
...Telah direvisi!...
...---...
“Anzel, mommy menyayangimu...” bisik Katryn, Allanzel seakan mengerti tersenyum dan bertepuk tangan.
“Kau menggemaskan sekali,” ucap Katryn, lalu menghujani ciuman di pipi Allanzel.
Sore hari Allard pulang dan menghampiri Allanzel yang tertidur di box-nya. Katryn memperhatikan itu, Allard seperti memikirkan sesuatu. Tak lama, pria itu beranjak membersihkan diri dan tanpa kata meninggalkan kamar.
Katryn meminta Mila menemani Allanzel. Dia menyusul Allard ke ruang kerja, ternyata pria itu hanya duduk di single sofa seraya memejamkan matanya. Katryn duduk di atas pangkuan Allard, sekejab Allard membuka matanya, dan kemudian menutupnya kembali.
“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Katryn lembut mengelus kerutan dahi pria ini.
“Aku bermimpi,” ucap Allard pelan.
“Mau bercerita?” tanya Katryn, Allard menghela nafas.
Katryn menawarkan terlebih dahulu, karena dia tahu Allard bukan tipikal yang bisa menceritakan semuanya dengan gamblang. Melihat Allard hanya diam, Katryn menyandarkan kepalanya di dada Allard. Tangannya mengelus bahu Allard, sedangkan Allard melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping sang istri.
“Entah bagaimana nantinya, jika Kyle mengalami karma yang kuperbuat.” Katryn menyelami tatapan mata ini. Ada ketakutan, kesedihan, kemarahan, dan kerisauan yang tergambar jelas di mata biru itu.
“Kenapa tuhan memberiku kehidupan seperti ini?” Allard berbisik lirih.
“Al, jangan berkata seperti itu!” Suara Katryn serak menahan tangis. Katryn kembali memeluk Allard. Pria itu membalas pelukannya, dan mengecup puncak kepalanya.
“Aku bahagia kau menjadi milikku,” ucap Allard berbisik.
“Begitu juga denganku,” balas Katryn.
“Tapi ... bukankah kau menyesal memasuki kehidupanku?” Allard bertanya santai. Katryn menegang, Allard hanya tersenyum.
“Kau mengatakan itu saat mabuk.” Katryn menghela nafas,ia menatap mata Allard sendu.
“Penyeselan itu datang ketika aku tahu kau membunuh anak-anak itu. Aku takut, Allanzel bernasip sama dengan anak-anak itu,” sambung Katryn.
“Allard, aku berharap kau bisa meninggalkan duniamu karena keinginanmu sendiri,” ucap Katryn setelah keterdiaman mereak cukup lama.
“Terima kasih kau tidak pernah memaksaku,” ucap Allard.
“Kita partner, bukan? Sebagai partner kita harus mengerti satu sama lain,” balas Katryn.
...***...
“Kau gila? Baju itu harganya puluhan juta!” sergah Katryn.
“Aku kaya, tidak masalah!”
“Sombong sekali!” balas Katryn berdecih.
__ADS_1
“Pakai!” perintah Allard. Kesal tidak bisa membalas, Katryn mengambil gaun dua tangan Allard dan berlalu ke ruang ganti.
Sepuluh menit kemudian, Katryn keluar beserta gaun di tubuhnya. Allard tersenyum puas melihat, lalu ia memberi isyarat pada Sandra. Pria setengah perempuan itu menariknya lembut untuk duduk di sebuah kursi rias. Tangannya mulai lihai merias wajah Katryn, dan Katryn sendiri yang ingin protes langsung mengunci bibirnya saat Allard menatapnya tajam. Katryn tidak suka mengenakan make up!
Entah berapa lama Sandra menekuni wajahnya dengan alat-alatnya, kini Katryn tampak jauh lebih cantik. Katryn sampai menutup wajahnya ketika Sandra memperhatikannya lekat.
“No! Kau bisa merusak kerja kerasku!” teriak Sandra mencegah tangan Katryn.
“Maka, jangan melihat seperti itu!” protesnya.
“Kau sangat cantik!” puji Sandra.
“Terima kasih,” balas Katryn.
“Oke. Apa kau ingin memilih warna lipstikmu?”
“Warna soft!” Bukan Katryn yang menjawab, tetapi Allard.
“Merah!” ucap Katryn membantah.
“Katryna, bukan kau yang mengatur! Tubuhmu milikku, dan aku yang boleh mengaturnya!”
“Yes, Sir!”
“Good. That’s my wife!”
Setelah selesai, Allard membawa Katryn memasuki mobil. Di perjalanan, Allard hanya diam tanpa berniat menjelaskan tujuan mereka. Sesampai di sebuh halaman yang besar, Katryn ternganga tak percaya. Bagaimana tidak, setiap dekoran di sini terbuat dari emas.
