
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca! ...
...----...
Jam tiga seperti biasanya, Katryn terbangun karena mimpi buruk. Lagi dan lagi ia menghela nafas, sangat melelahkan bangun di jam segini ditambah ia baru bisa tertidur dua jam yang lalu.
“Hai,” bisik Allard memeluknya.
Allard mengelus rambutnya beberapa saat dan mencium puncak kepalanya. Lalu, beranjak mengambil air putih dan menyodorkannya pada Katryn. Allard duduk di samping kasur, menunggu Katryn menyelesaikan minumnya.
“Besok kita ke psikiater,”ucap Allard.
“Aku tidak gila!”balas Katryn bernada tinggi.
“Mengunjungi psikiater, bukan berarti kau gila.” Katryn terdiam, tahu yang dikatakan Allard benar.
“Kita konsultasi, okey?” Bujuk Allard. Katryn tetap menggeleng.
“Psikiater tidak seburuk itu. Aku juga pernah berkonsultasi dengan mereka,” ucap Allard tidak menyerah. Katryn menatapnya, lalu mengangguk.
“Kita tidur kembali,” ucap Allard.
Allard menuntutnya untuk tidur di lengannya. Katryn menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Teringat sesuatu, dia menatap Allard dan mencium bibir Allard terlebih dahulu.
“Kau ingin menggodaku?!” Katryn menggeleng dan kembali menenggelamkan wajahnya.
Allard mengelus Katryn hingga sang istri tertidur. Sedangkan Allard sendiri berpikir, harus menyelesaikan masalahnya dengan Earnest setelah membawa Katryn ke psikiater.
Dia memejamkan mata, ingatannya terlempar kejadian beberapa jam sebelumnya. Katryn benar-benar mengintrogasinya. Awalnya, dia mengira Katryn membahas hubungannya dengan Selena setelah perkumpulan keluarga bubar, nyatanya Katryn bertanya dua hari kemudian, tepat tiga jam lalu.
Flashback~
“Apa sebenarnya hubungan dengan Selena?” tanya Katryn tiba-tiba memasuki ruang kerjanya tanpa aba-aba terlebih dahulu.
Allard menegang detik itu, sampai dia berhenti mengetik di notebook-nya. Kemudian menatap Katryn lekat, berpikir apakah dia mengatakan sejujurnya atau menyembunyikannya.
“Dia mantan tunanganku,” aku Allard.
“Sejak?”
“Hampir tiga tahun lalu.”
“Kau mencintainya?”
“Tidak!” Katryn terus mengintrogasinya tanpa jeda atau pun memberi kesempatan Allard menjelaskannya.
“Pernah bercinta dengannnya?” Allard mengangguk kaku.
“Berapa kali?”
“Sekali!”
“Kau menikmatinya, kan?” Allard terdiam.
“Kenapa pertunangan kalian batal?”tanya Katryna.
“Aku membatalkannya.” Allard menjawab, sangat jelas Katryn tidak puas dengan jawabannya.
Allard bangkit dari kursi kerjanya, ia duduk di samping Katryn dan memegang tangan Katryn seraya mengelusnya lembut.
“Kau ingin jawaban, kenapa aku bisa bertunangan dengannya, kan?” Katryn mengangguk pelan.
__ADS_1
“Saat itu aku menolongnya dari seorang pria yang ingin memperkosanya. Sampai kakek, mendidiknya karena melihat ada sesuatu pada diri Selena,” ucap Allard menjeda ucapannya.
“Dia wanita berkepribadian tulus dan kuat. Aku suka dengan kepribadiannya itu.”
“Setahun berlalu. Dia menyatakan perasaannya padaku, aku menerimanya dengan tujuan ingin melupakanmu. Beberapa bulan kemudian, kakek memintaku untuk melamarnya dan kami bertunangan.”
“Singkatnya, hanya dia yang serius dengan hubungan itu. Sedangkan aku, bersenang-senang dengan wanita lain.”
