
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca! ...
...---...
“Kakak!”
Katryn menegang mendengar ucapan Eve, apakah itu Allard? Dia ingin berbalik, tapi punggungnya tertahan oleh bantal.
“Al..” Suara lirih Caroline terdengar. Dan Katryn tahu, itu adalah Allard-nya. Katryn tidak tahu apa yang terjadi, hanya tangisan Caroline yang ia tahu.
Tak lama, tangis Katryn pecah, Allard duduk di kursi samping ranjangnya. Katryn ingin bangun dan memeluk sang suami, tetapi ia kesulitan. Allard menahan, ia mengecup buku jarinya dengan lembut.
“Al, peluk...” Allard langsung berdiri membantunya untuk duduk. Ketika telah duduk, Katryn menyilangkan kakinya dan menatap Allard sendu.
Allard membawa Katryn ke perutnya dan Katryn memeluk pinggang Allard erat. Katryn lega setelah memeluk pria ini dan semakin tenang ketika tangan Allard mengelus rambutnya. Berbagai pertanyaan yang ingin dipertanyakan seketika lenyap. Dia hanya ingin memeluk pria ini!
“Jangan menangis,” ucap Allard.
“Apa yang terjadi padamu?” tanya Katryn mendongak.
“Besok akan aku jelaskan, sekarang kau harus tidur. Aku di sini menemanimu.” Katryn mengangguk.
Allard membantunya berbaring. Namun, Katryn tetap menggengam tangan besar Allard, ia tidak mau Allard pergi. Allard dengan sayang mengelus perut sang istri dengan tangan kiri. Tak menunggu lama, Katryn tertidur. Sangat berhati-hati sekali ia melepaskan genggaman tangan sang istri.
Setelah memastikan sang istri tertidur dan memperbaiki selimut di tubuhnya, Allard keluar menemui sang ibu, bukan hanya Caroline di sana, tetapi beberapa keluarga mereka termasuk Fillbert. Caroline langsung memeluk putranya erat.
“I'm okey, Mom**.”
“Kau membutku takut.”
Caroline merasa tangannya basah oleh sesuatu, dia melepaskan pelukan mereka dan melihat tangannya berdarah. Caroline membalikkan tubuhnya dan mengangkat baju kaos yan ia kenakan, Caroline gemetar melihat punggung Allard tergores sangat panjang, dan mengeluarkan banyak darah.
“Apa yang terjadi?!” Jerit Caroline.
“Seseorang mencoba menyerangku.” Mengalirlah cerita Allard.
Mobilnya terjun ke dalam jurang, untungnya hanya beberapa lebam dan luka saja. Ketika berhasil keluar dari mobil, Allard langsung berlari menjauh. Dia bersembunyi di sana, orang-orang mereka pasti mengecek keadaannya yang sudah mati atau hidup.
Saat tengah beristirahat di bawah pohon, suara orang berbicara dari arah belakang terdengar. Allard mengintip dari balik pohon. Gerak-gerik mereka seperti mencari sesuatu. Allard memperhatikan wajah mereka dengan seksama, merekam wajah.
“Itu dia!”
Allard berlari menjauh, hujan peluru terjadi dan Allard dengan lihai mengelak. Hari mulai berwarna orange, dan mereka masih mencarinya. Allard melihat sebuah semak-belukar, dia menyembunyikan diri disana.
“Dimana dia?”
“Dia pasti bersembunyi di sekitar sini!”
Setelah mereka pergi, Allard keluar. Namun na’as, dari belakang seseorang mengayunkan benda tajam ke punggungnya dan menendang hingga dia jatuh. Allard menghindar, saat pria itu mengayunkan benda itu kembali. Dia tak bisa berlama-lama melawan orang ini. Dengan secepat kilat, Allard bangun dan menghajar pria itu. Mengambil benda itu yang terjatuh di atas tanah. Lalu, menusuk jantung pria itu.
