Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 23. Seduced


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca! Selamat menikmati!...


...-----...


Allard dan Katryn telah kembali ke New York dari beberapa hari lalu. Pukul menujukkan pukul 12 malam, Allard baru saja memasuki kamar dan melihat Katryn bergelut di alam mimpinya. Netranya tak lepas memperhatikan kecantikkan sang istri, dari dulu hingga kini tetap memiliki kecantikan yang alami. Bibir ranum itu selalu mampu menariknya untuk mengecup.


Perlahan, Allard membuka selimut dan membaringkan tubuhnya tepat di samping Katryn—ikut berselimut di satu selimut yang sama—dengan terus memperhatikan wanitanya. Ada kebimbangan di dalam dirinya, ia mencintai wanita ini lebih dari dirinya, tetapi kejadian masa lalu membuat Allard ingin Katryn merasakan sakit yang ia rasakan.


Penolakan, kata itu terus melekat di benaknya. Katryn menolak pernyataan cinta yang sampai sekarang tidak Allard ketahui alasannya. Sungguh, Allard tidak sampai hati menyakiti pujaannya.


“Kau milikku sekarang dan akan menjadi milikku selamanya!” bisik Allard.


Katryn terganggu akibat elusan tangan Allard di wajahnya. Menyadari Katryn terbangun, Allard memindahkan tangannya memeluk Katryn erat.


“Allard... bisa kau lepaskan?” lirih Katryn kesakitan menahan kantuk.


Allard merenggangkan pelukannya, tatapannya tidak lepas sedikitpun. Posisi mereka berpelukan saling berhadapan, memudahkan Allard menenggelamkan wajahnya di dada Katryn. Jantung Katryn berdetak cepat, baru kali ini Allard memperlihatkan sikap manjanya.


“Allard, aku ingin ke kamar mandi,” ucap Katryn beralasan.


 “Kenapa kau menolakku, **Amour**?” Allard bertanya pelan, Katryn mengerutkan dahinya, tidak paham maksud Allard.


“Maksudmu?”


Allard tak menjawab, ia menatap wanitanya dari bawah, menjelaskan lewat tatapan mata. Namun, Katryn tidak dapat memahaminya, mata itu menyedotnya untuk tenggelam semakin jauh. Sedetik kemudian, Allard menempelkan bibirnya tepat di bibir Katryn. Tidak ada gerakan, hanya menempel, keduanya memejamkan mata seraya meresapi suasana hangat di sekitar mereka.


Katryn sadar betul perasaan apa yang bergemul di hatinya. Begitu mudahnya perasaan itu datang, Katryn ketakutan rasa ini dibalas dengan kegilaan seperti yang Earnest berikan. Katryn tahu, Allard lebih gilanya dari Earnest. Walau penampilan pria ini kalem, setiap tatapan tajam dan aura gelap yang pria ini miliki menandakan Allard tipe pria kuat dan gila.


Lebih tiga menit dalam posisi ini, Allard melepaskannya dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada wanitanya dan melingkarkan tangan di perut Katryn.


“Amour... belailah rambutku,”pinta Allard.


Katryn takjub mendengar permintaan lembut dan tulus dari pria ini, benarkah pria yang memeluknya ini adalah Allard Edbert Helbert?


“Amour...”


Ragu, Katryn mengangkat tangannya guna mengelus rambut Allard. Halus dan wangi, Katryn menyukai wangi yang menguar dari rambut lebat pria itu. Sedangkan Allard tersenyum seraya menikmati elusan tangan Katryn, amat sangat nyaman.


Katryn memejamkan matanya, kantuknya masih tersisa, tetapi pikirannya berkelana memikirkan perlakuan Allard. Satu hal, jika memang Allard menginginkannya sebagai budak, mengapa sampai detik ini Allard tak menyentuhnya? Yang pria ini lakukan adalah sebatas ciuman dan rangsangan, selebihnya dia tidak pernah melewati batas.


“Allard, jika aku budakmu, mengapa kau tidak melakukannya?” Allard menggeram, pelukannya mengerat memperingati Katryn untuk tidak memulai.


