Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 30. Revenge


__ADS_3

...Telah direvisi! ...


...Selamat membaca! ...


...---...


Allard mendorong Katryn ke ranjang, tubuhnya mengungkung tubuh Katryn. Lalu, selembut mungkin mencium bibir wanitanya dan memulai memberi rangsangan kecil pada area sensitif sang istri. Katryn seakan tak berdaya, dadanya berdenyut memikirkan Allard sering menyentuh wanita lain.


Posisi Allard yang mengangkangi Katryn, memudahkan dirinya untuk menguasai tubuh Katryn sesukanya. Kini, Katryn tak memakai sehelai benang pun. Allard mencumbu, menghisap, menggoda, bahkan meninggalkan bekas.


“Aku melakukan ini—” Allard menghentikan ucapannya, lalu mengecup puncak dada Katryn bergantian.


“Hanya padamu,” sambungnya seraya menatap Katryn intens.


“Aku mencintaimu, Amour!” ungkap Allard dari hati. Katryn tak kuasa menahan air mata, kalimat itu menyentuh perasannya.


Katryn menangkup wajah Allard, mengelus pipi Allard perlahan dan memberanikan diri mengecup bibir Allard lama. Allard tersenyum di sela kecupan, membiarkan Katryn meresapi rasa kasih di antara mereka.


Lambat laun keduanya menikmati pergelutan yang terjadi. Allard melakukannya dengan lembut, tidak memaksakan miliknya memasuki inti sang istri. Katryn melenguh antara nikmat dan sakit. Mengerti akan itu, Allard mengalihkan perhatian Katryn, mengecup setiap jengkal wajah Katryn.


“Kau sangat indah, Amour...” bisik Allard.


“Sakit...” balas Katryn lirih.


“I know. Fokus padaku,” pinta Allard sekaligus mendorong miliknya.


“Allard!” teriak Katryn serak saat milik Allard berhasil menembus penghalang miliknya, tangannya mencengkeram kuat lengan sang suami.


“Relaks, Amour.”


“Lanjutkan,” pinta Katryn setelah menyesuaikan diri.


Katryn seakan lupa atas pemikirannya tentang Allard dan wanita-wanita itu. Sekeras apa pun Katryn menolak, perlakuan Allard ini meluluhkan hatinya.


“Tuhan, aku tak bisa menyangkal perasaanku. Sekejam apa pun pria ini, perasaan ini sulit kutolak.” Katryn membatin.


Katryn mencapai puncaknya, disusul oleh Allard. Selesai pelepasan, Allard masih berada di atas tubuh Katryn. Puas dan senang secara bersamaan, dia tidak pernah merasakan kepuasan seperti ini sebelumnya. Katryn wanita pertama yang dapat memuaskan hasratnya. Tidak munafik, Allard ingin lagi dan lagi memasuki Katryn.


“Lelah, hm?” tanya Allard berbisik, Katryn mengangguk.


“Tidurlah,” ucap Allard menyelimuti tubuh mereka.


Katryn memeluk Allard, memejamkan matanya. Allard sendiri membalas pelukan Katryn, tidak lupa mengecup kening sang istri.


“Kau milikku, kau obsesiku dan kau tercipta hanya untukku. Tidak peduli yang terjadi, kau akan tetap menjadi wanitaku.” Katryn mendengar kalimat itu, tetapi lebih memilih diam.


Dirasa Allard tertidur, Katryn membuka mata. Memperhatikan wajah Allard yang tertidur pulas. Satu jarinya bermain di wajah Allard, kemudian mengelus rambut Allard yang sedikit basah karena kegiatan mereka. Senyum Katryn tercetak, tetapi seketika lenyap mengingat kata obsesi yang dilontarkan pria ini.


“Obsesimu... apakah sama dengan dia? Aku takut kau terobsesi, lalu akhirnya hanya aku yang bertahan dengan kesakitan itu,” ucap Katryn.


“Jika kau Allard-ku, kau akan menjagaku. Itu yang kau lakukan dulu padaku, kau tidak membiarkan siapa pun menyakitiku,” sambung Katryn.


Kemudian, Katryn mengecup pipi Allard dan menutup matanya menuju alam tidur. Belum semenit, Katryn sudah terlelap. Detik itu pula Allard membuka mata, ia mengecek apakah Katryn benar tertidur dan benar istrinya telah terlelap.


Ucapan Katryn meyakinkan Allard bahwa Katryn mengingat kenangan di masa lalu mereka. Tidak sepenuhnya, bisa saja Alessa yang menceritakan pada Katryn. Satu hal lagi adalah, Allard melihat banyak luka di tubuh Katryn disebabkan Earnest. Selama ini ia menahan diri, kali ini tidak, luka itu ada di sekujur tubuh Katryn.


