
...Telah direvisi!...
...---...
“Katryna, temuilah Allard dulu.” Fillbert memberi arahan.
Fillbert dengan cepat mengambil alih Allanzel dari gendongan Marcell. Fillbert menatap Katryn sedikit memohon, Katryn mengangguk paham. Ia menaiki tangga menuju kamar, sesampai di kamar dia langsung meletakkan sidik jarinya untuk membuka pintu.
Pintu terbuka ... Katryn terpaku di tempat. Bagaimana tidak? Kamar ini berantakan, barang berceceren tidak pada tempanya, botol alkohol di mana-mana dan bau amis bercampur minuman keras memenuhi kamar ini.
Matanya memperhatikan sekitar, Katryn panik ketika melihat tetes darah di lantai dekat ranjang. Katryn mencari Allard di kamar mandi, dan tidak menemukannya. Lalu, mencari Allard di walk in closet dan hasilnya sama. Katryn terduduk di ranjang, jantung terasa ingin lepas.
Fillbert mengatakan Allard selalu berada di kamar, tapi dimana keberadaan pria itu? Seakan teringat pada lukisan dirinya, Katryn dengan cepat melangkah ke arah lukisan tersebut, dia yakin Allard di sana. Dan benar saja, dia menemukan Allard yang dengan santainya menyakiti dirinya. Katryn tak dapat menahan perasaan bersalahnya pada Allard.
“Allard!” teriaknya dan menubruk tubuh Allard, tanpa peduli dengan pisau yang berada di tangan Allard.
“Katryna...” lirih Allard. Tubuh Allard seakan tak berdaya dipelukkan Katryn.
“Benarkah ini kau? Apakah benar Katryn yang tengah memelukku?” Allard bertanya lirih.
“Ini aku, istrimu!” ucap Katryn tepat di telinga Katryn. Seakan mendapat energi, Allard memeluk Katryn sangat erat. Seketika Allard melupakan kesenangannya dalam menyakiti diri.
“Kau kembali!” Seru Allard dengan hati yang menggebu.
Cukup lama mereka berpelukan, Katryn ingin melepaskan pelukannya, akan tetapi Allard menahan. Ia menenggelamkan wajahnya pada bahu wanita yang ia cintai ini.
“Allard. Allanzel merindukanmu,” ucap Katryn. Respon Allard hanya menggeleng. Dia sangat merindukan wanita ini! Dia ingin menghukum wanita ini! Dia telah berbohong, tapi Allard tidak sanggup berkata.
Tangis Allard pecah mengingat hari yang ia jalani tanpa Katryn di dalamnya. Allard tidak peduli dengan apapun, dia hanya peduli pada wanita yang berada di pelukan ini. Dengan paksa, Katryn melepaskan pelukan Allard. Menatap pria ini dengan rasa bersalah, matanya beralih pada luka di tangan Allard yang masih segar dengan merah kental itu.
Katryn membuka kancing kemeja Allard satu per satu dengan tangan yang bergetar hebat. Dari sini dia dapat melihat banyak goresan di tubuh atletis sang suami. Dia semakin menanggalkan baju Allard, dan Katryn menemukan goresan luka pada lengan, dada, bahu dan masih banyak lagi.
“Mengapa kau melakukan itu?”lirih Katryn.
“Karena dengan ini lah sedikit membuatku merasa tenang,”bisik Allard.
“Bukan cara seperti itu, Al.”
“Kau menyakiti dirimu!” sambungnya. Allard menggeleng lemah, ia menyandarkan tubuhnya pada dinding di belakangnya seraya menatap Katryn tanpa lepas sedikit pun.
“Aku lelah, Amour..” lirih Allard.
“Istirahatlah...” Allard kembali menggeleng, ia memegang pipi Katryn dan mengelusnya secara abstrak.
“Ayo, aku obati lukamu, lalu kau bisa beristirahat!” ucap Katryn sambil berdiri. Allard menahan tangan Katryn dan berkata,
“Boleh aku menciummu?” Tanya Allard terdengar pelan, Katryn mengangguk.
