tidak boleh bersama wanita lain!” tegas Katryn.


“Aku tahu, akan terus aku ingat itu, Baby!” Bukan Allard yang memulai, tapi Katryn yang memulai mencium bibir Allard dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2