
...Telah direvisi!...
...Happy reading!...
...***...
Dua bulan berlalu, dan dua bulan juga Katryn berada di dalam mansion megah bak istana milik Allard. Bosan dan ingin keluar menemui keluarganya, tapi sial pria tampan itu melarangnya. Beberapa kali dia mencoba pergi, beberapa kali pula ketahuan.
Selama dua bulan ini pula, ia dan Allard semakin dekat, mulai tidur bersama di ranjang sama, menemani Allard bekerja di ruangannya. Walau Katryn kesal pada sikap dingin Allard yang terkadang muncul.
Dapat Katryn akui, ketampanan Allard bagaikan magnet yang menarik wanita lain untuk mendekat. Ya, seperti yang terjadi pada dirinya. Katryn menyukai Allard, karena pria itu dia menjadi Katryn yang dulu dan ia dapat merasakan perubahan besar setelah bersamanya.
Oke, lupakan tentang pria itu, dia kesal pada Allard! Katryn tengah mencari cara agar dapat menghubungi Alessa. Jujur saja, dia merindukan keluarganya dan Alessa. Bagaimana kabar mereka? pasti mereka mencari keberadaannya.
“Miss Vinson!” panggil Jordan.
“Uncle Jo, ada apa?”
“Tuan meminta Anda menemuinya,” ucapnya memberitahu.
“Bisakah dia tidak menyuruh-nyuruh orang lain?!” kesalnya. Allard suka sekali memerintahkan orang lain!
Jordan hanya tersenyum menanggapi Katryn, sangat biasa dengan keberanian Katryn melawan sang tuan.
“Dimana pria itu?” tanyanya.
“Di ruang kerja, Miss.”
Mengucapkan terima kasih, Katryn beranjak menemui Allard. Kalau boleh jujur, dia malas menemui Allard yang membuat kesal malam tadi. Bagaimana tidak, dia berang pada Allard yang memaksanya menikah. Sesampai di depan pintu kerja, Katryn membuka pintu tanpa mengetuk.
“Ada apa mencariku?” tanyanya, Allard yang sedang mengerjakan sesuatu di balik meja kerjanya, menatap Katryn tajam.
“Tidak tahu sopan santun, Amour?” Katryn mengedik bahunya.
“Duduk!”
“Ada apa? Jangan basa-basi,” ketusnya, Allard menghela nafas pelan, jengah pada sikap pembangkang gadisnya. Bukan baru-baru ini Katryn pembangkang, sejak dulu!
“Duduk!” perintah Allard kedua kalinya lebih keras.
Katryn menuruti, ia duduk tepat di depan meja kerja. Kemudian, Allard mengeluarkan sebuah stop map dari laci meja kerjanya dan menyodorkannya ke hadapan Katryn.
“Apa ini?” tanyanya dengan kerutan dahi.
“Baca!”
__ADS_1
Katryn mengambil stop map tersebut dan membaca secara perlahan. Allard menyandarkan punggungnya pada kursi kerja di belakangnya, memperhatikan tiap ekspresi yang ditunjukkan gadisnya.
“Kau tidak segila itu untuk melakukan perjanjian ini, bukan?” Katryn menyipitkan matanya tak percaya, menahan kemarahan.
Sikap tenang Katryn ini menimbulkan senyum tipis di bibir Allard, dia suka sikap Katryn ini.
“Tidak ada yang salah di sana. Perjanjian itu menguntungkan bagi kita berdua,” ucap Allard tenang.
“Keuntunganmu menjadikanku budak ***-mu?!”
“Apa yang dilakukan suami-istri setelah menikah? ***, bukan?”
“Aku tidak mau jadi budak ***-mu!”
“Tidak ada penyebutan budak *** di dalam perjanjian itu, Amour.”
Memang benar, tetapi Katryn tidak terima kalimat di pasal 2 yang berbunyi: Pihak wanita diwajibkan menuruti keinginan pihak pria dalam berhubungan intim, kapan pun dan dimana pun.
“Tetap saja itu dengan inti yang sama! Dan apa lagi ini, jika pihak wanita tidak menerima perjanjian ini, maka keluarga dari pihak wanita tidak akan dilindungi oleh pihak pria. Apa maksudnya?” Katryn mulai tidak dapat menahan emosinya.
“Easy, Amour. Keluargamu aman di bawah perlindunganku, tetapi itu pun jika kau mau menikah denganku. Jika tidak, jangan salahkan aku memberitahu psikopat itu keberadaanmu dan keluargamu!” ucap Allard begitu tenang.
