
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca! ...
...----...
Katryn sedang mendengarkan penjelasan dosen lewat notebook, jujur ia menikmati berkuliah via online karena dosen-dosen ini lebih banyak memfokuskan perhatiannya pada Katryn dan memberi arahan-arahan secara langsung.
Ia juga lebih berani bertanya sebab hanya dia seorang diri yang diajarkan. Sedangkan Alessa lebih suka membobol akun daripada harus disodorkan materi, maka dari itu ketika Katryn kuliah online dia undur diri.
“Baik, saya menunggu hasilmu minggu depan. See you next week!”
“See you and thank you, Sir!”
Selesai, Katryn berbaring di atas ranjang. Deringan ponselnya di atas nakas mengagalkan dirinya yang akan tidur. Ketika dilihat ‘nomor tidak dikenal’, Katryn mengerutkan dahinya.
[“Halo”]
^^^[“Elena, ini aku Lauren. Tolong...”]^^^
[“Lauren, ada apa?”]
^^^[“Tolong. Dia mengerikan, aku takut...”]^^^
^^^[“Tolong aku Elena, Gill akan membunuhku!”]^^^
Sambungan terputus sebelum Katryn menjawab. Sebuah pesan masuk berisi alamat Lauren. Katryn panik, Lauren pernah bercerita, Gill―kekasihnya―suka bebuat kasar.
Segera Katryn mengganti pakaiannya, setelah itu ia keluar mencari Alessa. Entah kemana perginya Alessa, Katryn berlari membuka pintu penthouse, dua orang penjaga menghalanginya.
“Aku hanya sebentar. Katakan pada Alessa aku menemui Lauren,” ucapnya cepat dan pergi menghiraukan panggilan pengawal tersebut.
Katryn turun, para pengawal mengikutinya. Yang ada dipikiran Katryn menyelamatkan Lauren, sesampai di bawah dia langsung menaiki sebuah taxi yang terparkir di lobi.
“Pak, lebih cepat!” pintanya.
Dari belakang pengawal mengikutinya, tetapi seketika mobil-mobil yang di belakang sana menghilang. Katryn sampai ditujuan, membayar taxi dan berjalan memasuki halaman rumah Lauren.
Rumah ini sunyi, Katryn mengetuk pintu. Tidak ada jawaban, ia memberanikan diri membuka knop pintu, ternyata tidak terkunci.
“Lauren, kau di dalam?”
“Aku di sini,” jawab Lauren dari arah sebuah ruangan.
Katryn berjalan cepat memasuki ruangan tersebut. Alangkah terkejut ia mendapati Lauren dan Gill terikat tanpa busana, wajah mereka penuh darah.
“Lauren...”
“Elena, maafkan aku...” lirih Lauren penuh penyesalan.
“Kau sedang hamil, Baby Cat?” Katryn secepat kilat menoleh pada suara yang begitu ia kenali.
“Earnest...” ucap Katryn ketakutan, langkah mundur dua langkah. Kini, pria itu menatapnya puas.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi orang-orang berpakaian jas mahal, mereka menatapnya tajam. Earnest berjalan ke arah Lauren, lalu menggoreskan pisau yang ia pegang pada pipi Lauren.
“Earnset, jangan...”lirih Katryn ketakutan.
“Why, Baby? Ini menyenangkan.”
“Kau gila! Lepaskan mereka!” ucap Katryn, ia mual karena darah mengalir di pipi Lauren.
“Ternyata, Lauren dapat membuatmu keluar dari sangkar Helbert itu!”ujar Earnest.
“Ford, jangan membuang waktu!” ucap salah satu berjas mahal yang Katryn tidak tahu siapa itu, dia memiliki aura menyeramkan seperti Allard.
Earnest tersenyum manis pada pria itu, kemudian dia mendekati Katryn. Katryn yang lemas melihat lumuran darah di tangan Earnest seketika pingsan. Earnest menahan tubuh Katryn, pandangannya jatuh pada perut Katryn yang membesar.