“Terima kasih memberikan mahkotamu untukku, dan maaf... kau bukan yang pertama untukku. Aku menyayangimu, sangat...” ucap Allard pelan, lalu bangkit perlahan agar tak membangun Katryn guna membersihkan diri dan menenangkan pikirannya yang bergejolak ingin membunuh Earnest.

__ADS_1


Allard berada di kamar mandi selama 30 menit, ia kembali duduk di samping ranjang. Tangannya bergerak mengambil salep di laci nakas. Ia membuka selimut yang menutupi tubuh Katryn dan mengoleskan salep tersebut pada tubuh Katryn yang sekiranya dapat dijangkau.


...***...


“Tuan. Perintah Anda telah dilaksanakan,” ucap Selena.


“Oh, ya? Bukti-bukti?” balas Allard tidak percaya begitu saja.


“Bersih, Tuan.”


“Good.”


Dia puas atas kinerja bawahannya, tua bangka itu lenyap. Maka, musuh yang ingin menjatuhkannya lewat sang istri pun berkurang. Xen Fernand, tua bangka sekaligus musuh Allard yang sejak dulu menginginkan kematiannya. Selama ini Allard diam, pria itu sama sekali bukan ancaman, tetapi kecerobohan sang istri pasti akan menjatuhkan mereka ke dalam bahaya, terlebih menyakiti Katryn.


Belum saatnya memperkenalkan Katryn sebagai istrinya ke dunianya, masih sangat dini untuk mengenalkan Katryn kepada rekan bisnisnya. Tidak peduli itu pada bisnis legal atau pun ilegal, semua orang di mata Allard sama, mereka bisa kapan saja menikam dari belakang. Hanya orang tertentu yang mengetahui status Katryn sebenarnya, dan itu bukan sembarangan.


Selesai dengan pekerjaan, Allard langsung meninggalkan ruang kerjanya. Ada hal penting yang harus ia lakukan, yaitu memberi pelajaran pada si brengsek Earnest. Allard memerintahkan pada Selena untuk menarik bawahannya, artinya Allard ingin seorang diri tanpa penjagaan.


Memasuki mobil, Allard menyetir membelah jalan raya. Senyum sinis terpantri di bibirnya, ia tak sabar menemui psikopat itu. Sesampai di tujuan, Allard memperhatikan sekitar yang tampak sepi dari keramaian. Mengantongi kunci mobil, Allard segera menyusuri rumah tersebut, dari ruang satu ke ruang lain.


Senyumnya semakin mengembang, ternyata di seluruh ruangan terpasang cctv. Allard tidak dapat dibodohi, meski pun cctv dipasang tersembunyi, dengan mudah ia tahu di mana letak cctv itu. Ruangan sunyi saat ini pun dia tahu bahwa Earnest mengetahui kedatangannya.


“Hi, Mr. Helbert!” Allard terdiam sebentar, lalu berbalik.


“Kau mengetahui kedatanganku?”tanya Allard berbasa-basi.


“Aku pasti mengetahui itu, Helbert!”sombong Earnest.


“Tentu saja. Cctv itu menjelaskan semuanya!” ucap Allard meremehkan.


“Apa maumu mendatangiku?” tanya Earnest malas berbasa-basi.


“Tutup mulutmu itu!” Earnest geram, Allard terkekeh senang di tempat. Earnest dan emosinya sangat mudah terpancing.


“Bajingan Ford sepertimu tidak lebih baik dari seekor hewan,”hina Allard.


“Diam kau!” peringat Earnest tajam.


Secara terang-terangan, Earnest memperlihatkan pisau kecil kesayangan yang terasah dengan baik. Allard masih dalam posisi santai, tidak terpengaruh pada emosi Earnest, sebab itu adalah tujuan Allard.


“Ayo, serang aku!” ucap Allard mempermainkan emosi Earnest.


Earnest gelap mata, ia maju dan menyerang Allard. Namun, Allard sigap mengunci pegerakan Earnest dan melumpuhkannya ke lantai. Kaki Allard berada di punggung Earnest dan tangannya menyilangan kedua tangan Earnest ke belakang tubuhnya.


“Selama ini aku membebaskanmu, bukan berarti aku membiarkanmu tenang, Ford! Sekedar informasi, aku yang menempatkan istrimu ke dalam club itu!”


“Brengsek kau!” maki Earnest tertahan menahan sakit.


“Kau serakah, tidak cukup satu wanita, hm? Sampai Katryn pun ingin kau miliki!” ucap Allard menekan pijakannya pada punggung Earnest. Pria itu meringis kesakitan.


“Bawa dia!” perintah Allard kepada seseorang di sudut ruangan sana.


