
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca!...
...-----...
Keluarga besar Helbert ramai berkumpul di mansion Helbert. Mulai tua, sampai yang muda. Luca―Paman Allard―yang paling menjunjung tinggi aturan keluarga saat ini menatap Allard tajam penuh permusuhan.
“Ehmm..” Allard berdehem, semua mata fokus padanya.
“Langsung saja, karena yang aku lakukan itu menyalahi aturan keluarga ‘kolot’ ini, maka hukuman apa yang aku terima?” Allard bertanya to the point.
Luca semakin menatap keponakannya tajam, sedangkan para sepupu-sepupunya mengeleng heran dan sebagian menahan tawa.
“Kau menyepelekan aturan keluarga ini!” ucap Luca tegas.
“Sedikit menghargai saja. Lagi pula, aturan keluarga itu sangat kolot!” ucap Allard santai, menimbulkan kemarahan dari Lucas. Perdebatan terjadi di antaranya dan Luca. Para keluarga, hanya terdiam menyaksikan perdebatan itu.
“Cukup!” Nyle membuka suara menghentikan perdebatan Luca.
“Aturan keluarga kita memang kolot. Dan kau Allard, kau sangat tahu peraturan itu dibuat untuk tidak mengulangi hal buruk seperti keturunan Helbert sebelumnya,” ucap Nyle menekan setiap ucapannya.
Memang benar, aturan keluarga itu diambil dari kejadian yang terjadi pada keturunan Helbert sebelumnya. Aturan pernikahan ‘Tidak diperbolehkan untuk menyelenggarakan upacara pernikahan dua kali’ itu telah terjadi, dimana kakek buyutnya melakukan hal itu dan berakibat sial. Itu telah terjadi tiga kali di keluarga ini, dan mereka percaya akan hal itu.
“Grandpa, kau tahu aku tidak melakukan upacara pernikahan itu!”terang Allard.
“Aku hanya melakukan upacara pernikahan dengan Katryn!”tambahnya.
“Maksudmu, kau melakukan pernikahan pura-pura?” tanya Cassandra―bibi Allard―yang dianggui olehnya.
Allard menjelaskan pada mereka, kenapa dia melakukan pernikahan pura-pura itu, mereka mengerti itu. Akan tetapi, ada beberapa dari mereka yang merasa itu hanya memalukan keluarga saja, terutama Luca.
“Pernikahan itu sakral, Helbert!” ucap Luca pelan namun terdengar marah.
“Berpura-pura menikah? Kau mempermainkan arti dari pernikahan!” sambungnya.
“Apa kau tidak memikirkan keluargamu, yang malu karena ulahmu?”
“Disini, putraku tidak melakukan kesalahan yang besar!” ucap Fillbert ikut bersuara.
“Itu bagus!” ucap Nyle santai.
“Lalu, untuk apa pertemuan keluarga diadakan?” tanya Ruldolf, salah satu sepupu Allard.
“Aku sengaja menjadikan hal itu, untuk bisa mengumpulkan kalian semua,” ucap Nyle.
Allard menatap tajam sang kakek. Yang benar saja, sedari tadi dia berdebat dengan sang paman, membuang waktu saja. Pikirnya.
“Tetap saja, dia mempermalukan keluarga!” ucap Luca tegas.
“Itu tidak dapat dielekan!” balas Nyle.
“Lagi pula, aku lelah dengan aturan-aturan itu. Aku tahu, kalian banyak melanggar peraturan keluarga ini.” Nyle manatap satu per satu orang yang melanggar aturan keluarga. Mereka merasa tersindir. Ruldolf dan para sepupu lainnya, saling memandang satu sama lain.
“Bukan begitu, Maria? Ruldolf? Cassandra? Gibran? Keynan? Fillbert? Caroline?” Nyle mengucap anggota keluarga yang melanggar aturan tersebut.
“Perlu aku menyebutkan apa saja yang kalian langgar?” Mereka hanya tersenyum manis. Tidak dengan Ruldolf, dia amat sangat panik karena sang ayah, Luca menatap membunuh padanya.
