
...Telah direvisi!...
...---...
“Ada apa, Anggelo?”
“Aku hanya ingin berbicara denganmu,” ucap Anggelo dan tertawa kecil.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Katryn bingung.
“Kau tidak lihat, suamimu menatapku seperti mangsa buruan!” jawab Anggelo, Katryn terkekeh. Sebelumnya mereka sempat bebincang, dan Katryn baru mengingat Anggelo adalah sahabat Allard yang pernah ia temui dulu saat pria ini berkunjung ke rumah Allard bersama Darick
“Jadi, ada apa?” tanya Katryn.
“Tidak ada, aku hanya ingin melihat Allard kepanasan,” jawab Anggelo santai menahan tawa.
“Kau ingin tahu apa yang membuat Allard menghindari permainan kemarin?”
“Kenapa?” Katryn tentu penasaran.
“Kami memberi tantangan Allard, dia harus mencium wanita yang telah kami siapkan!” Katryn menggeleng heran, pantas saja Allard menghindar, batinnya.
“Oh, aku pergi. Suami berjalan kemari,” ucap Anggelo kelewat cepat dan pergi.
“Apa yang dia bicarakan?” tanya Allard menatap kepergian Anggelo.
“Tantanganmu kemarin.”
“Kau sudah memaafkan dia?” Kini, Katryn yang bertanya.
Jujur saja, ia masih berusaha untuk memaafkan perbuatan sahabatnya itu pada saat penyekapan Katryn dulu. Dan ia baru menyadari, bahwa baru kali ini ia mau berusaha memaafkan penghianatan seperti yang dilakukan Anggelo.
Allard menatap penuh perhatian pada Katryn yang sedang menatapnya balik. Allard tersenyum, wanita ini adalah satu-satunya kelemahaannya. Dia tahu itu, bahkan jika Evelyn atau pun ibunya dalam bahaya dia masih bisa di dalam ketenangan. Namun, ketika wanita ini meninggalkannya, dunianya seakan runtuh dan gila. Entah bagaimana caranya untuk menunjukkan jika ia benar-benar menyesal.
Sebelum mereka berlibur ke villa ini, Fillbert sempat membicarakan perbuatannya yang memindahkan semua pelayan wanita ke berbagai tempat bisnisnya. Dan yang paling membuat Fillbert berang adalah, dia memutuskan kerja sama dengan perusahaan Smith hanya karna pemimpin perusaahan itu adalah seorang wanita. Padahal perusahaan itu banyak menguntungkan perusahaan mereka, tapi dengan gampangnya ia memutuskan kerja sama tersebut.
“Ada apa, Sayang?” tanya Katryn.
Allard menghela nafas, dan menceritakannya pada Katryn tanpa terkecuali. Katryn tersenyum, beberapa detik dia memejamkan matanya menikmati suara deburan ombak yang begitu menenangkan batinnya.
“Aku menghargai keputusanmu. Tapi, apakah itu tidak berlebihan? Kasarnya, kau menghindar dari masalahmu dan bisa saja nantinya kau bermain secara diam-diam di belakangku, bukan? Jadi, apa bedanya?” ucap Katryn lembut sambil mengelus dada Allard.
“Maksudku mengatakan ini adalah untuk membuatmu percaya pada dirimu sendiri, Al.”
“Apa yang kulakukan ini salah?” tanya Allard pelan. Katryn menggeleng, dan masih tersenyum hangat pada Allard.
“Tidak salah. Hanya saja itu terlalu berlebihan.”
“Aku percaya padamu, kau tidak akan melakukan itu. Aku menghargai setiap apa yang kau lakukan,” ucap Katryn memberi pengertian.
Ia paham, Allard dalam keadaan takut mengulangi kesalahannya yang dulu. Walaupun, hatinya berjanji tapi Allard tidak percaya pada dirinya sendiri, sebab Allard pun manusia biasa yang mempunyai ketakutan dan ketidak percayaan pada dirinya.
...***...
Malam ini adalah malam terakhir sebelum mereka kembali ke aktivitas masing-masing. Dan malam ini mereka memutuskan berbebeque di taman belakang. Saat ini Katryn tengah mengendong Allanzel yang amat manja, tak ingin lepas dari pelukan ibunya.
