Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 86. Bitter Coffee


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...---...


Sejengkal pun Katryn tidak dapat lepas dari pelukkan Allard. Pria ini memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya di dada Katryn. Katryn menghela nafas lelah, Allard memonopoli Katryn untuk membicarakan masalah mereka. Menurut Katryn, tidak ada yang harus bicara.


Akan tetapi, Allard bersikeras. Pada akhirnya mereka bertengkar habis-habisan, Allard menyalahkannya karena tidak memberitahu kebohongan Selena. Katryn mengelak, dia tidak disuka disalahkan. Percuma dijelaskan jika Allard nantinya tidak percaya. Dari mereka tidak mau mengalah, sampai akhirnya Katryn berkata tegas,


“Kau menyalahkanku?! Bagaimana denganmu, Helbert? Hatimu nyaman bersamanya! Kau memberikan hatimu padanya!” Perkataan itu mampu membuat Allard terdiam beribu bahasa.


“Morning, Amour...” Allard membuka mata, lalu mengecup bibir ranumnya.


“Hm...” Allard menghela nafas, melanjutkan pelukkannya pada tubuh hangat Katryn. Rasanya, Allard tidak suka dengan sikap acuh itu.


“Aku ingin pulang!”


“Nanti.”


“Helbert, Anzel membutuhkanku!”


“Cukup memanggilku seperti itu, Amour!” ucap Allard muak. Sedari kemarin dia menahan untuk tidak marah dengan sebutan Katryn memanggil nama belakangnya.


“Apa yang salah?!” Katryn bertanya bodoh.


“Kau istriku! Bukan orang asing!” ucap Allard tajam.


“Sebentar lagi, kita akan menjadi orang asing!” Katryn semakin memancing Allard. Benar saja, Allard dengan cepat memerangkap Katryn di bawah kendalinya. Menyambar bibir Katryn kasar dan dalam.


“Jangan memancingku dengan kata-kata laknat itu!” Allard berkata setelah melepas tautan mereka. Lalu, tanpa memberi Katryn waktu berbicara. Allard kembali menyambar bibir Katryn lebih kuat dan kasar.


Katryn sangat sadar dengan apa yang tengah Allard lakukan, pria ini menghukumnya dengan kenikmatan yang tidak bisa Katryn jelaskan dengan rinci. Yang pasti Allard menghukumnya dengan kasar, dan Katryn pun tidak dapat menolak setiap sentuhan yang diberikan Allard, karna setiap sentuhan Allard adalah candu baginya.


...***...


Ketika Allard dan Katryn tiba di mansion, semua orang menunggu mereka. Mau tidak mau, Katryn harus berada di sana dan mendengarkan ucapan Fillbert tentang Selena. Fillbert ingin Keynand menikahi Selena, tetapi Kyle―Ayah Keynand―menentang.


“Aku tidak sudi mempunyai menantu seperti dia!” Perdebatan panjang terjadi di antara mereka.


“Fillbert, Kyle, bisakah kalian diam!” teriak Caroline.


“Tanyakan itu pada Keynand langsung. Dia yang berhak memutuskan!”


Keynand yang menjadi pusat perhatian, tetap memasang wajah datar. Matanya memandang Selena sejanak, dan beralih menatap Katryn.


“Apa kau merestui hubunganku dengannya?” tanya Keynand datar. Katryn sedikit terkejut dengan pertanyaan Keynand, karna seharusnya dia bertanya kepada orang tuanya bukan kepada Katryn.


“Jujur, aku tidak tahu. Tapi, jika hatimu yakin lakukan,” ucap Katryn lembut. Sejenak Keynand terdiam, lalu dia bertanya pada Allard dengan pertanyaan yang sama.


“Tidak!” ucap Allard yang ditatap tajam oleh Marcell.


“Baiklah. Aku sudah memutuskan!” ucap Keynand memberi intruksi.


“Anak itu akan menjadi milikku dan Lyla.”


“Kau setuju menikah dengan Lyla?” tanya Cassandra, sebagai seorang ibu dia lebih setuju Keynand menikah dengan Lyla.


“Ya. Lyla wanita baik, dia pantas menjadi istri dan ibu anakku.”


“Well, semua sudah jelas. Setelah bayi itu lahir, Keynand yang akan menjadi penanggung jawab penuh!” ucap Fillbert dengan keputusan akhir.

__ADS_1


“I―it―itu tidak adil...” ucap Selena bergetar sambil memegang perutnya.


“Anak ini, anakku juga!” sambung Selena berderai air mata.


“Ingat, Selena! Kau lebih dulu menyembunyikan anakku! Dua kali kau lakukan itu! Sekarang, bayi itu milikku dan Lyla. Jangan berpikir kau bisa membawa bayiku, karena mulai detik ini, kau akan tinggal bersama orang tuaku!” ucap Keynand tidak terbantahkan. Cassandra menatap putranya tak percaya, pertama kali dia mendengar putranya berbicara sepanjang itu.


