
...Telah direvisi!...
...---...
Katryn merasa sebuah tangan mengelus rambutnya. Dia semakin menggelamkan wajahnya pada bantal, belum saatnya dia bangun, karena belum ada tangisan Allanzel. Usapan itu terasa nyata, ia perlahan membuka mata dan menemukan Allard di depannya.
“Allard?!” Katryn segera menghambur ke dalam pelukan Allard, ia amat merindukan pria ini!
“Aku merindukankanmu!”
“Begitu juga denganku, Amour!” balas Allard seraya mengusap punggung Katryn. Setelah puas, Allard melepas pelukan mereka.
“Jangan menangis,” ucap Allard menghapus air mata di pipi sang istri.
“Sejak kapan kau sadar?”
“Tiga hari yang lalu.”
“Bagaimana kondisimu? Kau tak apa, kan?”
“Lebih baik.”
“Luka itu?” Allard tersenyum, tangannya mengusap bibir ranum sang istri.
“Hanya perlu perawatan lebih lanjut.”
“Lalu, kenapa kau tidak dirawat?”
“Dokter memperbolehkan pulang.”
“Kau yang memaksa, bukan?” Selidik Katryn.
“Kau sangat tahu, hm.” Kekeh Allard, lalu mencium bibir Katryn.
“Aku takut, kukira kau akan meninggalkanku!” ucap Katryn serak.
“Sekarang aku di sini, bersamamu.” Katryn memeluk Allard erat, wajahnya ia tumpu pada pundak Allard.
...***...
Tiga jam mereka habiskan bersama setelah menyerahkan Allanzel pada Caroline. Saat ini, Allard mengajak Katryn kembali ke mansion mereka. Akan tetapi, Katryn meminta kembali pada esok hari. Katryn ingin belajar cara menembak, tetapi secara materi.
Para anggota klan yang melihat pemimpin mereka telah sadar, tentu senang. Mereka berencana membuat sambutan untuk pemimpin mereka malam ini.
“Oh, ayolah, Katryn... praktik saja langsung, materi sangat membosankan!” gerutu Alessa malas. Katryn memutar bola mata jengah, ia menyuruh Jeff melanjutkan yang disampaikan.
“Katryna! ayolah, aku muak mendengar teknik menembak ini!”
“Pergi saja kalau bosan!” balas Katyn sengit.
“Ruldlof, apa kau bisa menutup mulut wanita ini?” Katryn jengah lama-lama membujuknya.
“Menciumnya maksudmu? Tentu bisa!” seru Ruldlof semangat.
“Kau ingin diam atau aku cium?” ancam Ruldlof membela Katryn.
“Tidak usah ikut campur!”
“Oh, iya, aku lupa. Kau hanya ingin dicium priamu itu! Siapa namanya? Nick?” cerocos Ruldlof.
“Ya, ciumannya lebih panas daripada kau!”
“Oh, begitukah? Jadi, ciuman kita malam tadi tidak membuatmu panas, ya?”
“Kalian berciuman? Wow, Alessa... kau mengkhianati Nick, hm?” celetuk Katryn menggoda Alessa.
Alessa dan Ruldlof bertengkar, Katryn menatap keduanya bergantian. Kemudian, Katryn mengatakan pada Jeff untuk menjelaskan materi yang belum usai itu di lain waktu.
“Saya permisi, Mother!”
__ADS_1
“Ya. Terima kasih, Jeff!” Balas Katryn dan Jeff mengangguk ramah serta pamit.
“Alessa, ayo!”
Aleesa bangkit dari duduknya menyusul Katryn yang berjalan lebih dahulu. Ruldlof mengejar Aleesa di belakang, mulutnya masih menggerutu memaki Alessa. Namun, mereka melihat Katryn berdiri di balik dinding pilar besar.
Penasaran apa yang dilihat Katryn, keduanya maju tepat di samping Katryn. Di sana Allard dan Selena tengah berhadapan. Selena menangis, sedangkan Allard hanya diam. Ketika Katryn ingin melangkah menghampiri, tetapi langkahnya terhenti karena Selena mencium bibir Allard. Itu terlihat jelas dari gerakan Selena yang lebih dulu maju dan menyambar bibir Allard. Jantung Katryn bertalu-talu, walau bukan Allard memulai, tetapi hatinya terasa sakit.
