Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 15. Confused


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Happy reading!...


...***...


Di kolam belakang, Katryn tengah memikirkan sesuatu yang harus ia lakukan atau tidak. Sepertinya kali ini ia harus sedikit nekat, tidak ada salahnya mencoba. Maka, Katryn berjalan ke kamar yang ia tempati bersama Allard. Oh, ya... Katryn mengetahui kamar yang ia tempati selama ini adalah kamar pribadi Allard. Dia sempat meminta menepati kamar tamu, tetapi ditolak oleh Allard.


Sesampai di ruang walk in closet, Katryn terdiam sesaat. Jujur, dia sedikit takut melakukan ini. Baiklah... Katryn berjalan ke sebuah lemari yang menyimpan pakaian kerja Allard, di balik pakaian tersebut ada sebuah lemari kecil, Katryn membukanya dan tampaklah beberapa ponsel di sana.


Ia menemukan lemari kecil ini saat Allard memintanya memilih pakaian kerja yang akan ia gunakan. Tak sengaja ia melihat lemari kecil itu, ia kira itu adalah dasi, ternyata ponsel.


Katryn memberanikan diri mengambil salah satu ponsel dan menyalakannya. Berhasil, ponsel tersebut menyala dengan baik.


“Siapa yang aku hubungi?” tanyanya pelan.


“Aku tidak hafal nomor Alessa. Oke, Marchell saja!” monolognya.


Namun, saat akan mendial nomor Marchell tiba-tiba ponsel tersebut mati. Katryn tak percaya, bagaimana bisa mati, sedangkan baterainya jelas-jelas full. Ia menghidupkan satu per satu ponsel di dalam laci itu dan hasilnya sama.


Menelan kekecewaan, Katryn mengembalikan ponsel itu pada tempatnya. Lalu, ia langsung keluar dari walk in closet dan merebahkan dirinya di atas ranjang. Tanpa sadar, Katryn memejamkan mata dan tertidur pulas.


 Hingga malam hari Allard baru saja sampai dan memasuki kamar, ia melihat Katryn tidur miring ke kanan membelakanginya, salah satu kakinya menggantung dipinggir ranjang. Dengan insiatif, ia memperbaiki tidur sang gadis dan menyelimutinya. Setelah itu, dia membersihkan diri.


Tiga puluh menit berlalu, Allard keluar tanpa menggunakan handuk. Tak disangka, Katryn telah terbangun dan menyaksikan Allard. Mati-matian Katryn menahan malu, sedangkan tersangka bersikap santai berlalu ke walk in closet.


“Gila!”


“Kau mengatakan sesuatu, Amour?” Allard bertanya sebelum menginjak kakinya di ruangan tersebut.


“Tidak!”


Allard melanjutkan langkahnya, tak sampai lima menit pria itu sudah berada di atas ranjang bersama Katryn. Gugup melanda dirinya, Katryn berpura-pura menutup matanya.


“Gugup, hm?” Entah sejak kapan Allard berada tepat di depan wajahnya, Katryn semakin gugup. Wangi pria ini menguar di indra penciumannya, Katryn sampai menahan nafas.


“Bernafas, Amour.”


Seketika, Katryn menghela nafas lega dan Allard terkekeh. Tanpa aba-aba, Allard menjilat pipinya. Katryn tentu terkejut, dia berniat turun dari ranjang, tetapi Allard lebih dulu menahannya.


“Ingin kabur?”


“Tidak, aku ingin ke kamar mandi!”

__ADS_1


“Kemari,” ucap Allard menarik Katryn mendekat ke arahnya.


“Allard, tidak!” tolaknya ketika Allard ingin mencium bibirnya.


“Aku ingin membicarakan hal kemarin,” sambungnya.


“Oke. Apa jawabanmu?”


“Aku setuju, tapi aku ingin mengajukan penawaran!”


“Penawaran apa?” tanya Allard yang sepertinya penasaran.


“Apa pun yang terjadi nantinya, kau harus melindungi keluargaku dan aku ingin melakukan itu di saat aku siap!”


“Sex?” Katryn mengangguk ragu, malu membicarakan hal ini.


“Tidak masalah,” ucap Allard mudah, kepalanya sudah memikirkan banyak cara untuk segera melakukannya.


“Besok tanda tangani perjanjian itu!” Katryn kembali mengangguk.


Katryn tak punya pilihan, bukan? Perjanjian yang ditawarkan Allard menguntungkan baginya. Dia lelah berada di sisi Earnest dan menjadi tempat pelampiasannya. Yang jelas, Katryn membentang diri untuk tidak jatuh ke dalam pesona pria ini.