“Aku benar-benar heran, sebaik apa wanita itu sehingga mau menerima pria semacam Keynand?” Katryn menghela nafas lelah, Alessa tiada hentinya berkomentar akan hubungan Lyla dan Keynand.
__ADS_1
“Hentikan berbagai komentarmu, Alessa!” tegur Katryn jengah.
Tanpa disangka, Lyla menghampiri mereka. Walaupun di awal mereka sudah berkenalan tapi, Lyla bukanlah orang yang gampang berinteraksi dengan orang asing, itu pendapat Katryn pada gadis itu.
“Apa ... aku boleh bergabung?” tanya Lyla takut.
“Tentu, Lyla. Duduklah,” ucap Katryn tersenym tulus.
Lyla duduk dihadapan Katryn dan bersebelahan dengan Aleesa, gadis itu menunduk malu. Katryn tersenyum, gadis dihadapan ini mampu membuat orang penasaran pada dirinya. Begitu juga dengannya, akan tetapi Katryn tahu batas dalam berbincang. Lyla adalah seorang gadis yang tulus nan lembut, Katryn yakin Keynand tidak akan pernah menyesal mengenal gadis baik ini.
“Kudengar, kalian bisa berbahasa Indonesia?” tanya Lyla.
“Mom yang mengatakan, ya?” tanya Katryn sambil menimang Allanzel yang tertidur.
“Iya.”
“Aku dan Aleesa berasal dari Indonesia.” Beritahu Katryn, Lyla tersenyum.
“Aku paham bahasa.”
“Oh, ya? Bagaimana bisa?” tanya Aleesa antusias.
“Aku pernah tinggal di sana bersama bibiku.”
“Aku ingin mendengarmu berbicara bahasa Indonesia,” pinta Aleesa.
“Namaku Lyla, aku berumur 20 tahun. Aku menyukai makanan Indonesia, terutama rendang.”
“Perfect!” puji Aleesa. Aksennya masih kebaratan, tapi pengucapannya benar. Aleesa sangat antusias dengan orang luar yang bisa berbahasa Indonesia. Bahkan dia memaksa Nick bisa berbicara bahasa Indonesia.
Mereka berbincang seru, lebih dominan Aleesa yang berbicara sebenarnya. Katryn hanya diam mendengarkan. Tak lama Nick menghampiri Alessa, tanpa malu pria itu menyosor pada Alessa. Katryn hafal betul tingkah Nick akan maniak pria itu terhadap sahabatnya.
“Diam, Nick. Aku tahu maksudmu!”
“Baby, Ayolah...”
“Pergilah, suamimu itu sudah tidak tahan untuk menghabisimu malam ini!” ucap Katryn tengil.
“**** up!” maki Aleesa.
“Kau sangat pengertian, Mrs Helbert!” puji Nick senang. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Aleesa pergi meninggalkan mereka. Malu!
Katryn terkekeh melihat pasangan itu, sangat menggemaskan. Walaupun keluarga Nick adalah musuh Allard, tapi pria itu berbeda dari keluaraganya yang lain. Nick lebih tidak peduli dengan kata ‘musuh’ yang tersemat pada keluarga mereka. Mungkin, karena Alessa atau Nick bukan anak kandung keluarga Fernand?
“Dia sangat tampan,” ucap Katryn pada Lyla. Gadis itu tertunduk malu tertangkap basah oleh Katryn.
“Aku berat menerima perjodohan itu.” Lyla membuka suara, entah sadar atau tidak.
“Lalu, mengapa kau terlihat menerima? Aku tidak ingin berkomentar banyak sebenarnya, sebagai orang luar aku hanya bisa melihat kau tidak keberatan dengan tarik-ulur yang Keynand berikan.” Lyla diam tidak menjawab.
“Lyla, jika kau tak ingin, kau bisa membicarakan baik-baik pada semua orang.”
“Aku menyukai Keynand.” Katryn mengangguk paham.
“Matamu menjelaskan semua, kau mengaguminya.” Mata itu tak bisa berbohong, Katryn dapat membacanya. Pandangan mata Lyla pada Keynand tak pernah lepas, selalu kagum dan mendamba.