“Ucapanmu berbelit, Al. Jika tidak serius, tidak akan pernah mungkin kau membuat album tentang dia!” Allard terdiam. Katryn sadar ada sesuatu yang Allard pendam.
“Wanita itu terlihat tulus dengan perasaannya terhadapmu,” komentar Katryn dan ingin beranjak, ia tidak tahan dengan pandangannya bahwa Allard menyukai Selena, mungkin cinta?
“Amour!” Allard menahan tangannya.
“Membayangkan kalian bercinta, hatiku menolak!” ucap Katryn tersenyum manis.
“Amour, itu hanya masa lalu.”
“Itu tidak sesakit saat dulu kau jujur pernah bercinta dengan wanita lain, atau tidak sesakit saat kau mengatakan akan menikahi Tania. Tapi, kali ini hatiku berat menerima kenyataan kau bercinta dengan dia, walau pada detik itu kita tidak punya hubungan!”
Flashback End~
...***...
Allard dan Katryn baru tiba di mansion. Seperti yang mereka bicarakan kemarin, Allard mengantarnya ke psikiater. Gelagat Allard menurut Katryn biasa saja ketika mengatakan akan pergi. Tapi, entah hanya perasaan saja atau bagaimana, jika Allard akan melakukan sesuatu.
“Aku ikut!”
“Kau di mansion saja,” ucap Allard datar.
“Ikut!!” ucap Katryn sama datarnya.
“Jangan keras kepala untuk saat ini, Katryna!”
“Kau ingin melakukan sesuatu padanya, kan?” tanya katryn memicingkan matanya.
“Jawab!” ucap Katryn.
“Jika ini berkaitan dengan Earnest, aku ikut!” sambungnya.
“Kau tetap di mansion.”
“Aku tetap ikut! Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padanya.”
“Aku yang akan menanyakan padanya!” ucap Allard, Katryn menggeleng.
“Oke, kau pun tidak boleh pergi.”
“Jordan. Panggil Selena, dia ikut!” Katryn mendengar nama itu seketika muak.
“Baik, Tuan!” jawab Jordan.
Allard menarik tangannya untuk memasuki mobil yang telah siap. Supir digantikan oleh Jordan, di sampingnya Selena duduk dalam diam. Katryn yang berada di belakang kemudi bersama Allard tersenyum sinis, dadanya panas di satu mobil dengan mantan tunangan Allard ini.
Perjalanan cukup jauh, memasuki hutan-hutan yang rimbun. Katryn melupakan kekesalannya, hutan alami ini cukup membuatnya riang. Ia membuka full jendela kaca guna menghirup udara segar.
“Allard, apa itu suara air terjun?” tanya Katryn, tanpa menoleh pada Allard.
“Ya. Tidak jauh dari sini,” jawab Allard.
“Kapan-kapan aku ingin kesana, apa boleh?” Katryn kembali bertanya, memejamkan matanya menikmati angin yang menerpa wajahnya.
“Tidak janji!”
__ADS_1
“Apa dengan Selena kau selalu menuruti keinginannya?” Katryn tetap pada posisinya.
“Bisa kau tidak membahasnya?” Katryn diam, ia menutup jendela dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Belum genap lima menit, mobil telah berhenti. Katryn keluar dari lebih dulu meneliti bangunan ini dengan seksama. Pastinya tempat ini tidak ada jendela seperti rumah pada umumnya, sangat tertutup dan pengap jika dilihat dari luar.
Memandang sekitaran rumah, hanya ada hutan belantaran yang alami. Tiba-tiba, pintu rumah yang terbuat dari besi itu terbuka.
“Selamat datang, Father and Mother ” sapa seorang tersebut. Allard hanya mengangguk kaku.
Tangannya terasa di pegang, Katryn menoleh ke samping menemukan Allard memegang tangannya. Matanya fokus berjalan ke depan, tak menatapnya. Mereka memasuki rumah tersebut, Katryn takjub ini seperti bukan rumah biasa, mewah dan berkelas. Akan tetapi, mereka semakin memasuki lorong yang mengharuskan menunduk ketika memasukinya. Katryn sedikit agak sesak menghirup udara di sini.