Perlahan Allard menegakkan badannya, dengan gerakan lambat dia mencium Katryn dengan kelembutan. Allard menyalurkan semua keresahannya melalui ciuman itu, kesedihan, kemarahan, kehilangan, dan kekecewaan. Sampai Allard tak dapat menahan semua perasaan itu, Allard melepaskan pelukannya dengan air mata, lalu menenggelamkan wajahnya di dada Katryn.
“Maafkan aku...” Perkatan itu sangat menyayat hati Katryn. Pria ini sangat merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan. Katryn mengangkat wajah Allard, menghapus air matanya.
__ADS_1
“Ayo. Aku obati lukamu,” ucap Katryn.
“Biarkan saja luka ini,” ucap Allard sangat pelan, yang didengar oleh Katryn.
“Tidak! Ayo!” paksa Katryn. Mau tidak mau, Allard mengikuti langkah Katryn. Kemudian, Katryn mendudukkan Allard di atas sofa yang berhadapan dengan pintu rahasia tersebut.
Ketika Katryn ingin melangkah, suara Allanzel membuat Katryn waswas. Dia membalikkan tubuhnya, berusaha menutupi Allard. Dia tidak mungkin memperlihatkan Allard yang penuh dengan luka.
“Mom, bisakah kau membawa Kyle keluar. Aku akan keluar bersama Allard, dalam 10 menit lagi!”
Caroline terpaku menatap kamar ini sangat berantakan, terutama luka di badan Allard. dia hanya sekilas melihat, tapi dia paham dengan semuanya tanpa perlu bertanya lagi.
“Mom!” Tegur Katryn agak keras, dan membuat Caroline sadar.
“Baiklah.”
Katryn kembali mencari kotak obat. Setelah mendapatkannya, dia kembali menduduki sisi ranjang. Sedangkan Allard sudah membaringkan badannya, dengan mata yang tidak lepas menatap Katryn. Tanpa sepatah katapun, Katryn mengobati Allard.
“Apa kau akan meninggalkanku lagi?” Tanya Allard tanpa basa basi.
“Iya. Jika kau memilihnya daripada aku!” ucap Katryn.
“Sedari dulu aku memilihmu. Tapi, kau tak mengatakan apapun dan tetap meningggalkanku!” sarkas Allard, Katryn hanya terdiam membenarkan. Allard bangun, ia membaringkan kepalanya di paha Katryn sambil memejamkan matanya. Sangat nyaman, batinnya.
“Kenapa kau membohongi semua orang?” tanya Katryn.
“Aku tidak suka berada disana. Aku tidak gila!”
“Gila karna kau meninggalku!” ucap Allard emosi.
“Ayo kita turun, Anzel merindukanmu!” ucap Katryn mengalihkan topik.
Allard bangkit dan menarik pelan tangannya agar memasuki walk in closet. Allard mengambil sebuah hoody bewarna hitam polos juga celana jeans, lalu mengenakannya di hadapan Katryn. Katryn tak berkomnetar, dia hanya memperhatikan semua gerakkan Allard, sedangkan pria itu mengenakan pakaiannya dengan menatap Katryn tanpa bosan sedikit pun. Selesai memakai pakaian, Allard kembali menggenggam tangannya. Mereka turun bersama, benar dugaan Katryn bahwa Allanzel akan langsung menangis dalam gendongan Allard.
...***...
Sejengkal pun Katryn tidak boleh pergi dari sisi Allard. Sebenarnya, Katryn merasa risih dengan sikap Allard itu. Seperti sekarang, Allard memeluknya di atas ranjang dengan Allanzel yang berada di tengah mereka. Allard memang memejamkan matanya, tapi Katryn tahu pria ini sedang memikirkan banyak hal. Hubungan mereka memang masih agak canggung, itu menurut Katryn.
Pagi harinya, Allard terbangun lebih dulu. Matanya memandang Allanzel yang berada di pelukan sang ibu. Allard menyilangkan kakinya, sambil terus memperhatikan pemandangan di hadapannya. Sekilas pemikirannya ingin mengabadikan moment ini, Allard mengambil ponselnya di atas nakas dan mengambil beberapa foto.
Tak lama, Allanzel terbangun dan merentangkan tangannya. Allard menyambutnya dengan senyuman lebar. Allanzel menumpu pipinya di bahu Allard, dan kembali memejamkan matanya.