Punggungnya sedikit nyeri. Allard menyentuh punggungnya yang dibalut kaos hitam, merah pekat terlihat. Ia sadar mengenakan cincin pernikahan di jari manisnya, otaknya teringat akan Katryn yang pasti mencarinya. Tanpa membuang waktu, Allard mengaktifkan koneksi lokasi ke notebooknya, yang juga terkoneksi pada milik Jordan.
“Enable connection,” ucapnya.
Ya, Allard selalu meletakkan alat pelacak di setiap apapun yang dia pakai, termasuk cincin ini. Entah jam berapa, hari sudah gelap gulita, hanya bulan yang bersinar di atas sana memberi sedikit penerangan.
Jordan datang bersama tim medis beberapa jam kemudian, Allard tidak ingin diobati, ia ingin langsung menemui sang istri.
...***...
Pagi hari Katryn terbangun, Allard sudah berada di samping ranjang tersenyum manis.
__ADS_1
“Morning!”
“Morning!” balas Katryn. Allard mencium bibirnya dan memberikan segelas air putih.
“Kau harus makan!” Katryn mengangguk. Allard sangat sigap mengambil semangkuk bubur dan menyuapi Katryn.
“Al, perbanmu jangan lupa diganti.” Caroline berucap setelah membuka pintu.
“Eh, kau sudah bangun ternyata. Bagaimana tidurmu?”gelagap sang ibu.
“Tidak nyenyak, punggungku sakit.”
“Sekarang apa masih sakit?”
“Tidak begitu sakit, Mom.”
“Baguslah. Pinta Allard untuk memijit punggungmu, okey? Aku harus pulang,” ucap Caroline.
“Perbannya di ganti!” ketus Caroline pada anaknya dan berlalu.
Setelah Caroline keluar, Katryn menatap Allard seksama. Jika dilihat, Tidak ada tubuh Allard diperban.
“Bisa kau jelaskan?” Katryn menuntut.
Allard menghela nafas, ia mulai menceritakan dari awal kenapa dia pergi tidak memberitahu Katryn dan kejadian malam tadi.
“Kenapa kau tidak jujur sejak awal?”
“Kau pasti melarangku, maka lebih baik aku diam.” Katryn menghela nafas.
“Ganti perban itu, luka itu sangat parah!” ucap Katryn pelan.
“Aleesa, Ganti perban ini!” perintah Allard. Aleesa sedari tadi di sana berbaring sambil memainkan ponselnya, mendengar perintah itu dia berdiri mengambil perban dan perekat.
Posisi Allard yang memperlihatkan punggungnya memudahkan Katryn melihat goresan panjang itu, dia merasa mual melihat darah dengan daging terbuka.
“Tentang apa?”
“Pura-pura bodoh!” umpat Aleesa.
“Padahal kau tahu, apa yang Katryn maksud.” Allard diam, pura-pura tak mendengar.
“Ini bukan pisau, tapi pedang atau sejenisnya. Orang bodoh sekalipun tau!” Katryn berucap agak datar.
“Ya, kau benar!” ucap Allard tak membantah.
“Lalu, kenapa kau mengatakan itu goresan pisau?” tanya Katryn.
“Mom. Dia trauma dengan pedang!”
...***...
Katryn diperbolehkan pulang, tetapi dokter berpesan bahwa Katryn tidak boleh terlalu banyak bergerak berat. Perdebatan terjadi diakibatkan Allard tidak mau dirawat, sedangkan Katryn memaksa Alard dirawat, luka dipunggungnya infeksi. Luka tusukkan sebelumnya saja belum pulih total.
Katryn kesal karena Allard menyepelekan lukanya. Malas berdebat, Katryn diam saja. Sampai, tiga hari kemudian, punggung Allard mengeluarkan darah. Jordan segera menangani dengan baik, syukur saja di mansion ini lengkap perlatan medis beserta Jordan yang ahlli dalam bidang kesehatan!
“Terus saja menganggap omonganku angin lalu!” Katryn akhirnya mengeluarkan kekesalannya. Allard kali ini mengangguk, membantah akan semakin membuat Katryn kesal.
