
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca!...
...---...
"Jangan sekali-sekali, kau mendebatkan sesuatu selagi aku dalam keadaan emosi,” ucap Allard memperingatinya. Ia tengah menyetir, Katryn sebelumnya meminta maaf atas ucapan kekanakannya di ruang kerja Allarrd kemarin.
“Jadi, jangan ulangi kedua kalinya,” ucap Allard tenang namun penuh keseriusan.
Setelah dia membentak Katryn, sedikitpun dia tidak merasa menyesal. Allard pria yang tidak suka mendebatkan sesuatu dalam keadaan emosi. Apalagi itu adalah Katryn, dia tidak ingin menyakiti Katryn. Jika itu orang lain, dia tidak peduli.
“Aku berjanji!” ujar Katryn.
“Good wife!”
“Yes, My Husband!” balas Katryn dengan seduktif.
“Aku ingin es krim!” ucap Katryn cepat ketika memandang satu toko yang menjual es krim.
Allard memarkirkan mobil di depan toko tersebut. Belum sempat Allard mematikan mesin mobil, Katryn sudah lebih dulu turun dan bersemangat memasuki toko tersebut.
“Ah, wanita itu!”gerutu Allard.
Allard turun dan menyusul Katryn yang mengantri membeli es krim. Langsung saja Allard menarik pelan Katryn untuk duduk di salah satu kursi.
“Allard!”
“Biarkan Selena yang memesan.”
“Selena?!” Allard mengangguk.
Katryn menoleh kebelakang, ia menemukan Aleesa dan Selena yang mengantri di sana. Mereka melambaikan tangan padanya dengan senyuman bodoh.
“Sejak kapan mereka berada disini?!”
“Mereka ikut sedari tadi,” ucap Allard. Kenapa dia tidak menyadari hal itu? pikir Katryn.
Aleesa datang dan meletak satu cup besar es krim di hadapan Katryn. Lalu, Aleesa duduk di samping Katryn.
“Saatnya untuk menanyakan hal penting padamu, Mr. Helbert Terhormat!” ucap Aleesa menatap Allard di hadapannya tajam.
“Kenapa Nick bisa datang ke mansionmu? Kau berteman dengan musuhmu sendiri?” tanya Aleesa penuh selidik.
“Urusannya denganmu, apa?” balas Allard telak. Katryn menahan senyum melihat ekspresi kesal sahabatnya.
“Allard, kau tahu bukan, dia cucu dari Fernand. Kuingatkan kau, kakeknya terbunuh olehmu!”
__ADS_1
“Aku tidak lupa.”
“Kau menanyakan Nick, karena kau takut mengulang malam bersamanya, ya?!” Katryn berkata sepolos mungkin, sambil menyuapkan es krim ke mulutnya.
“Apa hubungannya, huh?”
“Hubungannya adalah, kau bertemu di mansion, dan mungkin saja kalian bercinta di salah satu ruangan mansion Helbert? ”balas Katryn.
“Tidak ada hubungannya, Katryna. Kau menyebalkan!” Saking sebalnya, Aleesa bangkit dan meninggalkan mereka.
“Ngomong-ngomong, tumben kau menampakkan wujudmu di tengah-tengah publik?!” tanya Katryn penasaran.
“Memancing keributan,” ucap Allard santai, sambil fokus dengan ponselnya. Katryn memutar bola matanya jengah.
“Seharusnya aku tahu itu!” batinnya.
Benar saja, lima menit setelah itu. Suara ledakkan terdengar, disusul suara tembakan. Katryn panik, ditambah orang-orang di sekitar mereka berteriak ketakutan. Lain halnya dengan Allard, dia tersenyum menatap Katryn.
“See?!” ucap Allard santai.
“Kau benar-benar tak punya akal!” Maki Katryn.
Allard bangkit dari kursi, lalu mengulur tangannya pada Katryn. Ia menyambut uluran tersebut, belum sempat Katryn mengeluarkan suara, Allard menyambar bibirnya kasar. Sungguh, pria ini sangat nekat sekali. Bukannya menjauh dari kekacauam ini, ia malah mencium Katryn.
“Aku suka bibir ini!” ujar Allard setelah melepas ciuman panas mereka.
Katryn tidak sanggup untuk berbicara, bibirnya bengkak. Kemudian Allard menggandeng tangannya menuju mobil. Katryn perhatikan orang-orang berkumpul di sebuah toko, kejadian ini sangat cepat sekali.
“Jordan, audio terkoneksi dengan audio mobilmu!” ujar Allard.
“Iya, Tuan.”
“Bagaimana?!”
“Kami menangkap tiga anak buahnya. Sedangkan yang lain, berhasil kabur.”
“Paksa mereka untuk mengatakan informasi penting.”
“Baik, Tuan.” Allard menekan salah satu tombol di dasbor guna mematikan sambungan.
