
...Telah direvisi!...
...Selamat membaca! ...
...-----...
Keributan lagi-lagi terjadi di pagi hari, si kembar memang tidak pernah diam barang semenit pun. Katryn dan Allard baru saja turun dan disambut dengan teriakan Nyle yang memarahi si kembar. Keduanya duduk di meja makan, seperti tradisi pasangan suamI-istri makan di satu piring yang sama.
“Maaf, Tuan dan Nyonya.” Selena mengintruksi semua mata memperhatikannya.
“Ada apa, Nak?” tanya Caroline lembut.
“Maaf, Nyonya. Ada masalah pengiriman bareng malam tadi.” Semua pandang mata beralih pada Allard.
Allard meletakkan sendoknya dan pergi begitu saja tanpa sepatah kata. Selena mengikuti sang tuan, sedangkan Katryn memperhatikan Selena sehingga wanita itu menghilang dari pandangannya.
“Pengiriman itu gagal?” tanya Lucas.
“Sepertinya begitu,” sahut Fillbert.
“Tidak biasanya gagal,” balas Lucas.
“Mungkin sengaja digagalkan oleh seseorang!” Nyle menyambung pembicaraan.
“Yaitu kau!” ucap Fillbert, Nyle terkekeh seolah tidak merasa bersalah.
Pembicaraan bisnis berkaitan transaksi gelap sudah biasa dibicarakan di depan keluarga. Maka dari itu, mereka tidak segan berbincang di depan anak-anak mereka.
Selesai sarapan bersama, mereka berpindah ke ruang keluarga. Malam ini seluruh keluarga akan pulang, kecuali Ruldolf yang memilih tetap di sini selama beberapa hari ke depan.
Katryn menyimak percakapan orang tua bahwa Evelyn akan dijodohkan dengan salah satu pengusaha kaya asal Spanyol. Di sini ia baru sadar, rata-rata keluarga Helbert menikah karena perjodohan. Sejak kecil jodoh mereka telah ditentukan oleh para tetua. Katryn mendengar hanya Fillbert dan Allard saja yang menolak keras perjodohan itu.
Sekarang Evelyn menentang keinginan sang kakek, tetapi Nyle tetap pada pendiriannya. Gadis itu meminta bantuan pada Fillbert, tentu sang ayah membela putrinya.
“Mengapa semua keturunanmu selalu menentangku?!” gerutu Nyle.
“Ya, sama sepertimu juga, Dad. Kau juga selalu menentang ayahmu,” ucap Cassandra. Fillbert terkekeh.
Ada sesuatu yang tidak dapat Katryn mengerti di keluarga ini. Mereka bisa seperti keluarga yang tanpa cacat sedikit pun, misalnya perebutan kekuasaan yang seringkali menjadi masalah utama bagi keluarga kaya. Buktinya setelah pengumuman bayi di dalam kandungannya akan menjadi penerus, Katryn tidak mendengar pertentangan dari pihak keluarga. Dilihat dari ekspresi wajah, mereka menerima.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Ruldolf berbisik padanya, Katryn menggeleng.
“Setiap keluarga punya masalahnya sendiri.” Katryn menoleh pada Ruldolf.
“Dari mana kau tahu aku memikirkan itu?” Ruldolf terkekeh.
“Menebak!”
Lama mereka berbincang, Cassandra mengajaknya untuk membuat sesuatu di dapur. Ternyata Aunty Allard satu-satunya ini sangat pandai dalam hal memasak. Cassandra banyak menceritakan usaha kue-nya yang kini tersebar di New York.
“Bagaimana?” Katryn mengangguk antusias.
“Aku suka, manisnya pas.”
“Itu cookies kesukaan si kembar.” Katryn mengangguk.
“Leon dan Neon lucu, selalu buat ketawa.” Cassandra tertawa.
“Boleh dibilang begitu, tetapi mereka lebih banyak buat marah. Tante sering pusing dengan kelakuan mereka yang tidak ada habisnya,” keluh Cassandra.
“Setidaknya mereka menghibur ba―”
“Dengar, Selena!” teriakan seseorang memotong perkataan Katryn.
“Tidak!”
“Selena, kapan kau menerimaku?”
__ADS_1
“Keynand,” ucap Cassandra yang hafal suara putranya.
Katryn mengerutkan dahinya bingung, ada hubungan apa Selena dan Keynand? Sejauh yang Katryn tahu, Keynand sangat irit berbicara. Jadi, tidak mungkin bukan Keynand berkata demikian jika mereka tidak memiliki kedekatan melebihi teman?
“Sepertinya dugaanku benar,” ucap Cassandra.
“Dugaan?” Carissa mengangguk.
“Keynand menolak perjohonan dengan Lyla. Aku rasa, putraku menyukai Selena.” Katryn mengangguk paham.
“Yaudah, yuk!” Katryn kembali mengangguk.
Ketika mereka berjalan ke arah ruang keluarga. Selena berdiri di depan ruang keluarga, meminta waktu Katryn sebentar. Selena tak berani menatap Ibu Keynand, seakan mengerti Cassandra meninggalkan mereka.
“Kita berbicara di taman saja,” ucap Katryn.
Di taman Katryn duduk di kursi yang menghadap langsung ke arah kolam renang. Kaki-nya pegal terlalu banyak berdiri, dan Selena berdiri di sampingnya.
