Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 96. Feelings Guilty


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...---...


Ketukan pintu terdengar, lalu Jordan masuk menunduk sopan.


“Ini hasil buktinya, Tuan.” Jordan menyerahkan sebuah berkas.


Allard menerima dan membacanya dengan seksama, di akhir kata tertulis nama yang membobol sistem keamanan itu. Aleesa, benar apa yang ia curigai, Alessa lah dibalik itu.


“Kau sudah yakin dengan apa yang tertulis di sini, Jo?”


“Sudah, Tuan. Nona Alessa mengakuinya sendiri.”


“Apa yang kau dapatkan?”


“Nona Aleesa dipaksa serta diancam oleh pihak Fernand!” Allard mengangguk.


“Lakukan sebagaimana mestinya!” perintah Allard.


“Baik, Tuan.”


...***...


“Dimana Katryna?” tanya Allard pada Jeff.


“Mother berada di perpustakaan, Father.” Jawab Jeff sambil menunduk. Allard berjalan ke arah perpustakaan, ia menemukan Katryn yang tengah membaca buku di tangannya.


“Ternyata kau!” Katryn terkejut karena Allard memeluknya dari belakang.


“Kau tidak menyadari aku masuk?” tanya Allard yang melihat keterkejutan di mata cantiknya.


“Tidak!” jawab Katryn dan memandang wajah Allard.


“Istrihatlah di kamar, Allard!” Allard hanya berdehem.


“Ayo, aku temani!” ajak Katryn.


“Nanti!” ucap Allard.


“Ayo!” Paksa Katryn, Allard menghela nafas.


Melepaskan pelukkannya, Allard mengulurkan tangannya dan Katryn menerimanya. Mereka saling menggengam menuju kamar, Allard berjalan perlahan mengikuti Katryn yang jalan berhati-hati. Kemudian, sesampai mereka di kamar. Allard langsung membaringkan tubuhnya pada kasur, lalu memejamkan matanya. Merasa Katryn tak berbaring di sampingnya, ia membuka matanya dan benar saja Katryn duduk di bangku yang berhadapan dengan balkon.


“Amour!” Katryn menoleh.


“Kemari!” titahnya.


“Tidurlah!” ucap Katryn lembut. Tak mendengarkannya, Allard bangkit. Lalu, memposisikan dirinya di antara kedua kakinya dan membaringkan kepalanya di paha Katryn.


Katryn menggeleng, si manja tengah menampakan diri. Ini yang ia sukai, Allard akan bermanja padanya. Namun, kemanjaan Allard sangat jarang terlihat. Ketika sudah lelah dan banyak masalah, pria ini akan mengatakannya lewat sikap. Tangannya dengan reflek mengelus rambut Allard, senyum Allard terbit tanpa bisa ia lihat.

__ADS_1


“Berbaringlah, di tempat tidur!” Allard menggeleng, dan Katryn dapat merasakan gelengan tersebut.


“Bersamaku!” ralat Katryn. Tanpa kata, Allard bangkit dan menggengam tangannya. Mereka berbaring bersama, genggaman tangannya sangat lembut. Allard meneggelamkan wajahnya di leher Katryn, dan tangannya mengelus perut besar Katryn secara abstrak. Tak terasa, rasa kantuk menyerang mereka.


...***...


Allard berdiri dihadapan seorang wanita, di belakangnya Jordan berdiri dengan wajah datar. Tatapan Allard mengintimidasi wanita di depannya, tangannya terkepal erat menahan agar tidak melukai wanita tersebut.


“Apa yang membuatmu melakukan itu, Alessa?” tanya Allard menekan setiap katanya. Alessa tertawa lirih seraya menatap Allard.


“Aku tidak bisa memilih antara sahabat atau suamiku, maafkan aku.”


“Memberi informasi tentang Katryna kepada musuh, adalah tindak pengkhianatan, Alessa!” Alessa mengangguk, dia tidak membantah itu.


“Jordan, lakukan!” perintah Allard.


Jordan mengangguk, di tangannya terdapat sebuah cambuk. Sejenak Jordan terdiam menatap Alessa prihatin, kemudian ia mencabuk Alessa sebanyak dua kali. Allard yang menyaksikan hanya menatap tajam, teriakan kepiluan Alessa ia hiraukan karena saking marahnya dengan apa yang Alessa lakukan.


“Katakan, apa rencana bedebah itu?” Perintah Allard. Alessa mengatur nafas guna bisa menjawab pertanyaan Allard.


“Mereka menggunakan kelemahan Katryn untuk menyiksamu. Mereka ingin melenyapkan Katryn dan bayi di dalam kandungannya,” ucap Aleesa serak menahan sakit.


“Dengan cara?” Allard mati-matian menahan kemarahannya.


“Menjebak Katryn!”


“Kau sendiri yang akan menjebakannya, hm?” tanya Allard sinis, Aleesa mengangguk lemas.


Aleesa terdiam, lidahnya kelu untuk berkata. Ia mencuri dan memberi informasi Katryna bukan semata permintaan Nick, suaminya tidak pernah meminta hal tersebut. Memilih Katryna atau Nick, sungguh sulit bagi Alessa. Jika memilih Katryna, artinya ia harus melepaskan pria yang ia cintai, kecuali Nick sendiri yang melepas diri dari keluarganya. Sebaliknya, jika memilih Nick, artinya ia harus menjauh dari kehidupan sahabatnya, dengan kata lain Alessa akan lenyap.


