Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 48. Changed


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca! ...


...-----...


Allard diperboleh pulang oleh dokter, saat ini ia tengah diperjalanan pulang ke mansion Helbert bersama sang ayah dan Jordan yang menyetir. Katryn tidak menjenguk pernah menjenguknya lagi setelah empat hari lalu.


“Mom!”


“Allard!” Caroline berlari ke arahnya dan memeluknya.


“Bagaiamana keadaanmu?” tanya Caroline setelah melepaskan pelukan mereka.


“Batter!” *Lebih baik*


“Syukurlah!”


“Dimana Katryna?” tanyanya tak sabaran, tiba-tiba Eve menyeletuk sebelum Caroline menjawab.


“Kau tidak menanyakanku?”


“Kau terlihat baik,” ucap Allard menatap sang adik datar, Evelyn cemberut. Kembali perhatian Allard berpusat pada sang ibu, menunggu jawaban. Caroline tersenyum tipis, dan terdiam sebentar.


“Dia di kamar,” ucap Caroline.


Allard mengangguk dan berjalan ke arah tangga. Menaikki tangga, tetapi tidak menemukan Katryn di kamarnya. Ia kembali berjalan ke kamar pribadinya dan sama juga tidak menemukan sang istri.


Pintu walk in closet terbuka, Allard masuk dan firasatnya mengatakan Katryn di dalam. Benar saja, Katryn berada disana, sedang duduk di atas permadani sedang membaca sebuah album.


“Amour!” ucapnya, Katryn menoleh dan tersenyum manis padanya. Lalu, kembali membaca album tersebut.


Sedikit merasa aneh dengan Katryn sekarang, tak banyak bicara. Sikapnya lebih diam dan menanggapinya lebih santai. Dia merasakan itu saat di mana Katryn menjenguknya, terlihat bukan Katryn-nya.


Dia ikut duduk di hadapan Katryn, dan sedikitpun Katryn tak merasa terganggu dengan hal itu. Memperhatikan Katryn seperti yang biasa dia lakukan, hanya saja Katryn seperti buku tertutup, yang tidak dapat dibaca.


“Album itu lebih menarik dari padaku?” tanyanya mencoba mengalihkan perhatian Katryn.


Katryn menatapnya sekilas dan tersenyum. Kemudian, kembali membaca album tersebut. Allard seperti kehilangan akal sekarang, rasanya sangat sulit menghadapi Katryn yang seperti ini daripada menghadapi musuhnya.


“Kau baru pulang, istirahatlah,” ucap Katryn sambil membalikkan lembaran album tersebut.


“Disini!” ucapnya, lalu menidurkan kepalanya di atas paha Katryn.


Tanggapan istrinya hanya tersenyum. Allard memejamkan matanya, sambil memikirkan apa yang terjadi pada Katryn selama dia berada di rumah sakit. Allard menghadap perut Katryn, mencium perut besar itu.


“Hai, Boy.”


“Kau tidak marah aku membaca album-album ini?” Katryn bertanya setelah tersenyum mendengar sapaan Allard pada kandungannya.


“Tidak.”


“Kenapa kau menulis album-album ini?”tanya Katryn kepikiran.


“Aku tidak pandai berkata-kata langsung. Jadi, aku menulis itu.”


“Kau juga menulis pada wanita lain?” Allard terdiam mendengar pertanyaan itu, sedangkan Katryn tersenyum kecil. Ia dapat menebak pikiran Allard.


“Siapa wanita itu?” tanya Katryn. Setelah itu, dia menutup album tersebut dan meletakkan album itu di sampingnya.


“Selena,” jawab Allard menatap Katryn dari bawah, Katryn membalas tatapan itu.


“Kau menyukai wanita itu?”


“Dulu, dengan kepribadiannya yang tulus.”

__ADS_1


Katryn mengangguk, tak menanyakan lebih lanjut. Ia kembali mengambil album yang dia letakkan di sampingnya dan membacanya. Setiap tulisan ini mampu membuatnya merasakan dicintai Allard.


Allard menulis album itu sebanyak tiga. Ada dua album yang belum ia baca, satu lagi sengaja ia simpan kembali di rak agar bersama dengan dua album lainnya.


...***...


Tengah malam sekitar pukul tiga Katryn terbangun. Ia melihat Allard tertidur telungkup di sampingnya, perlahan ia beranjak dan membuka pintu sepelan mungkin. Langkah kaki membawa Katryn menuju kolam renang. Udara di luar sangat dingin, Katryn lupa membawa baju penghangat.


