Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 72. The Conditional


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca! ...


...---...


Selama tiga hari kemarin, Selena izin berlibur. Selama bekerja dengan Allard, wanita itu tidak pernah sekalipun izin dari pekerjaannya. Dan setelah tiga hari, Selena kembali menampakkan batang hidungnya. Namun, Selena kali ini lebih banyak menampilkan wajah datar.


“Kau berlibur, atau apa? Wajahmu tidak menggambarkan kebahagian layaknya orang pulang berlibur!” komentar Alessa terang-terangan. Selena mengedikkan bahunya seolah tak tahu. Katryn hanya diam, tidak mengeluarkan suara.


Nyle datang meminta Selena dan Alessa meninggalkannya bersama Katryn.


“Maaf, Tuan. Saya tidak bisa,” ucap Selena.


“Selena, tinggalkan kami! Atau pengawal itu menyeretmu ke kamar mereka!” ancam Nyle. Katryn memberi isyarat untuk Aleesa dan Selena pergi.


“Kau tampak tidak bersedih setelah kepergian ayahmu.”


“Kesedihan, tidak harus diperlihatkan pada orang lain!” jawab Katryn pelan.


“Apa kau merasa hampa, setelah kehilangan Thomas?” tanya Nyle menatap ke arah lain.


Pertanyaan macam apa itu? Katryn kesal mendengarnya! Entah apa maksud Nyle, Katryn tentu hampa setelah kepergian ayahnya. Sejujurnya, semenjak pertengkaran Allard dan Nyle, Katryn berusaha menghindari Nyle. Katryn juga manusia, ada rasa di mana dia muak melihat Nyle.


“Kenapa kau membunuh ayahku?” tanya Katryn datar. Nyle menatap Katryn datar, tatapannya menyimpan sebuah rahasia.


“Jika aku yang membunuh ayahmu, apa kau membenciku?” Katryn tertawa tak berarti.


“Tentu, Nyle!”


“Tapi, tidak ada artinya aku membencimu. Benci akan menumbuhkan dendam di hati,” ucap Katryn pelan.


“Kenapa kau mempunyai hati yang baik?” Katryn menggeleng, ia tidak setuju pernyataan Nyle.


“Aku tidak sebaik itu,” ucap Katryn.


“Hatiku pernah berniat membunuh seseorang!” sambung Katryn. Terdiam cukup lama, Nyle bertanya,


“Jika aku mengatakan, bukan aku yang membunuh Thomas, apa kau percaya?”


“Jika bukan kau yang membunuh ... siapa?”


“Heaven!” Katryn menatap Nyle, mencari kebohongan di mata Nyle.


“Kujelaskan kebenarannya, kau tidak akan mempercayaiku.”


“Kau benar, sulit rasanya mempercayaimu!” ucap Katryn dan meninggalkan Nyle seorang diri.


Akalnya bermain, menyusun puzzle-puzzle dari apa yang terjadi sebelumnya. Nyle sempat mengancamnya beberapa kali. Penentangan Katryn atas didikan Allanzel adalah hal besar yang Nyle benci darinya. Terakhir, Nyle mengatakan akan membuat perhitungan karena sikapnya yang menurut Nyle kelewatan batas.

__ADS_1


Makan malam tiba, Nyle masih di mansion Allard dan ikut makan malam. Allard terlihat tidak peduli dengan kehadiran Nyle, ia fokus pada makanan di depannya dan sesekali menyuapi Katryn.


“Segera jalani persyaratan itu, Katryna!” celetuk Nyle tiba-tiba.


“Aku yang menjadi pemimpin, dan aku yang menentukan kapan Katryna melakukan persyaratan itu!” bantah Allard tegas.


“Tidak masalah, asal hukuman itu tetap dijalankan olehmu!” Ucap Nyle menatap Katryn sekilas.


“Aku mau melakukan persyaratan itu!” Katryn berucap sebelum Allard membalas ucapan Nyle. Tidak akan ada ujungnya jika Allard meladeni sang kakek.


“Kau atur saja kapan!” sambung Katryn.


“Besok!!” Katryn mengangguk.


Katryn melanjutkan suapannya kembali. Tangannya memegang paha Allard guna menenangkan sang suami yang tengah menahan kemarahannya. Katryn sadar betul bahwa Nyle hanya ingin memancing Allard.


...***...


Seperti pembicaraan di meja makan kemarin, Nyle mengumpulkan anggota Klan Hellbert di markas utama. Kedatangan mereka disambut gembira oleh para anggota. Katryn baru mengetahui, anggota Klan Hellbert diberi nama khusus, yaitu petra.


Di markas utama sendiri didominasi oleh lak-laki, sedangkan perempuan hanya sebesar 20 persen. Dari satu jam yang lalu, Jeff―pemimpin markas―sudah menyodorkan banyak materi kepadanya, dari sejarah hingga selak-beluk markas ini.


Pendiri pertama Klan Hellbert adalah kakek Nyle, Justin. Justin awalnya berasal dari keluarga yang sangat kekurangan. Justin lahir dari seorang ibu yang bekerja sebagai wanita panggilan. Singkatnya, Justin lahir tanpa tahu siapa ayahnya dan kemudian dibuang saat berumur lima tahun.


Demi bertahan hidup, Justin mencuri barang-barang dan menjualnya. Hingga yang bergabung dengan geng jalanan guna mencari teman. Beranjak umur sebelas tahun, Justin diculik oleh seseorang untuk dijadikan anak buah geng kejahatan yang cukup ditakuti di daerah tersebut.


