Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 49. Hey Miss Selena


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca! ...


...-----...


Makan malam telah siap, Katryn dan keluarga Helbert tengah makan malam. Ada yang berbeda dari makan sebelumnya, Nyle Helbert juga berada di tengah-tengah makan malam ini. Katryn dan Allard makan di piring yang sama, begitu juga dengan Fill dan Caroline. Seperti tradisi keluarga Helbert.


“Bagaimana kandunganmu?” tanya Nyle.


“Baik, ****Grandpa****.” Nyle mengangguk pelan.


“Setelah ini, ikut aku!”


“Tidak!” Bukan Katryn yang menjawab, akan tetapi Allard.


“Ada yang salah? Aku ingin mengenal lebih jauh cucu menantuku, Helbert.”


Allard menyipitkan matanya, kakek tua ini sangat suka menyentil-nya. Dia amat sangat tahu, maksud dari perkataan kakeknya.


“Boleh aku berbicara dua mata bersamamu, Cucu Menantu?” Katryn mengangguk. Allard berdiri, menimbulkan bunyi decitan dari bangku tersebut.


“Ayo, Amour!” ajak Allard, mengambil tangan Katryn dan menariknya meninggalkan ruang makan.


“Allard!” teriak Nyle berdiri dari bangkunya. Nyle berjalan ke arah mereka berdua.


“Aku hanya berbicara padanya,” ucap Nyle. Ketika Allard menarik tangan Katryn, Nyle juga menarik tangann Katryn.


“Grandpa!”


“Kau menginginkan perpisahan dengannya?!” ucap Nyle mengancam.


Allard menyerah. Membiarkan Nyle membawa istrinya, meskipun dia ingin membantah. Tapi, akan percuma. Katryn sedikit takut dengan Nyle, dia menoleh ke arah Allard. Sesampainya, mereka di ruang musik, Nyle hanya duduk di depan piano.


“Kau juga menyukai piano, bukan?” Katryn mengangguk.


“Duduklah!”


Katryn duduk di kursi yang dekat dengan Nyle. Nyle mulai memainkan tuts demi tuts, sampai mengeluarkan nada-nada yang menyayat hati. Katryn merasakan dejavu, sepertinya dia pernah mendengarkan nada-nada ini. Nyle menyelesaikan permainan pianonya hingga akhir.


“Aku merindukan, Lyla.”Nyle berkata lirih.


“Kau pernah bertemu dengan Lyla.” Katryn mengerutkan dahinya.


“Maaf. Siapa itu Lyla?”


“Istriku.” Katryn mengangguk paham, Nenek Allard yang dulu sering bermain dengannya ketika wanita tua itu datang beberapa kali mengunjungi sang cucu.


Nyle menatapnya dengan seksama dan lama. Katryn hanya menunduk, tak berani menatap Nyle balik.


“Kau mengingatku pada Lyla,” ucap Nyle akhirnya.


“Dia sangat menyukaimu. Juga, berharap kau menjadi cucu menantunya.”


“Dimana Grandma Lyla sekarang?”


“Mati.” Katryn sempat membeku beberapa detik, jawaban Nyle sangat santai.


“Ah, maaf.”


Nyle bangkit dan mengulurkan tangan padanya. Katryn menerimanya, Nyle menuntunnya untuk duduk di sofa panjang yang di sediakan di ruangan tersebut. Nyle duduk dan di ikuti olehnya.


“Kau wanita yang membuat cucuku menjadi lemah,” ucap Nyle membuat Katryn menatap mata Nyle yang terlihat sendu.


“Sebenarnya aku lebih menyukaimu dibanding Selena. Tetapi, aku tidak suka melihat cucuku menjadi lemah, hanya karena seorang wanita.”

__ADS_1


Katryn mengangguk, mengerti maksud dari perkataan pria tua ini. Ada satu yang membuatnya bertanya-tanya, ada hubungan apa Selena dan Allard, sehingga Nyle berkata seperti itu.


“Aku mengerti ketakutanmu.” Nyle tersenyum tulus pada Katryn.


“Kau sangat berbeda dari Caroline dan wanita lainnya,” komentarnya pelan.


“Semua wanita memang berbeda-beda,” jawab Katryn tidak ambil pusing.


