Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 28. Mode Dark


__ADS_3

...Telah direvisi....


...Selamat membaca! ...


...-----...


Terbangun dipelukan Allard adalah rutinitas Katryn setiap harinya. Ia bagaikan bantal yang sesuka hati Allard peluk. Jujur saja, Katryn menyukai hal ini, terbangun dan melihat Allard pertama kali sebelum melakukan kegiatan.


Katryn bergerak hati-hati agar tidak membangun Allard. Satu hal lain yang Katryn ketahui, Allard sangat mudah terbangun dengan gerakan sekecil apa pun. Sialnya Katryn tidak pernah berhasil, Allard terbangun dan menarik Katryn ke dalam pelukannya.


“Allard. Aku harus bersiap-siap,” ucap Katryn jengkel.


“Aku tahu!”


“Lepaskan,” pintanya.


“Kau melupakan sesuatu, Amour.”


 Katryn mengecup bibir Allard sekilas sebagai morning kiss yang diharuskan sang suami. Setelah itu, Katryn ingin bangkit, tetapi Allard kembali menahannya.


“Tunggu 15 menit lagi,” ucap Allard.


“Tidak. Aku ada kelas pagi!”tolak Katryn.


“Kalau begitu mandi bersama.”


“Tidak, Allard!”


“Oke.” Allard melepaskan pelukan mereka.


Selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Katryn turun ke ruang makan. Sarapan telah disiapkan Mila, tidak lupa Katryn mengucapkan terima kasih. Sepertinya susu coklat di pagi hari nikmat, jadi Katryn memutuskan untuk membuatnya sendiri.


“Nyonya. Biar saya saja yang membuatnya,” ucap Mila.


“Tidak. Biar aku saja,” balas Katryn tersenyum seraya menuangkan sesendok bubuk coklat ke dalam gelas.


 Tanpa Katryn sadari, Allard berdiri tepat di belakangnya. Saat Katryn akan mengangkat gelasnya, Allard tiba-tiba meremas bokongnya sehingga membuat Katryn berteriak kaget.


“Allard, sialan!” maki Katryn kesal, sedangkan sang tersangka menatap Katryn datar.


“Ulangi sekali lagi!” Ini bukanlah perintah, melainkan ancaman.


“Sialan!” ucap Katryn berani.


Detik itu pula Allard menangkup wajah Katryn dan mencium bibirnya kasar. Allard memintanya untuk tidak takut, kan? Maka, Katryn membalas ciuman tersebut, lalu mengakhiri ciuman panas mereka dengan menggigit bibir bawah Allard keras.


“Kau mulai berani, hm?” komentar Allard mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah.


“Kau yang menyuruhku!” balas Katryn dan meninggalkan Allard.


Di meja makan, Katryn melahap sarapannya agak terburu-buru. Sejam lagi kelasnya akan dimulai, Katryn tidak ingin terlambat!


...***...


“Aku menunggumu malam ini,” ucap Allard ketika Katryn akan turun. Kalimat Allard ambigu sekali, Katryn menjadi berpikir tidak-tidak.


“Pesta. Setelah itu kau bisa menikmati jari-jariku!” sambung Allard tahu ke mana pemikiran Katryn.


Menghindari ucapan Allard yang pastinya memancing gairahnya, Katryn memilih turun. Walau tidak lagi di satu tempat, tubuh Katryn masih terpancing dengan kalimat sialan itu! Oh, Tuhan... ini kampus, Katryna! Batinnya.


“Elena!” teriak seseorang, tetapi Katryn acuh. Ia tahu siapa yang meneriaki namanya, Lauren.


Sesampai di kelas, Katryn duduk di bangku paling depan. Lauren ikut duduk di kursi sebelahnya plus mengomel karena diacuhkan. Sedikit pun tidak Katryn pedulikan, masalahnya pikiran Katryn membayangkan jari-jari sang suami menari di tubuhnya.

__ADS_1


“****!” umpatnya pelan.


“Are you okey?” tanya Lauren heran.


“I am okey!”


“Kau aneh, Elena!” komentar Lauren tak puas akan jawaban Katryn.


Beruntung dosen datang, Katryn tidak perlu membalas ucapan Lauren. Pembelajaran dimulai, Katryn menyimak sepenuhnya semua pembahasan yang dosen sampaikan.


Berbicara tentang nama Elena. Well... nama itu masih berlaku digunakan, Allard yang memerintahkan.


“Baik, semuanya. Sampai di sini pertemuan kita hari ini! Sampai bertemu di kelas minggu depan!” ucap sang profesor menutup mata kuliah.


“Thank you, Sir!” ucap mereka serentak.


“Elena. Setelah kelas nanti, kau ingin ikut denganku?” tawar Lauren ketika mereka berjalan ke kelas lainnya.


“Kemana?”


“Ke kafe. Malamnya kita bersenang-senang, bagaimana?”


“Tidak, terima kasih!” tolak Katryn cepat.


 Apa kabar kalau Allard tahu? Bisa-bisa Katryn digantung! Batas kebebasan Katryn sampai jam tiga sore, terlambat saja dia dihukum, apalagi pergi ke tempat bersenang-senang itu! Lebih baik Katryn menuruti peraturan daripada mendapat hukuman yang pastinya tidak akan pernah ada dibayangkannya.