“Mungkin kau butuh tahu, psikopat itu kesulitan mencarimu!” sambungnya.
Katryn mencerna ucapan pria ini, dia bimbang menerima atau menolak. Pilihan yang paling menguntungkan adalah menikah dengan pria ini dan mendapatkan perlindungan. Sejauh ini Earnest tidak dapat menemukannya, itu artinya pria ini mempunyai kuasa kuat.
“Alessa. Dia bisa menolongku,” batinnya.
“Termasuk Alessa, Amour. Walau seorang agent, dia tidak dapat menemukan lokasimu saat ini,” ucap Allard tahu ke mana pemikiran sang gadis.
Tentu Katryn tersentak, sejauh itu Allard tahu pekerjaan rahasia Alessa. Allard bangkit dari kursinya, lalu mengitari mejanya dan berdiri tepat di belakang Katryn.
“Aku tahu semua tentangmu, Amour.”
“Jangan sentuh mereka,” pintanya. Allard tertawa pelan, merasa lucu dengan permintaan gadisnya.
“Seharusnya kau mengubah kata sentuh dengan kata lain, aku hanya menjauhkan mereka dari psikopat itu!” Allard berucap, tangannya perlahan membelai rambut Katryn, lalu berpindah ke pipi dan turun ke lehernya.
“Hentikan itu,” ucap Katryn serak.
“Coba hentikan aku, Amour!” tantangnya.
Tidak bisa, Katryn terhipnotis akan sentuhannya. Sekuat tenaga mengembali pikiran warasnya, hanya satu sentuhan menghancurkan pikirannya.
“Apa yang kau ingin?”
__ADS_1
“You.”
“It's just obsession,” lirihnya. *Itu hanyalah obsesi*
Terlanjur marah karena menganggap ia hanya terobsesi, Allard menyerang bibirnya kasar. Cukup lama Allard mendominasi, ia melepaskan tautannya dan seringai kecil dapat Katryn lihat dengan jelas di wajah pria itu.
“Kau menyukai ciumanku, dan kau menginginkannya, Amour!” bisik Allard sensual.
“And now, tanda tangani ini!” perintahnya menunjuk perjanjian di hadapan mereka.
“Tidak!” ketus Katryn akibat malu membalas ciuman pria itu.
“Oke, tiga hari waktumu untuk berpikir. Lewat itu, jangan harap aku melindungi keluargamu,” ucap Allard final.
“Terserah!” ketusnya lagi berani. Allard tersenyum culas, bibir itu sangat berani dan sebagai hukuman, Allard menggigit bibir bawah gadisnya. Sebelum Katryn berteriak, Allard lebih dulu menangkup wajah Katryn dan memberi ciuman lebih kasar.
...***...
Hari ini adalah hari ketiga dari ucapan Allard kemarin, dan Katryn telah memutuskan akan menjawabnya. Namun, setelah menciumnya untuk kedua kalinya, Allard sama sekali tak menampakkan batang hidungnya sampai sekarang.
“Mila, apa kau tahu dimana Tuan Allard?” tanyanya.
“Saya kurang tahu, Nona. Coba tanyakan pada Tn. Jordan,” balas Mila.
“Dimana Uncle Jo?”
“Tunggu saja di ruang tamu, Nona. Akan saya panggilkan,” ucap Mila dan Katryn mengangguk.
Tak lama Katryn mendudukkan diri di ruang tamu, Jordan datang dan menanyakan maksud Katryn memanggilnya.
“Apa paman tahu dimana dia?”
“Saat ini beliau berada di luar negeri, Nona. Apa ada yang ingin Anda butuh kan?” Katryn menggeleng cepat.
“Kapan dia kembali?”
“Malam ini, Nona.”
“Baiklah. Terima kasih, Paman. Kalau begitu aku ingin ke kolam belakang,” pamitnya.
“Silakan,” balas Jordan mempersilahkan.
Jordan tersenyum, sang nona terlihat malu berhadapan dengannya. Mungkin karena ia memergoki keduanya berciuman di ruang kerja sang tuan, Katryn yang biasanya berbicara penuh semangat, kini malu-malu. Jordan mengeluarkan ponselnya, mengirim pesan pada sang tuan.
[To Mr. Helbert]
__ADS_1
[Tuan, Nona Katryn baru saja mencari Anda. Kemungkinan nona ingin membicarakan hal kemarin, Tuan.]
Sang tuan hanya membaca isi pesannya, dan Jordan pun memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia kembali ke ruang bawah tanah, menyelesaikan pekerjaan sebelum sang tuan kembali malam ini.