
...Telah direvisi!...
...Happy reading!...
...***...
Allard tengah fokus memeriksa berkas di ruangannya, wajahnya menyiratkan keseriusan hingga akhirnya Jordan mengetuk pintu membuyarkan kesunyian.
“Katakan!”
“Nona Katryn mengubah identitasnya menjadi Elena Steave. Menurut Alvi, identitas tersebut telah diganti oleh seseorang, karena tidak ada satu pun data yang terdapat nama Nona Katryn, hanya ada Elena Steave. Saya juga telah cross check, dan yang Alvi sampaikan benar, Tuan!” ucap Jordan panjang lebar.
“Bagaimana dengan keluarganya?”
“Hal yang sama, Tuan.” Allard mengangguk sangat pelan.
“Lalu, mana data itu?” Jordan kaku, satu kesalahannya adalah tidak membawa bukti data itu ke hadapan sang tuan.
“Dalam waktu lima menit, data itu sudah ada padaku!” ucap Allard memberi ultimatum.
Jordan tergesa-gesa berlari mengambil berkas yang telah ia cetak sebelumnya. Ia kembali dalam menit ke empat lewat tiga enam, hampir saja!
“Ini, tuan.” Jordan menyodorkan berkas tersebut dii atas meja. Allard mengambil dan membaca seluruh isi di dalamnya.
“Seluruh data ini palsu!” ucap Allard setelah membaca keseluruhan berkas itu.
“Apakah Nona Alessa yang memalsukannya, Tuan?”
“Langkah yang ia ambil sudah benar, tetap pertahankan identitas ini!” ucap Allard.
“Baik, Tuan!”
...***...
Sudah hampir seminggu Katryn bekerja di club malam yang Alvi tawarkan. Rupanya, pria itu tak main-main dengan ucapannya, dia menempatkan Katryn sebagai penghibur di bidang musik. Walau terdengar aneh, tetapi Katryn memuji pemilik hiburan malam ini yang menyediakan hiburan musik di dalamnya.
Untuk pekerja di sini, disediakan berbagai fasilitas lengkap. Jujur saja, Katryn nyaman bekerja di club ini. Tak hanya itu, setiap pekerja mendapat penjagaan langsung agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.
Walau demikian, Katryn tak merasa puas, dia tidak bisa menemui keluarganya. Katryn berencana untuk menemui Alvi dan mengatakan keinginannya untuk pulang. Namun, pemikiran Katryn buyar saat netranya bertemu dengan netra hitam yang sangat ia kenali.
__ADS_1
Penyamaran yang dilakukan pria itu tidak dapat mengecohkannya. Dengan ketakutan luar biasa, Katryn berlari bermaksud menghindari pria itu. Namun naas, pria itu lebih dulu menarik lengannya.
“Hai, Baby Cat!”
Panik menguasa dirinya, ia mencari keberadaan penjaga, tetapi tak ada satu pun dari mereka ada di sekitarnya.
“Kita bertemu kembali. Aku sangat merindukanmu,” bisik pria itu membuat bulu kuduknya meremang.
“Earnest, lepaskan aku!” cicitnya.
“No, Baby. Kau membuat kesalahan, dan kau harus dihukum!” ucap Earnest dengan kemarahan.
Pernafasan Katryn mulai menipis, dia berusaha melepaskan diri dari pelukan Earnest. Namun, semakin ia memberontak, semakin pula Earnest menguatkan pelukannya.
“Earnest, aku mohon. Jangan lakukan itu!” ucap Katryn merasakan dinginnya sentuhan pisau mengenai leher jenjangnya.
“Ikut aku,” ucap Earnest dan segera membawa Katryn ke sudut ruangan.
Para pengunjung yang sadar dengan apa yang Earnest bawa mundur, mereka tak ingin ikut campur. sedangkan penjaga yang diutus menjaga Katryn mencoba menolong, akan tetapi terhalangi oleh bawahan Earnest.
“Kau tahu dari mana aku bisa menemukanmu, Baby?” ucap Earnest tersenyum manis dengan mata menatap Katryn penuh kemarahan.
Katryn menyadari kemarahan Earnest yang tidak biasanya, dan Katryn benar-benar takut menghadapi Earnest saat ini.
“Earnest ... aku mohon, lepaskan aku! aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, aku mohon padamu...” lirihnya, air mata telah membasahi pipinya.
“Kau selalu berjanji, tetapi kau selalu berbohong, Baby!” Selesai pria itu mengucapkan kalimat tersebut, sebuah goresan luka terasa di pipinya akibat ulah Earnest. Katryn merintih kesakitan, dan Earnest tersenyum senang dengan itu.
