Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 25. Sick


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca! Selamat menikmati!...


...-----...


“Kau brengsek, Allard!” maki Alessa tiba-tiba memasuki ruang kerjanya.


“Apa yang kau lakukan pada Katryn di luar akal sehat!” cecar Alessa dengan suara keras dan reaksi Allard menatap tak minat.


“Tidak ada urusannya denganmu,”balas Allard tak peduli.


“Urusannya ada padaku, dia sahabatku! Kau benar-benar gila!” Allard mengedikkan bahunya tak peduli.


“Apa tujuanmu melakukan itu? Cemburu atau membalas dendam dengan penolakan Katryn dulu?”cerca Alessa.


“Hentikan omong kosongmu, Alessa!” peringat Allard jengah.


“Jawab aku! Karena dendammu, bukan?”


“Dendam itu terdengar bodoh, Katryn tidak pernah menolakmu!” teriak Alessa.


“Ini bukan tentang dendam,”tekan Allard.


“Cemburu, huh?” Allard terdiam.


“Ada cara lain, Allard. Caramu itu salah dan gila!” ucap Alessa seraya menggeleng tak habis pikir.


“Jangan melakukan hal yang mengakibatkan Katryn menjauh darimu!” peringt Alessa terakhir kali dan pergi membanting pintu.


Kepergian Alessa, Allard menghela nafas. Penyesalan itu menggerogoti hatinya, karena cemburu dia nekat memperlihatkan pada Katryn yang seharusnya tidak dilihat oleh Katryn.  Allard benci Katryn memamerkan tubuhnya, salahkan sikap pembangkang wanita itu! Allard memutuskan menemui Katryna, di depan pintu Jordan menunduk seperti ingin menyampaikan sesuatu.


“Tidak sekarang," ucap Allard.


Begitu sampai di kamar, Allard mendekati Katryn yang berbaring di atas ranjang. Dua hari ini Katryn jatuh sakit, setiap kali mereka bertatap muka, Katryn pasti menunduk takut atau berpura-pura tidur agar tidak berinteraksi dengannya, seperti saat ini.  Allard tahu Katryn masih terjaga, tetapi wanitanya menutup mata seolah tertidur. Allard ikut berbaring di belakang Katryn, memeluk Katryn dari belakang.


“Aku menyayangimu,” ucap Allard mampu membuat tubuh Katryn menegang. Allard tersenyum tipis. Benar, kan, Katryn tidak tertidur.


Allard menyalurkan perasaannya lewat pelukan ini, matanya terpejam meresapi tiap kehangatan menyentuh gadisnya.


...***...


Mila, sebagai kepala pelayan di mansion Allard ditugaskan memeriksa keadaan Katryn sejam sekali. Ia menanyakan apa yang dibutuhkan Katryn, tetapi selalu dijawab gelengan kepala. Kali ini Mila memasuki kamar sang majikan, terlihat sang nyonya terduduk di atas ranjang termenung.


“Nyonya, apa Anda ingin sesuatu untuk dimakan?” tanya Mila sopan, khawatir akan Katryn yang sulit menelan makanannya.


“Tidak,” jawab Katryn lemah.


“Nyonya, Anda baik-baik saja?” Katryn membuka matanya, Mila semakin khawatir karena mata sang nyonya memarah. Sejam lalu Mila yakin mata sang nyonya tidak memerah.


“Kepalaku pusing,” lirih Katryn.

__ADS_1


“Berbaringlah, Nyonya.”


Mila membantu Katryn membaringkan tubuhnya, hanya membaringkan tubuhnya saja Katryn tidak kuat. Suhu tubuh Katryn lebih panas, Mila memeriksa kening Katryn. Panik, Mila segera menemui Allard di ruang kerjanya.


“Ada apa, Mila?” tanya Allard, wajahnya tampak lelah.


“Nyonya, Tuan. Tubuhnya sangat panas,” ucap Mila menunduk.


Allard meninggalkan ruangannya dan beralih ke kamar mereka, ia khawatir mendengar penuturan Mila. Sampai di kamar, Katryn terlihat meringkuk. Allard mendekati Katryn, memeriksa suhu tubuhnya.


“Jordan, panggil dokter pribadiku sekarang!” teriak Allard tertuju pada Jordan.


“Hai, tubuhmu panas. Butuh sesuatu?” bisik Allard mengelus pipi Katryn.


“Allard... dingin...” lirih Katryn menatap Allard sayu.


Allard segera mengambil selimut di bawah kaki Katryn dan menyelimuti sang gadis. Lalu, dia mematikan pendingin ruangan dan kembali mendekati Katryn. Ia membaringkan tubuhnya di samping Katryn, sekilas ia mencium bibir Katryn dan memeluk Katryn erat.


Dapat Allard rasakan Katryn mengigil di balik selimut tebal itu. Dalam hati ia memaki Jordan yang begitu lama memanggil dokter, ia tidak tega pada Katryn, keringat terus membasahi pelipis.


“Tuan, Dr. Gista sedang berada di luar negeri, dia mengirim Dr. Rafael kemari,” ucap Jordan memberitahu. Tampaknya Allard protes lewat tatapannya, Jordan menunduk takut.


“Perintahkan masuk!” seru Allard tidak memiliki pilihan, kondisi Katryn lebih penting.


“Baik, Tuan.”


Tak lama, dokter bernama Rafel itu masuk. Allard telah mengubah posisinya duduk di samping ranjang, sengaja tidak menyingkir.


“Ba—baik, Tuan.”


