Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 43. Meet Katryna Part 1


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca!...


...-----...


Allard dan anggotanya tengah dalam perjalanan menuju di mana Katryn disekap. Ia dan Jordan di satu mobil yang sama, Jordan mengendarai dan dia duduk di sebelah Jordan. Di depan sana Alessa dan Nick menjadi pemadu jalan.


Jalan yang rusak dan melewati beberapa pedesaan. Allard tak dapat membayangkan bagaimana mereka membawa Katryn dalam keadaan hamil, dengan jalan rusak penuh batuan seperti ini.


Mobil yang di kendarai Nick berbelok ke arah kiri. Allard berkerut, jalanan ini sangat sempit dan melewati hutan, tak lama mobil di depan tersebut berhenti. Nick dan Aleesa turun, lalu menghampirinya.


"Kita parkir disini,” ucap Aleesa.


Allard turun tanpa menjawab. Wajahnya sangat tak bersahabat, Nick merinding melihat tatapan Allard yang tajam dan penuh kebencian.


"Ayo. Sebelum ada yang melihat kita,” ucap Aleesa.


Mereka keluar dari jalan sempit itu. Melanjutkan berjalan kaki dan Nick yang membawa jalan berada di depan. Sebelum memasuki perkampungan, Nick berhenti.


"Dimana anak buahmu?" tanya Nick pada Allard, sambil mengedarkan pandangannya. Tak mempedulikan pertanyaan itu, Allard berjalan mendahului mereka.


"****! Dia nekat sekali!" maki Nick.


"Apa dia tak berpikir sama sekali!" Nick terus mengumpati Allard.


Bagaimana tidak, pedesaan ini di jaga ketat oleh anak buah musuh. Kemungkinan besar mereka akan melihat Allard, yang seenak jidat berjalan memasuki pedesaan itu.


"Dia tak lagi memikirkan hidup!" ucap Aleesa ringan dan berjalan santai mengikuti Allard beserta tangan kanannya yang setia menemani memasuki sebuah gubuk kecil.


Begitu juga dengan Nick yang mengikuti Aleesa dari belakang. Ketika ingin menutup pintu itu, Nick melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tak ada yang melihat mereka. Di ruangan itu terdapat dua orang dan Allard yang duduk di kursi kayu tengah mendengar penjelasan dari salah satu orang tersebut.


"Jadi, setengah dari penduduk ini adalah pasukan mereka?" tanya Aleesa yang memastikan pendengarannya.


"Benar, Nona."


"Dan di perkampungan selanjutnya, lebih banyak dari ini,” sahut salah satu mereka.


"Perkiraan kita meleset!"


"Perkiraan itu benar, Nona. Hanya saja, mereka menambah penjagaan. Karena mereka mengira Tuan Allard akan menyerang besok malam,” jelas mereka.


Aleesa mengumpat kesal. Mereka sangat niat sekali, sampai penjagaan di dua kampung ini melebihi dari target yang mereka perkiraan.


"Apa yang mereka rencanakan untuk besok malam?" tanya Nick.


"Rencana mereka mengancam Tuan Allard, agar datang ke tempat itu. Tapi, sebelum itu, Earnest membawa Nyonya Katryn terlebih dahulu di pagi hari."


"Rencana murahan!" komentar Allard.


"Kita harus merubah rencana!" ucap Aleesa.

__ADS_1


Nick memandang Allard yang hanya menyimak penjelasan dari anak buahnya. Tapi, dia tahu Allard tengah memikirkan cara yang mungkin saja itu berbahaya. Lalu, pandangan beralih ke Aleesa yang tengah berbicara pada anak buah itu. Nick tegang ketika pandangan Allard tertuju pada Alessa.


"Hancurkan perkampungan ini!" ucap Alard tajam.


"Kau gila?!" umpat Aleesa kesal.


"Apa masalahnya?"


"Masalahnya, itu akan membuat mereka curiga!" ucap Aleesa penuh penekanan.


"Tidak masalah. Katakan pada mereka aku sudah berada di sini,” ucap Allard terlewat santai.


"Kau benar-benar gila!" Allard berdehem.


Allard mengatakan pada kedua anak buahnya. Ralat, anak buah Nick. Untuk menghancurkan perkampungan ini, saat mereka telah sampai di tempat persembunyian itu. Sama sekali tak mendengarkan perkataan Aleesa.


Nick hanya mengedikkan bahunya, ia akan mengikuti perkataan Allard. Sedari awal memang Allard tak menyetujui dengan cara mereka yang hanya menyelamatkan Katryn, tanpa adanya penyerangan. Allard tetaplah Allard, yang tidak suka mengikuti perkataan orang lain dan menyukai tantangan.


"Robert sudah menunggu Anda semua, Tuan." Salah satu anak buah Nick berkata.


Aleesa berjalan lebih dahulu, kesal bukan main pada Allard, yang ingin memancing mereka. Kenapa tidak menyelamatkan saja, lalu pergi.


Dia membuka sedikit pintu, mengintip dan melihat sebuah mobil terparkir sedikit jauh dari rumah itu. Memicingkan matanya, melihat seseorang bertubuh besar sedang menanyakan sesuatu pada Roberto yang berada di depan kemudi. Dia menutup kembali pintu tersebut.


"Pakai itu untuk menyamar!" ucap Aleesa, setelah melempar satu style baju pada Allard.


Allard menatap Alessa tajam, walau begitu dia memakai baju lusuh ini dan terakhir topi intuk menutupi tubuhnya. Nick, Aleesa dan Jordan pun sudah menyamar seperti penduduk disini.