“Dad, tolong urus semuanya!” pinta Keynand pada Kyle, lalu berlalu menaiki tangga mansion.


“Tuan.. aku mohon..” Selena mencari perlindungan pada Allard. sedangkan pria itu mendengus sinis.


“Ayo, aku ingin istirahat!” ucap Allard menarik Katryn untuk meninggalkan ruangan ini.


...***...


Allard berada di markas utama. Beberapa hari belakangan ini, dia tidak pulang ke mansion. Ia menghukum dirinya sendiri, tidak peduli jika dirinya membutuhkan istirahat dan asupan. Jordan yang menemani tuannya merasa iba. Hanya karna masalah itu, Allard menyiksa dirinya dengan keras. Ditambah dengan sikap acuh tak acuh Katryn, semakin membuat Allard marah pada dirinya sendiri.


Jordan menghela nafas lelah, dia meletakkan ponselnya di atas meja setelah membaca pesan Caroline yang meminta agar Fillbert tidak tahu Allard menyiksa diri di markas ini, jika iya maka Fillbert akan dengan senang hati melawan putranya sendiri di ring tinju. Tiba-tiba pundaknya di tepuk dari belakang. Refleks, Jordan menghajar siapa yang memegang pundaknya.


“Ini aku, Tuan Bangka!” ucap Jeff berteriak.


“Oh, baguslah! Akhirnya aku bisa membuat hiasan di wajah tampanmu itu!” ketus Jordan.


“Tidak lucu!” balas Jeff


“Ada apa?” tanya Jordan, memfokuskan kembali pandangannya pada Allard yang bergelut di atas ring bersama petinju hebat.


“Mother menyuruhku membawa father pulang ke mansion,” ucap Jeff memberitahu maksudnya.


“Sangat sulit! Aku pernah mencobanya, dan tidak berhasil!”


“Lalu, kau ada cara lain?” Tanya Jeff, Jordan menggeleng tidak tahu.


“Selamat malam, Mr Helbert!” sapa Jee.


“Langsung saja!” ucap Allard datar seraya memberi kode pada Jordan untuk menyerahkan barang yang diminta klien-nya.


“Aku ingin sedikit merubah perjanjian kita!” ucap Jee. Sedangkan Allard hanya diam dengan mengisap sebuah rokok yang tersemat di sela jarinya.


“Bagaimana, Mr Helbert?”


“Kau tahu peraturanku tidak bisa diganggu gugat!” ucap Allard datar.


“Kalau begitu, aku yang rugi!”


“Oh, benarkah?! Rugi atau kau sedang berusaha mengambil keuntungan dariku?” ucap Allard tertawa meremehkan.


Jee yang dasarnya mudah tersinggung, menodongkan sebuah pistol tepat di dahi Allard. Tawa Allard seketika lenyap, tergantikan dengan raut wajah datar dan senyuman bengis yang menghiasi bibirnya. Jordan menggeleng menyaksikan keberanian Jee, anak muda ini tampaknya tidak mengenal seorang Helbert.


“Bereskan semuanya!” ucap Allard datar setelah menembak pria muda itu.


Lalu, dia berbalik menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari mereka. Allard tidak peduli suara baku tembak yang tejadi, dia segera masuk ke dalam mobil dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Keinginan membunuhnya tidak tersalurkan dengan baik malam ini, Allard butuh sesuatu yang menentang.


“Tuan, Anda ingin langsung ke mansion atau markas uatama?” tanya Jordan yang sudah berada di balik kemudi.


“Markas!”


“Apa tidak ke mansion saja?” tanya Jordan berhati-hati.


Allard diam tak menanggapi, matanya terpejam merasa gemuruh dadanya yang begitu hebat. Dia merindukan Anzel dan Katryn. Terlintas dipikirannya, kenapa dia begitu lemah hanya karena Katryn? Dia tidak suka diacuhkan, dan dia akan memaksa Katryn untuk tidak mengacuhkannya, tapi kenapa begitu sulit?

__ADS_1


Mobil yang Allard tumpangi telah berhenti, Allard turun dan langsung menuju ruang bawah tanah. Jordan yang paham, tidak dapat menahan. Di sana, Allard menghabisi satu per satu para tahanan. Akan tetapi, kegundahannya ini tidak menghilang sedikitpun. Mataya beralih pada tahanan lain yang menyaksi kelakukannya. Pandangan mata memohon maaf dan penuh ketakutan, Allard berdecih sinis. Ketika sudah berada di ujung jurang, mereka baru menyesal telah mengkhianatinya.