Dia berdiri di dekat kolam renang sambil memeluk tubuhnya, sedikit menunduk melihat keramik-keramik yang dia injak. Katryn melamun memikirkan sesuatu, mimpi itu kembali datang dan selalu sama. Well... sebenarnya mimpi itu adalah kejadian nyata di masa lalu, di mana Katlyna meninggal tepat di matanya.


Katryn berjalan mengelilingi kolam renang tersebut. Udara semakin menusuk kulitnya, Katryn tidak tahan, jadi dia berjalan memasuki mansion. Akan tetapi, langkahnya terhenti. Allard berdiri di depan pintu penghubung antara taman dan ruang makan. Wajah pria itu menyiratkan ketidaksukaan. Katryn paham, dia berjalan terus. Sampai ketika dia ingin masuk, Allard menahan lengannya.


“Allard, dingin...” lirihnya.


“Lakukan lagi!” ucap Allard tinggi. Katryn menunduk, pria ini marah.


“Aku tidak akan melakukannya lagi,” ucapnya lirih.


Allard melepaskan pegangannya, Katryn berjalan ke arah ruang keluarga. Mengambil sebuah selimut, yang memang disediakan di setiap sofa tersebut, lalu memakainya. Ia duduk bersila di bawah sofa tersebut, sedangkan Allard memperhatikannya terus-menerus.


Katryn memejamkan matanya, di balik selimut ia mengelus perutnya perlahan. Allard tak tahan melihat wajah Katryn yang tertekan, ia duduk menyamping agar bisa melihat Katryn lebih luasa. Tangannya mengelus rambut Katryn dan berkata,


“Look at me!” *Lihat aku*


“Maaf,” ucap Katryn sendu.


“Kau ingin aku memaafkanmu?” Katryn mengangguk.


“Ceritakan, apa yang menganggu pikiranmu.”


Bukannya menjawab, Katryn menghadap kearahnya dan menenggelemkan wajahnya pada dada Allard. Istrinya menangis tersendu-sendu disana, Allard membalas pelukan itu dan tak lama, dia melepaskan pelukan mereka. Allard memegang bahunya, satu tangannya menghapus air mata Katryn secara bergantian.


“Allard...” ucap Katryn pelan dengan sendu dan serak. Dia tidak tahu memulai dari mana, rasanya ia hanya ingin menangis.


“Ssstt.. Kau bisa sesak. Tenangkan dirimu,” ucap Allard.


“Sekarang. Katakan satu kata yang menganggu pikiranmu,” ucap Allard lembut, setelah melihat Katryn lebih tenang.


“Mimpi.”


“Buruk?” Katryn mengangguk.


Allard memegang kedua tangan Katryn dan menciumnya lembut. Katryn terharu melihat cara pria ini memperlakukannya dengan lembut. Pria ini berbeda dengan yang lainnya. Walaupun terkadang caranya kasar tapi, pria ini mampu membuatnya luluh.


Dengan pelan, Katryn menceritakannya pada Allard. Mimpi yang dia mimpikan setiap malam setelah keluar dari rumah sakit. Meski berat menceritakan mimpi yang menjadi trauma untuknya, Allard dengan sabar mendengarkan ceritanya yang terputus-putus.


Setelah menceritakan semuanya pada Allard, pria itu terdiam sejenak. Allard menyimpulkan semuanya, mimpi itu berhubungan dengan kejadian dimana dia ditusuk oleh Shian. Itu mengakibatkan Katryn mengingat kembali kejadian Katlyna di bunuh oleh Earnest tepat di hadapan keluarga Vinson.


Allard menatap wanita di hadapannya dengan persaaan tak tega. Kehidupan yang dialami Katryn, sedikit sama dengan apa yang terjadi pada keluarganya.


“Itu yang membuatmu beberapa hari ini diam,” ucap Allard.


Katryn mendekatkan dirinya pada Allard, menyenderkan kepalanya ke bahu Allard. Dan memeluk Allard dari samping. Sedikit lega, bisa membagikan pikirannya pada pria ini.


“Allard.”


“Hm.”


“Kau tahu aku terbangun setiap tengah malam?” Allard mengangguk.


“Aku bersikap seakan-akan tidak terjadi sesuatu,” ucap Allard lalu, mencium keningnya.


“Tapi aku mengikutimu diam-diam,” sambungnya.


“Maaf.”

__ADS_1


“It’s okey, Amour.”