“Kau mencoba menghubungi keluargamu?” tanya Allard pelan dan Katryn menggeleng.


“Allard, apa itu hanya obsesi?” Katryn bertanya tanpa sadar. Allard tidak suka ketika Katryn menganggapnya hanya sebuah obsesi.


Katryn tidak ingin lagi ditempatkan dalam keobsesian seorang pria, itu mengerikan. Yang Katryn pelajari, obsesi dapat melakukan apa pun, termasuk menyakiti secara batin dan fisik.


Katryn sadar Allard marah, ia merasa bertanggung jawab untuk meredakan kemarahan pria itu. Dia memeluk Allard dan menenggelamkan wajahnya pada dada sang pria. Allard membalas pelukan tersebut, kemarahan meredam akibat pelukan yang Katryn berikan.


Namun, dalam posisi seperti ini, Allard merasakan gairahnya naik ke permukaan. Apalagi terpaan nafas Katryn mengenai dada bidangnya yang tidak mengenakan sehelai benang pun.


“Amour,” panggilnya serak. Katryn hanya berdehem, ia merasakan kehangatan di dalam pelukan Allard.


“Kau ingat jika kau pernah bertemu dengan seorang remaja di umurmu ke 13 tahun?” Allard bertanya random.


Katryn melepaskan pelukannya, menatap langit kamar. Pikirannya melayang pada saat umur 13 tahun, tetapi tak ada ingatan yang jelas di dalam benaknya.


“Aku tidak ingat,” jawabnya.


...***...


“Tanda tangani,” perintah Allard dan Katryn hanya diam tak menuruti perintahnya.

__ADS_1


“Katryna,” peringat Allard tajam.


“Apa dengan cara menikah, kau akan melindungi keluargaku?” Terdengar keraguan dalam suaranya.


“Kau ingin berdebat?” sengit Allard.


“Kau dan keras kepalamu tak pernah hilang!” komentarnya.


Setelahnya, Allard mengambil ponselnya yang tergelatak dia atas meja dan menghubungi seseorang. Katryn masih terdiam menunggu apa yang akan dilakukan oleh pria itu.


[“Alex, usir mereka dan beritahu psikopat itu sekarang!”] perintah Allard pada lawan bicaranya di seberang sana meloudspeaker ponselnya.


^^^[“Baik, Tuan!”]^^^


“Allard, apa yang kau lakukan?” Katryn panik.


“Kau meminta itu, bukan?”


“Allard, aku mohon, jangan!” Ia menjerit, takut Earnest kembali menemukan


mereka.


“Masih ingin bertahan dengan perkataanmu itu?” Katryn menggeleng, air matanya perlahan turun.


“Aku setuju, aku setuju!” lirihnya.


[“Alex, batalkan!”] perintahnya pada Alex yang masih tersambung dan mematikan secara sepihak.


“Tanda tangani!” Katryn menuruti perintah Allard.


“Good,” ucap Allard begitu datar.


“Kau mau kemana?” tanya Katryn ketika melihat Allard ingin keluar.


“Bekerja.”


Katryn tak lagi bertanya, ia bingung pada dirinya. Ada banyak sekali pertanyaan di benaknya yang tak dapat ia jawab. Di satu sisi dia menginginkan pria itu dan untuk melindungi keluarganya, sisi lainnya dia tidak mengenal pria itu dan seharusnya ia tidak menerima pernikahan itu.


Katryn meraup wajahnya, ingin marah. Beranjak dari duduknya, Katryn berjalan ke arah rak yang berisi buku-buku milik Allard. Secara acak ia mengambil salah satu buku dan memilih membaca buku tersebut di balkon.


Bukannya fokus membaca, pikirannya melalang buana pada masa kecilnya. Ah... dia merindukan masa itu, tidak ada beban, ada hanya kebahagiaan bersama keluarga dan teman.


Tak ada gunanya mengingat masa lalu, Katryn memfokuskan diri membaca buku di tangannya. Thingking, Fast and Slow, dari judulnya menarik. Namun, Katryn bertahan beberapa menit untuk membaca, selebihnya dia menyerah, mood-nya sangat buruk untuk saat ini.

__ADS_1


Maka, Katryn keluar dari ruang kerja Allard. Di dapur, ia melihat Mila tengah mengaduk adonan kue, dan pada akhirnya ia membantu Mila walau kepala pelayan tersebut melarangnya.


__ADS_2