Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 6. Feel Sorry


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Happy reading!...


...---...


Berminggu-minggu telah berlalu... saat ini, Katryn tengah mematut diri di depan cermin yang menampilkan tubuhnya yang penuh dengan luka akibat perbuatan Earnest.


Hampir lima tahun Katryn terjebak dalam hubungan toxic bersama Earnest. Berkali-kali mencoba kabur, berkali-kali juga tubuhnya menjadi sasaran kemarahan Earnest. Di awal mengenal Earnest begitu manis, memperlakukannya dirinya dengan sebaik mungkin.


Tetapi, sebulan menjadi kekasih Earnest, satu per satu keburukan pria itu terlihat. Sering mengatakan hal yang membuat dirinya merasa rendah dan tidak berguna. Bodohnya, Katryn percaya bahwa hanya Earnest seorang yang menginginkannya, tidak ada orang lain.


Kedua mata Katryn terpejam diikuti tetesan air mata. Jalan hidupnya berubah drastis dan begitu menyedihkan hanya karena seorang pria. Semua keburukan yang terjadi disebabkan oleh psikopat tidak punya hati itu!


Dalam seminggu ini, Earnest tidak pernah mendatanginya lagi. Katryn amat sangat bersyukur, bahkan berdoa pria itu tidak pernah lagi ada dalam hidupnya.


Namun, satu hal lain yang Katryn pikirkan, yaitu Aleysia—sang ibu—menyalahkan dirinya atas yang terjadi pada keluarga mereka. Walau tidak mengatakannya secara langsung, Katryn sempat beberapa kali mendengar perdebatan di antara ibu dan ayahnya, Thomas.


Seperti yang Katryn dengar dua hari lalu, di mana Aleysia mengeluh kehidupannya yang tidak seperti dulu dan kalimat yang dilontarkan sang ibu kepada sang ayah, sedikit banyak mempengaruhi pikiran.


“Seharusnya Katryn menerima pria itu, agar kita tidak hidup seperti ini!” Itulah yang ibunya katakan kepada sang ayah.


Katryn ingin sekali mengatakan pada keluarganya bahwa Alessa akan membantu, tetapi Katyn menahan sebab mengingat ucapan Alessa yang memperingatinya untuk tidak mengatakan pada siapa pun. Yah... sejujurnya Katryn tidak yakin Alessa dapat membantunya, sudah seminggu tidak ada sedikit pun kabar dari Alessa.


“Baby!” Earnest tiba-tiba membuka pintu dan memanggilnya.


Katryn kaget, ia terburu-buru mengambil selendang dan menutupi tubuh bagian bahunya yang hanya mengenakan tank-top.


“Sedang apa kau?” tanya Earnest.


“Tidak ada. Hanya berkaca saja,” jawabnya setelah menetralkan detak jantungnya.


“Kau sedang memperhatikan karyaku, hm?” ucapnya sambil terkekeh senang.


“Ada apa kau kemari?” tanya Katryn mengalihkan pembicaraan.


“Aku merindukanmu!” Katryn menahan agar tidak mengeluarkan decakkan.


 Tiba-tiba, Earnest mendekat dan memeluk tubuh Katryn lembut. Wajahnya ia letakkan pada lekukan leher Katryn, sesekali menghirup wangi tubuh Katryn yang ia sukai. Katryn bagaikan patung, tidak membalas pelukan Earnest. Pelukan ini rasanya hambar, tidak ada kenyamanan di dalamnya.


“Kau tak akan bisa pergi dariku,” bisik Earnest yang membuat Katryn menegan

__ADS_1


...***...


Makan malam bersama Earnest tidak pernah menjadi hal yang menyenangkan, mungkin dulu iya. Namun, setelah mendapatkan perlakuan buruk dan mengetahui satu rahasia yang selama ini Earnest sembunyikan, Katryn tidak lagi bisa menikmati kebersamaannya bersama Earnest barang sedetik pun.


“Apa kau ingin memesan yang lainnya?” tanya Earnest.


“Tidak!”


Ponsel Earnest bergetar di atas meja, tertera nama Brielle di sana. Katryn melirik sekilas ke arah Earnest, pria itu menolak panggilan tersebut.


“Brielle apa kabar?” tanya Katryn pelan.


“Baik,” jawabnya cuek.


Tak ada pembicaraan lain, Katryn pun sebenarnya menanyakan tentang Brielle secara spontan. Sedikit bersalah pada wanita cantik itu. Seharusnya, dia tidak pernah menerima Earnest memasuki dunianya, tapi nasi sudah menjadi bubur.


