Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 16. Trying to Escape and Punishment


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Happy reading!...


...-----...


Di siang hari yang terik, Katryn merasa bosan berada di dalam mansion. Tak ada pelayan atau penjaga yang dapat ia temui, bahkan Mila. Daripada kebosanan, Katryn mencari keberadaan Mila untuk mengajarinya membuat cake.


Bukannya menemukan Mila, Katryn malah tersesat ke lorong gelap. Takut semakin sesat, Katryn berbalik. Namun, suara tembakan menghentikan langkah kakinya. Penasaran, Katryn terus mengikuti lorong tersebut dan menemukan sebuah cahaya di sana.


Sebelum benar-benar sampai pada cahaya itu, Katryn mendengar suara teriakan kesakitan seseorang.


“Pengkhianatan pantas mati!” Sebuah suara itu sangat Katryn kenali.


“Allard?” batinnya.


“Maafkan saya, Tuan!” lirih seseorang.


Katryn yang ketakutan memilih pergi meninggalkan lorong tersebut, jantungnya berdebar tak karuan karena takut. Panik melandanya, dan Katryn secara impulsif memutuskan kabur. Namun, di pintu keluar ada beberapa penjaga.


“Hai, apa kalian bisa membantuku?”


“Ada apa, Nona?”


“Aku mencari Mila dan Jordan, tapi aku tidak menemukannya. Bolehkan kalian mencarinya?” pintanya dengan gugup, sambil menggaruk pelan pipinya.


“Tentu, Nona. Silakan Anda tunggu saja di dalam,” ucap salah satu penjaga melirik satu sama lain.


“Terima kasih.”


Katryn berpura-pura berjalan ke arah ruang tamu, setelah keduanya menjauh, Katryn dengan cepat berlari dan membuka pintu yang terbuat dari kayu jati. Tak ada waktu untuk menikmati udara luar, Katryn terburu-buru menjauhi pintu masuk menuju gerbang utama.


Tidak semudah itu ternyata, Katryn baru menyadari rumah ini sangat jauh dari pintu keluar, malah tidak tampak sama sekali. Katryn tak menyerah, dia terus berlari menemukan gerbang utama.


Lelah berlari, Katryn berhenti menumpu kedua tangan pada lututnya. Nafasnya tak beraturan, ia rasa jarak ke gerbang utama itu beratus-ratus meter jauhnya. Merasa sedikit tenang, Katryn melanjutkan berlari.


Sayangnya, sebuah mobil menandak berhenti tepat di hadapannya. Katryn mundur beberapa langkah saat menyaksikan Allard turun dari mobil tersebut. Matanya menatap Katryn bak mangsa yang siap diterkam.


Demi apa pun, Katryn ketakutan. Urat-urat di leher pria itu seperti ingin keluar, dan dipastikan Allard marah besar.


Langkah pria itu semakin mendekat, dan pada detik itu pula Allard menariknya memasuki mobil. Tak ada satu patah kata yang keluar, Allard hanya diam. Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi, Katryn sampai memegang dasbor menahan diri.


Allard memijak rem kencang, dan keluar. Tak lama, pria itu membuka pintu kemudi, menarik Katryn untuk keluar.

__ADS_1


“Allard, sakit...” ucap Katryn meringis kesakitan dan tak ada jawaban.


Pria itu membawanya ke ruang kerja, di sana Jordan dan kedua penjaga pintu masuk yang Katryn temui berdiri tak jauh dari meja kerja sang tuan.


“Hukuman apa yang pantas untukmu, Katryna?” Allard tak lagi menggunakan panggilan yang biasa ia gunakan.


“Al—” ucapannya terpotong akibat tarikan Allard yang mengakibat dia terduduk di atas pangkuan pria itu dan kedua tangannya melingkar erat di pinggang Katryn.


“Hubungi Alex!”


Jordan segera menyambungkan panggilan kepada Alex, tak butuh waktu lama, Alex mengangkat panggilan.


^^^[“Iya, Tuan?”]^^^


[“Lakukan tugasmu!] perintah Allard.


“Apa yang kau lakukan?” Katryn bertanya takut.


“Kau lihat saja!”


Setelah mengatakan itu, Allard membuka laptop di depannya dab beberapa saat mengutak-atiknya. Katryn melihat jelas, bahwa Allard menyambungkan panggilan lewat Skype.


^^^[“Tuan,”] ucap seorang di sana pertama kali, dia Alex.^^^


[“Perlihatkan pada gadis ini,”]


“Allard apa yang akan kau lakukan?” tanya Katryn bergetar.


“Kau akan tahu!”jawab Allard


“Allard, jangan macam-macam!”pinta Katryn memohon.