Allard telah duduk di samping kemudi. Tak lama, ketiganya naik dan duduk di belakang kemudi. Mobil berjalan menuju perkampungan kedua yang mereka bicarakan sebelum.


"Mereka sungguh banyak," komentar Aleesa, tak percaya melihat banyaknya penduduk disini.


Pedesaan ini sama seperti desa pada umumnya. Tapi, yang membuat Aleesa waswas adalah bagaimana membedakan penduduk asli dan palsu itu. Di tambah, anak buah Allard kirim di pedesaan ini.


"Bagaimana membedakan mereka yang bukan penduduk asli?" tanya Aleesa.


"Mereka tidak memiliki tato, Nona.” Alessa mengerti.


Mobil tersebut melewati pedesaan terakhir yang mereka lewati. Dan mobil tersebut berhenti di ujung perbatasan antara pedesaan terakhir dan tempat persembunyian itu.


"Berhati-hatilah ketika memasuki daerah persembunyian itu, Tuan." Robert memberitahu.


"Terima kasih, Robert." Aleesa berinsiatif menjawab. Sedangkan Allard, melanjutkan berjalan menyusuri jalan bebatuan.


Dua puluh menit mereka berjalan, sekitar 15 meter di hadapan mereka terlihat rumah-rumah berjejer. Mereka berempat berpencar, menyamar sebagai pengawal disana.


"Satu bangunan yang sedikit jauh dari tempat ini, bertingkat dua." Allard mengingat ucapan Aleesa sebelum mereka berpencar.


Allard menemukan rumah itu yang terlihat sepi, dia berjalan perlahan-lahan. Ada dua rumah yang bertingkat dua, dia memperhatikan sekekeliling, mempertimbangkan dimana letak Katryn di sembunyikan.


Tiba-tiba seseorang memegang pundaknya, lalu menarik pergelangan tangannya. Membawanya ke belakang rumah tersebut. Allard sadar yang menarik tangannya adalah Anggelo. Disana terdapat Aleesa dan Nick yang duduk di atas tanah kelelahan.

__ADS_1


Allard tak bertanya ataupun mengatakan sesuatu pada Anggelo. Akan tetapi, matanya menatap tajam Anggelo. Sekejab, Allard memejamkan matanya. Rasanya, tak percaya Anggelo mengkhianatinya. Anggelo adalah sahabatnya yang paling ia percaya.


"Nick, sekarang!" Nick seakan mengerti mengirim pesan pada anak buahnya.


Sekira mereka berdiam selama tiga menit, suara bom memekan telinga. Allard tersenyum puas.


"Allard!" Ucap Anggelo.


"Jangan mengatakan apapun padaku!"


"Aku―"


"Cukup! Aku tak mau mendengarnya!" potong Allard. Ponsel Anggelo berdering, seseorang menelepon, ia mengangkatnya dan meloud-speaker.


[“Kau dimana?”]


^^^[“Aku di luar.”]^^^


[“Kemari, seseorang menyerang. Bajingan itu di sini!”] Anggelo memutar bola matanya jengah diperintah.


^^^[“Ya, aku ke sana sekarang.”] Pandangannya menatap Allard, lalu pergi begitu saja.^^^


"Mereka mulai keluar," ucap Aleesa pelan. Aleesa panik, ketika beberapa orang berjalan ke belakang rumah, mereka akan ketahuan!


"Mereka berjalan kemari!" ucap Aleesa.


"Bersembunyi di sana," ucap Allard tenang, sambil menunjuk semak tak jauh dari mereka.


"Aku tetap disini!" sambungnya. Alessa melotot tidak setuju.


"Apa yang sedang kau rencanakan?"


"Nick bawa dia!" ucap Allard pada Nick.


Allard bersandar ke dinding di belakangnya dengan gaya santai, ketika Alessa, Nick dan Jordan telah bersembunyi di balik semak yang lebat. Sekali lagi Allard melihat mereka, memastikan semak-semak itu tidak mencurigakan.


"Hai siapa kau?!" tanya seseorang berteriak keras dari arah kananya.


"Kau tak mengenalku?!" tanya Allard balik santai. Orang tersebut terkejut dan berteriak memanggil teman-temannya, mereka datang menodongkan pistol ke arahnya.


"Ikut kami!" ucap salah satu mereka.


Allard berjalan mengikuti mereka. Tak merasa takut dengan todongan pistol dari semua arah padanya. Rumah ini cukup besar. Allard dapat menyimpulkan, ini adalah sebuah markas. Ketika kakinya melangkah memasuki rumah ini, banyak pasang mata menatapnya.


Tercium bau obat-obatan dan minuman alkohol di rumah ini. Mereka menuntunnya menaiki tangga. Melewati sebuah pintu kamar yang terbuka lebar. Allard seketika berhenti, di pintu itu berdiri Earnest yang memeluk Katryn dari belakang.


Allard berjalan ke arah Earnest, tapi langkahnya di tahan oleh pengawal dan menodongkan pistol tepat di kepalanya. Allard melihat Katryn menutup matanya, tak mau melihat adegan itu. Wajahnya basah dengan air mata.


"Katryn.." bisik Allard lirih.


Mata Katryn terbuka, menatap tepat di mata Allard. Tak berapa lama, Earnest memundurkan badan Katryn lalu, menutup pintu tersebut dengan kasar. Allard berjalan dan mengedor pintu tersebut dengan kuat. Badannya di tarik dari arah belakang.

__ADS_1


__ADS_2