__ADS_1
“Ruldolf?!” tegur Luca.
“Bisa kita membahasnya nanti, Dad?”
“Sekarang!!” Ruldolf menghela nafas kasar, menatap sang kakek kesal. Dia menatap sekeliling, mereka menatapnya penasaran.
“Aku ... aku melanjutkan kuliah militerku.”
“Kau benar-benar!” teriak Luca. Maria, sang adik tertawa melihat wajah sang kakak ketakutan. Dia bahagia melihat sang kakak seperti itu.
“Maria!” Maria kelabakan sendiri.
“Ya, Dad?”
“Kau mengetahui itu?” Maria mengangguk kaku.
“Luca, sudahlah...” ucap sang istri, Reain.
“Aku telah memutuskan menghapus beberapa aturan keluarga,” ucap Nyle pelan, sambil menatap gelas yang ia pegang.
“Keturunan kita bebas memilih cita-cita yang mereka inginkan!” Perkataan Nyle, memunculkan pertanyaan di kepala mereka.
“Asalkan jangan menganggu bisnis keluarga ini dan bisa menjaga identitasnya.”
Aturan itu adalah tidak ada yang boleh masuk ke dalam dunia polisi, militer atau sejenisnya. Keluarga mereka adalah keluarga yang berasal dari mafia. Jika mereka masuk ke dunia itu, kemungkinan besar identitas keluarga mereka kan di ketahui.
“Dad, kau tahu mereka akan mengetahui identitas keluarga kita!” ucap Cassandra.
“Ruldolf. Bisa menjaga dengan baik identitasnya,” ucap Nyle tenang.
“Aku mengawasi kalian semua. Aku melihat Ruldolf, bisa menutup rapat identitas keluarga Helbert.”
“Dan aku memutuskan, jika bayi di dalam kandungan istrimu adalah laki-laki. Maka, dia berhak meneruskan bisnis itu,” ucap Nyle menatap perut Katryn.
Katryn menggeleng pelan, dia tak setuju akan hal itu. Tapi, tidak berani menyuarakan pendapatnya. Tangannya meremas tangan Allard.
“Karena dia adalah cucu pertama di keluarga ini!” Anggota keluarga mereka menyetujui itu. Terjawab sudah, siapa yang akan menjadi penerus Allard.
“Jadi. Ini hanya alasan grandpa saja untuk berkumpul?” tanya Ruldolf memecahkan keheningan.
“Ya. Dan mengumumkan penerus Allard!”
“Aku sudah menebak itu!” ucap Luca pelan.
...***...
Entah kapan terakhir kali keluarga Helbert mengadakan barbeque bersama di taman belakang mansion. Semua menikmati kebersamaan, kecuali Katryn menyendiri di ayunan memikirkan perkataan Nyle.
Pada kenyataannya, Katryn tidak rela anak di dalam kandungannya menjadi penerus. Katryn tidak akan mempermasalahkan bila sang anak nantinya meneruskan perusahaan keluarga, akan tetapi menjadi penerus Allard di dunia gelap, Katryn berat menerimanya.
“Apa yang kau pikirkan?” Allard datang menyerahkan sepiring daging yang sudah dipanggang.
“Terima kasih,” ucap Katryn tersenyum seraya menerima piring tersebut.
“Kau memikirkan ucapan kakek.” Katryn menatap Allard yang duduk tepat di depannya, lalu menggeleng.
“Dia anak laki-laki pertama dam cucu pertama, sudah semestinya menjadi penerus-ku.”
__ADS_1
“Artinya kau pun ingin anakku menjadi penerus-mu, begitu? Aku tidak setuju, Al!”
“Aku akan menolak itu pada grandpa!” ucap Katryn bersungguh-sungguh.
“Nyle tidak akan mendengarkanmu.”
“Kenapa di sini aku mendengar kepasrahanmu, Tuan Allard?” Allard menatap Katryn lekat, Katryn membuang wajah, kesal.