__ADS_1
Ia mengelus perut tersebut, ada rasa benci dari matanya. Anak ini adalah anak Allard, bukan anaknya. Earnest membawa Katryn keluar dari rumah itu. Lauren berteriak meminta Katryn dilepaskan.
...***...
“Dimana Katryn?” teriak Alessa marah.
“Kami kehilangan jejak Mrs Helbert, Nona.”
“Bagaimana bisa? Kenapa kalian bodoh sekali!” maki Alessa.
“Nyonya mengatakan ingin menemui seseorang bernama Lauren.”
“Dan kau membiarkannya pergi begitu saja, huh?”
“Maaf, Nona. Kami sudah mengejar dan mengikuti nyonya, tetapi dihalangi oleh pria berpakaian hitam,” lapor mereka.
“Damn it!”umpat Alessa.
Alessa segera menemui Allard, dia harus mengatakan secara langsung. Dua puluh menit kemudian, dia sampai di gedung perusahan Helbert. Alessa membuka pintu dan dikejutkan oleh sapaan seseorang yang ingin keluar.
“Senang bertemu denganmu, Miss Beata.”
“Dia Dagoberto?” Allard tidak menjawab, dia berdiri dan membanting barang-barang di sekitarnya.
“Bedebah kau! Kau lihat apa yang akan aku lakukan padamu, Dagoberto. Habis kau di tanganku!” geram Allard.
Alessa tidak menenangkan Allard, emosi pria ini tidak dapat ditenangkan oleh siapa pun. Makian-makian keluar dari bibir Allard, sedangkan Alessa berpikir kemungkinan yang ada di kepalanya.
“Earnest... mati kau setelah ini!” ucap Allard penuh kebencian, Alessa berpikir cepat.
“Aku akan menemui Lauren,” putus Alessa.
“Bawa dia kehadapanku!” titah Allard.
Alessa benar-benar membawa Lauren kehadapan Allard. Pria itu habis-habisan mengintogasi Lauren dan Gill yang sama sekali tidak membuka suara, takut dengan ancaman mereka.
“Kalian tidak akan pernah membayangkan hukuman apa yang akan kalian terima, jadi katakan saja,” pinta Alessa lembut.
“Gill, katakan padaku. Kemana mereka membawa Elena?” tanya Alessa.
“Aku tidak tahu, mereka hanya memerintahkan Lauren menghubungi Elena.”
“Darimana kau bisa mendapatkan nomor Elena?”tanya Allard.
“Mereka memberikan nomor itu, aku hanya menghubungi sesuai perintah mereka,” ucap Lauren.
Allard menatap pasangan ini bengis, sisi iblis-nya ingin sekali menghabisi keduanya. Walaupun mereka diancam, tetap saja bagi Allard wanita ini mengkhianti Katryn-nya. Kemarahan dalam hatinya paling dominan sejak mendengar Katryn berhasil diculik dari mulut musuhnya sendiri. Hatinya dipenuhi rasa gelisah dan ketakutan
“Maafkan aku, Tuan. Aku terpaksa,” lirih Lauren.
“Maafmu tidak bisa mengembalikan istriku. Karenamu istriku dalam bahaya!”
“Jordan, buat sengsara gadis itu!” titah Allard.
“Tidak!” teriak Gill tak terima dengan itu, dia maju dan melawan Allard. Tapi, dengan mudahnya Allard membanting tubuh kurus Gill.
“Tidak semudah itu kau menyentuhku.”
Allard keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh Alessa, ia memberi perintah pada Alessa melacak Katryn dari kalung―terdapat alat pelacak―yang pernah Allard berikan pada Katryn saat berlibur dulu.
“Alat itu tidak berfungsi!” beritahu Alessa.
“Tuan,” ucap Jordan datang memberi ponselnya. Allard membaca pesan di ponsel Jordan, emosinya semakin terpancing untuk melenyapkan mereka semua. Alessa mengambil ponsel Jordan dan membacanya.