“Kenapa?” tanya Katryn lagi.


“Kau menginginkannya sekarang?” tanya Allard balik dengan suara terpendam di dada Katryn.


“Tidak. Bukankah budak diperlakukan ka—”


“Hentikan ucapanmu! Aku tidak pernah mengatakan kau budakku, Katryna! Kau sendiri yang mengatakannya! Kau istriku!” Allard memotong perkataan Katryn.


Allard mendudukan dirinya, menatap Katryn bagaikan mangsa. Katryn menciut, Allard marah dan Katryn benar-benar takut.


“Kau ingin tahu, mengapa aku tidak menyentuhmu? Karena aku ingin kau siap menerima milikku di dalam dirimu. Bukan aku saja yang menginginkannya, tetapi akan lebih nikmat bila kau juga menginginkan tubuhku!” ucap Allard vulgar.


Hanya kalimat vulgar itu, Katryn merasa miliknya berkedut. Dengan cepat, Katryn memejamkan matanya.

__ADS_1


“Kau terangsang, hm?” Allard terkekeh, raut wajahnya berubah seketika.


“Aku tidak suka memaksa perawan!” Katryn membuka matanya, menatap Allard menyelidik.


“Dari mana kau tahu?”


“Berapa kali aku katakan, semua tentangmu aku tahu, Amour.”Allard menyeringai senang.


“Bahkan Ford itu tidak pernah menyentuhnya, kecuali ciuman!” ucap Allard datar, tidak senang ada pria lain mencium wanitanya.


Katryn tak membantah, perkataan Allard benar, Earnest tidak pernah menyentuhnya lebih. Apa sebabnya Katryn tidak tahu, yang jelas Katryn sangat bersyukur untuk itu.


“Dia impoten!” ucap Allard membaca raut wajah Katryn.


“Impoten? Are you seriously?”Katryn tak percaya, sulit menerima jawaban Allard ini. Apakah ada seperti itu?


“Tidak perlu berlebihan! Reaksimu itu seperti menginginkan sentuhannya!” sarkas Allard tajam.


“Aku tidak sudi!”balas Katryn kesal.


...*Penjelasan: Impoten adalah kondisi di mana seorang pria tidak mampu merasa ereksi/terangsang. Ingin lebih jelasnya, bisa search goggle.*...


...***...


“Paman!” panggil Katryn, kebetulan dia melihat Jordan melintas.


“Iya, Nyonya?” Katryn menghela nafas lelah, Jordan mengubah panggilannya lagi!


“Apa kau melihat keberadaan Alessa?”tanya Katryn.


“Sebelumnya saya melihat dia di ruangan Tuan Allard, Nyonya.”


“Saya tidak berjanji.” Katryn mendengus jengkel.


“Terserah paman saja!”


Berbicara tentang Alessa, entah bagaimana bisa Allard mengizinkan Alessa memasuki daerah kekuasaannya. Seperti yang Katryn ketahui, Allard tidak segampang itu memberi izin orang asing berada di sekitarnya.


Katryn berjalan ke ruangan kerja Allard, di depan pintu yang sedikit terbuka, Katryn samar-samar mendengar suara Alessa menyebut namanya.


“Dia tidak pernah menolakmu, Allard. Kau selalu berada di posisi atas di hatinya!”ucap Alessa.


“Apa yang mereka bahas?” batin Katryn penasaran.


“Alessa!” panggilnya membuka pintu.


“Kau di sini rupanya, aku mencarimu,”ujar Katryn tersenyum.


“Ya... ada hal penting yang aku diskusikan dengan Allard,” ucap Alessa lancar, ada ketegangan di wajahnya, sedangkan Allard terlihat santai di bangku kerjanya.


Katryn mengangguk, matanya melirik Allard. Alessa menyipitkan matanya, gerak-gerik Katryn seperti ingin membicarakan sesuatu dengan Allard.


“Kalau begitu, aku menunggumu di kolam teratai!” ucap Alessa dan meninggalkan mereka.


“Allard... kenapa kau mengurung seseorang di ruangan itu?” tanya Katryn pelan.