“What the hell?! Apa-apaan wanita itu?!” maki Ruldlof.
Allard sadar dengan makian Ruldlof, ia segera memperhatikan siapa yang berdiri di balik pilar tersebut. Katryn tidak lari saat Allard menghampirinya, dia diam menunggu Allard berdiri di depannya. Sedangkan Alessa secepat mungkin menarik Ruldlof pergi dari sana.
Selama menunggu Allard, Katryn mati-matian menahan air matanya, yang dia lakukan hanya menunduk melihat rerumputan di bawah kakinya.
“Amour...”
“Hatimu menyayanginya!” ucap Katryn kelewatan cepat.
“Amour, look into my eyes!” Sejenak Katryn mengehal nafas, lalu detik berikutnya dia menatap mata biru sang suami.
“Kau melihat sendiri, bukan aku yang menciumnya. Aku menyayangimu melebih diriku sendiri. Jangan berpikir bahwa kau akan meninggalkanku hanya karena ini!”
“Wajar jika kau menyayanginya, kalian memiliki hubungan lain yang tidak bisa aku mengerti. Tapi, bisakah seluruh sayangmu itu hanya untukku?!”
“Sayangku tidak pernah terbagi pada siapapun, hanya kau!”
“Berkata jujur, Allard.” Allard diam.
“Benar, kan? Kau masih menyayanginya layaknya seorang wanita!”
“Katryna, jangan mengambil kesimpulan seolah-olah kau yang benar!” ucap Allard pelan.
Entah kenapa, Katryn tidak terima. Dia tidak ingin Allard memiliki rasa apapun terhadap Selena. Katryn paham, hati tidak dapat diatur oleh siapapun, termasuk dirinya.
Mengingat rasa Selena pada Allard yang begitu tulus, Katryn menjadi kecil. Dia yakin, Selena tidak akan berniat merebut suaminya. Selena berlaku demikian karena rasa yang terlalu besar dan tidak bisa dia tahan. Katryn mencoba mengerti, tetapi sulit.
“Aku yang ragu. Cintaku, tidak setulus Selena,” ucap Katryn dan tertertawa lirih.
“Amour, dengarkan. Aku tidak peduli dengan rasa cinta seseorang terhadapku. Yang aku pedulikan adalah rasa cintamu. Tidak peduli jika kau tulus atau tidak!” balas Allard tegas.
“Boleh aku egois?” Katryn berkata sambil memejamkan matanya.
Allard memeluk pinggang Katryn, lalu mencium kedua pipi Katryn, terakhir mencium keningnya lambat. Katryn membuka matanya, dan menatap mata Allard.
“Kau punya hak atas diriku, dan begitu juga denganku. Kita punya hak atas pasangan kita, Amour. Kau boleh egois terhadap diriku, aku tidak keberatan sama sekali.”
“I love you!” bisik Katryn.
“I know, Mi Amour!”
“Kau tidak membalas kata cintaku?” tanya Katryn merengut.
“Kau milikku!”
“Begitu caramu mengatakan cinta?” Allard tersenyum, ia meraih wajah Katryn dan menyerbu bibir Katryn dengan kecupan-kecupan.
...***...
Keadaan mansion sudah kembali seperti semula. Keamanan sistem lebih diperketat, penjagaan pun ditambah. Katryn dapat bernafas lega, setelah semua yang terjadi, akhirnya dia bisa berkumpul lagi bersama Allanzel dan Allard.
Sekarang Katryn tengah menyiapkan makan siang bersama Mila. Allard sedari awal sudah melarang Katryn turun langsung ke dapur. Tetapi, Katryn tetaplah Katryn yang keras kepala. Detik ini saja Allard memperhatikan Katryn yang sibuk dengan peralatan dapur.
Wanitanya ini lebih suka memasak dibanding berbelanja. Dia berbeda dari wanita di luaran sana yang lebih menyukai shopping daripada menyentuh alat dapur.
Katryn hafal betul kehadiran Allard di sini bukan untuk melihatnya semata. Maka dari itu dia meminta Mila tetap berada di sini.
“Kau sangat sexy, Amour.” See, Allard berubah lebih agresif sekarang.
“Aku membayangkan kita bercinta di sini. Bagaimana menurutmu?” Jangan tanya bagaimana jika hanya mereka berdua di sini, Allard pasti langsung melaksanakan fantasinya.
