
...Telah direvisi!...
...---...
“Kau memang tidak jera mengejar keluarga kami, Fernand!” ucap Fillbert menggeleng menatap Robby, Ayah Nick.
“Sayang sekali, kau memanfaatkan ketulusan anak muda ini demi kepuasanmu,” komentar Fillbert menatap Nick yang tidak berdaya.
“Dia anakku, dan sepantasnya dia menolong keluarganya dari keluarga biadab seperti kalian!”
“Sebiadabnya keluargaku, lebih biadab keluargamu! Keluargaku tidak pernah menjual harga diri wanita!” balas Allard pelan.
Aleesa muncul, tatapannya jatuh pada Nick yang menatapnya dengan senyuman kecil. Tak mempedulikan itu, Aleesa melaporkan semua bawahan Fernand sudah tak tersisa lagi.
“Keja bagus, Aleesa!” puji Fillbert.
Fillbert lebih banyak berbicara pada Robby, sebab ini adalah masalah yang belum terselesaikan sejak dulu di antara Fillbert dan juga keluarga Fernand. Aleesa dan Allard tak begitu mendengarkannya, intinya adalah keluarga Fernand tak terima dengan sebuah perusahaan yang mereka incar jatuh kepada kepemimpinan Fillbert saat itu.
“Mengapa tidak kau lenyapkan saja sejak dulu si bedebah ini, Dad?!” sarkas Allard
“I do!” Setelah mengucapkan itu, Fillbert menembak matinya tanpa belas kasihan.
“I like it!” ucap Allard dan tersenyum.
“Baiklah. Ini urusan kalian! Aku tak mau ikut campur!” ucap Fillbert memberi ruang berbicara pada Nick.
Allard mengedikkan bahunya, kakinya melangkah ke meja yang tersedia anggur merah di sana dan langsung meneguknya sekali teguk. Dia butuh pengalihan, otaknya sangat panas mengingat Nick lah yang akan mencelakai istrinya.
“Maafkan aku yang meragukanmu,” ucap Nick lirih pada Aleesa yang masih terdengar di telinga Allard.
“Itu tak ada artinya lagi, Nick!” ucap Aleesa datar.
“Ibu dan ayahku, telah tiada!” beritahu Nick, Aleesa menatap Allard.
“Tidak ada lagi yang menjadi penyemangatku di dunia ini, Aleesa.” Sambung Nick.
Tak ada yang membuka suara, Aleesa terdiam menatap ke sembarangan arah, berat bersitatap dengan mata milik Nick. Aleesa tak sanggup menatap Nick balik, ia lemah menatap mata itu, mata yang selalu menatapnya penuh kekaguman dan penuh cinta.
“Bagaimana, Aleesa?” tanya Allard.
“Terserah padamu!” ucap Aleesa berusaha menegaskan suaranya.
“Apa itu ... artinya kau melepaskanku, Aleesa?” tanya Nick menahan tangis, seolah tak peduli pada Allard.
“Tidak apa. Aku memang pantas mendapatkannya, lagipula ... aku tak memiliki siapapun di dunia ini,” ucap Nick lalu menghela nafas kasar.
“Termasuk, aku kehilangan dirimu!” Setetes air mata jatuh.
Allard tersenyum miris melihat air mata itu, penggambaran penyeselan dari seorang pria terhadap wanita yang ia cintai. Tetesan air mata itu semakin deras, sampai Allard merasa sesak mendengarkan kata cinta Nick untuk Aleesa.
“Aku bisa merasakan cinta itu darimu. Kau mengajarkanku apa arti cinta sesungguhnya, bukan hanya sebuah ketulusan tapi juga sebuah kesabaran dan saling percaya.”
“Maaf... aku mencintaimu, dan sampai kapanpun perasaan ini akan terus menjadi milikmu!” ucap Nick lirih.
Merasa Nick tak akan mengatakan apapun lagi, dengan yakin Allard menembak Nick tepat di dada. Sedangkan Aleesa menutup matanya, setelah beberapa saat ia membuka matanya matanya menatap Nick yang telah memejamkan matanya. Saat itulah tetesan demi tetesan berjatuhan dari mata indahnya.
