Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 97. All About Us


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...---...


Alessa pergi menemui Nick, dia mengatakan pada Jordan dengan jujur tanpa ia tutupi. Sesampai di mansion Nick, Alessa turun. Akan tetapi, kedatangannya ditolak oleh penjaga. Alessa paham, keluarga Fernand pasi pelakunya!


Tidak ada pilihan lain selain menunggu Nick keluar. Benar saja, Nick keluar dan Alessa tanpa basa-basi menghalangi mobil Nick.


“Aku ingin bicara!” Nick tidak begerak di dalam sana, Alessa segera berjalan dan membuka pintu mobil. Nick menjalankan mobil setelah Alessa kembali menutup pintu.


“Katakan!” Alessa menghela nafas, sikap Nick jelas berbeda dari terakhir mereka bertemu.


“Kali ini saja, dengarkan aku, Nick. Mereka hanya menginginkan pembalasn dendam itu, mereka tidak peduli padamu.”


“Kau tidak tahu apapun tentang keluargaku, Alesa!” jawab Nick cepat sebelum Alessa melanjutkan ucapannya.


“Aku mendengar semuanya! Mereka memanfaatkanmu!” Bantah Aleesa tak mau kalah.


“Terlebih Zyan, dia menginginkan kematianmu dan seluruh harta Fernand akan jatuh padanya!”


“Diam, Aleesa!” bentak Nick. Alessa terdiam terpaku.


“Kau tidak tahu apapun! Kau tidak tahu!” ucap Nick keras kepala.


“Kau memilih sahabatmu! Begitu juga denganku yang memilih keluargamu!” ucap Nick setelah keterdiaman yang cukup lama.


“Ya, kau benar, aku memilih sahabatku! Tapi, apakah kau tidak mengerti, aku peduli padamu! Aku tidak ingin kau disakiti oleh mereka, aku menyayangimu!”


“Semua kulakukan untuk ibu dan ayahku! Persetan dengan Fernand sialan itu!”


“Orang tuamu? Mereka masih hidup?” tanya Aleesa tak percaya.


“Ya.”


“Jadi, mereka memberitahu di mana orang tuamu dengan syarat kau membalaskan dendam itu pada Allard?” ucap Aleesa yang menyimpulkan.


Aleesa menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil, merasa tak nyaman dengan pembahasan mereka. Semua pertanyaannya yang mengahantuinya terjawab sekarang, Nick harus membunuh Allard dan begitu dia akan bertemu dengan orang tua kandungnya. Pantas Nick berubah akhir-akhir ini menjadi penurut.


“Nick, semua akan baik-baik saja. Kita akan mencari tahu di mana mereka menempatkan orang tuamu, dengan begitu kau tak perlu membalaskan dendam mereka!” ucap Aleesa memberi jalan keluar.


“Tidak semudah itu, Aleesa! Mereka akan membunuh orangtuaku, jika dendam itu tak terbalaskan!”


“Kita bisa melakukan tanpa sepengatahuan mereka.”


“Ini tidak semudah yang kau pikirkan, Aleesa. Orang tuaku akan dibunuh tepat di hari ulang tahunku!” ucap Nick frustasi.


“Dua hari lagi?!”


“Tepatnya dalam 20 jam!”


“Apa rencanamu?” Nick diam.


“Nick!” teriak Aleesa.


“Aku tidak akan memberitahumu!”


“Turunkan aku disini!” pinta Aleesa.


“Kau akan memberitahunya, bukan? Aleesa, sekali ini saja untukku! Biarkan aku melakukan itu!” ucap Nick dengan nada datar, namun di hatinya tersimpan kesedihan.


“Tidak. Kau tidak bisa membunuh menyakiti sahabatku!”


“Baiklah!” ucap Nick, memberhentikan mobilnya. Aleesa turun tanpa pamit, mobil itu melaju dan Aleesa menatap kepergian Nick dengan dada yang terasa sangat sesak. Dia harus melakukan sesuatu!


...***...

__ADS_1


“Kau menemuinya?” Sebuah suara mengejutkan Aleesa yang tengah berkutat pada labtopnya.


“Ya!” jawabnya, kembali berkutat pada labtopnya.


“Apa yang kau dapatkan?” tanya Allard menyandarkan tubuhnya pada meja di kamar Aleesa.


“Kau pasti sudah tahu!” ucap Aleesa.


“Mengambil perhatian Katryn, lalu menembaknya saat itu juga! Jika gagal, mereka akan menembak secara diam-diam!” ucap Allard. Aleesa langsung menatap Allard secepat kilat. Itu adalah trik yang sudah sangat lama, tapi apakah Allard akan membiarkan itu?


