Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 20. I'm Not a Bitch


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Happy reading!...


...-----...


Sinar matahari memaksa Katryn membuka mata sehingga ia mengangkat tangannya guna menghalangi matahari menusuk penglihatannya.


“Kenapa aku di sini?” batinnya heran, seingatnya ia tidur di satu kamar bersama Alessa dan keluarganya.


Setelah kejadian malam tadi, Katryn meminta tidur di kamar yang sama. Tetapi, siapa yang memindahkannya ke kamar ini.


Jam menunjukkan pukul sembilan, Katryn segera membersihkan diri dan keluar dari kamar itu. Katryn kebingungan dengan tempat ini, asing. Kakinya melangkah mengikuti jalan di ruangan tersebut, di sana terdapat sebuah tangga, Katryn menuruninya.


 Akhirnya dia menemukan keluarganya, Alessa dan Jordan berada di ruang tamu. Mereka tiba-tiba terdiam setelah melihat keberadaannya. Entah apa yang mereka bicarakan, Katryn menjadi penasaran.


“Katryn, makanlah lebih dulu!” ucap sang ibu.


“Ayo, aku temani!” ucap Marchell berdiri dan menarik Katryn menuju dapur.


“Kau sudah makan?” tanya Katryn, Marchell mengangguk.


“Kenapa tidak membangunkanku?”


“Tidurmu sangat nyenyak,” ucap Marchell mengedarkan pandangannya seolah takut mengatakan hal lain.


“Oh, ya... siapa yang memindahkanku ke kamar lainnya?” Diamnya Marchell menarik perhatian Katryn.


“Marchell!”


“Aku yang memindahkan,” ucap Marchell.


“Kenapa?”


“Karena kamar itu sempit!” Kerutan di dahi Katryn semakin dalam, Marchell yakin sang kakak tidak menerima ucapan itu. Nyatanya, kamar itu sangat luas!


“Marchell, jujur!”


“Oke. Allard yang memindahkanmu!” balas Marchell cepat.


“Dia di sini?”


“Sudah pergi!”


Di ruang tamu sana, pembicaraan terus berlanjut. Alessa tidak setuju bilamana Katryn tetap bersama Allard. Namun, kedua orang tua Katryn menyetujui Katryn bersama Allard. Sebab, mereka mengenal Allard sejak lama dan tahu bagaimana perlakuan Allard kepada putri mereka.


“Katryn aman bersama Allard, kau tahu itu sejak dulu, Alessa.” Thomas mengatakan pemikirannya.


“Aku tahu, Paman.”


“Kalian tidak tahu pekerjaan Allard sesungguhnya.” Alessa menyambung di dalam hati.


Bukan Alessa memperdebatkan masalah itu, Alessa setuju saja Allard bersama Katryn. Tetapi, Alessa takut musuh Allard menggunakan Katryn sebagai umpan atau pun kelemahan Allard.


Memang benar, Allard dapat melindungi Katryn dari psikopat gila itu, dia mempunyai kuasa hebat dalam menjauhkan Earnest. Kembali lagi, musuh Allard tidak bisa dikatakan remeh.

__ADS_1


“Tuan Allard akan selalu menjaga Nona Katryn, beliau tidak akan pernah menyakiti Nona Katryn!” ucap Jordan membuka suara. Alessa mengangguk membenarkan, itu adalah poin besarnya.


“Lalu, apa sebenarnya alasan kau tidak menyetujuinya, Nak?” tanya Thomas pelan.


“Aku hanya takut Allard menyakiti Katryn seperti Earnest lakukan!” jawab Alessa asal.


“Aku yakin tidak, kita semua tahu bagaimana kebaikan Allard sejak dulu kepada putriku.”


“Pamanmu benar. Lagi pula, bersama Allard putriku menjadi Katryn yang dulu!” sambung Aleysia.


“Karena tanpa sadar, Katryn nyaman berada di dekat Allard!” ucap Alessa pelan.


“Rasa itu kuat di antara mereka,” komentar Thomas tersenyum.


“Maaf sebelumnya, Mr. Vinson... boleh saya menanyakan sesuatu?” tanya Jordan membuka suara untuk pertama kali.


“Silakan.”


“Ini tentang hilangnya ingatan Nona Katryn. Apa sebelumnya, Nona Katryn pernah mengalami kecelakaan?”


“Tidak.”


“Jika tidak, mengapa Katryn melupakan ingatannya?” tanya Alessa.


“Aku juga tidak begitu paham. Tapi, dulu Katryn sempat mengilang hampir seminggu. Saat kembali dia bersikap aneh dan membingungkan kami semua. Berjalan waktu, kami mengetahui Katryn sering mengonsumsi obat yang kami tidak tahu obat apa. Ditanya obat apa itu, dia menjawab vitamin.”


“Bersikap aneh seperti apa yang paman maksud?” tanya Alessa.


“Linglung, tak bersemangat, dan anehnya lagi adalah dia seakan lupa kami keluarganya. Tidak berlangsung lama itu terjadi, sekitar beberapa hari. Selanjutnya, dia sedikit demi sedikit melupakan orang-orang di masa lalunya,” Jelas Thomas panjang lebar.


“Tidak ada tulisan di kemasannya, hanya botol kaca bening berukuran kecil.”


“Pertanyaan, mengapa dia mengenalku?” tanya Alessa kebingungan.


“Kami juga tidak paham, Nak. Menurut kami, kemungkinan Earnest membahas tentangmu,” ucap Aleysia.


“Intinya, Earnest menguasai pikiran Katryn!” ucap Alessa menyimpulkan.


“Sejak kapan Katryn berhenti mengonsumsi obat itu?” tanya Jordan lagi.


