
...Telah direvisi!...
...---...
Pernikahan Allard dan Katryn diselenggarakan secara besar-besaran. Katryn tercengang dengan seluruh dekorasi mewah bak kerajaan dongeng. Ada satu yang membuat Katryn tersenyum geli, di bagian utara terukir tulisan cantik sangat besar ‘She’s Mine, Only Mine’ dan bagian selatan terukir ‘Katryna & Allard Wedding!’
“Konyol sekali! Apa kau tidak malu, Sayang?” Katryn bertanya menggoda.
“Apa aku harus malu, Amour? Aku tidak telanjang!” Nada suara Allard terdengar jengkel.
“Aku bercanda, Sayang!” ucap Katryn terekekeh.
Jujur, Katryn sangat menyukai dekorasinya, sangat elegan. Banyak kejutan yang terlihat dari dekorasinya, selain ukiran itu, terdapat dekorasi bunga teratai yang disusun sangat rapi, sangat cocok untuk spot foto. Ada juga foto kebersamaan mereka yang dibentuk love, dan masih banyak lagi.
Ini alasan pria ini tak mau ia ataupun keluarganya yang lain ikut menyiapkan pernikahan, ternyata ada banyak hal yang mengejutkan. Walaupun begitu, dekorasinya sangat bagus tidak berlebihan.
Mereka dituntun untuk berjalan ke kursi pengantin, entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat. Padahal ini hanya acara pernikahan saja, mungkin hanya dia saja yang terlalu nerveos. Lihatlah pria di sampingnya ini, sangat tenang.
“Kau senang, Amour?” tanya Allard berbisik, ketika mereka telah duduk di kursi pengantin.
“Aku tidak tahu menjelaskannya, tapi ini sangat membahagiakan. Walaupun sedikit berlebihan dengan ukiran itu!” ucap Katryn, mengakhiri dengan godaan.
“Itu menjelaskan kau adalah milikku!” ucap Allard posesif.
“Ya, ya. Iam yours, and you’re mine!” Senyum Allard mengembang.
“Aku suka itu!” puji Allard.
Acara pernikahannya berjalan sangat mulus, tak hentinya Allard memberikan kejutan padanya, sampai mulutnya terasa pegal karna terlalu banyak tersenyum hari ini.
“Ini terakhir!” bisik Allard.
“Ada lagi?” Allard mengangguk.
Di hadapan mereka terlihat orang-orang memberi jalan pada Caroline yang mengandeng tangan Allanzel, lalu sesampainya Allanzel di hadapannya, putranya memberikan sebuah rangkaian bunga dan berkata,
“Ini untukmu, Mom.” Katryn tak tahan untuk tidak menitikkan air mata haru. Perlahan ia menyamakan tingginya dengan Allanzel, dan mengambil bunga tersebut.
“Terima kasih, Sayangku...” ucap Katryn tulus, Allanzel mengangguk. Katryn memeluk tubuh kecil Allanzel, memberinya ciuman kecil di beberapa wajahnya.
“I love you, Mom!” ucap Allanzel setelah pelukan mereka terlepas. Tiba-tiba, lampu padam dalam dua puluh detik. Setelah lampu menyala, Katryn mencari keberadaan Allanzel yang menghilang dari sana.
“Tenanglah, Amour!”
“Allanzel di depan sana!” Beritahu Allard tenang.
__ADS_1
Benar saja, di depan sana Allanzel berada digendongan Caroline. Namun, ada satu yang menarik perhatiannya, Aleesa berdiri tegang dengan gaun dansa yang begitu cantik dan memegang sebuah mic.
“Apa yang akan dia lakukan?”
“Lihat saja!” ucap Allard tersenyum tipis.
“Hey, Katryna!”
“Oh, aku sangat gugup sekali!” ucap Aleesa seorang diri yang didengar semua orang. Setelah menghela nafas, barulah Aleesa merasa tenang.
“Sedari kita kecil, kita mempunyai sebuah mimpi, apa kau masih ingat itu?” Aleesa membuka suara sambil menatap Katryn.