“Kau mengetahuinya, hm?” Allard tersenyum tipis.

__ADS_1


“Mengapa kau mengurungnya di sana?”tanya Katryn lagi.


“Itu bukan urusanmu!”balas Allard tajam.


“Dia manusia. Kau tidak bisa memperlakukannya bagaikan hewan!”


Allard memiringkan kepalanya seraya menatap Katryn. Bibirnya menampilkan smirk evil mengerikan, bulu kuduk Katryn.


“Tidak sepantasnya orang tua diperlakukan demikian, Allard.”


“Itu sepadan dengan apa yang dia lakukan,” balas Allard.


Katryn menggeleng, digantung bagaikan salib dan luka di sekujur tubuh. Apalagi wajah pria itu memerah seperti luka bakar, Katryn tidak tega melihatnya.


“Apa kau tidak memiliki simpati?” Allard tertawa, menganggap ucapan Katryn lelucon.


“Simpati tidak dapat menyelamatkan hidupmu, Katryna!”


“Psikopat tidak punya hati!” maki Katryn.


“Yes, I am!”


“Sekarang, apa yang harus aku lakukan padamu?” Allard berdiri memutar meja menghampiri Katryn yang berdiri di tengah ruangan.


Katryn menggeleng ketakutan, bukan semacam ketakutan yang biasa Katryn rasakan terhadap Earnest. Ketakutan ini berbeda, Katryn tidak dapat menjelaskannya!


“Oh, ayolah... semakin kau mundur, semakin menandakan dirimu pengecut, Amour!”


Seketika langkah mundur Katryn terhenti, Allard mengikis jarak di antara mereka. Katryn menahan nafas, sesak berhadapan di bawah aura menyeramkan pria ini.


“Ssssttt... aku tidak akan menyakitimu,” bisik Allard.


Sekali dorong, Katryn berhasil terjatuh di atas sofa. Allard tersenyum manis, menikmati raut Katryn yang gilanya bisa menaikkan birahi dalam dirinya. Allard memulai aksinya, tubuhnya menindih dan mengunci segala pergerakan wanitanya.


Nafas Katryn memburu, merasakan inti tubuh di balik kain itu sangat tepat di intinya. Serba salah rasanya, posisi Katryn sama sekali tidak menguntungkan. Sekuat tenaga Katryn menahan desahannya atas segala godaan yang tengah Allard sasarkan di tubuhnya.


“Biarkan aku pergi,” seraknya tertahan.


“Sungguh pengecutnya dirimu, Amour!”kekeh Allard.


Katryn tidak peduli hinaan itu, tubuhnya tidak kuat menahan ciuman Allard yang saat ini berpindah pada pusarnya. Allard terkekeh melihat usaha Katryn menahan diri. Tak kehabisan akal, Allard mengelus kewanitaannya dari balik celana jeans yang ia kenakan. Katryn bergerak gelisah, dan Allard menyaksikan dengan senang hati.


“Masih berusaha, hm?”


Katryn mencengkeram bahu Allard, meminta Allard menghentikan tindakannya. Mata mereka bertemu saling bertatap, gairah kabut sangat jelas di mata keduanya.  Katryn tak kuat lagi, satu tangannya segera menahan mulutnya agar tidak mendesah, matanya terpejam kuat.


“Tahanlah semampu!” bisik Allard mencium cupingnya.


Allard tiada hentinya menaikkan gairahnya. Kali ini, pria itu membuka kancing celananya, tetapi Katryn menahan tangan Allard.


“Kau menantangku, Amour.”Allard jelas tidak suka itu.


“Jangan lakukan itu!”pinta Katryn.


Allard tetap melakukannya, mengunci kedua pergelangan Katryn dan ia berhasil memasukkan tangannya pada inti sang wanita.


“Ahh...” Katryn mendesah dan itu cukup untuk Allard menghentikan aksinya.

__ADS_1


“Mi Amour,” bisik Allard tepat di depan wajahnya dan mengecup bibir Katryn sekilas.


“Kau sangat bodoh, Katryna!” rutuknya dalam hati.


__ADS_2