
...Telah direvisi!...
...Happy reading!...
...-----...
Siapa sangka, kejadian kemarin mengubah hubungan antara Allard dan Katryn membaik. Perhatian dan segala sikap baik yang ditunjukkan Allard dapat melupakan ingatan Katryn akan seseorang yang katanya adalah pengkhianat.
Sekarang, bukan masalah pengkhianat itu yang Katryn pikir. Ingin menanyakan pada Allard, tetapi dia bingung bagaimana menanyakannya.
“Kau terlihat kebingungan,” tegur Allard, di tangannya terdapat segelas Sampanye.
“Tidak,” jawabnya singkat, matanya kembali memandang kolam Teratai di depan sana.
“Well. Apa aku harus memaksamu mengatakannya?” See, sikap Allard ini terkadang menjengkelkan bagi Katryn, pemaksa!
“Tidak semua yang aku pikirkan, harus aku katakan padamu, Tuan Allard Terhormat!” Allard tersenyum miring, pandangannya menatap Katryn penuh minat.
“Begitukah? Bagaimana jika aku mengatakan, itu harus?”
“Tidak ada yang bagaimana!” ucap Katryn agak ketus dan berdiri meninggalkan Allard.
Pria itu tidak menghentikan langkah Katryn, dia mengikuti sang gadis menuju kamar mereka. Masih dalam diam, Allard memperhatikan gerak-gerik Katryn yang entah mencari apa. Setelah menemukan benda yang dicari, Katryn menyodorkan sebuah foto padanya.
“Foto ini, kenapa ada padamu?”
Sebelum menjawab, Allard menerima foto tersebut. Terdapat sosok wanita di dalamnya, Allard hanya memasang wajah datar.
“Kenapa foto itu ada padamu?” tanya Katryn sekali lagi.
“Itu bukan urusanmu.”
“Allard, kenapa sisi kiri di dalam foto itu terpotong? Siapa sosok yang foto bersamaku?” tanya Katryn tak memedulikan jawaban Allard sebelumnya.
“Kau saja tidak ingat, kenapa kau harus menjawabnya?” tanya Allard balik.
“Aku ingin tahu!” ucap Katryn menaikkan suaranya.
“Aku,” balas Allard singkat.
“Tidak ada ingatanmu tentangku, tetapi hatimu bisa merasakan kehadiranku!” ucap Allard setelah sekian lama mereka terdiam.
Katryn menatap Allard, dia sendiri bisa merasakan itu, seolah hatinya mengenal dekat seorang Allard. Dia juga terkadang merasa melupakan sesuatu, tetapi tak tahu apa yang dia lupakan.
Dan Katryn detik ini tahu, dia kehilangan sebagian ingatannya. Namun, anehnya adalah dia tidak pernah mengalami kecelakaan sehingga mengalami hilang ingatan.
“Tidak perlu memaksanya,” pinta Allard dapat membaca dari raut wajah sang gadis.
__ADS_1
“Kenapa aku seperti melupakan sebagian ingatanku?” tanya Katryn memegang kepalanya.
“Semua akan berangsur membaik, tidak perlu memaksa ingatanmu.” Katryn mengangguk mengerti.
Tanpa diduga, Katryn memeluk Allard lebih dulu dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria itu. Allard membalas pelukan tersebut, mengecup puncak kepalanya.
“Kau akan bersama keluargamu sementara waktu,” ucap Allard. Seketika Katryn melepaskan pelukannya, menatap Allard setengah tak percaya.
“Kau serius? Atau hanya guyonan?”
“Guyonan tidak ada dalam kamusku,” balas Allard.
“Lebih baik jika aku bersama keluargaku untuk selama-lamanya,” ucap Katryn, Allard menggeleng pelan.
“Setelah pekerjaanku selesai, kau akan kembali padaku!” tegasnya tak ingin dibantah. Katryn adalah Katryn, tidak pernah memudahkan keinginannya begitu saja.
...***...
Sebagaimana yang Allard katakan, Katryn benar-benar akan bersama keluarganya sementara waktu. Sebelum itu, Katryn mengantar Allard ke bandara atas paksaan pria itu tentunya.
“Berapa lama kau akan pergi?” tanya Katryn.
“Kau senang aku pergi, hm?” Bukannya menjawab, Allard bertanya balik.
“Bisa jadi,” ucap Katryn santai.
“Jordan akan bersamamu, tidak ada kesempatan bagimu melarikan diri! Aku tidak akan membiarkan psikopat itu mengambil hakku,” ucap Allard.
“Aku yakin, ada banyak wanita di luar sana yang menginginkanmu!” ucap Katryn spontan.
“Mereka, bukan aku!” balas Allard congkak dan tidak ada lagi balasan dari Katryn.
“Mencoba kabur, hukuman menantimu, Mrs. Helbert!” ucap Allard ketika sampai di bandara dan keluar tanpa menunggu balasannya.