“Sudah lama sekali, setahun lalu!” jawab Thomas.


...***...


Seminggu berlalu, keluarga Katryn senang sang putri berangsur-angsur membaik. Yang awalnya banyak diam, kini lebih banyak berinteraksi. Keadaan ini sering kali terjadi, lebih buruknya Katryn sampai berteriak kesetanan tak bisa mengontrol emosinya karena perbuatan Earnest.


Thomas dari dulu tahu bahwa Allard membawa ketenangan di dalam hidup Katryn. Terbukti sampai saat ini Katryn tenang berada di jangkauan pria itu. Sementara itu, Earnest yang menjadikan hidup putrinya penuh ketakutan dan penyiksaan.


Putrinya tertawa bersama Alessa di depan sana menciptakan kehangatan di dadanya. Kedua gadis itu tengah merencanakan kegiatan dalam satu hari penuh.


“Oke. Memasak!” seru Katryn, Alessa menghembuskan nafasnya malas.


“Tidak. Itu tidak seru!” Katryn tertawa, Alessa sangat malas berurusan dengan alat dapur.


“Kau cukup melihat aku. Selebihnya, tugasmu adalah memakan hasil percobaanku!” Alessa pasrah. Toh, masakan Katryn tidak buruk!

__ADS_1


“Fine!”


Sore harinya berbagai kue telah jadi, Alessa dan keluarga Katryn mencicipi hasil buatannya. Komentar mereka memuaskan, Katryn tersenyum cerah akan hal itu. Setelah membersihkan dapur, Alessa memaksa Katryn menonton film. Di sini lah Katryn berada, di ruang televisi sambil memangku stoples kue.


Pukul dua belas malam, Allard baru saja sampai dan melihat keduanya terlelap di atas sofa, televisi menyala keras. Allard berjalan ke arah Katryn, lalu mengendong gadisnya hingga meletakkannya di atas tempat tidur. Setelahnya, Allard membuka pakaiannya sembari melangkah ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.


Suara pintu tertutup menyentak Katryn dari tidur lelapnya. Suara gemercik air membuat perhatian Katryn teralihkan.


“Siapa mandi di malam hari begini?” batinnya.


Tak terlalu memikirkan, Katryn kembali menutup matanya. Tak lama, suara pintu kamar mandi terbuka. Katryn membuka mata, penasaran siapa yang keluar. Tatapannya terpaku, di sana Allard berdiri menatapnya tajam. Bukan tatapan itu membuat Katryn terpaku, tetapi tubuh atletis Allard lah yang  menjadi alasannya.


“Menikmati sesuatu, Amour?” Katryn mengedipkan matanya beberapa kali, membuang pandangan.


“Kau mau apa?” Katryn merasa waswas saat Allard mulai mendekat.


Ia sangat sadar Allard tengah menunjukkan kemarahannya. Cara Allard menatapnya bagaikan seekor Singa mengintai mangsanya. Posisi Katryn yang berbaring, memudahkan Allard menindihnya. Tanpa izin, Allard mencium bibirnya kasar.


“I am back,” bisik Allard, lalu menggoda cupingnya.


“Kau berhasil memancing kemarahanku,” bisiknya lagi.


Katryn tidak tahu dari mana Allard mendapatkan sebuah dasi yang sudah mengikat kedua tangannya. Kemudian menaikkan tangannya ke atas kepala dan menahannya menggunakan satu tangan. Bergerak pun Katryn tidak bisa, Allard berada dia atas tubuhnya dengan posisi mengangkangi pahanya.


“Allard, kau tidak bisa melakukan ini!” teriaknya.


“Aku bisa. Kau melanggar perintahku!”desis Allard.


“Aku tidak melanggar, kau mengizinkannya!” protesnya tidak terima.


Allard tak ingin mendengarnya, tangan pria itu mulai mengelus pipinya sampai menjalar ke seluruh tubuhnya.


“Allard, hentikan!” pintanya serak.


“Kau tidak dapat menolaknya.”


“Stop, please!”mohon Katryn.


Semakin lama pria itu menggoda bagian intinya, sungguh membuat kepalanya pusing. Siksaan ini nikmat, tetapi Katryn menahan agar tak mengeluarkan suara kenikmatan itu.


Katryn memperhatikan raut wajah Allard, tak ada sedikit pun ekspresi yang ia tunjukkan. Namun, matanya mengatakan sesuatu, dia bergairah.


“Kau marah, silakan. Tapi, tidak dengan menghukumku seperti ini!” ucap Katryn menahan air mata.


“Kau selalu melanggar perintahku!”geram Allard.


“Kau mengizinkannya, Allard. Aku tidak menolak perintahmu!”bantahnya.


“Oh, ya? Kau memaksa untuk keluar!”


Allard mengucapkan itu seraya menekan intinya, Katryn memberontak, bukan membuatnya terlepas, Katryn merasa Allard menginginkan dirinya keluar. Sakit, pertama kalinya seorang menyentuh tubuhnya sejauh ini.


“Aku bukan pelacur yang bisa kau perlakuan sesuka hatimu!” bentak Katryn marah.


Seketika pergerakan Allard terhenti, tersadar dia telah kasar memperlakukan gadisnya. Mengeluarkan tangannya, Allard mengambil selimut di bawah kaki Katryn dan menyelimutinya.

__ADS_1


 Allard tidak bermaksud, emosinya terpancing mendengar kabar Earnest berhasil kabur dan mencoba mendapatkan Katryn. Ya, Katryn tidak melanggar, kekerasan kepalanya lah yang membuat Allard marah. Andai Katryn menuruti perkataannya, insiden ini tidak akan terjadi.


__ADS_2