“Tunggu, mengambil perhatian katamu? Bagaimana caranya? Bukankah Katryn akan berada di rumah sepanjang waktu?”


“Ia mengetahui kebiasaan Katryn yang akan keluar memeriksa kandungan, serta Katryn akan menghabiskan waktu setelah memeriksa kandungan.”


“Lalu, kau akan membiarkannya, ha?” sembur Aleesa tak terima.


“Kita buat se-natural mungkin. Kau tahu Katryn bagaimana, jika dilarang dia akan semakin keras kepala!”


“Kau bisa membujuknya untuk tidak keluar!” bantah Aleesa.


“Artinya, kau ingin orang tua suamimu terbunuh?” tanya Allard memancing. Seberapa detik, Aleesa termenung. Lalu, menatap Allard dan berucap lirih,


“Aku sedang berusaha menemukan titik dimana orang tua Nick disekap!”


Allard tersenyum tipis, Aleesa adalah sahabatnya juga. Wanita ini yang selalu ada untuk Katryn, yang selalu menjadi penengah antaranya dengan Katryn dulu. Melihat kesungguhan dari mata itu, Allard seperti melihat dirinya sendiri.


Masalah ini menurutnya adalah masalah yang sangat kecil, sebab dia bisa menanganinya dengan mudah. Semua rencana yang dilakukan Nick, sangat terkesan buru-buru tidak memikirkan rencana yang lebih baik dari ini. Hanya ada satu masalah sebenarnya, menembak rahasia yang ditempatkan oleh Nick belum diketahui siapa. Untuk satu ini, Allard sedikit memuji Nick yang pandai menempatkan penembak itu.


“Kau ikut denganku besok sore!” perintah Allard, dan pergi begitu saja.


Seperti yang seharusnya, Katryn pergi memeriksa kandungan bersama Jeff dan juga Caroline yang memaksa ikut. Sebenarnya, Katryn ingin mengajak Aleesa dan juga Allard, tapi kedua manusia itu mengatakan ada urusan yang sangat penting.


Fyi, Katryn memerika kandungannya di ruangan yang dikhusukan untuk Katryn seorang atas perintah Allard. Agar meminilisir kejahatan, begitu kata Allard. Pemeriksaan kandungan dilakukan tak akan disetujui oleh Allard, jika Katryn tidak memaksa. Perjanjian di antara mereka, Katryn akan terus di rumah dengan syarat dia ingin memeriksa kandungannya sebulan sekali di rumah sakit dan setelahnya ingin menikmati udara luar.


Setelah memeriksa kandungan, Katryn menikmati waktu di taman anak-anak guna melihat anak kecil bermain. Jeff mendorong kursi roda Katryn, sedangkan Caroline sedang menerima telpon dari Fillbert.


“Es krim!” ucapnya sambil menyengir, Caroline tersenyum.


“Tunggu di sini!” ucapnya.


Katryn mengelus perutnya yang tengah membayangkan anak-anaknya lahir pasti akan semakin ramai. Ia tak sabar menunggu dan menyaksikan langsung Allanzel dan adik kembarnya meramaikan keluarga.


Namun, ketika sedang melamun, Katryn dikejutkan oleh ledakan yang membuat jantungnya berdegub kencang karena kaget.


“Ada apa itu, Jeff?” tanya Katryn.


“Saya tidak tahu, Mother!”


“Katryna, kau tak apa?!” tanya Caroline berlari ke arahnya.


“Tidak apa, Mom.”


“Maaf, Mother. Lebih baik kita pulang sekarang!” ucap Jeff tegang.


“Ayo!” ucap Caroline membenarkan ucapan Jeff.


Katryn hanya pasrah, padahal ia masih ingin berada di sini. Ia seperti tak menyadari bahaya tengah mengintainya. Jeff sekilas melihat Allard yang berdiri di balik pohon menatap Katryn datar, ia tahu pria itu tengah menahan emosi. Ponselnya berdenting, ia membuka dan membacanya.


“Bawa ke mereka ke markas utama. Kondisi ini tak aman untuknya!”


Jeff kembali menatap Allard, mengangguk sekilas dan mendorong kursi roda Katryn, mereka berjalan ke arah mobil yang telah terparkir. Pandangan Jeff menajam melihat mobil yang terparkir semuanya sama dengan mobil yang mereka tumpangi dari masnion tadi, bahkan platnya saja sama.