“Halo, Kakak Ipar!” Maria berteriak mengalihkan perhatian Katryn, sedangkan Allard measih menatap sang istri.
“Ayo, kesana. Makanan sedikit lagi hampir selesai,” ucap Maria.
“Ayo, Kakak Ipar!” ajak Maria, Katryn bangkit menggandeng tangan Maria menuju sepupu Allard yang lain.
“Oh, ada Katryna. Ayo, kemari!” ujar Neon sepupu paling kecil Allard. Katryn tersenyum dan memilih duduk di samping Evelyn.
Sepupu Allard sangat ramah dan baik, Katryn nyaman di tengah keluarga ini. Apalagi kelakuan si kembar Neon dan Leon yang saling usil satu sama lain dan paling heboh. Ia terhibur dengan ulah keduanya, ada saja kelakuan mereka yang mengundnag tawa.
“Siapa yang tidak kesal? Kakek tua itu sengaja mengirim orang-orangnya menyerangku! Kalian tahu? Aku hampir mati,” ucap Neon.
“Kau hanya luka-luka, tidak sampai hampir mati!” komentar sang kakak, Leon.
“Berapa tahun kita tidak berkumpul seperti ini?” Evelyn mengubah topik, membiarkan si kembar berdebat.
“Terakhir lima atau enam tahun lalu?” Mereka saling bersahutan satu sama lain, sekilas Katryn melihat Allard berbincang bersama para orang tua, sedangkan semua para sepupu Allard di sini.
“Katryna!” panggil Ruldolf.
“Iya?”
“Sudah berapa bulan keponakanku?”
“Masuk bulan keenam.”
“Bagaimana rasanya hamil?” tanya Maria penasaran, Katryn tertawa pelan mendengar pertanyaan Maria yang lucu dipendengarannya.
“Ada enak dan tidaknya. Terkadangnya aku susah tidur,” jawabnya, Maria bergidik ngeri.
“Buatnya paling enak!” celetuk Neon bersemangat.
“Bagian itu saja kau paling semangat!” ucap Maria jengkel.
“Otakmu mesum-mu itu sangat melekat!” tambah Evelyn. Neon mati kutu diserang kedua wanita ini, Keynand dan Ruldolf menggeleng jengah dengan pertengkaran mereka.
Katryn menilai sepupu Allard ini, Keynand tipekal cuek dan pendiam. Diamnya Keynand melebihi diamnya Allard, dan Ruldolf di antara keduanya, tidak pendiam dan tidak berisik juga. Lalu Maria, gadis manis yang ramah, tidak segan mengeluarkan tawa kerasnya. Terakhir si kembar, rusuh, hanya satu kata itu yang mewakili keduanya.
Kelakuan yang disebabkan oleh si kembar ini banyak membuat tawa lepas, ada saja tingkah mereka yang lucu. Melihat mereka terbesit rasa iri di hatinya, mereka bisa tertawa tanpa beban, masalah pun pastinya tidak serumit yang ia hadapi.
Tiba-tiba Leon sudah berdiri di belakang kembarannya, memberi peringatan pada Katryn untuk diam. Katryn menahan senyum, Leon di sana memberi aba-aba menggunakan jarinya. Pada saat Leon mengangkat ketiga jarinya, Maria berteriak heboh,
“Tiga!” Di detik itu Leon menceplok telur tepat di atas Neon.
“Leon!!” teriak Neon kesal, ia mengejar Leon yang sduah berlari menghindari sang adik.
“Astaga. Kau tidak jengah melihat kerusuhan mereka?”Ruldolf bertanya pada Keynand, kakak di kembar.
Katryn sangat terhibur dengan kejahilan si kembar, tawanya tidak bisa berhenti melihat Leon dan Neon kejar-kejaran.
__ADS_1
“Sudah lama tawamu tidak kudengar,” bisik Allard yang duduk di sampingnya. Katryn menoleh cepat menatap Allard.
“Mereka lucu.”