
...Telah direvisi!...
...---...
“Aku hamil, kembar.” Allard terdiam menatapnya. Lalu, senyum Allard terbit dan dengan semangat Allard mengangkat Katryn dan berputra-putar dengan semangatnya. Katryn tertawa bahagia, dia dapat melihat pancaran kebahagian dari mata pria ini.
“Kau sudah ingin memiliki anak lagi?” tanya Katryn ketika Allard melepaskan pelukannya.
“Dad berkata, siap atau tidak, aku harus menerima segala yang ada. Musuh akan tetap ada, jadi aku yang harus lebih ekstra menjaga keluargaku.” Katryn tersenyum.
“Ada satu lagi yang ingin aku katakan.”
“Apa?”tanya Allard.
“I love you!” Allard tersenyum, dia menangkup wajah Katryn dan menciumnya penuh perasaan.
“I love you more, My Wife!” bisik Allard tepat di telinga Katryn.
“Ada satu lagi!” ucap Katryn.
“Ada lagi?” Allard penasaran, dan Katryn mengangguk. Tatapan Katryn pada Allard begitu intens, tak sedikit pun Allard melepaskan tatapan yang diberikan Katryn padanya.
“Aku, tidak ingin ada Selena lainnya di kehidupan kita selanjutnya. Bukan janji yang aku inginkan tapi, bukti!”
“Jika sekali saja kau melakukan seperti itu pada Selena lainnya, maka jangan berharap aku akan kembali padamu lagi. Aku tidak peduli apa yang terjadi denganmu nantinya, entah kau gila atau bunuh diri sekalipun, aku tidak peduli!” ucap Katryn, sedangkan Allard diam mendengarkan perkataan Katryn, karena dia tahu Katryn akan melanjutkan perkatannya.
“Dan, semua hak asuh anak jatuh padaku!”
“Ini bukan ancaman. Kedepannya terserah padamu, aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan selama ini!” tandas Katryn. Allard mengangguk paham.
“Katryna, aku ingin mengatakan ini padamu.”
“Maaf. Maaf telah menempatkanmu dalam luka yang kau pendam. Dan maaf untuk air matamu yang disebabkan olehku,” ucap Allard memeluk Katryn erat.
Katryn membalas pelukan Allard, sambil mengelus punggungnya. Dapat dia rasakan, bahunya basah dan di tahu Allard menangis di pundaknya. Setelah melepaskan pelukan suaminya, Katryn menghapus jejak air mata di pipi Allard.
“Ada surat yang harus kau tanda tangani!” seru Katryn dan menarik tangan Allard ke kamar mereka.
Sesampainya, Katryn menyerahkan sebuah kertas padanya. Sebuah kertas yang berisi kontrak perjanjian, jika Allard kembali menyakiti, maka Allard akan menerima semua konsekuesinya dan hak asuh anak jatuh pada Katryn. Setelah membacanya dengan serius, Allard terkekeh.
“Sekarang, kau tahu cara mainnya, hm?” Katryn mengangguk semangat.
“Perjanjian di atas kertas. Sangat menarik!”
“Tanda tangan, Baby. Jangan banyak bicara!” ucap Katryn malas. Tanpa mendebatkan apapun, Allard mengambil sebuah bolpen dan membubuhkan tanda tangannya.
“Kukira, kau akan mendebatkannya!” komentar Katryn.
“Untuk apa?”
“Ya, mana tau kau ingin mencari Selena kedua!” Alih-alih tersinggung, Allard terkekeh.
“Cukup dengan kau meninggalkanku! Aku tidak ingin mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya!”
“Tapi, aku heran. Kau mafia terkenal, tapi kau dengan mudahnya dibodohi betina itu!” Allard mengangguk setuju.
...***...
Allard mengumumkan pada semua keluarga bahwasannya Katryn tengah mengandung kembar. Reaksi keluarga Allard di luar ekspetasi Katryn, pasalnya semua keluarga tampak terdiam dengan wajah penuh duka. Namun, ekpresi wajah mereka berubah tenang, terlebih Katryn memandang wajah Caroline yang saat ini tengah tersenyum sedih.
__ADS_1
“Apa ada sesuatu yang belum aku ketahui?” tanya Katryn berhati-hati.
“Allard mempunyai kembaran sama sepertimu, Nak.” Cassandra menjawab.
“Dimana kembaran Allard sekarang?” Katryn penasaran, matanya menatap Alllard.