“Menyenangkan, bukan?”
“Menyenangkan dari mana? Kau hampir membuatku jantungan!” ucap Katryn sewot.
...***...
Pernikahan Evelyn dilaksanakan hari ini. Mereka telah tiba di mansion Helbert sejak kemarin malam. Keluarga Vinson dan Helbert, kompak memakai baju yang sama. Katryn terharu, keluarga Allard menganggap keluarganya seperti keluarga mereka sendiri.
Namun, dari semua baju yang sudah ditentukan, kenapa bajunya yang terlihat lebih terbuka. Dan jangan tanyakan bagaimana reaksi Allard, pria itu menyuruhnya mengganti baju yang lain.
“Tapi, nanti aku sendiri yang berbeda.”
“Aku tidak peduli!” Caroline masuk ke kamar mereka, dan menggeleng melihat sepasang suami-istri ini berdebat.
__ADS_1
“Katryn sedang hamil, wajar kalau baju itu mencetak tubuhnya.”
“Mommy sengaja, kan?”
“Ayo, Sayang!” Caroline memegang lengan Katryn tidak mempedulikan sang putra.
“Tunggu!” Allard menahan mereka, ia melepaskan penahan sanggul Katryn. Jadilah, rambut Katryn tergerai. Setelahnya, dia keluar meninggalkan dua wanita tersayangnya. Katryn dan Caroline tertawa.
Mereka menyusul keluarga lainnya. Pernikahan Evelyn dan Javier akan dilaksanakan di salah satu hotel milik pembelai pria. Pernikahan itu hanya dihadiri oleh keluarga saja. Katryn meminta izin untuk bergabung dengan sepupu Allard yang saat ini tengah bergosip membicarakan seorang Javiero. Katryn tertawa menyaksikan betapa semangatnya Maria memiliki kakak ipar seperti Javier, tampan dan berkharisma.
“Mr Helbert,” panggil Selena.
“Ya. Ada apa, Selena?”
“Nona Evelyn meminta Anda menemaninya,” ucap Selena mendunduk. Katryn melirik pada Keynand menatap Selena intens.
Katryn pamit untuk menemui Evelyn. Di sebuah kamar hotel, Evelyn sudah siap. Ketika melihat Katryn memasuki kamar hotel, Evelyn memeluknya dengan tangisan.
“Aku takut...” bisik Evelyn.
Katryn melepaskan pelukan tersebut, lalu tersenyum lembut pada Evelyn. Gadis ini masih sangat muda untuk menikah, apalagi menikah karena perjodohan, Katryn mengerti bagaimana dipaksa untuk melakukan sesuatu hal yang tidak dia inginkan. Di umur Evelyn memasuki 21, pasti rasa belum siap menikah itu ada, sama seperti dirinya.
“Bagaimana nanti dia tidak mencintaiku?!”
“Sssttt....” Katryn mengusap air mata Eve.
“Berikan hatimu, di saat dia memberikan hatinya secara penuh kepadamu.”
“Cintai dia, saat kau yakin dia mencintaimu juga. Pasang benteng pertahanan dalam dirimu, jangan terjebak karena kau ingin egois memiliki dia secara penuh. Mengerti, Sister?” Evelyn mengangguk.
“Katryn, apa aku mendatangimu jika aku membutuhkanmu nanti?” Katryn tertawa, pertanyaan adik iparnya ini lain dari yang lain.
“Tentu saja. Tidak perlu takut, Eve... Javier menyukaimu, aku yakin kalian akan bersama selamanya. Kau boleh mendatangiku, kapanpun kau mau.”
“Terima kasih, Sister...”
“Baiklah. Sudah waktunya, ayo!”
Ketika membuka pintu, beberapa orang berdiri menunggu mereka. Termasuk Fillbert, yang akan mengantar putrinya ke altar.
“Dad, apa boleh kakak ipar mengantarku juga?” tanya Eve harap cemas.
“Boleh, Sayang.”
Mereka memasuki ballroom, sebelum benar-benar masuk, Katryn memperbaiki riasan wajah Evelyn. Kini saatnya mereka mengantar Evelyn, gadis itu berada di tengah antara Katryn dan Fillbert. Di tangannya, Evelyn memegang rangkaian bunga.
__ADS_1
Mereka mengiringi Evelyn, berjalan perlahan dengan iringan musik. Sesampai di altar, Fillbert menyerahkan tangan putrinya dengan berat hati kepada Javier. Setelah Evelyn naik ke altar, dia melihat ke arah Katryn. Katryn tersenyum menenangkan.
Fillbert menggandeng tangan Katryn untuk duduk. Katryn duduk di sebelah Allard dan pria ini langsung menggenggam tangannya. Keluarga mereka, duduk berjejer dan memang keluarga inti yang duduk di bagian depan.