“Kau yang sedang macam-macam padaku!” sengit Allard.


Terlihat jelas di layar sana, seseorang tengah berjalan seorang diri. Alex mengambil gambar dari kejauhan, dan selanjutnya terlihat dua orang laki-laki berlari ke arah seseorang tersebut. Dalam sekali kedipan, Katryn tersentak saat salah satu mereka menusuk seseorang tersebut, dia adalah seorang wanita.


Wanita itu membalikkan tubuhnya, melihat siapa pelakunya. Detik itu pula Katryn tahu siapa wanita itu.


“Tidak, Alessa!!” teriaknya.


 Katryn terpaku, karena dia Alessa menerima ulahnya. Tidak setimpal, Katryn hanya berusaha melarikan, dia tidak sampai kabur!


“Lepaskan aku! Kau jahat! Kau melukai sahabatku!” teriak Katryn memberontak dalam pangkuan Allard.

__ADS_1


“Kau berengsek! Kau tidak punya hati!” makinya semakin brutal.


Gerakan Katryn tak terkendali, Allard menahan pinggang Katryn agar mereka tidak terjatuh. Dia tidak terpengaruh oleh teriakan atau pun pergerakan Katryn yang menjadi-jadi, dia tetap tenang karena telah memprediksi jika hal ini terjadi.


“Itu akibat kau ingin melarikan diri dariku!” ucapnya tajam dan mengancam.


“Kau boleh menghukumku, tapi jangan orang terdekatku!” balas Katryn pelan, ia mulai tenang di pangkuan Allard.


“Ini peringatan! Sekali lagi kau mencoba pergi, kau lihat apa yang bisa aku lakukan!” peringatnya.


Katryn gemetaran di dalam pelukan Allard, mengingat kejadian di ruangan sebelumnya, bagaimana nasib pria itu?


“Relaks, Amour.” Allard mengelus lengan Katryn lembut.


“Kau—kau membunuh pria itu?” tanyanya takut.


“Kau melihatnya,” ucap Allard dingin, mengatakan pada dirinya.


“Kau membunuhnya?” tanya Katryn sekali lagi, sangat mudahnya Allard mengangguk.


“Pengkhianat pantas mati!”


Tubuh Katryn bergetar hebat, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Katryn kesulitan bernafas, dia ingin berdiri, tetapi Allard menahan pergerakannya.


“Amour, bernafas dengan baik. Aku tidak akan menyakitimu,” bisik Allard menenangkan gadisnya.


Cengkeraman Katryn menguat di lengannya. Allard membalikkan tubuh Katryn, mengelus wajah sang gadis penuh kelembutan.


“Tenanglah dan bernafas perlahan.” Katryn menggeleng, kesulitan mengikuti perkataan Allard.


Tak ada pilihan, Allard memagut bibir Katryn lembut. Entah bagaimana, Katryn dapat bernafas sebagaimana mestinya. Masih dengan air mata di wajahnya, Allard melepas ciumannya dan memeluk Katryn.


Dari tatapannya, Allard memerintahkan ketiga orang yang menyaksikan mereka sedari tadi untuk keluar.


Sedangkan Katryn terlelap di pelukan Allard. Perlahan, dia berdiri sambil mengendong Katryn dan membawanya ke kamar.


Setelah membaringkan tubuh sang gadis, Allard segera kembali ke ruang kerja. Sebuah remote kecil ia ambil dari dalam laci dan menekannya, rak penghargaan di sudut ruangan terbuka menjadi dua, Allard berjalan memasuki ruangan kecil di sana.


Ini adalah salah satu ruang rahasia kecil yang dikhususkan untuk memantau seluruh cctv di mansion ini. Allard mengulang kembali kejadian sejam yang lalu, di mana Katryn baru saja keluar dari kamar dan mondar-mandir entah mencari apa. Dia memperhatikan semua yang Katryn lakukan hingga mencoba kabur.


Ini sangat dini untuk Katryn mengetahui pekerjaan gelapnya, ada rasa gundah di dalam hatinya jika suatu saat Katryn mengetahui pekerjaannya dan meninggalkannya. Apa pun itu, Allard tidak akan pernah sekali pun membiarkan Katryn pergi dari hidupnya.


Allard meninggalkan ruangan tersebut, dia berjalan ke arah kolam renang. Di sana, Jordan tengah membicarakan sesuatu dengan beberapa penjaga.

__ADS_1


“Jordan, jika ada sesuatu terjadi pada Katryn, segera hubungi aku!” perintahnya.


“Baik, Tuan. Anda ingin kembali ke kantor?” Allard hanya mengangguk.


__ADS_2