Seseorang tersebut mendekat dan membawa Earnest. Dia adalah salah satu orangnya yang ia tempatkan menjadi bawahan Earnest, pria itu sedari tadi berada di sana bersembunyi menunggu perintah sang tuan.


Ketika sampai di markas utama, bawahan Allard kewalahan menghadapi Earnest mengamuk. Tanpa perasaan, Earnest diseret paksa hingga ruang bawah tanah, di tempatkan di sebuah penjara dan dirantai pada kedua pergelangan tangan dan juga kaki.


“Keparat kau, Helbert!” maki Earnest tidak senang.

__ADS_1


“Kupastikan aku bisa keluar dari penjara ini!” teriak Earnest.


“Silakan, jika bisa!” balas Allard remeh.


“Jangan meremehkanku!”


Markas ini tersembunyi, sulit untuk kabur. Semua yang berada di markas utama adalah orang hebat, bahkan pembunuh bayaran pun ada di sini. Sebelumnya Earnest bisa kabur karena Allard memang menempatkan pria itu di tempat yang dikatakan mudah dijangkau.


Allard mengadahkan tangannya ke samping, seseorang meletakkan sebuah pisau di telapak tangannya. Matanya meyipit saat melihat ukiran nama di gagang pisau tersebut. Kemudian matanya berpindah pada Earnest yang saat ini menatapnya dengan senyuman manis.


“Buka!” perintah Allard, salah satu penjaga membukaa pintu jeruji dan Allard masuk.


“Katryna,” ucap Allard pelan membaca ukiran nama di pisau milik Earnest.


“Sayangnya, dia milikku!”ujar Allard tersenyum remeh pada Earnest.


“Sampai kapan pun itu, dia adalah milikku! Bukan milikmu, Helbert!” balas Earnest penuh penekanan setiap katanya.


“Oh, ya? Kau tidak bisa mendapatkan keperawananya!” jawab Allard telak yang membuat Earnest kembali emosi.


“Dia begitu panas, aku menyukainya.” Earnest memberontak, tetapi rantai di tubuhnya membatasi gerakannya.


“Satu lagi, dia menikmati setiap kali aku menyentuh tubuhnya, sampai dia berteriak menyebut namaku,”beber Allard memanasi Earnest.


“Diam kau, Helbert!” Allard senang sekali melihat reaksi Earnest yang terpancing.


“Dia milikku. Kau tidak punya hak mengambilnya dariku!” ucap Earnest tajam.


“Sedari dulu, dia milikku. Sedangkan milikmu adalah Sia!”


Allard tersenyum miring, Earnest terdiam sesaat dan menatap Allard waswas. Mereka beradu tatap beberapa saat. Allard maju berhadapan langsung, tangannya terkepal kuat menahan kemarahan.


“Kau melukai Katryna-ku. Bagaimana jika aku mengukir di tubuh istrimu?” bisik Allard yang hanya didengar Earnest.


“Jangan mencoba-coba melukai dia!”


“Jadi, kau mencintai dua wanita sekaligus, hm?”


Setelah mengatakan itu, Allard menusuk bahu Earnest menggunakan pisau kesayangan pria itu. Sekali lagi, dia menusuk pada bahu Earnest yang lain.


“Bajingan!” umpat Earnest menahan sakit.


“Lepaskan rantainya!”


“Tapi, Tuan―”


“Lakukan!” Penjaga tersebut membuka rantai yang melilit tangan Earnest dan mundur.


Earnest dengan cepat mengambil pisau di tangan Allard. Tahu apa yang akan dilakukan Earnest, Allard mundur. Senyum remeh ia perlihatkan pada Earnest karena gagal menusuknya.


“Maju kau!” ucap Earnest, ia tidak dapat maju dengan kaki yang masih dililit rantai.


Sebenarnya Allard tidak suka diperintah, tetapi kali ini dia memaklumi. Sangat santai sekali, Allard memasukkan kedua tangannya pada kantong celana bahan yang ia kenakan, lalu maju. Earnest menyayunkan tangannya berniat melukai perutnya, akan tetapi kalah cepat sebab gerakan Allard menahan pisau dengan tangan kosong.


Darah segar mengalir, wajah Allard masih sama datarnya. Selanjutnya, Allard menendang dada Earnest yang mengakibatkan pria itu tersungkur. Allard melihat tangannya robek, hanya tersenyum miring.


“Kaulah psikopat sebenarnya, Helbert!” ucap Earnest, Allard terkekeh.

__ADS_1


Sudah cukup hari, terakhir Allard melempar pisau kecil yang ia simpan di kantongnya tepat ke arah perut Earnest. Tanpa mengatakan apa pun, dia meninggalkan penjara tersebut.


__ADS_2