Saat itu Justin menerima karena memang tidak ada yang bisa dia lakukan kedepannya, masa depannya gamang. Justin mengetahui bagaimana kehidupan sebagai penjahat dan ia menikmatinya. Berkat kecerdasannya dan kepintarannya, dia sering diminta membuat rencana dalam pembunuhan. Sesekali dia turun tangan dalam mengeksekusi korbannya, dan dari bayaran yang terkumpul, dia gunakan untuk membangun sebuah penampungan anak-anak terlantar.


Katryn tidak menyangka, Klan Hellbert sudah berdiri berpuluh-puluh tahun lamanya. Dipastikan selama itu banyak sekali pertumpahan darah.


“Mari, ****Mother****. Semua sudah menunggu Anda,” ucap Jeff. Katryn mengambil nafas sebanyak mungkin, dia menyiapkan diri dengan persyaratan yang sedang menunggunya.


Jeff menuntunnya berjalan ke taman belakang. Allard, Selena, Nyle dan para anggota Klan Hellbert juga di sana. Katryn berdiri di tengah lapangan, Jeff memintanya berdiri di sebuah semen berbentuk lingkaran, lalu ia menyerahkan sebuah pisau tajam pada Katryn.


“Silakan, Mother.” Katryn menerima pisau tersebut, tatapannya tak lepas dari seekor kelinci yang terkurung di depannya.


Katryn berjongkok, perlahan ia meletakkan pisau itu kesembrangan tempat, lalu ia mengeluarkan binatang lucu itu. Tangannya mengelus bulu halus sang binatang. Katryn berusaha tenang, ia membayangkan bahwa Kelinci ini adalah sebuah kayu.


Menutup mata, Katryn mengambil pisau tersebut dan menusuk Kelinci malang itu. Setelah selesai, Katryn berdiri dan membalikkan badannya. Tangannya penuh berlemuran darah, jantungnya berdegub kencang. Katryn telah membunuh seekor Kelinci!


“Hai, kau berhasil melakukanya!” ucap Allard memeluknya. Katryn membalas pelukkan Allard, sedikit tenang berada di pelukan sang suami.


“Persayaratan selanjutnya, Father!” Intruksi Jeff.


Kembali menghadap ke lapangan, Katryn melihat lima orang pria berdiri berjejer.


“Mother, yang Anda lakukan adalah menembak ke arah orang di depan sana!” ucap Jeff setelah Katryn kembali berdiri di lingkaran tersebut.


“Jika mereka mati?” Katryn tidak tenang.

__ADS_1


“Tergantung kemana Anda menembaknya!” balas Jeff tersenyum tenang. Katryn meneoleh ke belakang, Allard menatapnya intens. Tangan Katryn gemetar hebat, dia takut melakukannya!


Jeff memberi sebuah headphone peredam suara, Katryn memakainya. Kemudian, Jeff memberikan sebuah pistol padanya. Memfokuskan pikiran, Katryn mengangkat pistol ke depan dan mengarahkan moncong pistol pada salah satu pria di sepan sana.


“Lengannya!” batinnya. Katryn berhasil mengeluarkan anak pistol tersebut. Namun, meleset pada dada pria yang berdiri di ujung kanan. Panik, Katryn menjatuhkan pistol tersebut dan menghampiri pria itu.


“Maafkan, aku!”


“Tidak apa, Mother. Ini sebagai pelatihan untukku,” ucap pria tersebut masih dengan suara yang sopan.


“Katryn, kembali ke tempatmu!” teriak Allard marah.


Pria tersebut dibawa oleh pengawal lain, barulah Katryn kembali ke lingkaran. Punggungnya terasa panas ditatap oleh Allard.


“Mother, silakan tembak mereka lagi!” ucap Jeff.


“Tidak!” jawab Katryn berteriak.


“Itu mudah, Mother. Hanya fokuskan pada sasaran yang ingin kau tembak. Agar peluru tidak meleset, tahan pistol itu!


"


Mengambil pistol yang terjatuh, Katryn kembali fokus pada pria-pria dihadapan sana. Kali ini, Katryn lebih memfokuskan sasaran tembakan.


‘Shoot’


Tembakan tersebut meleset tepat sasaran pada lengan pria yang berada di tengah. Katryn menghela nafas lega.


“Good. Tidak buruk!” Komentar Jeff.


“Sudah, bukan?” tanya Katryn.


“Satu persyaratan lagi, Mother!”


“Apa lagi?”


“Mari, ikut saya!”


Mereka sampai di sebuah ruangan tertutup, ternyata ini adalah tempat pelatihan boxing. Yang berbeda di ring sana terdapat dua orang pria memegang pisau di tangan masing-masing. Katryn mengigit bibir kuat, pemandangan di depan sana sungguh buruk, kedua pria itu saling menyerang menggunakan pisau.


Katryn harus melihat pertarungan itu hingga selesai. Tidak tahan, Katryn meremas baju kaos yang digunakan Allard. Mereka di ring sana berlumuran darah, Katryn segera menenggelamkan wajahnya di dada bidang Allard. Tubuh Katryn bergetar, Allard mengelus punggung sang istri lembut.


“Mother, kau harus melihat―” ucapan Jeff terpotong karena tatapan tajam Allard.


“Katryna, tidak masalah bukan, jika Allard yang mendapatkan ganjarannya. Lebih parah dari campukkan!” ucap Nyle berdiri di belakang mereka.


“Diam, Nyle!!”


Katryn menggenggam tangan Allard ketika pria itu ingin menyerang Nyle. Merasa siap, Katryn berbalik melihat pertarungan yang masih berlangsung. Saat dirinya tidak sanggup, Katryn memejamkan mata. Allard memeluk Katryn dari belakang dan membisikkan kata-kata penenang.

__ADS_1


...***...


__ADS_2