Dr. Rafael ketakutan memeriksa Katryn di bawah tekanan Allard. Tentu, dia tidak bebas memeriksa Katryn sebab Allard menatap pergerakan tangannya. Jordan yang berdiri di kaki ranjang, melirik sang tuan dengan kedutan senyum.


“Mrs. Helbert drop. Saya sarankan untuk Mrs. Helbert dirawat di rumah sakit, Tuan. Kondisinya tidak memungkinkan untuk dirawat di sini,” ucap Dr. Rafael memberanikan diri.


“Kenapa tidak?” sarkasnya.


“Rumah sakit lebih baik dengan peralatan yang ada, Tuan.”


“Jordan, siapkan peralatan yang dibutuhkan pria ini!”


“Baik, Tuan.”


...***...


Tengah malam Katryn terbangun, tangan kanannya terdapat infus dan di sebelahnya terdapat Allard sedang memeluknya. Katryn haus, tetapi tubuhnya masih lemah tak berdaya.


“Butuh sesuatu?” Katryn sedikit kaget, Allard tiba-tiba bersuara tepat di telinganya.


“Aku haus,”cicit Katryn.


Allard gesit, ia bangun dan menuangkan air ke dalam gelas yang terletak di atas nakas. Katryn perlahan mendudukkan dirinya, menyandarkan dirinya pada kepala ranjang. Allard menyerahkan gelas berisi air, Katryn menerimanya. Selesai meminumnya, Katryn mencoba meletakkan gelas tersebut ke atas nakas di samping ranjangnya, tetapi gagal.

__ADS_1


“Katakan jika kau butuh bantuan,” ketus Allard meraih gelas itu.


Wajah mereka amat dekat, Katryn sampai menahan nafas. Allard adalah Allard, ia mencium Katryn dengan  santainya. Katryn selalu saja menikmatinya, seakan sadar, dia menolak dada Allard. Setetes air mata lolos, Katryn membuang wajahnya agar Allard tak melihat. Terlambat, Allard sejak tadi mengetahui wajah Katryn redup dan berakhir air mata itu jatuh.


“Ada apa, Amour?” tanya Allard lembut, Katryn menggeleng.


Bayangan ketika malam itu mengganggu pikiran Katryn. Seharusnya dia tidak menyaksikan penyiksaan itu, dia takut... dia resah...


 “Tidak!” ujar Katryn saat Allard ingin menyentuhnya. Jelas Katryn menolak, dia tidak mau sentuhan Allard kembali mempengaruhinya.


“Ceraikan aku!” ucap Katryn cepat, secepat itu pula Allard menatapnya tajam.


“Jaga ucapanmu!” peringat Allard tajam.


“Aku serius. Aku benci memiliki suami kejam sepertimu!”


Belum genap seminggu pernikahan mereka, kalimat itu terdengar dari bibir manis Katryn. Allard tidak akan pernah menerima itu!


“Kau milikku!” ucap Allard menekan setiap katanya.


“Aku bukan milikmu, aku bukan milik siapa pun!” bantah Katryn benci mendengar itu.


“Lepaskan aku, Allard... aku mohon!”


“Tidak!” teriak Allard menggema.


Allard berpindah ke sofa, memejamkan mata sambil menenangkan dirinya. Katryn di sana memperhatikan gerak-gerik Allard yang gelisah. Lima menit di dalam posisi masing-masing, tiba-tiba Allard berdiri, berjalan ke arah dinding dan meninju dinding itu.


“Allard!” pekik Katryn panik.


“Apa yang kau lakukan?” sambungnya.


“Allard hentikan, apa kau gila?!” ucap Katryn, tetapi Allard seolah tuli, pria itu meninju dinding bak samsak.


“Hentikan itu!” pinta Katryn.


“Kenapa kau mengatakan itu? Kenapa kau tidak menerima keadaan burukku ini?” ucap Allard berbalik menatap Katryn. Pria itu kacau, ekspresi datarnya tidak terlihat sedikit pun, hanya ada kegelisahan.


“Katakan lagi, maka aku akan semakin menjeratmu dalam kuasaku, Katryn. Sampai aku mati pun, kau tidak akan pernah pergi dariku!” tegasnya dan ke sekian kalinya Allard meninggalkan Katryn sendirian.


Katryn terisak seorang diri, mengapa melihat Allard seperti itu dadanya sesak, dia menyesal. Oh, Katryna... kau lemah sekali jika berurusan dengan pria itu! Batinnya.


Di dalam ruangan kerja Allard, pria itu membanting semua yang bisa ia jangkau. Jordan sedari tadi mengikuti sang tuan, hanya diam. Allard tidak pernah lepas kendali, akan tetapi berkaitan Katryn dia sangat mudah lepas kendali.


“Tuan... tenangkan diri Anda!” pinta Jordan tak tega, Allard tidak peduli seberapa parah tangannya yang penuh luka.


Entah karena permintaan Jordan atau lelah, Allard berhenti. Nafasnya tak beraturan, Jordan pengertian memberi segelas air putih yang diterima Allard dengan baik.


“Istirahatlah, Tuan. Tubuh Anda pasti lelah,” ucap Jordan, Allard menurut, dia membaringkan tubuhnya pada sofa.


“Paman... pergilah, aku ingin sendiri. Terima kasih...” ucap Allard sebelum memejamkan mata.

__ADS_1


Jordan tersenyum, lama sekali dia tidak mendengar Allard mengucapkan kata itu, paman dan terima kasih. Semenjak memimpin Klan Hellbert, Allard seperti sengaja menghilangkan kebaikan di dalam dirinya. Jordan saksi di mana perubahan demi perubahan yang Allard alami. Hadirnya Katryn kembali, setitik mengembalikan Allard yang dulu.


__ADS_2