Aleesa menyesal sungguh, ia mengingkari janjinya sendiri dalam melindungi Katryn. Ia bekerja sama dengan keluarga Fernand untuk mencelakai Katryn, walau belum terealisasikan, Alessa sudah menyetujuinya.


“Jawab! Jangan membuang waktuku!” Paksa Allard tajam.


“Aku memilih menjadi bawahanmu, tapi lindungi keluargaku.”


“Mudah. Asal jangan ada pengkhianatan lagi, atau keluargamu juga yang akan habis!” Alessa mengangguk setuju.


“Lepaskan dia!” Perintah Allard.


“Sekarang kau tinggal di mansionku. Jangan macam-macam, ataupun mengatakan pada Katryn tentang masalah ini! Sekali saja dia tahu, kau orang pertama yang mendapatkan hukuman!” peringat Allard, dan disanggupi oleh Aleesa.


...***...


“Aleesa!!” teriak Katryn heboh.


“I miss you so much!” Katryn memeluk erat Aleesa, walaupun pelukkan mereka terhalang oleh kehamilannya. Tangis Aleesa pecah dipelukkan Katryn, dengan lembut Katryn mengelus punggung Aleesa yang terisak di pundaknya. Allard menatap datar pemandangan di depannya.


“Hei, ada apa? Kenapa kau menangis?” Alessa menggeleng.


“Aku merindukanmu!”

__ADS_1


“Ada masalah dengan Nick? Tidak mungkin kau menangis hanya karena merindukanku, bukan? Hatimu keras seperti baru!” canda Katryn. Alessa tertawa, benar apa yang Katryn katakan, Alessa bukan wanita yang mudah menangis hanya masalah kecil.


Katryn memeluk kembali Aleesa, matanya menatap Allard yang juga menatap kearahnya. Dari matanya menanyakan kepada Allard, dan Allard hanya menggeleng pertanda tidak tahu.


Beberapa hari tinggal bersama Katryn, sedikit membuat Aleesa merasa lebih baik. Seperti saat ini, mereka menghabiskan waktu dengan menonton film romance berbalut action.


“Pria itu sangat tampan!” puji Katryn.


“Tapi, lebih tampan Allard!” sambung Katryn, Alessa menggeleng heran.


Allard menghampiri mereka, ia mendudukkan diri di samping Katryn dan mengecup bibir Katryn sekilas. Posisi Katyn berada di tengah mereka, Allard sekilas menatap layar lalu berkata,


“Apa menariknya film seperti itu?”


“Prianya tampan-tampan.” Allard mendelik kearahnya.


“Tapi, lebih tampan Allard! Seperti yang kau katakan tadi!” celetuk Aleesa, dan Katryn mengangguk menyetujui.


Allard hanya menggeleng, tangannya berpindah ke perut Katryn dan mengelusnya lembut. Semua itu tak lepas dari pandangan Aleesa, jika rencana itu terlakasana, apakah dirinya akan hidup tenang? Batin Aleesa bertanya.


“Aku ingin ke kamar mandi sebentar!” Pamit Aleesa, lalu pergi.


“Ada apa dengannya? Aku merasa dia menyimpan banyak beban!” ucap Katryn menatap kepergian Aleesa.


“Tidak perlu ikut campur, Amour!” ucap Allard memberi petuah.


“Bukan begitu, Allard. Dia sangat aneh, tidak biasanya dia lesu seperti itu. Aku tahu dia pasti ada masalah.”Allard mengedikan bahunya.


“Lupakan!” ketus Katryn tak suka mendapat reaksi Allard.


“Marah?” Katryn mengedik bahu tak tahu.


“Oke. Aku tidur di ruang tamu,” ucap Allard yang langsung disanggah Katryn.


“Tidak bisa begitu!” Allard diam.


“Terserah. Aku tidur bersama Allanzel!” sembur Katryn, dan Allard hanya mengangguk menyetujui. Katryn yang kesal meninggalkan Allard, sedangkan Allard hanya terkekeh dengan sikap Katryn yang sangat menggemaskan. Kita lihat saja nanti, apakah Katryn bertahan tidak tidur bersamanya malam ini?


“Al.” Allard menoleh.


“Apa ... aku boleh mengatakannya pada Katryn? Maksudku, aku ingin meminta maaf padanya,” ucap Aleesa meminta izin padanya.


“Belum saatnya!” Aleesa menghela nafas berat.


“Kapan?”


“Nanti saat yang tepat!”


“Baik,” ucap Alessa dan permisi.


Allard meninggalkan ruangan tv menyusul Katryn. Perlahan dia membuka pintu kamar Allanzel, menemukan dua orang yang ia cintai tengah tertidur pulas, lebih tepatnya Allanzel saja, sedangkan Katryn bergerak gelisah. Mungkin merasa tak nyaman, Katryn bangkit dan melihat Allard menyender di kusen pintu. Allard terkekeh senang melihat wajah Katryn yang sangat menyedihkan.

__ADS_1


“Ayo, kau pasti lelah!” Ajak Allard untuk kembali ke kamar mereka. Sebelum menerima ajakan suaminya, Katryn mengecup dahi Allanzel mengucapkan selamat malam. Lalu, ia berjalan mendahului Allard.


__ADS_2