“Dia sudah meninggal.” Katryn mematung, nasipnya dengan Allard sama.
“Lupakan itu. Ayo, kita bermain kartu!” seru Leon, suasana berubah gembira dalam detik berikutnya.
Katryn terdiam, dia mengira Caroline hanya memiliki dua anak, yaitu Allard dan Evelyn. Satu fakta lain yang baru Katryn ketahui. Katryn belum pernah bertemu dengan kembaran Allard, bahkan dulu saat Allard dan sekeluarga pindah ke Indonesia.
“Eve, boleh aku tahu kenapa kembaran Allard meninggal?” tanya Katryn sangat pelan. Evelyn tersenyum seraya mengangguk.
“Alland dibunuh musuh dad, jasadnya dibuang ke sungai. Meninggalnya Alland tepat di hari jadi pernikahan mom dan dad.”
“Maaf...”
“Tidak perlu meminta maaf, Sister. Mom dan dad menyukai anak kembar, maka dari itu mereka mengikuti program anak kembar. Setelah Alland tiada, sebisa mungkin dad menghindar dari rekannya yang memiliki anak kembar, sebab mom masih teringat pada kembaran Allard.”
“Jangan merasa bersalah. Aku tahu mom senang mendengar kau hamil anak kembar,” sambung Evelyne tersenyum, tangannya terulur mengusap perut Katryn yang sedikit buncit.
Setelah berbincang sejenak, Leon dan Neon menarik Katryn untuk ikut bermain. Allard melarang, tetapi si kembar itu melapor pada Fillbert agar mereka bisa membawa Katryn. Alhasil, si kembar berhasil karena dukungan sang paman.
Keynand juga berada di sini, dia tampak diam seperti biasa. Katryn penasaran bagaimana rupa Lyla yang sering diceritakan Cassandra, katanya gadis itu manis dengan dagu terbelah.
Dua jam bermain kartu, akhirnya permainan itu selesai. Katryn merasa lelah, padahal mereka hanya duduk sambil bermain kartu.
“Ingin aku pijat?” Tawar Allard, Katryn sumringah, kepalanya mengangguk antusias.
“Tolong,” ucap Katryn dan mengulurkan lengannya untuk dipijat.
Allard tersenyum tipis melihat tingkah Katryn yang menggemaskan. Dengan perlahan dia memijat lengan Katryn, sedangkan Katryn berbaring nyaman di atas pahanya.
“Amour.” Katryn berdeham merespon panggilan Allard seraya menikmati pijitan sang suami.
“Darimana kau berpikir untuk menggunakan perjanjian di atas kertas?”
“Aku pernah melihatmu melakukan itu!” jawab Katryn.
“Kau memang cepat mempelajari sesuatu.”
“Ya, memang!” sombong Katryn.
Tanpa disangka, Katryn berbalik dan mencium bibir Allard kasar. Allard tersenyum disela ciuman agresif istrinya. Apa boleh Allard mengatakan, jika kehamilan Katryn saat ini membuat wanitanya ini semakin agresif.
“Allard, aku ingin melakukannya!” ucap Katryn tergesa-gesa.
“Melakukan apa?” tanya Allard menggoda.
“Kau tahu dengan jelas.”
“Aku ingin sekarang, women on top!” Allard tertawa mendengar ucapan Katryn yang sangat terbuka.
“Silakan, Mi Amour!” Katryn dengan tidak sabaran menjatuhkan Allard di atas permadani yang mereka duduki. Dengan sigap, Katryn menduduki perut Allard dan menciumnya. Tiba-tiba, Katryn bangun dan meninggalkan Allard yang tengah memejamkan matanya menahan gairah. Tak lama, Katryn kembali dengan segelas es batu di tangannya.
“Kau ingin melakukannya?” Allard tersenyum miring.
“Benar.” Dalam sekejab, es batu tersebut beralih digenggaman Allard, sedangkan tubuh Katryn berbaring di bawah kendalinya.
__ADS_1
“Allard, ini tidak adil! Aku yang memimpin!” Bentak Katryn kesal.
“Tidak, Amour! Kali ini, aku akan membuat tubuhmu bergairah tanpa ampun!” Janji Allard.
“Tidak, tidak! Kau sudah mengiyakan aku yang memimpin!” ucap Katryn tidak terima.
“Women on top, right? Kau akan mendapatkan itu nanti!” jawab Allard, kemudian menjatuhkan satu es baru tepat di dada Katryn yang terbuka. ******* Katryn menjadi alunan indah bagi Allard, dia semakin bergairah sekarang.