Katryn telah bangun ketika Allanzel bergerak di dalam pelukannya. Namun, dia berpura-pura masih tertidur. Dia menyukai pemandangan ini, pamandangan yang dapat menghangat perasaanya.
“Mommy!” ujar Allanzel dan melompat ke dalam pelukan Katryn.
“Moning, momy!” ucap Allanzel dengan nada anak-anaknya. Di umurnya yang setahun lebih, Allanzel mulai mengucapkan kata per kata. Seperti tadi, walaupun kata-katanya belum bisa Katryn pahami, setidaknya perkembangan Allanzel sangat cepat.
“Morning, kesayangan mommy!” balas Katryn.
Allanzel menarik-narik kancing baju Katryn, pertanda dia ingin menyusu. Katryn tertawa dengan tingkah menggemaskan putranya ini.
__ADS_1
“Setelah itu mam, okey?”
“No.” Satu kebiasan Allanzel yang sering membuat Katryn kesal. Jika sudah menyusu, tidak akan mau makan setelahnya.
“Mam, Sayang.” Allanzel mengangguk antusias. Katryn perlahan memberi asi pada putranya.
Katryn seolah tak peduli dengan tatapan Allard, tapi ujungnya dia tak tahan ditatap setajam itu oleh suaminya. Pada akhirnya, Katryn menutup mata Allad dengan tangannya yang bebas. Allard terkekeh, lalu dia memegang tangan Katryn dan mengecupnya. Allard menumpu tangan di kepalanya sambil menatap Katryn menggoda.
...***...
Kedua orang tua Allard masih setia berada di mansion mereka. Terlebih Caroline yang merindukan cucu kesayangannya. Selagi Allanzel bermain bersama kakek dan neneknya, Allard ingin berbicara pada Katryn. Memang seharusnya mereka menuntaskan semua perkara yang ada.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Allard mengerti, Katryn menghela nafas berat menatap Allard tanpa ekspresi.
“Bagaimana perasaanmu terhadap dia?” Tanya Katryn
“Tidak ada spesial!”
“Hatimu sedikit terisi untuknya,” balas Katryn.
“Kau tahu, Amour? Setelah kepergianmu, aku kembali menelaah bagaimana perasaanku terhadapmu dan Selena.”
“Aku meresapi semua kebersamaan ku terhadap kalian. Satu hal yang aku tahu, bahwa Selena adalah bentuk protesku terhadap sikapmu yang terlihat acuh.” Allard mengambil tangan Katryn untuk dia genggam.
“Itu kekanakan sekali, aku tahu, aku salah akan hal itu. Tetapi, ketika aku bersamanya, aku tidak pernah sebahagia ini.” Allard meletakkan tangan Katryn tepat di dadanya.
“Jantungku tidak pernah berdegub segila ini. Sekarang aku sadar, hatiku tidak pernah kuberikan pada siapapun! Hanya kau!”
“Kau yakin?” ucap Katryn berusaha tidak luluh.
“Katryna, tatap mataku. Kau sangat tahu bagaimana aku ketika berbohong!” ucap Allard menatap sang istri. Katryn mengangguk, dia akhirnya luluh dengan perkataan Allard.
“Lalu, dimana Selena saat ini?” tanya Katryn. Allard melepaskan tatapannya. Dia menundukkan pandangannya agar Katryn tidak dapat membacanya. Katryn memegang pundak Allard, meminta Allard untuk jujur.
“Kau berjanji untuk tidak marah?” Tanya Allard, Katryn mengangguk.
“Penjara.” Katryn menatap Allard tak percaya.
“Untuk apa dia berada di sana? Dia sedang hamil!”
“Keynand telah mengizinkan.” Katryn menggeleng, Keynand mengizinkan Selena yang tengah hamil anaknya berada di penjara. Katryn memaki Keynand dalam hati.
“Lalu, setelah Selena melahirkan. Apa yang akan kau lakukan?” tanya Katryn berhati-hati.
“Terserah pada dad dan Keynand. Selena bukan lagi urusanku!”
“Oke.”
“Sebenarnya, ada hal yang ingin aku katakan,” ucap Katryn mengubah topik.
...***...
__ADS_1