__ADS_1
Makan siang siap, kini mereka menikmati makan siang. Lebih tepatnya Allard menikmati menciumi Katryn, sedangkan Katryn hanya pasrah seraya menyantap makanannya.
“Astaga, Allard!” pekik Katryn ketika Allard mulai menyentuh intinya.
“Yes, Amour? Kau menikmatinya, hm?” Katryn mendesah nikmat kala Allard membisikkan kalimat yang membuat dia bergairah. Sedari awal Katryn salah menuruti perintah Allard untu duduk dipangkuannya!
“Maaf menganggu Anda, Tuan. Mr Fernand ingin menemui anda,” ucap Jordan datang tak enak menganggu majikannya.
“Thanks, God! Akhirnya, aku makan dengan tenang!” ucap Katryn.
“Nikmati kesenanganmu, saat ini. Setelah aku bertemu Nick, tunggu kenikmatan apa yang akan kulakukan padamu, Baby ” bisik Allard, lalu mengecup pipinya. Apa katanya tadi, baby? Allard tidak pernah menyebutnya demikian!
Katryn tidak habis pikir dengan Allard yang sekarang. Pria itu, lebih banyak bicara dan perkataannya semakin tidak terkandali. Kenapa sekarang dia menunggu perkataan Allard? Oh, Katryna... sadar!
“Nyonya Katryn!” Panggil seeorang ketika Katryn berniat meninggalkan ruang makan.
“Ada apa, Selena?” tanya Katryn, tanpa melihat saja dia tahu, Selena berdiri di belakangnya.
“Boleh saya berbicara sebentar?”
“Ayo, di taman belakang saja!” ucap Katryn dan berbalik ke taman belakang.
“Maafkan saya atas perilaku saya kemarin, Nyonya.” Selena berucap pertama kali.
“Saya melakukannya tanpa berpikir panjang.”
“Aku tidak menyangka kau mencium suamiku,” ucap Katryn menekan akhir katanya.
“Jujur, aku membenci diriku sendiri. Kenapa begitu bodoh? Kenapa tidak berpikir panjang?” ucap Selena merutuki dirinya. Katryn tahu Selena menyesal melakukan itu.
“Sebenarnya, kau menganggap Keynand apa? Pelampiasan?!” tanya Katryn. Selena mengangguk, mengakuinya.
Pertunangan Keynand dengan Lyla batal. Bukan karena Lyla, tetapi karena Keynand yang membatalkan secara langsung kepada pihak keluarga wanita. Katryn salut pada Lyla, dia menerima Keynand, terlepas Keynand menghamili Selena, gadis itu dengan lembut berkata dia menerima.
“Hentikan itu, Selena. Jangan menyakiti Keynand lebih dalam,” ucap Katryn yang prihatin pada Keynand.
“Keynand melamarku.”
“Kau menolak karena masih mencintai Allard,” ucap Katryn tepat sasaran.
“Maaf...”
“Apa yang akan kau lakukan kedepannya? Kau tidak bisa bertahan seperti ini terus, Selena...” ucap Katryn.
“Boleh saya meminta tolong kepada Anda, Nyonya?”
“Apa?”
“Tolong, katakan pada father, aku ingin mengundurkan diri,” ucap Selena menunduk.
“Saya ingin pergi sejauh mungkin,” sambung Selena.
“Kau bisa menyampaikannya langsung,” ucap Katryn.
“Saya tidak punya muka bertemu father.”
“Mencium suamiku kau berani!” Sindir Katryn terang-terangan.
“Aku akan bicara pada Allard,” ucap Katryn akhirnya.
“Terima kasih, Nyonya. Maaf aku membuatmu kecewa,” balas Selena bersungguh-sungguh. Katryn mengangguk.
Selena seperti tidak bersemangat, wanita ini lebih sayu dari sebelumnya. Katryn tidak membenci wanita ini, dia mengerti bagaimana perasaan Selena.
“Selena, berjanjilah untuk bisa mencintai pria lain...” ucap Katryn.
“Aku mengerti dirimu. Tapi ku harap, kau juga mengerti perasaanku.” Pinta Katryn.
“Janji. Aku janji,” ucap Selena sendu.
__ADS_1