
...Telah direvisi! ...
...Selamat membaca! ...
...---...
Memasak adalah hobi Katryn sejak dulu. Alyesia―sang mama―sering kali mengenalkan Katryn pada bumbu-bumbu dapur, memberi resep dan mengajarinya. Harum aroma bumbu yang bercampur menguar di penciumannya, akan tetapi seketika Katryn merasa mual. Ia menjauhi bumbu tersebut, aneh sekali.
Perkataan Alessa kemarin terngiang di kepalanya, apakah dia hamil? Katryn menggeleng, dia melanjutkan memasukkan bumbu ke dalam wajan, mengabaikan rasa mualnya. Tidak tahan Katryna berlari ke toilet memuntahkan rasa mualnya.
“Kau hamil?” Pertanyaan itu terdengar dari arah belakang, Katryn mendongak, melihat Allard berdiri dari kaca besar di hadapannya.
Katryn hanya diam, menahan sakit di kepalanya. Tubuhnya lemas, Allard segera menahan tubuh Katryn agar tidak merosot ke lantai.
“Allard... kepalaku pusing,” adunya lirih. Tanpa menjawab, Allard membopong Katryn ke kamar mereka.
Parfum yang Allard pakai sedikit mengobati rasa mualnya. Ia menghela nafas di dalam pelukan Allard. Tanpa ia sadari, tangannya mengelus perutnya. Allard memperhatikan itu dengan jantungnya berdetak kencang.
...***...
Di umur Katryn kedua puluh satu tahun, ia dinyatakan hamil. Entah bahagia atau sedih, Katryn tidak tahu. Batinnya bergejolak kuat dikarenakan reaksi Allard yang kelihatannya marah ketika dokter mengatakan kondisi Katryn berbadan dua. Seminggu ini pria itu kembali menjadi Allard yang datar, berbicara pun tidak padanya.
Ketika mereka berdua di kamar, Allard memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan. Katryn bingung, kehamilannya ini tidak diharapkan oleh Allard. Sikap Allard sungguh membuat Katryn sedih.
Katryn membanting alat gambarnya, ia meninggalkan tugas kuliahnya yang seharusnya dikumpul malam ini. Kemudian, dia berdiri dan berjalan ke sebuah ruang musik. Hanya dengan cara bermain biola dapat mengobati moodnya ini.
Ia memejamkan mata seraya menggesek biola di tangannya perlahan. Emosi yang bergemul seakan sirnah begitu saja bersamaan dengan nada biola yang ia mainkan. Berjam-jam Katryn di ruangan ini hingga ia sendiri tidak sadar terlelap di atas sofa.
Di malam hari, Allard pulang dan tidak menemukan Katryn. Bertanya pada Mila, wanita tua itu mengatakan sang nyonya berada di ruang musik. Dengan langkah besar ia berjalan ke sana, benar saja di sana Katryn terlelap.
“Hai, bangun...” ucapnya mengelus pipi Katryn yang tampak berisi.
Katryn terbangun, pandangan mata mereka bertemu. Allard menatapnya dingin, hati kecilnya ingin marah pada Allard. Tidak tahan dengan tatapan itu, Katryn bangkit dan Allard mundur memberi ruang untuk Katryn.
Allard mengikuti langkah Katryn keluar dari ruang musik, ia memperhatikan Katryn yang tengah melihat jam dan menghela nafas. Katryn sendiri merutuki dirinya yang lupa menyelesaikan tugasnya, dipastikan Mrs. Yoland memberi hukuman.
“Kau sudah makan?” tanya Allard, Katryn menggeleng. Ia berniat melangkahkan kakinya ke kamar guna melanjutkan tidurnya.
“Makan, Katryna. Pikirkan kandunganmu,” ucap Allard.
“Jika kau mau, kita makan di luar.” Katryn menggeleng, Allard menarik tangan Katryn menuju meja makan.
“Makan!” titahnya. Katryn mengalah, walau ia tidak berselera, ia memaksa diri.
"Tidur saja, tidak usah menemaniku," tolak Katryn, Allard menatapnya. Lalu, membuang pandangannya sebab merasa diabaikan oleh Katryn.
__ADS_1
“Katryna,” panggil Allard setelah Katryn menyelesaikan makan malamnya, sehingga menunda Katryn meninggalkan Allard.
“Kita tidak bisa bersama.” Satu kalimat itu mampu meruntuhkan pertahanan Katryn, setetes air mata jatuh tanpa ia minta.
“Sedari awal kau memang menjadikanku pemuas nafsumu, kan?”Allard terdiam, dadanya bergemuruh menahan diri untuk tidak memeluk sang istri.
“Bukan saat yang tepat kita bersama,” ucap Allard. Katryn tidak mengerti maksud ucapan Allard ini.
“Setelah aku hamil anakmu, kau baru mengatakan itu. Kenapa tidak sejak awal?” Allard menatap Katryn tajam.
“Benarkan, kau tidak menginginkan anak ini!”pekik Katryn berang.
“Jaga perkataanmu, Katryna. Dia anakku!” balas Allard keras.