“Jordan, habisi para pengkhianat itu!” Perintah Allard penuh kemarahan. Kemudian, Allard berjalan ke ruang pribadinya. Sesampainya, Allard merebahkan tubuhnya ke atas kasur dan memejamkan matanya.


Seakan teringat, dia bangkit dan berjalan ke sebuah pintu yang berada di kamar tersebut. dengan memasukan sidik jarinya, pintu terbuka dan Allard masuk. Lalu, Allard mendudukkan diri di atas kursi, tangannya dengan lincah mengotak atik komputer canggih di hadapannya. Muncullah, Katryn yang sedang tertidur bersama Kyle.


“****!” umpatnya.


Rindu ini semakin menjadi, Allard rasanya ingin menemui mereka dan memeluk kedua manusia yang sangat disayangi itu. Dia mencoba mengalihkan pemikirannya ke hal lain, hasilnya sama saja. Pikirannya terus terarah pada sang putra dan Katryn. Allard tidak peduli lagi, dia mengikuti kata hatinya. Dengan langkah lebar, dia keluar dari kamar tersebut.


“Jordan! Kita pulang sekarang!” Teriak Allard nyaring. Jordan yang sedang makan bersama anak buah di markas ini, menguyah cepat makanan dan langsung menyusul Allard yang telah berjalan lebih dulu.


“Akhirnya, father pulang juga!” ucap salah satu mereka.


“Apa mereka akan berpisah?” tanya mereka.


“Oh, yang benar saja. Jika mereka berpisah, aku tidak rela!”


“Kau benar! Mereka cocok menjadi father dan mother!”


...***...


Katryn tersentak ketika sebuah tangan memeluknya. Dia membalikan badannya dan menemukan Allard dengan wajah sendu.


“Aku sangat merindukanmu!” Katryn menghela nafas, lalu mengelus pipi Allard yang di penuhi jambang. Allard kembali memeluk Katryn, menenggelamkan wajahnya dan mencoba memejamkan matanya.


Keesokan harinya, Katryn dan Allard masih tidur berpelukan. Sedangkan Allanzel bangun dan tertawa senang melihat sang ayah. Dia merangkak menindih Katryn, dan menepuk pipi Allard.


“Dadaa...”


“Merindukan dad, hm?!” Allard mengangkat tubuh kecil Allanzel ke atas perutnya.


Katryn tersenyum hangat melihat interaksi ayah dan putranya. Ini yang selalu dia rindukan, melihat interaksi Allanzel yang begitu manja. Sudah terlihat jika Allanzel begitu memuja daddy-nya. Kemanjaan Allanzel pada orang tuanya berbeda, jika bersama Katryn dia akan merengek seperti anak pada umumnya. Namun, jika bersama Allard dia akan seperti ini. Memeluk dan tertawa senang berada di pelukan Allard.


“Dadddaaa..” Allard terkekeh.


Katryn bangkit dari tempat tidur, berjalan ke arah kamar mandi. Sedangkan Allard memperhatikan gerakkan Katryn, dia sadar tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Katryn sedari malam tadi.


Tak lama, Katryn keluar dengan kimono dan berjalan ke arah walk in closet. Allard menghela nafas, Katryn masih bersikap acuh padanya. Tepukkan hangat di pipinya, menyadarkan Allard. Allanzel memandang Allard dengan pertanyakan, terkekeh dan ia mencium Allanzel gemas.


“Amour!” Panggil Allard ketika Katryn telah berpakaian. Tanggapan Katryn hanya menoleh.


“Malam ini, aku ingin makan di luar bersamamu,” ucap Allard.


“Tidak bisa!”


“Aku tahu kau masih kecewa. Kali ini saja, aku ingin menikmati waktu berdua denganmu.” Allard memohon.


“Ya.” Ucap Katryn cuek. Lalu, dia meninggalkan Allard dan Allanzel.


Di dapur, Katryn membuat bubur untuk Allanzel. Dan juga, menyiapkan sarapan pagi untuk Allard. Sedikit hatinya sudah memafkan Allard, tapi sebagian besar hatinya masih meragukan Allard. Katryn bimbang dengan hatinya, apakah masih ada cinta untuk Allard? Entah lah, Katryn masih tidak tahu. Perlakuan Allard pada Selena yang sudah-sudah, mampu membuat Katryn bimbang.


Bagaimana tidak? Dia menyaksikan perhatian Allard pada Selena. Walaupun Allard masih memprioritaskan nya, hati wanita mana yang tidak sakit melihat perhatian suaminya pada wanita lain.


Selesai menyiapkan sarapan, Katryn menghidangkannya untuk Allard. Allard sendiri merasa ada yang aneh dengan sang istri, Katryn tidak pernah menghidangkan sarapan sesederhana ini, kopi pahit dan sepiring nasi goreng.


“Sesederhana ini?”


“Ya.”

__ADS_1


...***...


__ADS_2