“Kau tidak apa?” tanya Allard.
“Ruangan ini membuatku engap!” jawab Katryn menarik nafas lalu, membuangnya.
Allard merapatkan tubuh mereka, dan dia memeluk pinggang Katryn posesif. Di belakang mereka, Selena dan Jordan mengikuti.
“Apa kita akan masuk ke ruang bawah tanah itu?” Tanya Katryn dengan ekspresi yang tak biasa.
“Sudah ku katakan, kau tetap di masnion. Kau keras kepala!”
“Kau sedang hamil, kau merasa tak nyaman berada disini,” sambung Allard datar. Katryn diam tak membalas.
“Jordan. Bawa dia ke lantai atas,” ucap Allard.
“Baik, Tuan.” Jordan masuk ke ruang bawah tanah, diikuti beberapa orang.
“Ayo!” Ucap Allard, memegang tangannya.
Allard mengendongnya ketika melewati tangga yang cukup banyak. Lalu, membawanya ke sebuah ruangan yang lebih nyaman. Ada jendela ternyata di ruangan ini, membuatnya lebih ringan bernafas.
Tak lama, Jordan membuka pintu dan mengatakan semua telah siap. Allard mengangguk, dan menyuruh Selena dan Jordan menunggu di luar.
“Dengarkan aku. Jangan takut, kontrol rasa ketakutanmu, jangan biarkan mereka menggunakan ketakutanmu, paham?” Katryn mengangguk.
“Sekiranya tidak sanggup, katakan padaku! Jangan diam!” Katryn kembali mengangguk.
“Kau siap?!” Katryn mengangguk, lalu tersenyum pada Allard.
Sebelum mereka keluar, Katryn mencuri ciuman kilat dari Allard. Lalu, ia berjalan terlebih dahulu. Di depan sudah ada Selena yang tengah berbincang dengan Jordan. Katryn hanya menatap Selena datar.
Allard keluar setelah beberapa detik dari Katryn dan memegang tangan sang istri. Mereka berjalan ke sebuah rungan yang lebih baik dari ruang bawah tanah. Jordan masuk lebih dulu setelah beberapa anak buah mereka masuk, lalu Selena, Allard dan terakhir Katryn. Posisi mereka berjejer, sedangkan Katryn bersembunyi di balik punggung Allard dengan tangan mereka yang bertaut.
“Ingat perkataanku tadi, hm?” bisik Allard. Katryn mengotrol rasa takutnya, perlahan ia menampakkan diri, tidak lupa memasang wajah datar.
“Kau membawa kesayanganku ternyata,” ucap Earnest dan terkekeh.
“Dia istriku, bukan milikmu!” ucap Allard datar.
Katryn mengernyit melihat Shian menunduk dengan tangan diikat di belakang kursi yang ia duduki. Wanita itu menangis dalam diam, Katryn tidak tega melihatnya. Sedangkan Earnest dirantai dengan keadaan berdiri di kedua tangan dan kakinya.
“Kau tambah cantik dengan dress itu,” komentar Earnest, yang di tatap tajam oleh Allard.
“Ya. Dress pilihan suamiku tidak pernah salah,” ucap Katryn pelan.
Katryn memakai dress bewarna biru violet selutut, lengan panjang sampai siku. Dress pilihan Allard ketika mereka akan mengunjungi psikiater. Katryn memandang Shian yang nampaknya tidak suka sang suami memujinya.
“Shian, “ucapnya. Shain menatapnya sekilas lalu, kembali menunduk.
“Maafkan aku.” Katryn meremas tangan Allard erat. Shian kaget dengan permintaan maaf Katryn, ia menangis tersedu-sedu mendengar itu.
“Aku tidak tahu dia sudah memiliki istri, maaf untuk itu.”
__ADS_1
...***...