
...Telah direvisi....
...Happy reading...
...***...
“Katryn!” panggil Alessa ketika membuka pintu kamarnya.
“I am here!” ucap Katryn dari arah balkon. Alessa berjalan ke asal suara.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Mencari angin,” jawabnya.
“Ayo masuk, ada yang ingin aku bicarakan!” ucap Alessa, lalu berbalik. Katryn tak bertanya, dia segera mengikuti Alessa memasuki kamar.
“Apa itu?” tanya Katryn melihat sebuah dokumen dipegang oleh Alessa.
Alessa menyodorkan dokumen tersebut, memerintahkan Katryn membaca isinya. Katryn menurutinya, dia ikut mendudukkan diri di sebelah Alessa yang telah duduk di atas ranjang.
“Pengubahan identitas diri?” tanya Katryn memastikan.
“Right. Sekarang namamu adalah Elena Steave, bukan Katryna Helena Vinson lagi! Rahasia hanya di antara kita, jangan mengatakan pada siapa pun! Paham atau ada yang ingin kau tanyakan?” jelas Alessa diakhiri pertanyaan.
“Apakah itu harus?” Alessa mengangguk membenarkan.
“Earnest akan mudah menemukanmu dengan identitas asli. Maka, aku mengubah identitas kalian!”
“Kalian? Marchell dan orang tuaku?” Alessa kembali mengangguk.
“Jadi, jangan membocorkan rahasia ini pada siapa pun.”
“Oke! Terima kasih, Alessa!” ucap Katryn.
“You’re welcome! *Sama-sama*”
“Oh, ya... aku ada pekerjaan untuk beberapa hari ke depan. Jika membutuhkan sesuatu, beritahu pada Leni,” ucap Alessa memberitahu.
“Kapan kau akan pergi?”
“Malam ini.”
“Bukannya kau mengatakan ini hari liburmu sampai minggu depan?”
“Sangat benar. Bosku tiba-tiba menelepon dan memintaku untuk melakukan pekerjaan ini,” ucap Alessa dan Katryn tak lagi bertanya lebih lanjut tentang pekerjaan apa yang akan Alessa lakukan.
“Kalau begitu hati-hati!”
...***...
__ADS_1
“Matcha latte for my best!” ujar Katryn meletakkan segelas minuman di hadapan Alessa.
“Thanks, Dear!”
“So, bagaimana harimu?” tanya Katryn setelah duduk tepat di depan Alessa.
“Flat! *datar*” jawab Alessa tak berminat.
“Elena, aku ingin menanyakan satu hal!” Katryn mengerutkan dahinya, sedikit risih dipanggil seperti itu, mungkin karena belum terbiasa.
“Apa?”
“Kenapa kau menolak permintaan Uncle Thomas untuk melanjutkan kuliahmu? Kurasa, perkataan Uncle Thomas benar!”
“Aku tak lagi hidup penuh dengan kekayaan, Alessa. Perekonomian kami yang sulit sekarang tidak akan bisa membayar pembayaran uang kuliah dan segala macam di dalamnya. Dari mana aku atau orang tuaku mendapatkan uang dalam sekejap mata?” jelasnya panjang lebar. Alessa terdiam, apa yang Katryn katakan adalah benar.
“Bekerja seperti ini saja belum bisa membayar setengah dari biaya itu,” ucap Katryn.
Pekerjaan Katryn saat ini adalah sebagai penghibur di salah satu kafe yang cukup terkenal di New York pada siang sampai sore hari. Sedangkan di pagi hari, ia bekerja di sebuah kursus musik yaitu mengajar biola pada anak-anak.
...***...
Sebulan kemudian~
Setelah mengajar siang ini, Katryn terburu-buru memasuki kafe. Untungnya, sesampai di kafe Bernard—pemilik kafe tempat ia bekerja—tidak menegur atas keterlambatannya hari ini.
“Elena?” Katryn atau yang saat ini orang yang mengenalnya sebagai Elena menoleh.
“Yes, Sir?” tanyanya pada Bernard yang beberapa langkah dari ia berdiri.
“Lala malam ini izin, tolong kamu yang mengisi hiburan, ya!” pinta sang bos.
“Ada uang saku tambahan juga!” tambahnya.
Mendengar perkataan tersebut, Katryn mengiyakan. Well... Bernard selalu meminta dia untuk mengisi hiburan di malam hari jika Lala berhalangan hadir. Katryn tidak hanya ahli di bidang biola, tetapi ahli juga dalam bernyanyi, itulah alasan Bernard amat sangat menyukai karyawannya satu ini.
