Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 39. Miss You


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...-----...


Acara pernikahan Allard dan Tania tiba hari ini yang diadakan meriah dan mewah. Acara diselenggarakan di salah satu hotel milik keluarga Helbert yang dihadiri oleh keluarga besar. Sedangkan Katryn sendiri berada di penthouse berdekatan dengan lokasi acara bersama Alessa.


Kemarin siang Jordan menjemput Katryn di Mansion Helbert. Ia bertanya untuk apa ia menempati penthouse ini, Jordan hanya mengatakan perintah sang tuan. Katryn kesal setengah mati, yang benar saja dia harus di sini, berdekatan pula dengan hotel dilangsungkan acara mereka.


“Katryn, kau menangis?” tanya Alessa panik, Katryn menggeleng.


“Ada apa, hm?”


“Mereka akan bermesraan. Aku tidak suka,” ucapnya.


“Oh, sangat yakin dia tidak akan. Allard seperti ingin melenyapkan wanita itu,” balas Alessa.


“Kenapa?”


“Wanita itu setuju menikah, kau tahu karena apa?” Katryn menggeleng.


“Harta dan kepopuleran!”timpal Alessa.


“Tidak usah dipikirkan, oke?”tenangnya.


“Oke. Tapi, aku ingin makanan yang asin!”


“Astaga, Katryna. Yang benar saja! Aku tidak pandai memasak!” gerutu Alessa jengkel.


“Please...”Alessa menghela nafas.


“Spagheti?” Katryn mengangguk.


...***...


“Oh, Tuhan! Allard!” pekik Alessa kaget, tiba-tiba Allard muncul menatap Alessa tajam.


“Dimana Katryn?”


“Kamar.”


Allard duduk di atas kursi pantri di sebelah Alessa, lalu menuangkan wine setelah mengambil gelas kaca yang tergantung di pantri dan menegaknya.


“Ada masalah?” tanya Alessa serius.


“Tania tidak memiliki keluarga, tetapi mereka beranggapan keluarga dia masih ada.”


“Kau yakin dia tidak memiliki keluarga?”


“Dia dijual oleh paman-nya. Dari informasi yang Jordan selidiki, Tania tidak pernah bertemu dengan keluarganya atau pun tahu tentang keluarganya.”


“Sudah crosscheck?” Allard mengangguk.


“Perkiraanku keluarga yang mereka maksud adalah keluarga Katryn,” ucap Allard.


“Identitas Katryn dan keluarganya sudah diamankan, tidak mungkin mereka mendapat informasi itu kecuali seseorang yang tahu betul tentang Katryn membeberkannya,” sambungnya. Alessa termenung sesaat, itu memang benar!


“Earnest?” Satu nama itu terlintas dipikiran Alessa.


“Aku curiga pada si bangsat itu.”


Allard menuang kembali wine-nya dan meninggalkan Alessa menuju kamar sang istri. Ia duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan ranjang, memperhatikan Katryn tertidur pulas di sana. Sedikit demi sedikit ia sesap wine-nya, hingga rasanya ia tidak tahan untuk tidak membangunkan Katryn. Allard meneguk habis wine dan mendekati ranjang.


“Katryn, bangun...” ucap Allard mengelus wajah Katryn.


“Allard, ada apa? Kenapa kau di sini?” tanya Katryn serak khas orang bangun tidur.

__ADS_1


“Aku merindukanmu dan baby.” Katryn melirik jam.


“Ini tengah malam.”


“Aku tahu.”


“Come here,” ucap Katryn bergeser agar Allard berbaring di sampingnya.


Allard berbaring menyamping, wajah Katryn yang mengantuk membuat senyum Allard muncul.


“Jangan tidur,” ucap Allard. Katryn membuka mata sayunya, lalu menoleh pada Allard.


“Ada sesuatu yang kau pikirkan?” tanyanya.


Allard tampak diam saja, Katryn tahu ada sesuatu yang ingin pria ini sampaikan. Ia menyampingkan tubuhnya agar berhadapan dengan Allard.


“Kau bisa membaginya denganku.”


“Evelyn hilang,”ucap Allard.


“Kapan?” tanya Katryn panik.


“Setelah acara selesai,” jawab Allard pelan.


“Bukannya kau menempatkan pengawal di lokasi acara?”


“Ya. Hasilnya nihil.”


Katryn menghela nafas, khawatir pada adik iparnya dan juga pada Allard. Tangannya bergerak mengelus wajah Allard. Pria itu menikmati seraya menceritakan bagaimana ia berusaha mencari Evelyn, bahkan alat gps yang terpasang di setiap barang Evelyn tidak tidak terlacak.


“Istirahatlah, kau butuh menenangkan tubuhmu,” pinta Katryn tidak tega melihat wajah gelisah Allard.


“Aku tidak ingin istirahat,” ucap Allard dan menenggelamkan wajahnya ke dada Katryn.


Mungkin karena nyaman rambutnya dielus Katryn, menimbulkan rasa kantuknya. Tidak butuh setengah jam Allard tertidur seraya menempatkan tagannya di atas perut sang istri. Entah hanya perasaan saja, ini adalah awal pemulaan oleh musuh Allard. Mereka sedang mencari tahu tentang diri, si gadis yang Allard lindungi dan menjadi Tania sebagai temeng.