“Caroline pernah berada di posisimu. Dan dia hanya diam ketakutan,” ucap Nyle kembali mengingat masa Fillbert memperjuangan Caroline.


“Sejujurnya aku takut padamu.”


“Hanya saja, kau bisa membalas kata-kataku,” ucap Nyle ketus. Katryn menutup mulutnya, menyembunyikan senyum malunya.


“Katryna.”


“Iya, Grandpa?!”


“Jika aku menyuruhmu meninggalkan Allard, apa kau mau? Dengan imbalan, aku akan membiayai semua kebutuhan.” Katryn cukup kaget dengan permintaan itu.


“Aku sanggup melakukannya. Tapi, tidak untuk anakku!” ucap Katryn tegas.


“Grandpa menyuruhku meninggalkan anak ini bersama Allard, atau pun menyuruhku membawa anak ini tanpa ayahnya, aku tidak mau!” sambung Katryn terdengar tegas.


“Aku mengerti itu!” balas Nyle, lalu menghela nafas.


Nyle terdiam cukup lama. Dia sudah mengira, wanita ini menjawab tidak. Cinta di antara kedua insan ini sudah sangat melekat. Nyle senang, cucunya mendapatkan wanita yang menerimanya tanpa melihat harta dan kekuasaan. Katryn adalah wanita yang tepat untuk cucuknya.


Tapi, wanita ini menjadi kelemahan bagi cucunya. Musuh dari keluarga mereka akan menjadikan Katryn sebagai alat untuk menjatuhkan Allard. Melihat wanita ini yang tidak pandai dalam bela diri atau semacamnya.


“Grandpa, akan memisahkan kami?”


“Itu tujuanku,” ucap Nyle jujur. Katryn mengangguk.


“Apa ada cara lain, agar aku pantas menjadi pasangan cucumu?” tanya Katryn begitu saja.


Nyle melihat pandangan berani dari wanita ini. Lalu, pandangannya beralih pada perut Katryn yang membesar.


“Boleh aku menyentuhnya?” Katryn mengangguk. Ketika Nyle menyentuhnya, mereka terkejut.


“Bayinya menendang?” tanya Katryn takjub.


“Ini pertama kalinya?” tanya Nyle, Katryn mengangguk antusias dan menangis haru. Nyle pun tak dapat menahna air matanya. Dia teringat pada kehamilan Allard dulu, anak itu menendang pertama kali saat Nyle sentuh perut ibunya.


“Halo, Boy!"


"Katryna, suatu saat nanti bila kau butuh bantuan ku, jangan sungkan memintanya padaku, " ucap Nyle.


...***...


Allard terus mengekorinya kemanapun dia pergi. Setelah dia keluar dari ruangan musik bersama Nyle, pria itu menunggunya di balik pintu dan langsung mengikuti langkahnya.


“Allard, aku sedang membuat ini!” ucap Katryn kesal.


“Biarkan maid yang membuatnya.”


“Tidak!”


“Amour!”


Caroline yang membantu Katryn membuat cake, hanya menjadi penonton saja. Setelah keluar dari ruangan itu, Katryn tiba-tiba ingin membuat cake. Dan Caroline dengan senang hati membantunya.


“Allard, tanyakan pada grandpa-mu! Jangan menganggunya!” ucap Caroline pada akhirnya.


“Ayolah, Amour. Ceritakan.” Caroline mendengus kesal, tak mendapatkan respon dari Allard.

__ADS_1


“Tidak ada yang penting untuk di ceritakan!” jawabnya ketus.


“Brother, kakek memanggilmu!” Ucap Evelyn yang baru saja memasuki dapur.


“Aku sibuk!”


“Sibuk menganggu kakak iparku!” Allard menatap tajam sang adik. Lalu, mencium bibir Katryn terlebih dulu dan berlalu.


Dua jam mereka berada di dapur dan cake yang mereka buat pun selesai. Wajah Katryn terlihat ceria menular pada Caroline dan Eve yang membantunya.


“Ayo, kita bawa ke depan!” seru Katryn.


Katryn dan Caroline membawa masing-masing piring di tangannya dan dari belakang Evelyn membawa nampan dengan gelas-gelas yang di isi juice orange. Tiba di ruang keluarga, Katryn melihat Jordan dan Selena.


