Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chaptee 8. After The Escape


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Happy reading!...


...***...


Tiga minggu yang menyenangkan bagi Katryn, sebab ia berhasil kabur dan kembali merasakan kebebasan seperti sediakala. Berkat Alessa, dia dapat terlepas dari kurungan hitam Earnest. Katryn amat sangat berterima kasih pada Alessa yang membantunya untuk melarikan diri.


Saat ini, Katryn berada di kediaman Alessa, tepatnya di New York. Negara yang penuh dengan aktivitas manusia setiap detiknya. Alessa memberi tempat tinggal yang nyaman untuknya dan juga keluarganya.


“Katryn!” panggil Alessa, Katryn menoleh dan tersenyum pada Alessa.


“Kenapa sedih?” tanya Alessa melihat air mata di pelupuk mata Katryn.


“Siapa yang sedih? Aku masih belum percaya bahwa aku pergi dari dia, aku merindukan kehidupan seperti ini!” Alessa mengangguk, paham betul dengan kesenangan yang Katryn rasakan.


“Alessa... terima kasih banyak sudah membantuku!” ucap Katryn lirih.


“Hei... berterima kasih pada dirimu, bukan padaku! Selama ini kau kuat menghadapi segala sikap tidak mengenakkan psikopat itu, kau pantas mendapatkan kebebasan, Ryn!” ucap Alessa, lalu memeluk Katryn.


“Ingin bersenang-senang, hm?” tawar Alessa.


“Seperti?”


“Melakukan hal seperti yang aku dan kau lakukan dulu?” ucap Alessa sambil berkacak pinggang.


“Ayo!” serunya.


Alessa dan Katryn segera keluar setelah pamit pada kedua orang tua Katryn tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Katryn dengan celana pendek sepaha dan kaos oblong kebesaran berwarna putih. Sedangkan Alessa, dengan jeans hitam dan kaos hitam ketat.


“Oke. Hal pertama adalah membeli pop corn dan tiket menonton!” ujar Alessa bersemangat.


Keduanya tampak bersenang-senang dengan mengulang kegiatan pada saat sekolah menengah dulu. Dari kejauhan, Allard memperhatikan kebahagiaan Katryn. Ia ingat Katryn pernah mengatakan, kesenangan untuknya sangat mudah, yaitu pergi bersama Alessa atau menghabiskan waktu berdua dengannya.


Alessa menyadari kehadiran Allard, tetapi dia hanya diam. Alessa mengetahui Allard yang telah membantu Leonil dalam menyelamatkan Katryn.


...***...


Pagi harinya, Katryn mencari keberadaan Alessa. Tak mendapati keberadaan Alessa, Katryn menanyakan pada Marchell yang kebetulan sedang bersantai di ruang tamu.


“Baru aja pergi,” jawab Marchell.


“Kemana?”


“Bekerja!” Katryn mengangguk mengerti.


Bingung ingin melakukan apa, Katryn memutuskan untuk berenang. Setelah berada di halaman belakang yang terdapat kolam renang, Katryn melepaskan pakaiannya dan hanya meninggalkan underwear dan juga bra.


Dengan santai, Katryn menceburkan diri dan berenang hingga ke tepi. Ia terus mengulangi hal yang sama hingga tubuhnya merasa lelah. Katryn mendudukkan dirinya di tepi kolam, mengusap wajahnya yang basah.

__ADS_1


Tak berapa lama, seorang pelayan menghampirinya dengan nampan yang berisi segelas orange jus dan handuk.


“Terima kasih, Mam. Seharusnya mam tidak perlu melakukan ini,” ucap Katryn tak enak hati.


“Tidak apa, Nona. Panggil saja Leni, dan itu memang tugas saya melayani Anda!” ucap sang pelayan dengan ramah.


“Baiklah. Terima kasih, Leni!” ucap Katryn tersenyum tulus.


“Sama-sama, Nona!” balas sang pelayan tersebut dan pamit.


Katryn meminum jus tersebut, lalu mengambil handuk guna mengeringkan tubuh dan ia kembali mengenakan pakaiannya dan segera mengganti pakaian di kamar tidur yang ia tempati.


Setelahnya, ia berencana menghubungi Alessa. Tetapi, bagaimana caranya dia menghubungi Alessa? Ponsel saja tidak ada, apalagi nomor Alessa. Katryn berpikir untuk meminjam ponsel Leni.


Katryn menuruni tangga dan mencari Leni, karena rumah yang amat luas, Katryn kesusahan menemukan pelayan tersebut. Well... tiga minggu berada di rumah ini, Katryn masih sedikit kesulitan mengingat ruangan demi ruangan.


“Apa di dapur?”batinnya bertanya.


Katryn berjalan ke arah dapur, di sana terlihat ibunya dan seorang pelayan sedang memasak sesuatu.