“Aku yakin kau masih mengingatnya, bukan?” Katryn mengangguk samar dengan senyuman.
“Sebenarnya aku malu untuk melakukan ini, tapi aku terpaksa karna paksaan suamimu itu!” ucap Aleesa lalu terkekeh.
“Aku bercanda, Allard!” Wajah Allard tak bersahabat sekali, Aleesa tertawa sedikit melupakan kegugupannya.
“Sebelum itu, aku ingin sekali mengucapkan di hadapan semua orang, bahwa kau adalah sahabat terbaikku. Terima kasih untuk selalu ada di saat keluargaku mengabaikanku, terima kasih selalu ada di saat pasanganku menyakitiku, terima kasih untuk semua nasihat baikmu untukku dan terima kasih selalu peduli padaku.”
“Dan ini untukmu. Oh, ya, kau harus tahu bagaimana susahnya aku mempelajari gerakan ini!” Canda Aleesa di akhir katanya. Katryn tertawa, sambil menghapus air mata yang mengalir akibat ucapan manis Aleesa yang jarang sekali terdengar.
Beberapa orang bergaun peace mengelilingi Aleesa, dan musik mulai bermain. Ya, ini adalah salah satu impian mereka di masa kecil, di hari penikahan mereka nanti baik ia ataupun Aleesa harus tampil berdansa di hadapan semua orang. Impian kecil yang sempat Katryn lupakan, jika Aleesa tak mengingatkan saat ini.
Katryn takjub dengan gerakan demi gerakan yang sangat lembut, dan Allard menggenggam tangannya sedari tadi merasa hatinya membuncah melihat senyuman Katryn yang menular padanya.
“Hei, untuk kedua kalinya!” ucap Aleesa sambil mengatur nafas.
“Untuk Allard, kau adalah sahabatku juga. Ya, jika kau menganggapku!” Canda Aleesa.
“Aku hanya minta, jagalah dia seperti kau menjaga dirimu. Jangan sakiti dia!”
“Okey, kurasa cukup sampai di sini, aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian dan terima kasih telah meluangkan waktu untukku yang cantik ini! Sekian!” ucap Aleesa tersenyum manis.
...***...
Allard memandang wajah Katryn sangat dalam, dia senang wajah cantik ini terus memancarkan kebahagian. Pernikahan mereka telah berlalu beberapa minggu, tak ada yang berubah dari sebelumnya. Tapi, ada satu yang berubah yaitu, Allard seperti mendapatkan semangat baru.
Tangannya mengelus dahi Katryn dengan ibu jarinya, sedikit pun Katryn tak terganggu. Wanita itu masih nyaman dalam pelukannya sambil tertidur pulas. Jujur saja, ketika pikirannya kembali pada masa ia menyakiti Katryn, masih ada rasa ketakutan jika itu terulang lagi. Jika itu terjadi, pasti Katryn akan pergi dari hidupnya dan tak akan pernah kembali padanya.
Perlahan ia menarik nafas, membuang pikiran yang tak berguna. Dia harus mengingat perkataan Katryn, bahwa ketakutan adalah musuh terbesar manusia. Itu benar, karna ketakutan ini terkadang bisa melakukan kesalahan besar yang berakibat fatal.
“Apa yang kau lamunkan?” Pertanyaan Katryn mengembali kesadarannya.
“Ketakutan,” jawabnya singkat.
__ADS_1
“Lupakan itu! Fokus pada keyakinan yang kau miliki, Sayang.” Katryn memejamkan matanya yang masih berat untuk dibuka.
“Aku suka kau memanggilku seperti itu.” Allard memajukan wajahnya, mencium bibir Katryn menuntut. Ciumannya semakin mendalam, mata Allard berkabut oleh gairah. Katryn pun terbawa gairah, meletakan tangannya di belakang kepala Allard guna memperdalam ciuman mereka. Namun, semua tak terlaksana karena suara tangisan Allena yang diikuti Alland. Tawa mereka pecah, kesekian kalinya gagal melanjutkan percintaan. Katryn bangun, diikuti oleh Allard dan bersama-sama memasuki kamar si kembar lewat pintu penghubung.