Semua mata menatap ke arah mereka. Katryn jadi risih ditatap banyak orang, batinnya memaki Allard yang kini merangkul pinggangnya. Jika tahu menghadiri acara dengan beribu orang di dalamnya, Katryn akan menolak sekeras mungkin. Mereka diarahkan ke sebuah kursi singasana. Katryn gugup, semua memandangnya penasaran.
“Lord, apakah acara bisa dimulai?” tanya seseorang, Allard hanya mengangguk.
Katryn melihat ke arah Jeff yang berdiri di kanannya, sedangkan Jordan berdiri di sebelah kiri Allard.
“Bisa kau jelaskan acara apa ini?” tanya Katryn berbisik.
“Lihat saja!”
“Kau benar-benar!”
Katryn mengarahkan pandangannya ke depan, beberapa orang mengangkat papan kecil. Yang Katryn tangkap, acara ini adalah pelelangan emas. Terlihat juga di sebuah meja di hadapannya terdapat emas besar berbentuk H.
“Jeff, bisa kau jelaskan emas apa itu?” tanya Katryn pada Jeff.
Jeff memandang ke arah Allard, seperti meminta izin padanya. Katryn seperti orang bodoh mendatangi sebuah acara yang tidak dia ketahui acara apa itu.
“Emas itu, seperti kekuatan.” Jeff menunduk agar Katryn mendengar penjelasannya.
“Pemilik emas itu nantinya akan menjadi wakil father di Gold Mafia, Mother.”
__ADS_1
Seketika Katryn mengingat perkataan Ruldlof yang membahas tentang tambang emas. Sontak dia bertanya pada Jeff,
“Dimana Mr Yan?” tanyanya.
“Di neraka!” sahut Allard.
“Kau membunuhnya?!” tanya Katryn.
“Kau sangat pintar, Mi Amour**!”
Suara gemuruh tepuk tangan membatalkan niat Katryn untuk berucap. Pelelangan itu selesai dan ternyata emas itu jatuh pada seorang pria tua. Katryn menilai, pria itu ramah dan tidak terkesan jahat.
Saat acara dansa, Allard dan Katryn mengasingkan diri ke balkon. Katryn sedang berpikir, seberapa kaya sebenarnya Allard?
“Tambang emas ini milik Hellbert.”
“Jadi, itu alasan Mr Yan ingin membunuh pewaris selanjutnya?”
“Kau memang sangat pintar!” Puji Allard, Katryn berdecih.
“Kau tidak punya kosa kata lain, huh?”
“Seperti, menidurimu?”
“Otakmu mesum sekali!” Allard tertawa pelan.
“Ikut aku!” Ajak Allard.
Allard membawanya ke sebuah ruang rahasia. Katryn lagi-lagi ternganga, baru kali ini ia memasuki ruang yang dipenuhi emas batang. Pasti ruang ini memiliki keamanan yang tinggi dan tidak sembarangan orang bisa memasukinya.
“Kurasa, karena ini orang-orang berlomba untuk menjadi wakilmu!” komentar Katryn.
“Ya, itu pasti.”
“Tapi, apa semudah itu kau menyerahkan jabatan wakil kepada orang-orang? Maksudku, hanya dengan pelelangan?” tanya Katryn penasaran.
“Tentu tidak, Amour. Ada persyaratan lain, pelelangan itu hanya syarat kecil!” Katryn mengangguk paham.
“Sebenarnya, aku ingin menjual tambang emas ini.”
“Keluarga dan anggota tidak setuju. Tambang ini ada sejak generasi pertama.” Katryn kembali mengangguk mengerti.
Allard bercerita, Gold Mafia awalnya dimiliki Justin dan kedua temannya. Akan tetapi, sedikit demi sedikit saham kedua teman Justin terjual disertai kejadian beruntun yang rumit. Inti dari semua itu adalah, banyak orang yang menginginkan tambang emas tersebut. Dikarenakan saham Justin sebesar 55%, otomatis posisi Justin unggul menjadi pemimpin utama. Hingga sampai sekarang, tambang emas itu bertahan dan dimiliki oleh tujuh mafia dari seluruh dunia.
“Sangat rumit dan ada sesuatu yang mis menurutku,” ucap Katryn.
“Kau benar. Ada rahasia mengapa Gold Mafia terpecah seperti sekarang. Kudengar dari cerita Nyle, Justin dan kedua temannya sempat bersiteru satu sama lain. Bersiteru karena apa, Nyle tidak tahu, hanya Justin yang tahu.”
“Pertanyaannya, kenapa mereka menjual sedikit demi sedikit?” Allard mengedikkan bahunya.
__ADS_1
“Bisakah kita pulang sekarang? Allanzel sebentar lagi pasti terbangun,” pinta Katryn menatap jam tangannya, Allard mengangguk mengiyakan.
...***...