Apa tadi katanya? Mrs. Helbert? Katryn tidak salah dengar, bukan? Oh, tidak... Katryn tidak senang, pikirannya mencari jawaban apa maksud kalimat itu. Allard selalu memanggilnya Amour atau Katryna, tidak pernah kata lain selain dua kata itu!
Pikirannya terputus akibat merasakan mobil yang ia naiki bergerak maju. Menggeleng beberapa kali, Katryn mengusap wajahnya pelan.
“Silakan, Nona.” Jordan membuka pintu mobil, dan Katryn seketika tersentak.
“Maaf, Nona. Saya tidak tahu Anda tertidur,” ucap Jordan sopan tak enak hati.
“Tidak apa, Uncle. Apa sudah sampai?” balas Katryn tersenyum ramah.
Ah, ternyata dia tertidur. Perjalanan sangat jauh, Katryn tidak tahu sudah berapa lama tertidur. Ia segara turun, banyak para penjaga di sekitarnya. Katryn baru menyadari, lebih sepuluh orang mengawali dari belakang.
“Mari, Nona.”
__ADS_1
Jordan membimbing Katryn memasuki pekarangan sebuah rumah. Katryn mengedarkan matanya, sebuah peternakan dan pertanian mengelilingi rumah besar ini.
“Dimana keluargaku, Paman?” tanya Katryn tak sabar bertemu keluarganya.
“Mari saya tunjukkan, mereka berada di dalam.”
Jordan dan Katryn menyusuri ruang demi ruang. Sampailah mereka pada taman yang berada di halaman belakang, Katryn yang tidak mengetahui tempat ini hanya mengekori Jordan.
Memasuki hutan, Katryn mulai ketakutan, Jordan yang mengerti menenangkannya. Sampai akhirnya, sebuah rumah sederhana terlihat dari tempat Katryn berdiri saat ini.
“Silakan masuk, Nona. Mereka sudah menunggu Anda,” ucap Jordan.
Katryn berjalan perlahan, membuka pintu dan memasuki rumah. Lorong agak panjang menyapa matanya, Katryn mengikuti lorong tersebut dan menemukan keluarganya bersama Alessa duduk di sebuah ruangan yang seperti ruang tamu.
“Katryna!” pekik Alessa pertama kali dan menghambur ke dalam pelukannya.
“Kau mengagetkanku, Alessa!”
“Aku merindukanmu!” ucap Alessa.
“Aku juga,” balasnya. Pelukan terlepas, Katryn beralih menatap pada kedua orang tuanya.
“Mama... Papa...” lirihnya dan memeluk kedua orang tuanya secara bersamaan. Terakhir, Katryn menyapa sang adik dan memeluknya juga.
Setelah berpelukan bersama, mereka bercengkerama satu sama lain. Tidak ada yang mengangkat pembicaraan tentang keberadaan Katryn selama ini, seolah-olah mereka tahu hal itu.
pada tengah malam, Alessa membangunkannya dengan paksa. Di sinilah Katryn berada akibat paksaan Alessa, kolam renang.
“Jadi, ceritakan semuanya!” ucap Alessa memerintah.
“Kau pasti tahu semuanya, Alessa.” Alessa mengangguk membenarkan.
“Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau tidak mencariku?”
“Aku mencarimu, tetapi setelah tahu kau bersama Allard, aku tidak lagi mencarimu.”
“Kenapa?” tanya Katryn.
“Allard yang dapat menjagamu, dan aku tidak sekuat itu bisa melindungimu!” jawab Alessa.
Cerita demi cerita Alessa utarakan pada Katryn, setelah penculikan Katryn saat itu, kedua orang tua beserta sang adik menghilang tanpa jejak. Alessa mengira hilangnya Katryn dan keluarganya adalah ulah Earnest, tetapi Alessa menyelidiki keberadaan Earnest, dan perkiraannya meleset. Earnest juga menghilang karena seseorang!
Ya, Alessa mengetahui semuanya. Penusukan saat itu pun dia tahu siapa dalang di baliknya, Allard. Tak heran, Allard dapat melakukan hal gila demi mempertahankan Katryn. Sedari dulu juga Allard berperilaku demikian, keposesifan dan ke obsesinya terhadap Katryn tidak pernah berkurang.
“Soal penusukan itu ... aku minta maaf,” ucap Katryn merasa bersalah. Alessa sengaja tidak membuka topik sensitif itu, malah Katryn sendiri yang mengangkatnya.
“Hei, jangan menangis!” ujar Alessa ketika melihat pelupuk mata sang sahabat basah.
__ADS_1
“Tusukan kecil, tidak dapat membunuhku dengan mudah. Aku pernah mendapat luka parah dari pada itu,” sambungnya terkesan sombong.
“Aku menyayangimu!” Katryn memeluk Alessa erat, bersyukur mendapatkan sahabat seperti Alessa. Sedari kecil mereka selalu berkorban dan menjadi pelindung satu sama lain. Alessa membalas pelukan sang sahabat, hampir saja air matanya jatuh.