“Bawa dia!” perintah Allard pada Jordan.
“Ini sudah berakhir!” batin Allard.
__ADS_1
...***...
Lima bulan telah berlalu, Katryn mulai merasa ketenangan dalam hidupnya. Banyak yang telah terlewatkan dalam lima bulan ini, termasuk kelahiran si kembar yang sangat ia tunggu-tunggu. Tidak mudah memang, di masa-masa bulan terakhir kehamilannya, Katryn setres dengan masalah yang mereka lewati.
Ditambah, Aleesa menjadi pendiam tak banyak berinteraksi. Hanya pada Katryn ia banyak berkeluh kesah, dan menangis di pelukkannya. Tidak tega melihat Aleesa yang seperti patung, selalu menyendiri, tidak mau ditemani kecuali dengannya.
Beruntung, Allard selalu memberi semangat padanya. Pria itu yang selalu berada di sampingnya ketika menangis diam-diam karena merasa bersalah pada Aleesa, pria itu selalu berkata itu bukan salahmu, ini adalah sebuah takdir dalam kehidupan yang kita jalani. Semua berangsur membaik secara perlahan. Sedikit banyaknya si kembar menjadi pengobat untuk mereka, kelucuan dan keramaian Allanzel membuat mereka melupakan masalah itu.
“Uncle!” teriak Allanzel tak terima adiknya di sentuh.
“Aku hanya ingin memegang pipinya, Boy!” protes Neon.
“Tidak boleh! Pergi!” Usir Allanzel, wajahnya kesal tapi sangat menggemaskan.
Dasarnya Neon dan Leon yang sangat suka keributan, semakin menjahili Allanzel dengan segala cara. Putra pertamanya ini memang sangat posesif pada adik-adiknya, apalagi pada adik perempuannya.
Allando Navvare Hellbert
Allena Navara Hellbert
Itulah nama yang Allard dan Katryn pilih untuk si kembar, nama yang hampir mirip dengan nama mereka. Bayi perempuan bernama Allena itu berhasil menarik perhatian Allard dan Allanzel, sampai Allard yang hanya bisa menangisi Katryn, kini Allena berhasil membuat sang ayah menangisinya. Ketika melihat Allena pertama kali, pria itu terpukau dengan kecantikannya. Bayi kecil itu mampu menghipnotis Allard untuk menatap wajah kecil itu terus menerus.
Sentuhan Katryn menyadarkan Allard dari lamunannya. Ia menampilkan senyuman hangat pada Katryn dan mengelus tangan Katryn yang berada di pundaknya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tak bisa menangis di depan semua orang.
“Kau cengeng sekali,” ejek Katryn, lalu tertawa ringan.
“Aku bersyukur sekali. Kau memberiku anak-anak yang sangat begitu tampan dan cantik!” ucap Allard tulus.
“Al, agaimana persiapan pernikahan kalian?” tanya Caroline.
“90% sudah jadi!” jawabnya.
“Tidak! Kalian hanya perlu menikmatinya saja!” ucap Allard ringan.
“Padahal aku ingin menyiapkan pernikahan anak-anakku! Tapi, kau mengacaukannya!” ketus Caroline.
“Lebih baik, mom menyiapkan acara anniversary pernikahan saja!” komentar Allard.
“Bosan!” ucapan Caroline semakin ketus pada anaknya.
“Benarkah? Kalau begitu, aku tidak perlu memberi hadiah yang mom minta, bukan?” pancing Allard.
“Terserah!”
“Jangan menggoda ibumu, Allard!” peringat Fillbert.
“Yes, Sir!”
Tiba-tiba, Allanzel berjalan ke arah Allard, meminta untuk dipangku. Dengan sigap, Allard menundukan Allanzel di pangkuannya.
...***...
Katryn bergerak perlahan agar tak membangunkan Allanzel, putranya ini sangat manja malam ini, ingin ditemani tidur. Kemudian, dia memastikan si kembar tertidur, barulah dia beranjak ke dapur, perutnya lapar minta diisi. Ketika sampai di dapur, ia menemukan Alessa duduk di kursi pantri dengan segelas wine di depannya.