“Mereka mengumpulkan kekuatan untuk melawanmu,” simpul Alessa.
“Kumpulkan semua anggota, kita lawan mereka!” putus Allard.
__ADS_1
...***...
Setelah menikah, Allard jarang sekali bertemu dengan Darick, sahabatnya. Namun, Darick dibuat kesal oleh Allard yang tiba-tiba datang di saat ia ingin bersenang-senang. Walau begitu, dia menyambut sahabatnya dengan baik.
“Aku butuh bantuanmu,” ucap Allard. Darick mendengus sinis, ada maunya saja baru menemuinya.
“Seorang Allard meminta bantuanku? Tidak bisa dipercaya!” sahut Darick.
“Oke. Mari kita dengarkan,” sambungnya beberapa saat.
“Selidiki Anggelo, dia bersama musuh-musuhku tengah melawanku!”
“Anggelo?” Tentu Darick keget, Anggelo orang kepercayaan mereka dan merangkap sebagai sahabat mereka. Ketiganya berteman baik sejak kecil, bahkan Darick dan Anggelo pernah berlibur ke Indonesia menemuinya dan mengenal Katryn juga.
Allard menceritakan semuanya, musuhnya sedang mengumpulkan kekuatan untuk menjatuhkannya, dan Katryn juga disekap oleh mereka. Darick tidak habis pikir, apa yang membuat Anggelo bergabung bersama mereka?
“Oke. Aku akan menyelidiki dia,” ucap Darick akhirnya.
“Darick, jika kau mengkhiantiku, bersiap menjemput ajalmu detik itu juga!” Darick mengangguk, dia tahu betul bagaimana Allard.
“Anggelo tidak mungkin mengkhianati Allard,” batin Darick.
[“Ya, Selena?”] Allard berbicara lewat ponsel.
^^^[“Aku kesana sekarang!”]^^^
“Aku pergi!” ucap Allard dan berlalu, Darick menatap Allard kesal. Yang benar saja?
Allard mengendarai mobil hingga tujuan. Ia turun dan disambut oleh Selena.
“Dimana kau mendapatkan titiknya,” tanya Allard.
“Di sebuah pemukiman yang kosong, Alessa memberikan titiknya,” jawab Selena menunjuk iPad.
“Dia di sana?”
“Benar, Father.”
Layar yang Selena tunjuk berbunyi dan bertanda merah, lalu iPad tersebut mati total. Allard menyipitkan matanya, seseorang tersebut tengah bermain-main dengannya.
“Kita kehilangan jejak,” ucap Selena panik.
“Aku tahu tempat itu!”
“Semua anggota sudah siap?” tanyanya.
“Sudah, Tuan.”
“Good. Persiapkan anggota terbaik,” ucap Allard dan meninggalkan tempat tersebut. Ada sesuatu yang harus ia balaskan ke salah satu musuhnya!
Allard menghentikan mobil di salah satu gedung model terkenal di negara ini, semua mata pandang mengarah padanya. Tania muncul dan menghampirinya.
“Pertemukan aku dengan Liana,” ucapnya langsung.
“Ayo, ikut aku!” Allard mengikuti langkah Tania, ia tidak perlu repot-repot berakting seperti sepasang suami-istri, Katryn sudah diketahui oleh Dagoberto.
“Liana.”
“Yes, Mrs Helbert?” Ketika melihat siapa yang berdiri di samping Tania, wanita itu terpana menatap Allard.
“Suamiku ingin menemuimu,” ucap Tania.
“Hai, Mr Helbert. Ada apa kau menemuiku?” Liana tersipu malu, tertarik dengan Allard.
“Malam ini jadilah model busana,” ucap Allard.
“Aku mau!” balas Liana cepat.
__ADS_1
“Aku menunggu malam ini.” Liana mengangguk antusias. Senang ditawari oleh seseorang yang berpengaruh di negara ini.
“Satu kesempatan untuk menarik perhatiannya,” batin Liana.