Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 94. Purpose


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...---...


“Kenapa kau menatapku seperti hewan kelaparan?” tanya Katryn kesal. Allard tersenyum, lalu mengambil tangan Katryn yang berada di atas meja.


“Kau tahu, aku tidak percaya kau memberiku kepercayaan lagi.”


“Coba saja lagi,” ucap Katryn tak peduli.


“Aku tidak ingin kehilanganmu.”


“Omong kosong!” Allard terkekeh.


“Aku serius, Amour.” Katryn menghela nafas, sedang malas meladani Allard yang melow seperti ini. Sulit sekali menghadapi Allard yang melow daripada Allard yang dingin.


“Aku beruntung mendapatkan wanita sepertimu. Kau candu bagiku dan kau obat dari semua sakit yang aku rasakan.”


“Maaf, selama ini aku membebankanmu dan membuat sakit hati.” Allard berkaca-kaca mengatakannya. Allard bangkit dari duduknya, mendekati Katryn dan membawanya ke dalam pelukan.


“Al, aku mohon jangan ada lagi wanita kedua. Aku tidak mau berbagi pada wanita lain,” ucap Katryn lirih. Allard mengangguk yakin.


“Ada yang ingin aku katakan.” Katryn menatap Allard ingin tahu. Allard menceritakan kejadian kemarin siang, lengkap tanpa menambahi atau mengurangi.


“Kau tidak bercanda?” Allard menggeleng.


“Kenapa?”


“Dia menggodaku!” ucap Allard kesal. Katryn mengelus pipi Allard dan mengecupnya.


“Kau bisa mengusirnya tanpa harus membunuh!”


“Amour...”


“Hm.” Allard terdiam sesaat.


“Aku ingin menghabisinya.”


“Selena?” Allard mengangguk, Katryn menghela nafas lelah.


“Bagaimana setelah anak itu lahir, beranjak dewasa dan mengetahui kebenaran bahwa ibu kandungnya dibunuh oleh pamannya?”


“Kita tutup rapat rahasia itu.”


“Sedalam apapun kau mengubur bangkai, akan tercium baunya.” Allard terdiam, di dalam hati membenarkan ucapan Katryn.


“Diskusikan pada keluarga, jangan mengambil tindakan yang akan merugikan masa depan anak-anak kita, Al.”


...***...


Katryn terbangun tanpa ada Allard dan Allanzel di sampingnya. Ia melangkah ke toilet, lalu setelahnya ia turun ke lantai bawah. Hanya ada Jeff, yang sedang menemani Allanzel bermain di ruang tamu.


“Dimana Allard?” tanyanya. Jeff, terdiam sesaat seperti mencari kata yang tepat.


“Father berada di kantor, Mother.”


“Oh, benarkah?” Katryn tak percaya, Jeff menunduk.


“Sekarang kau berpihak padanya?”

__ADS_1


“Tidak, Mother. Tuan mengatakan ada urusan kantor mendadak,” ucap Jeff.


“Baiklah,” ucap Katryn.


Allanzel meminta digendong olehnya, dengan sigap dia mengendong putra tampannya dan membawanya ke taman belakang. Dia merindukan taman Teratai kesayanganya, senyumnya mengembang melihat bunga tersebut semakin bermekaran.


Banyak yang bertanya, mengapa ia sangat menyukai bunga satu ini? Mengapa ia menyukai bunga ini dibandingkan mawar yang kebanyakan perempuan lain menyukainya? Katryn sebenarnya kurang menyukai mawar, karna mawar mempunyai duri yang tajam seperti kehidupannya.


Dulu dia pernah mengatakan pada Allard, dia menyukai Teratai sebab bunga itulah pemberian dari Lyla, Nenek Allard. Mengingat nama Lyla, Katryn seketika teringat pada tunangan Keynand yang bernama mirip.


“Apakah Nyle menjodohkan mereka sebab gadis itu mempunyai nama yang sama dengan istrinya?” batin Katryn bertanya.


Katryn kembali memandang Teratai indah yang sangat menyenangkan. Teratai memiliki filosofi yang bermakna dalam kehidupan, salah satunya adalah Teratai bisa hidup di kolam yang kotor tetapi, ia bisa menghasilkan keindahan dan kebersihan.


Seperti di kehidupannya dulu, dikelilingi oleh orang jahat seperti Earnest, keluarga bahkan teman. Namun, Katryn tidak pernah terpengaruh oleh mereka, ia selalu menampilkan kebaikan dan tidak membalasnya.