“Mengapa kau belum tidur?” tanya Katryn, Aleesa tersentak, ia menatap Katryn kesal.
“Kau mengagetkanku!”
“Salahmu, kau yang melamun!” ucap Katryn santai.
__ADS_1
“Terserah padaku!” ketus Aleesa masih kesal.
“Kau lapar?” tanya Katryn, sambil membuka lemari penyimpanan.
“Kau ingin memasak?” tanya Aleesa balik, antusias.
“Ya!”
Katryn menyiapkan keperluan untuk membuat spaghetti, itu makanan yang mudah dibuat saat ini. Sambil membuatnya, Katryn dan Aleesa berbincang ringan. Setelah masakan siap dan tersaji di atas piring, mereka menyantap dengan santai.
“Ceritakan padaku. Jangan dipendam, Sa!” Pinta Katryn. Sudah lama sekali dia berniat mengatakan ini, tetapi lagi-lagi dia merasa tidak enak.
“Aku seperti kehilangan separuh hidupku,” ucap Aleesa lalu tersenyum miris. Katryn memegang tangan Aleesa di atas meja, menggenggamnya erat.
“Aku bingung harus berkata apa. Tapi, aku merasa bersalah akan hal ini. Kau pantas bahagia. Jangan berlarut dalam kesedihanmu, kesedihan itu akan semakin membuatmu berharap pada yang tak pasti,” ucap Katryn memberi nasihat.
“Aku selalu berharap ada sebuah keajaiban untukku dan Nick! Ah, sudah lah, akan ada kebahagian yang akan datang nantinya!” ucap Aleesa dengan senyuman tulus.
“That’s, My Aleesa!” puji Katryn, Aleesa tertawa. Tatapan Aleesa begitu membuat Katryn tak nyaman, dengan refleks ia memukul tangan Aleesa cukup keras, sampai Aleesa memakinya.
“Jangan menatapku seperti itu!” Kesalnya.
“Aku sedang berpikir, Bodoh!”
“Apa? Selangk*ngan pria?” tanya Katryn polos.
“Mulutmu, Bodoh!” Katryn terkekeh.
“Kau tahu?” tanya Aleesa.
“Tidak!” jawab Katryn cepat.
“Aku belum selesai!” Ketus Alessa kesal.
“Lanjutkan!” ucap Katryn setelah tertawa geli.
“Aku menyadari sekarang, mengapa kau memaafkan Allard,” ucap Aleesa membuka mulut untuk mengatakan isi pikirannya.
“Dia selalu melindungimu dari setiap kali orang yang ingin berbuat jahat padamu, walaupun itu orang terdekatmu sekalipun.”
“Terlepas dari apa yang telah dia lakukan, Allard selalu bisa membuatmu terlindungi dan yang paling utama adalah kenyaman dan cintanya yang besar padamu!” sambung Aleesa terakhir kali.
“Satu hal yang harus aku terapkan pada diriku. Ketika jatuh cinta pada seseorang, itu artinya kau harus siap dengan segala kemungkinana yang ada. Kau harus siap dengan segala cinta yang akan dia berikan dan juga kau harus bersiap dengan segala kesakitan yang akan diberikan!”
“Yang terpenting adalah aturan, bukan begitu, Beb?” ucap Aleesa menambahkan. Katryn tertawa, aturan di mana Allard melakukannya lagi maka, dia akan pergi meninggalkan Allard.
“Btw, Allard berencana menjodohkanmu dengan Jeff!” beritahu Katryn.
“No way! Aku tidak mau dengan si perusuh itu!”
“Mengapa tidak? Dia cocok denganmu!” komentar Katryn.
“Kau tidak tahu saja bagaimana menyebalkannya pria itu! Dia bersikap sopan padamu, tapi dengan ku?” omel Aleesa seraya menunjuk dirinya.
“Mungkin dia menyukaimu!”
“Katryna, apa kau lupa? Dia sudah mempunyai kekasih!”
"Tidak ada yang salah. Masih kekasih, bukan istri!” ucap Katryn enteng.
__ADS_1
"Kau memang gila!" maki Aleesa.