Beruntungnya, Earnest tidak menyakitinya malam ini. Setelah makan malam, Earnest mengantarkannya ke rumah. Tetapi, aneh sekali sebab banyak pria kekar berbaju serba hitam di sekitar rumahnya.


“Mereka siapa?” tanya Katryn bingung.


“Mereka orang-orangku yang akan menjagamu,”


“Kenapa aku harus dijaga?”


Katryn langsung terpikir pada Alessa, apakah pria ini tahu tentang Alessa yang ingin membantunya lepas dari Earnest?


“Apa aku bisa pergi darimu? Tidak, bukan? kau punya cara untuk mengikatku terus berada di dekapanmu!” ucap Katryn keras.


“Aku bukan bonekamu yang bisa kau jadikan mainanmu! Seharusnya kau memikirkan istrimu, bukan memikirkan kesenanganmu!” ucap Katryn kedua kalinya, tak ada sahutan dari Earnest, pria itu hanya memandang seakan omongan Katryn hanyalah angin lalu.


Katryn tertawa sinis, respon santai Earnest ini sungguh mengesalkan, bagaimana bisa seorang suami begitu tidak peduli terhadap istrinya? Brielle... ya, istri Earnest itu adalah Brielle.


 Tidak berguna juga Katryn mengatakan hal demikian. Maka, Katryn berbalik dan berjalan memasuki rumah. Ketika membuka pintu, Katryn mendapati Marchell sedang duduk di ruang tamu.


“Dimana mama dan papa?” tanyanya.


“Di kamar. Mama masih sakit,” jawab Marchell.


“Apa tidak dibawa ke rumah sakit saja? Kasihan mama...”


“Mama enggak mau,”

__ADS_1


“You okey, Ryn?” tanya Marchell setelah menjawab pertanyaan sang kakak.


“I am okey,”


Katryn ikut mendudukkan diri di sebelah sang adik, lalu membaringkan kepalanya dipangkuan Marchell. Senyum Marchell terbit, tangannya mulai memainkan rambut Katryn.


“Marchell...”


“Hm...”


“Apa kau marah padaku dengan keadaan kita seperti ini?” tanya Katryn ingin tahu.


“Semenjak seperti ini, kau dijauhi oleh teman-temanmu dan bahkan mereka mengolok-olokmu! Apa kau marah padaku dengan keadaan kita seperti ini?” tanya Katryn ingin tahu.


“Tidak pernah sekalipun, karena ini aku tahu siapa benar-benar teman dan siapa yang bukan!” jelas Marchell.


“Termasuk kekasihmu itu?” Marchell mengangguk pelan dan menjawab,


“Termasuk itu. Aku menyesal tidak mendengar ucapanmu dulu!” Katryn tertawa pelan.


“Begitu juga aku,” ucap Katryn.


Marchell ikut tertawa, mereka dibutakan asrama dan pada akhirnya mereka tersakiti. Saat Katryn dekat dengan Earnest, Marchell tidak suka. Demikian dengan Katryn, ia tidak menyukai kekasih Marchell yang menurutnya terlalu centil dan sering kali meminta sesuatu pada sang adik yang tidak masuk akal.


Dalam sekejap, raut wajah Katryn berubah masam. Marchell yang menyadari itu, menanyakan langsung.


“Apa aku menerima saja lamaran dia?”


“Apa kau gila?”


Katryn mendudukkan dirinya, menatap Marchell dengan segala perasaan yang campur aduk.


“Aku tidak tega... mama tidak sanggup hidup seperti ini, kau tahu juga bagaimana mama dan papa bertengkar akibat ini, Chell. Semua karena aku!” ucap Katryn.


“Setiap mereka pertengkaran, mama menyalahkanku dengan apa yang terjadi sekarang...”


Marchell terdiam, tidak percaya sang mama menyalahkan Katryn. Aleysia sendiri yang menolak permintaan Earnest untuk menikahi putrinya. Tapi, itu bisa saja karena sang ibu sedari dulu dilimpahkan harta dan tidak pernah kekurangan. Berbeda dengan sang ayah, Thomas merintis usahanya dari nol bersama sang kakek hingga menjadi usaha tersebut berkembang pesat.


“Aku tidak setuju kau menerima dia! Apa pun itu, kita cari jalan keluarnya bersama!” ucap Marchell menentang.


Sampai kapan pun itu, Marchell tidak pernah akan sudi memiliki kakak ipar psikopat seperti Earnest! Masih menjadi kekasih saja dia berani memperlakukan Katryn seperti ini, apalagi jika menjadi suami, Marchell akan mengunci Katryn di sebuah sangkar yang menyeramkan!

__ADS_1


...***...


__ADS_2