“Ma!”


“Ryn. Kamu sudah makan?” tanya sang ibu sambil fokus mengaduk adonan. Terdengar keantusiasan di dalam suaranya dan senyum lepas di bibir sang ibu.


Sejenak, Katryn tertegun melihat reaksi Aleysia. Antusiasme yang ibunya tunjukkan adalah sebuah hal yang tidak pernah Katryn saksikan sejak kehidupan mereka berubah dikarenakan Earnest.


“Katryna!” tegur Aleysia. Katryn mengerjapkan matanya beberapa kali dan berkata,


“Kamu sudah makan? Mama tanya malah melamun!”


“Belum, Ma.”


“Makan dulu, kamu pagi belum makan ‘kan?” Katryn mengangguk mengiyakan.


“Mama tahu dimana Leni?” tanyanya mengubah topik membicaraan.


“Di taman belakang. Ada apa?”


“Enggak ada. Aku ke belakang dulu ya, Ma!”


“Jangan lupa makan!” teriak sang mama.


“Iya, Ma!”


Sesampai di taman belakang, Katryn menemukan Leni sedang memegang sebuah pot bunga.


“Ibu Leni!”


“Cukup Leni saja, Nona.” Leni kembali mengingat Katryn.

__ADS_1


“Ah... aku lupa!” ucap Katryn, Leni tersenyum maklum.


“Tidak apa, Nona. Ada apa Anda memanggil saya?”


“Ah, ya... apa aku boleh menghubungi Alessa lewat ponselmu?” tanyanya dengan raut memohon.


“Tentu boleh, Nona. Akan tetapi, Nn. Alessa sangat sulit dihubungi jika ia sedang bertugas!” ucap Leni.


“Katakan aku ingin berbicara, penting!” balas Katryn.


“Baik, Nona.”


...***...


Dua hari setelah Katryn menghubungi Alessa, barulah gadis itu muncul saat sarapan pagi ini. Selesai sarapan, mereka berkumpul di ruang keluarga.


“Jadi ... apa kau akan melaksanakan keinginan yang kau bicarakan kemarin?” tanya Alessa.


“Apa?” tanya Katryn balik, ia kebingungan dengan pertanyaan Alessa.


“Astaga! Amnesia, ha?” sewot Alessa.


“Aku tidak mengerti, Alessa! Berbicara yang jelas, jangan bertele-tele!”


“Pekerjaan!” ucap Alessa ketus, geram dengan sikap Katryna yang berpura-pura tidak mengerti.


Ya, Katryn menghubungi Alessa agar menemaninya mencari pekerjaan di negara ini. Dia tidak bisa terus-terusan menjadi beban untuk Alessa. Walau Alessa mengatakan tidak keberatan, tetapi Katryn tahu diri Alessa telah membantu banyak keluarganya. Maka dari itu, Katryn berniat mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.


“Oh, itu... jadilah,” ucapnya kelewatan polos dan Alessa memutar bola matanya malas mendengar jawaban tersebut.


“Ya sudah, hari ini! Mumpung hari ini aku free,” ucap Alessa.


“Itu lebih baik,” ujar Katryn menyengir ke arah Alessa.


“Katryn...”


“Iya, Pa?” tanya Katryn sambil menoleh.


“Kamu ingin bekerja?” tanya sang papa, dan Katryn mengangguk.


“Apa tidak lebih baik jika kamu melanjutkan pendidikan saja? Untuk pekerjaan, papa bisa melakukannya,” ujar Thomas menyarankan.


Katryn kebingungan. Di satu sisi, dia ingin melanjutkan pendidikannya di bangku perkuliahan. Di sisi lain, untuk melanjutkan pendidikan itu, dia harus memiliki uang yang cukup. Biaya pendidikan di negara ini sangat mahal, belum lagi kebutuhan lainnya yang juga mahal.


“Apa yang papa kamu katakan benar, Katryn. Lanjutkan saja pendidikanmu, masalah uang papa dan mama akan mengusahakannya!” ucap Aleysia lembut.


“Katryn tidak ingin, Pa. Biar Marchell saja yang melanjutkan pendidikannya!” ucap Katryn.


“Oke. Bagaimana jika kau bekerja dan melanjutkan kuliahmu sekaligus?” tanya Thomas, Katryn menggeleng. Sungguh, Katryn ingin sekali melanjutkannya. Namun, terhalang oleh biaya yang tidak memadai.

__ADS_1


“Katryna... jika ekonomi yang kamu pikirkan, papa akan berusaha mencarinya. Sekarang kita semua bebas, tidak ada lagi Earnest yang menghalangi kita untuk mendapatkan penghasilan, Nak!” jelas Thomas perlahan, Katryn kembali menggeleng. Dia akan tetap pada pendiriannya!


...***...


__ADS_2