Pandangan Selena pada Allard begitu intens dan memuja. Tak mau memikirkannya, Katryn meletakan piring berisi cake itu ke atas meja dan duduk di sebelah Allard.


“Selena, Jordan... duduklah,” ucap Nyle. Keduanya mengikuti ucapan Nyle.


Nyle dapat melihat jelas Katryn menatap Selena penasaran. Ketika mata mereka bertemu, Nyle mengedip matanya seolah memberi sinyal padanya. Oke... Katryn yakin ada hubungan yang tidak diketahuinya antara Selena dan Allard. Album yang Allard buat untuk Selena juga mengartikan semuanya, kan?


Katryn melamun hingga tidak menyadari obrolan yang lainnya memuji cake buatannya. Seketika dia sadar Fillbert memanggil cukup keras.


“Ya, Dad?”


“Apa yang kau lamunkan?” Katryn tersenyum manis.


“Aku memikirkan kuliahku, Dad.”


“Oh, ada masalah dengan tugasmu?” Katryn mengangguk.


“Minta Allard untuk membantumu,” ucap Fillbert dan Katryn kembali mengangguk.


Mereka kembali bercakap-cakap, sambil menikmati cake. Baik Filbert dan Caroline sangat menikmati kebersamaannya bersama keluarga mereka. Mereka sangat jarang berkumpul bersama seperti ini. Filbert berterima kasih pada Katryn secara tidak langsung menantunya ini mengumpulkan mereka.


Terutama Nyle, sudah sangat lama sekali dia tak berkumpul seperti ini. Seingatnya, terakhir dia berkumpul bersama keluarganya, lima tahun yang lalu. Saat Lyla, sang istri masih hidup. Sedangkan Katryn yang merasa ditatap Allard, menatap balik suaminya. Spontan Katryn menatap Selena.


Wanita itu lebih dewasa darinya dan juga lebih menariknya. Selena sadar di perhatikan, menoleh kepadanya. Dia mengerutkan dahinya, tatapan Katryn tajam dan menusuk. Allard menarik wajah Katryn dan meraup bibirnya secara tiba-tiba. Tentu Katryn kaget dengan apa yang dilakukan Allard di depan keluarga.


“Ehmm...” Filbert berdehem.


Allard melepaskan ciumannya, dan memasang wajah flat tanpa dosa. Sedangkan Katryn dengan cepat permisi ke toilet, kesal pada Allard yang berbuat tanpa melihat kondisi.


Di toilet, Katryn membasuh wajahnya yang terasa panas. Dari kaca di hadapannya, dia melihat Allard berdiri bersandar di kusen pintu.


“Grandpa mengatakan sesuatu padamu.” Allard berkata.


“Tidak ada yang penting.”


“Jika tidak penting, kenapa kau menatap Selena seperti itu?”


“Kau keberatan aku menatap wanita itu?” tanya Katryn berbalik dengan senyumannya.


“Katryna, katakan. Apa yang di katakan Grandpa?” Allard memaksa. Katryn hanya tersenyum dan mengambil selembar tisu yang disediakan di sana.


“Katryna!”


“Grandpa hanya mengatakan dia lebih menyukaiku daripada Selena!” ucap Katryn menekankan kata ‘Selena’.


“Dan itu membuktikan, jika kau pernah berhubungan dengannya!” ucapnya lagi dan berlalu dari toilet. Namun ternyata, Katryn bertemu dengan Selena di lorong menuju toilet, pasti wanita ini mendengar percakapan mereka.


“Hai, Miss Selena!” Sapa Katryn dan berlalu.


Katryn kembali ke ruang keluarga. Nyle menatapnya bertanya, Katryn menggeleng pelan. Tak lama, Selena dan Allard datang bersamaan. Katryn berpura-pura berbincang dengan Eve, menghindar dari tatapan kedua orang tersebut.


Mereka tak sadar, jika Allard dan Nyle saling menatap tajam. Katryn sesak, pikirannya berkecamuk pada Selena dan Allard. Selena pernah mengatakan padanya, jika dia hanya mengagumi Allard yang telah menolongnya. Tapi, kenapa fakta Allard membuat album untuk wanita ini rasanya lebih sakit, dibanding mendengar Allard akan menikah dulu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2