Tiba-tiba, Allard melepaskan pelukan mereka. Lalu, mengendongnya ala bridal style dan membawanya ke kamar.


...***...


Flashback at two days ago~


Allard melihat sang istri berada di taman belakang bersama Evelyn. Dia berbalik arah ke kamar orang tuanya, bermaksud menanyakan Katryn selama ia tidak di sini.


“Ada apa, Al?”


“Aku memperhatikan ada hal yang berbeda pada Katryn. Apa sebelum itu, terjadi sesuatu padanya?” tanya pada inti. Ibunya menggeleng.


“Sehari berada disini, mommy juga merasakan itu. Dia lebih banyak diam dan melamun,” ucap Caroline. Ketika ingin melanjutkan ucapannya. Filbert keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melingkat di pinggangnya.


“Ternyata anak laki-lakiku sedang curhat,” ledek sang ayah. Allard menatap tajam pada ayahnya.


“Fil!” tegur Caroline.


“Kau membuatku ingin menggelutimu lagi, Mi Amour!” ucap Filbert menatap Caroline nakal.


“Filbert!” Teriak Caroline yang kesal, Filbert terkekeh.


“Baiklah, Mrs Helbert. Lanjutkan curhatan kalian,” ucap Filbert berlalu ke walk in closet.


“Tidak ada yang terjadi pada Katryn. Mommy rasa, dia merindukan keluarganya,” ucap sang ibu menyambung ucapannya. Allard termenung, memikirkan ucapan sang ibu. Ada benarnya, Katryn tidak pernah bertemu keluarganya lagi.


“Bawalah keluarganya kemari, Al. Keluarganya pasti merindukan Katryn,” ucap ibunya. Allard mengangguk.


“Mommy-mu mengatakan padaku bahwa Katryn sering berada di kolam renang. Anehnya dia hanya menenggelamkan dirinya di sana,” ucap Filbert yang telah keluar dengan kaos dan celana pendek. Allard menatap sang ibu, Caroline mengangguk.


Allard semakin yakin ada hal yang membuat Katryn seperti ini. Tidak salah lagi, pasti ada. Dia mengira, sikap Katryn seperti itu hanya padanya, tetapi sepertinya istrinya sedang ada masalah.


“Carol. Mandilah,” ucap Filbert. Caroline mengerti, Fil akan membicarakan sesuatu pada Allard. Tanpa membantah dia memasuki toilet.


“Son!”


“Katryn telah menjadi anggota keluarga Helbert. Secara otomatis, jika kau ingin melangsungkan pernikahan, banyak anggota keluarga Helbert juga akan menentang itu. Kau tahu maksudku?” Allard mengangguk.


Ya, setelah dia mengatakan pada Katryn ingin mengadakan pernikahan, ia juga segera mengatakan pada kedua orang tuanya.


“Orang tahu, kau telah menikahi Tania. Itu akan menjadi sulit!”


“Aku tak menikahi Tania, Dad.” Filbert menatap tajam anaknya.


“Pernikahan itu palsu!” Allard memperjelas ucapannya.


“Kau gila! Kau tahu bagaimana tradisi di dalam keluarga ini, Allard!”


“Tidak ada pernikahan kedua di keluarga ini dan tidak ada pernikahan palsu di keluarga ini,” jawab Allard santai.


“Aku melanggar yang kedua, itu saja!” sambung Allard.


“Kakekmu tidak akan diam dengan itu.”


“Aku akan menjelaskannya pada kakek,” ucap Allard.


Allard sedari awal tahu bagimana tradisi konyol keluarganya yang bertentang dengan apa yang dia lakukan. Keluarganya mempunyai tradisi yang aneh, setiap anggota keluarga Helbert tak boleh melakukan acara pernikahan besar-besar, sebanyak dua kali.


Dan juga, tidak boleh menyelenggarakan acara pernikahan secara palsu. Bagi keluarga itu, setiap pernikahan adalah sakral dan cukup dilakukan sekali saja. Jika pun menikah lagi, karena hal tertentu dan cukup dengan pernikahan antar keluarga saja.


“Kau pasti mendukungku, tradisi keluarga itu kolot, kau sama tidak sukanya denganku!” ucap Allard.


Filbert setuju, tapi mau bagaimana lagi. Tradisi itu telah dilakukan secara turun-temurun. Entah benar atau tidak dengan konsekuensinya, Allad tidak pernah mempercayai itu sama sekali.

__ADS_1


Flashback End~


__ADS_2