“Boleh aku memberi sedikit saran?” Lyla mengangguk.
__ADS_1
“Aku tidak begitu mengenalmu, Lyla. Tapi, aku tahu kau mempunyai hati yang lembut. Sesakit apapun yang kau rasakan, akan berbuah manis di kemudian hari.”
“Dengan kata lain, kau mencintai pria itu dan kau harus berusaha untuk mengubah hatinya berpihak padamu. Kau mengerti maksudku, kan?” tanya Katryn, Lyla mengangguk.
Setiap kata yang terucap bagaikan magnet penyemangat bagi Lyla, ada secercah harapan untuk dia bisa mengambil hati pujaannya.
“Terima kasih, Katryna...” ucap Lyla tulus.
“Tidak masalah. Kau pasti bisa menaklukan hati si dingin itu,” ucap Katryn.
“Dia pria dingin, tapi lembut.”
“Ah, kau mengetahui sisi lain dari si bodoh itu rupanya?” komentar Katryn dan terkekeh geli.
“Ngomong-ngomong, apa kau mengenal wanita yang Keynand hamili?” tanya Lyla penasaran.
“Ya, aku mengenalnya.”
“Saranku, jangan mencari tahu apa yang berpotensi membuatmu sakit.” Sambung Katryn.
“Aku penasaran.”
“Kau menerima bayi itu, Lyla?”
“Aku tidak tahu, Katryna. Keynand memintaku menjadi ibu untuk bayi itu, tapi aku belum siap. Apa susah mengurus anak diumur segini?” Katryn tersenyum lembut.
“Jika kau sudah berperan langsung, kau akan siap. Intinya, jika nanti kau dan Keynand sudah memiliki anak, perlakukan dia seperti anakmu.” Pesan Katryn.
...***...
“Hai, Darick! Hai, Anggelo!” sapa Allard terlewat ramah. Sedangkan keduanya tak percaya dengan pemandangan di depan mereka, seorang wanita mati dalam keadaan mata melotot ketakutan.
“Wah, si kejam Allard telah kembali!” komentar Anggelo takjub. Darick menyambut perkataan Anggelo, mereka mengolok-olok Allard.
Allard yang tahu sedang dibicarakan hanya diam, tangannya bergerak menekan interkom. Menghubungi Jordan untuk menghadap. Tak lama, Jordan masuk dengan wajah datar.
“Bereskan itu! Dan ingat, Jordan, jangan menerima tamu seenak jidatmu!”
“Baik, Tuan.”
“Satu lagi, carikan sekretaris pengganti untuk Mr. Joe!” ucap Allard, Jordan mengangguk paham dan menyeret mayat wanita itu.
“Btw, kau tidak tergoda pada wanita itu?” tanya Darick menyindir bermaksud menyindir.
“Aku tidak bodoh sepertimu!” sindir Allard balik. Anggelo terkekeh, tahu betul apa maksud perkataan Allard, apalagi jika bukan berselingkuh dari kekasihnya beberapa tahun lalu.
“Sadar, Brother. Yang kulakukan itu sebelum bertunangan,” ucap Darick, mengelak. Allard berdecak, malas meladani Darick yang pasti mengelak seribu alasan.
“Yang ingin kutanyakan adalah, mengapa kau melakukan hal bodoh? Memindahkan semua pelayan wanita dan juga membatalkan kontrak kerja dengan pimpinan perusahaan yang notabanenya adalah wanita?” tanya Darick, Allard mengedikan bahunya.
“Spontan. Ku kira itu terbaik!” jawabnya.
“Katryn meragukanku, dan karena itu aku merasa tidak percaya diri.” Hal yang sepele, tapi itulah yang terjadi. Kepercayaan adalah hal yang utama yang dapat membangkitkan semangat di dalam diri Allard.
“Aku menyukai sifatmu yang dulu daripada yang sekarang. Kau yang dulu sangat keras, sekarang seperti bubur, lembek!” komentar Anggelo.
“Kau tidak punya perumpamaan yang bagus?!” Sarkas Darick. Sangat geli mendengar perumpamaan yang dikeluarkan oleh Anggelo.
__ADS_1
...***...