Karena ini akan terus berlanjut, Katryn menghubungi sang adik, mengabarkan bahwa dia akan pulang telat. Tepat di pukul delapan lewat sepuluh, Alessa memasuki kafe dengan senyuman bangga melihat Katryn bernyanyi di atas panggung. Ia langsung mengambil tempat duduk tak jauh dari panggung tersebut. Tanpa Katryn sadari, sedari dua jam yang lalu seseorang mengintai gerak-geriknya.
“Selamat malam!” sapanya pada seluruh pelanggan menggunakan mic.
“Malam!” sapa para pelanggan balik.
“Instrumen yang akan saya bawakan ini adalah atas permintaan pria di ujung sana,” ucap Katryn tersenyum sambil melihat ke sudut ruang.
“Selamat menikmati!” tambahnya dan ia mulai menggesekkan biola secara perlahan yang menimbulkan alunan indah.
Selama memainkan alat musik itu, Katryn menghayati setiap gesekan tersebut. Namun saat di pertengahan permainannya, bayangan-bayangan abstrak melintas sangat cepat di dalam kepalanya. Seorang pria, tetapi Katryn tidak dapat mengingat dengan jelas wajah yang berada di dalam pikirannya.
“Siapa pria itu?” pikirnya.
__ADS_1
Permainan selesai, Katryn segera menuruni panggung dan menghampiri Alessa. Katryn memijit keningnya yang terasa sakit.
“Ryn, are you okey? *Kau baik-baik saja?*” tanya Alessa khawatir.
“Kepalaku pusing,” akunya.
“Minum,” perintah Alessa menyodorkan segelas air putih yang belum ia sentuh sama sekali. Katryn mengambil gelas tersebut dan meneguknya hingga menyisakan setengah. Sedikit berangsur baik, akan tetapi ke penasarannya terhadap pria di dalam pikiran itu sedikit pun tidak menghilang.
“Siapa dia?” lirih Katryn yang didengar oleh Alessa.
“Dia siapa, Ryn?” Alessa tahu itu adalah pertanyaan bodoh.
“I don’t know *Aku tidak tahu*. Bayangan itu, tetapi aku tidak siapa pria itu!” Alessa mengerutkan dahinya bingung, mencoba memahami maksud dari perkataan Katryn barusan.
“Earnest?” Katryn menggeleng cepat dan tegas.
“Apakah bisa bayangan abstrak itu terjadi?” tanya Katryn.
“Bisa saja. Atau mungkin itu hanya khayalanmu saja,” jawab Alessa.
Di dalam hati, Alessa mengatakan bahwa otak Katryn tengah mengingat sesuatu yang menghantarkannya pada masa lalu.
“Jelaskan, bagaimana ciri-ciri pria di dalam bayangan itu?” tanya Alessa.
“Tinggi, perawakan bule dan putih!”
“Itu hanya bayanganmu saja, Katryn. Jangan dipikirkan!” ucap Alessa, dan Katryn mengangguk.
Reaksi Katryn seperti ini menandakan bahwa ia kehilangan ingatan, itu yang Alessa simpulkan, tetapi itu belum jelas, hanya dugaan. Pandangan Alessa tak sengaja jatuh pada pria di sudut sana yang sebelumnya Katryn tunjuk dari atas panggung.
Pria itu memperhatikan Katryn, ada kekhawatiran di balik mata biru itu. Alessa tahu siapa pria itu, ia tak terkejut sama sekali melihat pria di sudut sana.
“Batter? *Lebih baik?*” Katryn menggeleng.
“Bayangkan kau berada di sebuah pantai sedang bermain air,” ucap Alessa mengalihkan pikiran sang sahabat. Dan itu berhasil, Katryn teralihkan dengan ucapan tersebut.
“Bagaimana?”
“Lebih baik!”
“Good. Lalu, apakah kau akan tampil lagi?”
“Tentu, sampai jam 12!”
Katryn kembali menaiki panggung, dan Alessa memperhatikan secara seksama setiap pergerakannya. Sesekali kerutan di dahi Alessa terlihat, memastikan hal yang ia pikirkan, Alessa menoleh pada pria di sudut sana, lalu ia beralih menatap Katryn.
“Ah, Alessa... sedari awal kau seharusnya sudah mengerti!” gerutunya di dalam hati.
...***...
__ADS_1