...***...


Dua hari berlalu, Allard dan Tania menikah. Katryn tidak tahu, apa yang keduanya lakukan. Alessa menyampaikan Allard honeymoon bersama Tania. Oh, tentu... Katryn berpikir pasangan suami-istri itu sedang bermesraan!


Katryn benci dengan pemikirannya, Allard menjelaskan dia tidak akan menyentuh wanita itu. But, who knows? Pria apabila disodorkan lekuk tubuh wanita pasti tergoda, bukan? Apa pun yang terjadi, jika pria itu menyentuh Tania, jangan harap Katryn akan bertahan.


Helaan nafas Katryn terdengar kasar, dia bosan. Sehari-harinya tidak jauh berkuliah online, mengerjakan tugas, memasak, makan dan tidur yang dikerjakan di penthouse ini. Allard melarang Katryn keluar, artinya Katryn tidak lagi berkuliah secara langsung, semua diatur dan diurus pria itu.


Suara gerasak-gerusuk mengalihkan fokus Katryn. Di depannya Alessa seperti mencari sesuatu.


“Katryn, apakah kau melihat notebook-ku?”tanya Alessa.


“Bukannya kemarin kau letakkan di kamarmu?” Alessa terburu-buru berlari ke kamar.


Bosan duduk di ruang tamu, Katryn menyusul Alessa. Terlihat sahabatnya itu mengetik lincah di atas keyboard notebook-nya sambil berbicara entah dengan siapa. Ia mendekati Alessa, berbaring di samping Alessa.


“Kanan,” ucap Alessa. Katryn memperhatikan tampilan layar seperti maps dan banyak kode dan huruf di sana.


“****!” umpat Alessa.


“Ale, seseorang mencoba melacak lokasimu!” ucap seseorang di seberang sana.


“I know! Kau cari lokasi mereka sekarang, Evelyn pasti bersama mereka!” Dengan lincah Alessa mengotak-atik notebooknya, Katryn saja tidak bisa selincah itu!


“Lokasi mereka hilang,” teriak seseorang.


“Lacak kembali!”


“Sudah. Lokasimu tidak mereka temukan, kan?” tanya seseorang itu.

__ADS_1


“Tidak.”


“Wait, aku mendapatkan lokasi mereka!” ucap Alessa.


“Lihat inbox-mu, segera lacak dan beritahu yang lain!” perintah Alessa.


“Oke!”


Sepanjang Alessa berbicara, Katryn hanya diam sekaligus mendengarkan. Tiba-tiba ponsel Alessa berbunyi,


“Ada apa?” tanya Alessa cepat, tampak ia berbincang dengan lawan bicara.


“Mereka mengambil setengah dari uang perusahan!”ucap orang di sebarang sana.


“Apa data mereka temukan?” Katryn mendengar suara itu yang jelas ia kenali, Alessa meloud-speaker ponselnya seraya berkutat kembali dengan notebook-nya.


“Mencoba, tapi gagal!”


“Good job.”


“Tarik kembali uang tersebut, alihkan ke rekening perusahaan dan rusak sistem mereka!”


“Yes, Sir!”


“Pantau terus-menerus, jangan sampai mereka mendapatkan lokasimu!”


“Oke!” Alessa menutup notebook-nya.


“Itu Selena dan Allard?” tanya Katryn. Alessa menoleh, lalu mengangguk.


...***...


Pernikahan Allard dan Tania tersebar luas ke media. Ditambah dengan pemberitaan honeymoon mereka yang mengunjungi empat negara selama sebulan menjadi perbincangan hangat di stasiun tv. Betapa beruntungnya Tania dinikahi oleh pengusaha terkaya di benua Eropa, begitulah masyarakat menanggapinya.


Alessa tida tega melihat Katryn murung setiap kali menonton berita, dilarang Katryn pasti marah. Wanita hamil itu selalu mengatakan, mereka tampak bahagia. Alessa membujuk agar Katryn berhenti dan mengingat Allard melakukan ini melindunginya. Tapi, ibu hamil ini tampaknya lebih sensitif.


Saat ini Katryn tertidur dengan wajah basah karena menangis. Ponsel Alessa bergetar di saku celana, Allard menghubunginya.


“Ada apa?”


“Bagaimana keadaan Katryn?”tanya Allard.


“Apa tidak bisa kau menghubunginya langsung?” Allard menghela nafas.


“Dimana dia?”tanya Allard lagi.


“Tertidur setelah melihat betapa mesranya pemberitaanmu!”sarkas Alessa.


“Katryn menangis?”


“Kau pikir saja apa yang bisa dia lakukan!”


“Aku tidak bisa menemuinya. Mereka mencurigai Tania,” ucap Allard.


“Berarti, mereka mendapatkan sesuatu?”duga Alessa.


“Ya. Ini berkaitan dengan Katryn, maka dari itu aku tidak bisa menemui Katryn, mereka mengawasiku.”


“Baiklah.”


“Perketat penjagaan, Jordan akan ikut mengawasi dari jauh.”


“Apa tidak kembali saja ke mansion Helbert, di sana lebih aman.”


“Untuk saat ini jangan dulu,” ucap Allard.

__ADS_1


__ADS_2