“Mommy..” lirih Allanzel dengan wajah kesal.
“Terganggu dengan tangisan adik-adikmu, hm.” Allanzel mengangguk polos.
Katryn menggendong Allanzel, sedangkan Allard sudah menghampiri si kembar dan menenangkannya. Sekalipun Katryn tak merasa repot, sebab Allard akan membantunya menenangkan Allanzel atau si kembar.
“Mereka lapar,” kata Allard.
“Ya. Ini sudah jam-nya mereka lapar,” balas Katryn.
Seperti biasa menyusui si kembar, Katryn duduk dan menimang si kembar dengan tangan kanan dan kiri. Kemudian, memposisikan kedua pasang kaki si kembar bertindahan di depannya atau yang sering disebut posisi silang dalam menyusui bayi kembar.
Di awal melakukan ini, Katryn sangat takut jika si kembar tak nyaman tetapi, dengan bantuan dokter yang ahli akhirnya ia terbiasa. Apalagi pertama kali menyusui si kembar, asinya sangat sedikit sampai Katryn menangis tak tega dengan si kembar yang kelaparan.
“Ada apa?” tanya Allard ketika ringisan keluar dari mulutnya.
“Mereka menghisap sangat kuat!” lirihnya.
“Tidak seberapa denganku! Kau tahu, aku sangat suka menghisap―”
“Lanjutkan atau kau tak akan dapatkan itu!” Ancam Katryn menatap tajam suami laknatnya. Allard tak peduli, dia terus menggoda Katryn dengan perkataan yang membuat Katryn merinding. Katryn tak habis pikir, pria ini selalu punya pemikiran mesum yang tak ada habis. Tidak masalah sebenarnya, tapi ia masih malu jika melakukan posisi yang baru ketika mereka bercinta.
“Kau sedang membayangkannya, hm?”
“Nanti malam kita harus mencobanya!” ucap Allard, wajahnya terasa sangat panas mendengar ucapan Allard yang tak disaring, untung saja si kembar dan Allanzel kembali tertidur.
“Bisa kau tidak berkata mesum di depan anakmu, ha!?”
“Bukankah kau menyukainya juga, Amour? Apalagi jika posisi women on top, kau sangat menyukai itu!” Baiklah, pria ini tak akan berhenti menggoda.
“Amour, terima kasih kau memberikanku anak hebat seperti Anzel dan terima kasih telah memberikanku anak kembar yang sangat menggemaskan,” ucap Allard dengan ketulusan.
“Terima kasih kembali, Mi Amour.”
“Dan terima kasih untuk melindungi serta tidak memaksa Anzel melakukan aturan keluarga,” ucap Katryn.
“Aku ingin memelukmu! Tapi sepertinya susah!” ucap Allard, memilih mencium bibir Katryn sekilas.
...***...
...“Ada banyak rasa yang tak bisa kujelaskan hanya dari kata-kata. Dia adalah Katryna, wanita yang sangat menyukai Teratai! Dia sama seperti Teratai, bisa hidup dimana saja. Dia selalu bisa menghopnotisku hanya dari matanya, dan aku menyukai matanya yang seperti magnet untukku. Ada banyak yang ingin aku sampaikan padanya, namun rasanya sulit untuk mengatakannya. Katryna, kau tahu bagaimana aku mencintaimu dan itu sudah sejak lama. Dia, Katryna-ku dan akan menjadi milikku walaupun nantinya dia meninggalku!” –Allard Edbert Hellbert-...
__ADS_1
...“Di pria baik, juga jahat! Pertama kali melihatnya, aku langsung menyukainya! Karenanya aku tahu bagaimana arti cinta sesungguhnya, bukan karna dia pria baik, menurutku itu alasan klasik ketika mencintai seseorang. Aku mencintainya, karna dia menerimaku dengan tulus, dia menerima semua masa laluku, bahkan dia membalas bagaimana kesakitanku terhadap masa laluku. Dia menjagaku dan tidak peduli akan nyawanya sendiri! Dia priaku dan akan tetap menjadi suamiku selamanya!” –Katryna Helena Vinson....