“Mother Caroline, mundur dari sana!” ucap Jeff.


“Ada apa?” tanya Caroline yang ingin membuka pintu mobil.

__ADS_1


“Itu bukan orang kita!”


Caroline segera mundur, sedangkan Katryn tengah menyusun puzzle-puzzle kejadian tadi di otaknya. Dia mengerti, kejadian ini bukan terjadi begitu saja, tapi seseorang tengah merencanakan yang buruk.


Jeff mengedarkan pandangannya dengan seksama. Ada beberapa orang suruhannya yang tengah melindungi mereka, dan juga ada beberapa orang yang mencurigakan di pandangannya.


“Mereka ingin mengoceh pandangan kita!” ucap Caroline.


“Jangan khawatir, Mother. Jordan sedang menangani itu,” ucap Jeff melihat satu objek ke arah Jordan yang membantu mereka mencari mobil yang sebenarnya.


“Lama sekali. Ini akan menjadi waktu yang tepat untuk mereka menyerang kembali, Jeff!” ucap Caroline kesal.


“Kita pergi dari sini!” sambung Caroline.


“Mother. Itu akan sangat berbahaya!” ucap Jeff.


Kondisi tegang seperti ini membuat Katryn merasa sesak dan perutnya terasa melilit. Ia menarik nafas dan menghembuskan perlahan, begitu seterusnya. Ponsel Jeff berdenting kembali,


[Jeff, segera ke arah jam 3, mobil tuan telah terparkir di sana!]


Jeff menatap dimana Jordan berada, anggukkan dari Jordan meyakinnya bahwa itu adalah benar. Segera Jeff mendorong kursi roda Katryn, setelah mengatakan pada Caroline. Di sekitar mereka banyak anak buah mereka, tapi dia harus tetap berhati-hati. Dari mereka, pasti sedang menyamar menjadi bawahan Allard.


Ketika sampai, Jeff langsung membuka pintu mobil. Kemudian mengendong Katryn dan memasukannya ke mobil, ia menyusul masuk sedangkan Caroline sudah masuk di bangku samping kemudi.


Mobil melaju, dan suara tembakan terdengar mengarah ke mobil mereka beberapa kali. Di arah depan terdapat beberapa pengemudi lain yang menutupi jalan, namun dengan gesit si pengemudi dapat melaluinya dengan baik. Kembali suara tembakan yang mengenai spion pengemudi.


“Shit!” Maki pengemudi, sambil membuka topi dan melemparnya entah kemana.


“Aleesa!” ucap Katryn tak percaya.


“Oh, hei, Katryn!” sapa Aleesa santai dan tersenyum pada Katryn melalui spion depan.


“Hei, Aunty...” Sapa Aleesa pada Caroline.


“Aku sudah tahu bahwa itu adalah kau!” ucap Caroline seraya ternyum, Aleesa terkekeh.


“Baiklah. Berpegang erat, dan Jeff tolong jaga Katryn!” ucap Aleesa, lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


Suara deringan telepon Aleesa terdengar nyaring, tanpa melihat Aleesa menakan salah satu tombol di mobil tersebut yang terhubung langsung dengan handphone.


[“Ya, Tuan!”]


^^^[“Hei, Baby!”]^^^


Raut wajah Aleesa berubah.


[“Kau tetap memilih mereka, daripada suamimu,”]


[“Yang benar saja. Kau tetap pada pendirianmu, begitu juga denganku!”]


Aleesa mematikan panggilan secara sepihak.


“Jeff, kau lihat mobil yang mengikuti kita dari belakang?” tanya Aleesa cepat.


“Ya.”


“Tembak kaca kemudi itu!” perintahnya.


“Apa kau yakin?”


“Sangat yakin!” ucap Aleesa penuh keyakinan.


Tanpa diperintahkan kedua kali, Jeff membuka atap mobil dan langsung menembak ke sasaran. Umpatan Aleesa terdengar, ia memerintahkan menembak sampai kaca itu pecah. Sedikit susah karna kaca itu dirancang anti peluru, tapi Jeff bisa melakukannya.


“Kerja yang bagus!” puji Aleesa, setelah Jeff kembali duduk.

__ADS_1


“Asal jangan menyalahkanku jika suamimu itu terluka!” ucap Jeff.


Katryn hanya mendengarkan saja, ia hanya fokus dengan rasa sakit di perutnya. Walaupun ia sedikit paham dengan siapa yang sedang ingin mencelakainya, tapi Katryn tak berkomentar apapun.


__ADS_2