“Lain kali, dengarkan perkataan orang. Itu untuk kebaikanmu!”
“Iya, cerewet!” Katryn semakin kesal dengan ucapan itu.
Allard tersenyum, ia menarik Katryn untuk duduk di pangkuannya. Bibir mereka saling menyapa, Allard merindukan ciuman ini.
__ADS_1
“Maaf membuatmu khawatir,” ucap Allard.
“Aku tidak tahu nantinya, kalau kau pergi dari hidupku...” Katryn berkaca-kaca.
“Aku akan selalu ada di hidupmu. Aku tidak akan pergi,” ucap Allard dan kembali mempertemukan bibir mereka. Aleesa masuk tanpa mengetuk pintu dan berceletuk,
“Sempat-sempatnya melakukan hal yang tidak senonoh!” Katryn menyembunyikan wajahnya di dada Allard, malu ketahuan.
“Maaf menganggu kesenanganmu, Bos. Ada informasi penting!” ucap Allesa cepat dan meletakkan berkas tersebut di atas meja kerja Allard.
Katryn menjauh dan duduk di sofa, Aleesa mengikuti Katryn yang duduk sambil mengelus perut Katryn. Tidak mempedulikan percakapan antara Selena dan Allard, padahal yang diperintah adalah dirinya.
“Aleesa!”
“Hm...” dehemnya, sambil tetap mengelus perut Katryn.
“Kau hanya mendapatkan informasi yang murahan seperti ini?!”ucap Allard luar biasa kesal.
“Aku malas menyalinnya. Kapasitas otakku masih mampu mengingat dengan jelas informasi yang aku dapat!” ucap Aleesa congkak.
“Kecongkaanmu itu, cocok dengan cinta satu malammu!” balas Allard sarkas.
“F*ck you!”umpat Alessa membuat Katryn tertawa.
“Bagaimana rasanya, tidur dengan Nick?”pancing Katryn.
“Tidak ada istimewanya!” Ketus Aleesa.
“Oh, begitu? Lalu, ada apa dengan lehermu?” Aleesa menutup lehernya secara refleks.
“Kau tahu, Amour? Sahabatmu itu, baru berlibur dengan cinta satu malamnya. Berlibur, di saat kau sedang sakit pula!” cela Allard.
“Benarkah?” Aleesa menggeleng panik. Tawa Katryn pecah tak tertahan, sedangkan Alessa menatap Allard tajam.
“Baiklah, Bos. Aku akan memberi tahumu!”pasrah Alessa.
“Good!”
"Bercanda denganmu, tidak seru!!"
"Bukan tipikalku."
“Keluarga Heaven merubah identitas diri mereka menjadi keluarga Amoto. Alasannya, untuk memanipulasi keluarga Helbert,”ucap Alessa memulai temuannya.
“Mereka berhasil maju satu langkah!”tambahnya.
“Maksudmu?”
“Mereka berhasil bekerja sama dengan perusahan utama,” ucap Alessa.
“Kau tidak salah dengan hal itu, Aleesa?” tanya Allard penuh selidik, Alessa menggeleng tegas.
“Amour, makanlah dulu, aku akan menyusul. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Alessa. Selena, temani istriku!” pinta Allard.
“Kau tidak keberatan, kan, Mrs Helbert?” Aleesa menggoda Katryn.
“Tidak, Mrs Fernand.” Katryn mengedipkan matanya menggoda Alessa yang terdiam menatapnya kesal.
“Heven tidak main-main. Dia mematai Vinson tanpa diketahui orang-orangmu,” ucap Alessa setelah mereka keluar.
“Mereka membangun perusaahan yang berbeda, tapi satu kepemilikan.”
“Nama perusaahan mereka?”
__ADS_1
“Red company dan Jankins Company.”
“Jadi, mereka berhasil menyusup lebih awal lewat kerja sama di perusahaanmu dan juga perusahaan keluarga Vinson,” jelas Alessa mengakhir penjelasannya.