Seperti Teratai yang hidup tidak bertahan lama, seperti itulah kehidupan. Siapapun itu, tidak akan bertahan lama hidup di dunia, dan itu lah yang terjadi pada keluarganya, adik dan ayahnya yang telah lebih dulu pergi mendahuluinya.


...***...


Allard membawa Katryn ke peternakan kuda. Katryn takjub berada di sini, sebab peternakan ini didominasi kuda putih. Yang menarik minat Katryn adalah seekor kuda hitam berekor putih, sungguh unik.


“Kau tertarik dengan kuda itu?” tanya Allard, Katryn mengangguk.


“Ayo!” Allard menggenggam tangannya, berjalan bersama ke arah kuda tersebut. Katryn menatap takjub kuda itu yang kelihatannya begitu manja pada Allard.


Allard memerintah penjaga untuk mengeluarkan kuda tersebut, lalu setelah berada di lapangan yang luas, Allard menaikinya terlebih dahulu.


“Ayo!” ucap Allard sambil menjulurkan tangannya pada Katryn yang berada di samping kuda tersebut.


“Kita akan menaiki kuda ini?” Allard terkekeh, lucu pada ekspresi wajah Katryn yang polos.


Katryn akhirnya menerima uluran tangan Allard, dan Allard membantu Katryn untuk menaiki kuda tersebut. Katryn di depan, dan Allard tepat berada di belakang Katryn, memeluk pinggangnya.


“Rileks, Amour!” ucap Allard tepat di telinganya.


Tubuh Katryn perlahan mulai tenang, sedangkan Allard mulai memberi kode untuk kuda tersebut berjalan. Perlahan kuda itu berjalan, dan Katryn mulai tersenyum senang, melupakan ketakutannya.


“Kuda ini sangat unik, menurutku.”


“Ya, kuda ini salah satu kuda kesayangaku.” Beritahu Allard, Katryn mengerutkan dahinya.


“Peternakan ini milikmu?” tanyanya.


“Milikmu juga,” jawab Allard. Katryn terkekeh, jawabannya Allard seperti menekankan bahwa Katryn adalah miliknya. Tiba tiba, kuda berhenti atas arahan Allard, pria itu menenggelamkan wajahnya pada lekukkan leher Katryn dan menciumnya ringan.


“Kau mempunyai impian seperti ini, bukan?” tanya Allard.


“Kau tahu?” Allard tersenyum di balik lekuk lehernya.


“Kau pernah mengatakannya padaku, Amour.”


“Benarkah? Aku tidak ingat!”


Mereka menikmati cuaca di sore hari dengan angin yang berhembus sejuk. Katryn memejamkan matanya, dadanya menghangat dengan kebersamaan mereka saat ini. Tanpa ia duga, ketika membuka mata, Allard memegang sebuah kalung tepat di depan wajah.


“Aku ingin mengenakan ini.” Bisik Allard mengecup tengkuk Katryn. Allard dapat menebak Katryn tengah tersenyum, walau dia tidak melihat, dia yakin sang istri senang dengan suasana hangat ini. Katryn menyibak rambutnya agar Allard mudah memasangkan kalung tersebut.


“Terima kasih, Suamiku!” ucap Katryn tulus.

__ADS_1


“Sure, Amour!” balas Allard.


“Kalung yang pernah kau berikan itu―” ucap Katryn mengantung, dia takut melanjutkan perkataannya. Allard mencium cupingnya, dan meniup telinganya.


“Aku tahu, kau membuangnya.”


“Maaf.”


“Tidak apa, kau kesal padaku saat itu,” ucap Allard pengertian.


“Asal jangan membuang kalung ini,” lanjut Allard dan menggengam tangan kiri Katryn yang terdapat cincin pernikahan mereka.


...***...


Katryn mengerutkan dahinya bingung, perjalanan ini tidak sesuai dengan arah jalan pulang. Allard memerintahkan Katryn tidur, pria itu tidak mau menjawab pertanyaannya. Pada akhirnya dia tertidur dipangkuan Allard dengan kaki menekuk.


Di dalam perjalanan, Allard banyak berpikir tentang hubungan mereka yang penuh paksaan darinya. Bagaimana tidak? Di awal saja, pernikahan mereka atas paksaannya, tanpa persetujuan oleh Katryn.


Helaan nafas pelan dia hembuskan, dadanya berdegup kencang menantikan apa reaksi Katryn nanti saat dia mengatakan sesuatu. Jujur saja, Allard bukan orang yang gampang mengutarakan kemauannya, dia lebih suka melakukan tindakan walaupun itu secara paksaan.