...***...
Interaksi Allard kepada anak-anak di panti asuhan ini menimbulkan ketakjuban di dalam diri Katryn. Dia ingat cerita Allard, dulu Nyle sering merayakan ulang tahun di panti asuhan dan selanjutnya Nyle memerintah Allard membantai semua anak-anak tersebut. Detik ini, Katryn melihat dengan mata kepalanya sendiri, Allard begitu ramah, luwes dan tanpa beban di dekat anak-anak panti.
“Kenapa tidak pernah datang?” tanya seorang anak berusia sekitar lima tahun.
“Pekerjaanku sangat banyak,” jawab Allard ramah.
“Siapa dia?” tanya anak itu beralih pada Katryn.
“Dia istriku, Katryna...”
“Kau sangat cantik.” Katryn tersenyum mengusap rambut gadis kecil itu.
“Terima kasih, kau juga cantik. Siapa namamu?”
“Blue.”
“Namamu cantik, secantik matamu,” ucap Katryn jujur, warna mata gadis ini sama seperti milik Allard, biru.
“Kau akan datang lagi, kan?” Gadis bernama Blue itu bertanya pada Allard setelah mengucapkan terima kasih karena Katryn memujinya. Dapat Katryn lihat, gadis ini menatap Allard dengan penuh binar kekaguman.
Gadis kecil itu pamit mengerjakan tugas yang diberikan ibu panti. Katryn memandang sekitar panti ini, sungguh terawat dan dipenuhi bunga. Katryn merasa nyaman berada di panti ini.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Katryn sadar jika Allard memperhatikan sejak tadi.
“Aku ingin memberi nama Alland pada putra kita, apakah boleh?”
“Tentu, Al.”
Katryn tersenyum membalas perkataan Allard. Pria itu memeluk Katryn, menyalurkan kesedihannya. Katryn membalas pelukan Allard, sambil mengelus rambut Allard. Selanjutnya, Allard membawa Katryn mengelilingi panti yang sangat besar menurut Katryn. Selama berkeliling, Allard banyak menceritakan tentang panti dan juga Alland.
“Panti ini dibangun tak lama setelah beberapa bulan aku menghabisi satu panti.”
“Panti ini dibangun oleh paksaan Alland.” Allard tersenyum mengingat saat Alland memaksanya untuk datang melihat lokasi panti yang akan di bangun.
“Dia mengatakan, panti ini nantinya akan menjadi penebus rasa bersalahku pada anak-anak yang telah kubunuh. Alland sangat mengerti bagaimana aku saat itu, dia rela membantah perintah Nyle agar aku tidak pergi ke panti di saat hari ulang tahun kami.”
“Allard juga melakukan hal yang sama denganmu di hari ulang tahun kalian?” Allard menggeleng.
“Pada awalnya, ya. Tetapi, Alland pandai bernegoisasi.” Katryn mengangguk paham.
Cukup lama Katryn mendengar keluh-kesah Allard, Katryn menatap tanaman di hadapannya dengan kosong.
“Kau menghadapi berbagai masalah dalam hidupmu. Jika boleh aku katakan, inilah saatnya kau memperbaiki semua kesalahan itu, Sayang...” ucap Katryn lembut.
“Jujur, aku tak ingin kau menghabisi orang lagi.” Jeda Katryn.
“Kita sudah pernah membahas sebelum ini. Tapi, tak ada yang berubah dengan apa yang pernah aku katakan padamu.”
“Aku tak bisa berbuat banyak, aku paham dengan pekerjaanmu. Aku ingin kau memperbaiki semuanya, biarlah semuanya yang telah kau lewati sebagai pelajaran untuk anak-cucu kita kedepannya.” Katryn mengambil tangan Allard dan menggenggamnya erat. Dia memberikan senyuman tulus pada Allard, dan senyuman itu menular pada Allard.
__ADS_1
Hampir seharian mereka berada di panti ini, Allard meminta Caroline untuk menjaga Allanzel selama dia tak ada. Dengan senang hati, ibunya menyetujui itu. Kembalinya mereka dari panti, mereka dihadapkan oleh Selena yang membuat kegaduhan di mansion mereka. Katryn menenangkan Allard yang terlihat menahan emosi dengan kegaduhan yang disebabkan oleh Selena.
“Amour, aku tidak ingin bertemu dengannya!” ucap Allard datar.