Sebulan kebebasannya, Katryn tidak banyak melakukan kegiatan di luar kecuali berkuliah. Sesekali saja duduk bersama Lauren di sebuah kafe, selebihnya Katryn kembali ke mansion mewah. Tak banyak juga Katryn berinteraksi dengan teman-teman yang lain, ketakutan itu masih tertanam dipikirannya.


Pertama kali menginjak kaki di kampus ini, Katryn merasa kecil dan takut. Untung Lauren si gadis cerita ini menyapanya dan mengenalkannya. Pada akhirnya, ia betah berteman dengan Lauren walau terkadang sikap ingin tahunya amat mengganggu.


...***...


Kelas hari ini selesai, Katryn menutup buku catatan dan memasukkan buku tersebut ke dalam tas bawaannya. Dari ujung mata, ia melihat seorang laki-laki berjalan ke arah matanya. Katryn semakin mempercepat gerakannya.


“Hai, Chris!” sapa Katryn memaksa senyum.


“Sudah ingin pulang?”


“Ya.”


“Ehem!” Lauren berdehem, bermaksud menggoda Katryn.


“Ingin pulang bersama?” tawar Chris.


“Maaf, Chris. Aku sudah dijemput,” tolak Katryn halus.


Tergambar jelas kekecewaan di mata Chris atas menolakkan Katryn, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Memang dua minggu belakangan ini Chris memperlihatkan ketertarikannya pada Katryn. Karena ini pula Allard sering memperingati Katryn untuk tidak sekali pun menerima apa yang Chris tawarkan.


Malah satu kejadian minggu lalu, Allard hampir melemparnya dari balkon kamar mereka ke lantai dasar karena Chris secara tiba-tiba memeluk dan mencium pipinya. Jangan tanya Allard tahu dari mana, pria itu memiliki banyak mata-mata dalam mengawasi Katryn.


“Kalau begitu, apakah boleh aku menjemputmu besok?” tanya Chris tak kehabisan akal.


“Chris... maaf... aku tidak bisa.”


“Kenapa?”


“Aku tidak dapat menjelaskannya, kuharap kau mengerti!” pinta Katryn.


“Baiklah. Sampai bertemu besok,” pamit Chris. Katryn menghela nafas setelahnya.


“Kau tidak tertarik dengan Chris, Elena?” tanya Lauren yang sedari tadi diam.


“Tidak!”

__ADS_1


“Chris tampan. Apa yang tidak kau sukai dari dia?”


“Bukan masalah tampan atau tidak, aku tidak tertarik menjalin hubungan!” jawab Katryna datar.


“Tapi, Chris tertarik padamu!”


“Iya. Seperti kau yang tertarik padanya!” balas Katryn.


“Kau tahu itu?” tanya Lauren kaget.


“Terlihat dari kau memandangnya.”


“Lupakan itu. Jadi, kau tidak ingin pergi denganku?” tanya Lauren.


“Tidak, Lau. Aku lelah,” jawab Katryn.


“Oke kalau begitu. Lain kali kau harus ikut!”


“Tidak janji!”ucap Katryn.


Mereka berpisah di gerbang utama. Seorang sopir membuka pintu mobil untuknya, Katryn langsung menaiki setelah mengucapkan terima kasih. Baru beberapa menit mobil berjalan, ponselnya berbunyi. Tertera nama Allard, Katryn menghela nafas, bukan pertanda baik!


“Halo.”


“Dimana?” tanya Allard terdengar tak ramah.


“Di jalan.”


“Bersiap-siap segera. Temani aku ke pesta malam ini!” ucap Allard otoriter.


“Kau saja!” ketusnya kesal.


“Apa begitu caramu berbicara dengan suami, huh?!”


Allard dan mode gelapnya ini sangat menguji kesabaran Katryn. Pasti cerita Chris mengajaknya pulang sudah sampai di telinga pria ini.


“Berbicara dengan pria itu kau lembut. Bagaimana dengan suamimu? Kasar, begitu?”geram Allard.


“Bersiap! Jika aku datang kau belum bersiap, tunggu apa yang bisa aku lakukan malam ini!” lanjut Allard sedikit pun tidak memberi Katryn berbicara.


Sambungan terputus, Katryn memejamkan matanya. Memikirkan tindakan tegas yang akan Katryn lakukan pada Chris nanti. Menghadapi sisi gelap Allard sangat membuat Katryn tidak berkutik!


“Nyonya, sudah sampai!” tegur sang sopir.


“Terima kasih, Pak!” ucap Katryn dan menuruni mobil.


Kebetulan di depan pintu masuk Jordan sedang berbicara dengan dua penjaga. Katryn memanggil ingin menanyakan sesuatu.


“Ada apa, Nyonya?”


“Kau tetap saja memanggilku dengan sebutan itu, Paman!” protesnya, Jordan tersenyum meminta Katryn memakluminya.


“Apa semua kegiatanku hari ini ada yang memberitahukannya pada Allard, Paman?” tanya Katryn walau ia sendiri sudah tahu jawabannya.


“Benar, Nyonya.”


“Termasuk percakapanku dengan orang lain?”


“Iya, Nyonya.”


“Paman, bolehkah kau memerintahkan bawahan itu untuk tidak merekam dan memberikannya pada Allard?” pintanya.


“Saya tidak berani, Nyonya. Itu adalah perintah langsung oleh tuan,” jawab Jordan.

__ADS_1


__ADS_2