Satu setengah jam ditempuh, kini mobil terparkir di tempat tujuan. Allard membangunkan Katryn dan memasang penutup mata.


“Allard, apa ini? Kau tidak berencana membunuhkan, kan?” Allard terkekeh.


“Bisa jadi!”


“Allard, jangan bercanda! Tidak lucu!” teriak Katryn nyaring memegang lengan Allard.


“Tidak, Amour. Ada kejutan menanti, ayo!”


Dengan perlahan, Allard menuntunnya untuk keluar dari mobil. Juga, menuntunnya untuk berjalan sampai tujuan yang akan mereka tuju. Sesampainya di sana, Katryn dapat merasakan Allard tengah memeluknya dari belakang dan tak lama melepaskannya. Jantungnya berdebar, berbagai pikiran buruk terpantri di otaknya.


“Baiklah, kau bisa membuka penutup itu!” ucapan Allard terdengar agak jauh.


Perlahan Katryn membukanya, yang pertama kali ia lihat adalah, layar besar di hadapannya. Lalu, mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Katryn tak tahu pasti ini taman atau apa, yang pasti di sekelilingnya terdapat bunga mawar dan juga bunga teratai.


“Lihatlah pada layar itu!” perintah Allard dari arah belakang.


Sejenak, Katryn melirik Allard yang berpandang datar. Kemudian, Katryn beralih menatap layar putih di hadapannya. Tak lama, foto-foto pernikahan mereka berputar diiringi lagu Beautiful White. Slide berganti cepat menampilkan foto-foto Katryn dan Allard di masa kecil.


Sebuah kata muncul di foto itu “Ingat apa yang kau katakan setelah kita berfoto saat itu?”. Katryn mengerutkan dahinya, kebingungan terjawab pada slide foto selanjutnya “Aku menyukaimu, dan kau juga harus!” Tawanya pecah, seketika ia ingat, perkataan yang membuatnya mati kutu saat itu, perkataan spontan tanpa berpikir terlebih dahulu.


Layar itu terus memutarkan foto kebersamaan mereka, banyak yang beramsusi bahwa mereka adalah sepasang kekasih, tapi itu tidak benar. Katryn tak sedikit pun meyadari perasaannya, hanya tahu bahwa dia menyukai ketampanan Allard. Saat ini ia tahu bagimana perasaannya terhadap pria yang berdiri di belakangnya.


Selanjutnya layar itu menampilkan sebuah kumpulan videonya. Katryn bingung, sejak kapan Allard mengabadikan videonya? Dan lengkap pula! Saat dia bermain di taman komplek, di sekolah, di cafe, dan masih banyak lagi. Namun, itu dapat membuat senyumnya terbit. Ternyata pria ini mengoleksi video kesehariannya tanpa terlewat. Simple, tapi sangat berkesan untuknya. Ia sama sekali tak berpikir, bahwa Allard sering mengambil video kesehariannya.


Setelah video berputar habis, muncul sebuah tulisan “Sekarang, berbaliklah!” bagaikan sebuah perintah, Katryn berbalik, dan melihat Allard bediri dengan wajah tegang.


“Banyak yang telah kita lewati, termasuk paksaan dan juga sakit yang telah aku torehkan padamu,” ungkap Allard.


“Semua tak mudah untukmu. Jujur, aku tak ingin kehilanganmu untuk kesekian kalinya.” Jedanya.


“Sekarang kau dan aku saling memiliki. Tapi, rasanya tak adil bagimu karena pernikahan kita didasari atas paksaanku.”


“So, will you marry me, Mrs Helbert?” ucapnya sambil membuka sebuah kotak berisi cincin berlian. Katryn tak percaya ini, Allard berlutut di hadapannya dengan menyodorkan sebuah cincin. Hal yang romatis dan juga tak bisa Katryn percaya jika pria ini melakukan hal seperti ini.


“Of course! Yes!” jawabnya.


Allard berdiri, lalu memeluk tubuhnya. Dari balik dinding, Marcell melihat semuanya. Dia juga ikut bahagia melihat wajah sang kakak yang memancarkan kebahagian dan ketidakpercayaan. Marcell tahu, kebahagian sang kakak ada pada Allard. Ia memandang Allard, wajah itu sama bahagianya. Disini ia mengerti, ini adalah bukti bahwa Allard ingin memulai semuanya tanpa paksaan dan membuka lembar baru dalam hidup mereka.

__ADS_1


__ADS_2