Earnest menunda melakukannya lebih lanjut, dia memilih membawa Katryn dari tempat ini dan akan melakukannya nanti saat berdua dengan Katryn.
Namun, saat Earnest hampir keluar dari club tersebut, sebuah tendangan keras mengenai perutnya. Katryn yang terlepas dari rangkulan Earnest, hanya berdiri ketakutan dan menahan sakit di pipinya.
Pria yang menendang Earnest menghampiri Katryn, ia membimbing Katryn untuk keluar dari club tersebut. Sebelum benar-benar melangkah jauh ia mengucapkan beberapa patah kata pada bawahannya,
“Urus dia! Dan bagi kalian yang merasa lalai akan tugas, segera temui aku!”
Di dalam perjalanan menuju mansion, Allard menahan gejolak amarah. Ia tak akan mengeluarkan kemarahannya di hadapan sang gadis, maka Allard memejamkan mata guna meredakan kemarahannya.
Dirasa sedikit mereda, Allard menggenggam tangan Katryn lembut. Gadis itu terlelap tanpa ia sadari. Dia menyandarkan kepala sang gadis pada pundaknya, mengelus rambut Katryn dengan sayang.
__ADS_1
Sesampai di mansion, Allard sendiri yang mengendong dan meletakkan Katryn di kamar pribadinya. Setelahnya, ia menuju ruang tanah di mana para bawahannya sudah berada di sana menunggunya, termasuk Alvi.
“Jelaskan tanpa berbelit dan tanpa pembelaan diri!” perintahnya.
Tidak ada satu pun yang berani menjelaskan, Alvi menoleh pada Jordan meminta pertolongan.
“Earnest memasuki club dan menyamar, Tuan—“
“Aku tidak menyuruhmu untuk berbicara, Jo!” potong Allard tak suka.
“Kalian tidak ingin menjelaskannya, ha?” tanya Allard dengan suara rendah, amarahnya telah diujung.
“Karena kebodohan kalian gadisku terluka!” teriaknya.
“Maaf, Tuan—“
“Bukan maaf yang aku minta!” teriaknya lagi.
Allard murka dengan kelalaian dan kebodohan mereka, bagaimana bisa Earnest bisa memasuki club-nya tanpa terlihat mencurigakan, jika bukan karena kelalaian bawahannya.
Kalau saja ia terlambat, pasti Earnest berhasil membawa Katryn menjauh dan ia akan kesulitan menemukan Katryn. Bukan Allard tidak bisa menemukan gadisnya, Earnest telah mengetahui Katryn berada di tangannya. Sekali lagi, Allard akan kesulitan menemukan Katryn sebab Earnest akan merencanakan sesuatu yang besar.
“Jordan, hukum berat mereka!” perintahnya dan berlalu begitu saja.
Emosi yang terus bergulung di dalam dirinya membuat Allard melampiaskannya kepada para tahanan. Allard membantai lima tahanan seorang diri dengan berbagai macam cara keji. Jordan baru saja tiba di dalam ruang tersebut hampir muntah menyaksikan kekejian sang tuan sekaligus melihat genangan berwarna merah di lantai putih itu.
“Apa kau suah melaksanakan tugasmu, Jo?” Pertanyaan keluar dari bibir Allard dingin.
“Sudah, Tuan!” Allard hanya menanggapi dengan sekali anggukan.
“Bereskan itu!”
Allard membersihkan diri di kamar tamu, lalu ia memasuki kamar pribadinya menemui Katryn yang masih terlelap di atas ranjangnya. Seketika amarahnya menguap begitu saja hanya karena memperhatikan wajah cantik sang gadis. Bayangan di masa lalu terpatri di kepalanya, dan tanpa sadar senyum tulus terlukis di wajah Allard.
“You are mine, Mi Amour... Kau milikku, Cintaku.” bisiknya, lalu mengecup kening Katryn beberapa detik.
Allard ikut membaringkan tubuhnya di samping Katryn, tidak memedulikan jika Katryn terbangun. Betapa ia merindukan gadisnya, memeluk Katryn adalah kesenangan tersendiri baginya dan mencium Katryn adalah kebanggaan untuknya.
“Good night, Mi Amour! *Selamat malam, Cintaku.*” ucapnya tepat di depan wajah Katryn.
__ADS_1
Rasanya, Allard tak puas menciumi wajah Katryn. Banyak yang ingin ia lakukan bersama Katryn,misalnya mengobrol atau lebih dari itu, bercinta....