Katryn menyandarkan tubuhnya pada kursi di belakangnya, berusaha menghalau air matanya. Inikah akhirnya? Karena cinta, kau lemah, batinnya.
"Jika kau tak menginginkannya, its okey. Aku mengerti. Aku bisa mengurusnya sendiri,”putus Katryn.
“Aku menginginkannya, dia darah dagingku!” ucap Allard penuh penekanan.
...***...
Keesokan harinya, Katryn kembali ke aktivitas perkuliahannya. Alessa tidak menampakkan batang hidungnya, ia tidak tahu kemana sahabatnya itu sudah dua hari tidak ada kabar. Pukul sepuluh Katryn dipanggil ke ruangan dosen, ia tahu ini karena belum mengumpulkan tugas Mrs Yoland.
“Kenapa tugasmu belum terkumpul, Miss Elena?”
“Karena tugasmu terhitung kosong, akan ada tambahan tugas untukmu yaitu artikel beserta gambar, bebas ingin mengambil tema apa saja. Kedua desain baju formal dan semi formal. Waktumu tiga hari dari sekarang, jangan lupa tugas sebelumnya dikumpul juga!”jelas Mrs. Yoland.
“Baik, Mam.”
“Kau bisa keluar.”
“Baik, Mam. Saya pemisi,” pamit Katryn sopan.
Di depan pintu, Lauren menunggu Katryn. Tiba Katryn membuka pintu, Lauren langsung bertanya.
“Tugasku ditambah. Aku langsung pulang, ya. See you later, Lau!”
Di gerbang utama, supir sudah menunggu Katryn. Selama di perjalanan, Katryn memejamkan matanya. Sejujurnya dia lelah, tidurnya kacau karena memikirkan pertengkaran besar mereka kemarin.
“Nyonya, sudah sampai.” Katryn membuka mata, ia segera turun dan melangkah memasuki mansion.
Sesampai di dalam mansion, Katryn melihat Mila berdiri di dekat tangga memegang sebuah koper. Katryn merasa mual itu kembali datang, ia menutup mulutnya kuat.
“Nyonya, Anda tidak apa-apa?” Mila menghampiri sang nyonya.
__ADS_1
"Kenapa kau membawa koper, Aunty?”tanya Katryn.
"Tuan meminta Anda untuk pindah, Nyonya.”
"Dimana dia?" tanyanya lagi.
"Aku disini," ucap Allard menuruni tangga.
"Kau mengusirku?”
"Tidak!"
Sungguh, Katryn sulit menebak apa yang diinginkan oleh pria ini. Dia selalu melakukan, tanpa mengatakan. Katryn ingin penjelasan, bukan kebisuan Allard yang memusingkan.
“Kau akan tinggal bersama keluargaku. Sebulan kemudian, perkuliahanmu dialihkan secara online,” jelas Allard bersidekap, Katryn mendengus kesal.
“Pergilah. Supir menunggu,” sambung Allard berbalik menaiki tangga.
“Nyonya, mari...” ucap Mila.
“Allard-ku yang dulu, tidak pernah memintaku pergi,” lirih Katryn pelan.
“Pengharapanmu berlebihan, Katryna.” batinnya.
Katryn meninggalkan mansion. Allard berada di ruang kerja menyaksikan kepergian sang istri melalui cctv.
“Maaf, Amour. Ini hanya sementara waktu,” ucap Allard.
...***...
Mansion utama Helbert amatlah mewah. Katryn baru mengetahui mansion ini adalah mansion turun-temurun keluarga Helbert. Mereka memiliki mansion di berbagai negara, hanya mansion ini yang berkesan, begitu yang Katryn dengan langsung ayah mertuanya, Fillbert.
“Sister, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Evelyn.
“Tidak ada. Aku sedang berpikir, berapa hektar mansion ini.” Evelyn tertawa.
“Yang kutahu lima hektar. Mansion ini sering dijadikan tempat berkumpul orang tua, anak, cucu, cicit, mantu Keluarga Helbert.”
“Lalu, mansion di Itali?”
“Itu mansion mom dan dad.”
“Jadi, kalian semua memiliki mansion satu orang satu?”tanya Katryn takjub.
“Tidak juga. Mansion di Itali adalah pemberian daddy untuk mom, sebagai hadiah. Kami dulu pernah menetap di sana, masa kecilku dan Allard banyak dihabiskan di sana,” ucap Evelyn bercerita. Katryn mengangguk, hatinya malas mendengar nama Allard.
__ADS_1
“Sister. Boleh aku membahas tentang kakakku sedikit?” ucap Evelyn meminta izin, Katryn mengangguk atas permintaan sopan sang adik ipar.
“Aku tidak tahu kenapa Allard menyuruh dad, mom, dan aku tinggal di mansion ini. Aku yakin dia tidak menjelaskan sepatah katapun padamu, tapi percayalah... Allard berat meninggalkanmu dalam kondisi hamil. Saat yang tepat nanti, Allard akan mengatakannya padamu.” Perkataan itu sama seperti yang Allard ucapkan di malam pertengkaran hebat mereka.