“Duduk, jangan berdiri!” pinta Katryn. Selena tampak ragu, Katryn menyuruh Selena duduk di sampingnya.
“Saya yakin, Tuan Allard sudah menjelaskan pada Anda tentang masa lalu kami,” ucap Selena membuka pembicaraan. Katryn tersenyum tipis, ini alasan kenapa wanita ini meminta waktunya.
“Jadi, apa yang ingin kau katakan, Selena?”
“Maaf sebelumnya, Nyonya. Saya hanya ingin anda melihat saya sama seperti Uncle Jo. Saya tidak ingin Anda melihat saya sebagai mantan tunangan father.”
“Jujur saja, rasanya aneh mendengar kata tunangan,” ucap Katryn pelan.
“Maaf, Nyonya.” Selena menunduk.
“Selena, kau tak pantas meminta maaf padaku. Kalian bertunangan di saat aku dan Allard tidak ada hubungan apapun,” jelas Katryn. Mereka terdiam cukup lama.
“Father, sangat mencintai Anda.”
“Aku sebenarnya penasaran, kenapa kau memanggilnya father? Aku lihat, kau cukup dekat dengan keluarga inti dan sebelumnya aku pernah mendengarmu memanggil dia tuan,” ucap Katryn.
“Kau belum menjawab inti pertanyaanku, Selena.”
“Father memintanya, dia membatasi hubungannya dengan wanita lain, termasuk aku. Pertunangan kami dulu kurasa hanya sebatas status, father tidak pernah menganggapku lebih.”
“Lebih tidak akan pernah menyentuh hingga intim, Selena.”
“Tuan menyentuhku karena dia mabuk.” Katryn memejamkan matanya, topik sensitif sekali dipendengarannya.
“Kau mencintainya?” tanya Katryn.
“Maaf, untuk itu. Aku berjanji menghilangkan perasaan itu,” ucap Selena tertunduk malu.
“Lupakan suamiku, Selena. Ya, kalian punya hubungan masa lalu, tapi jangan sekali-kali kau berpikir untuk merebut suamiku,” ucap Katryn memberi penekanan.
“Aku berjanji tidak akan,” balas Selena bersungguh-sungguh.
“Bagus kalau begitu, kau bisa menjadi temanku!”
“Terima kasih, Nyonya. Kau memang wanita yang bisa mengimbangi father,” ucap Selena.
Katryn merentang kedua tangannya, Selena awalnya takut, tetapi memberanikan diri. Katryn memeluk wanita itu, Selena menangis di pelukannya. Katryn bersikap dingin pada wanita ini, sebagai bentuk perlindungan agar wanita ini tidak memandangnya lemah.
Hari ini Katryn dapat melihat sendiri, jika Selena mempunyai cinta yang sangat tulus untuk Allard. Bukan cinta yang berbalut obsesi. Katryn tenang dengan hal itu.
“Cukup sedihnya, cengeng.” Katryn melepas pelukan mereka.
“Aku tidak cengeng!”
“Kau menangis, itu bukti bahwa kau cengeng!” ejek Katryn. Selena mengusap air matanya, lalu tersenyum bahagia pada Katryn.
“Ngomong-ngomong, ada hubungan apa kau dengan Keynand?” tanya Katryn penasaran.
__ADS_1
“Tidak ada!”
“Jangan berbohong!”
“Aku jujur!”
“Oke, kau jujur. Tapi, kenapa kau berdebat dengan dia? Aku mendengar kalian berdebat,” ucap Katryn.
“Keynand menolak perjodohannya, Nyonya.”
“Karenamu?”
“Entahlah, Nyonya. Aku tidak paham, apa yang ia lihat dariku.”
“Selena, aku tidak akan ikut campur. Hanya satu yang ingin kusampaikan, jika kau menerima Keynand, aku akan mendukungmu!” ucap Katryn tersenyum tulus, kemudian meninggalkan Selena seorang diri.
Selena menolak Keynand, karena masih mencintai Allard, kan? Secara logika saja, Katryn juga akan melakukan hal yang sama, sebagaimana yang pernah terjadi, dia menolak Earland karena menunggu Allard.
“Istri dan mantan tunanganku sudah berbaikan, hm?” Sebuah suara yang Katryn kenali menyapa pendengarannya. Tidak ada raut menggoda di sana, datar saja. Katryn tidak berniat menanggapi, ia melewati sang suami.
...***...
Katryn beberapa hari belakangan ini disibukkan dengan kegiatan perkuliahannya secara online. Semuanya sudah mulai seperti semula, Allard pergi bekerja dan pulang pada sore hari. Lalu, pria itu mengurus keperluan bisnisnya di dunia gelap yang tidak Katryn pahami.
Ruldolf masih betah di sini, terkadang ia membantu Allard membereskan musuh-musuh. semenjak semua keluarga Helbert pulang dan sibuk pada urusan masing-masing. Mansion ini, menjadi sangat sepi.
“Nyonya!”
“Ada apa, Selena?”
“Apa kau sudah selesai?” Katryn mengangguk.
“Ajari aku membuat kue, please!” pinta Selena dengan puppy eyes.
“Ada apa denganmu?”
“Ayolah...” pinta Selena memohon.
“Baiklah-baiklah!”
Selena telah menyiapkan semua bahan dan tidak memberi izin Katryn untuk bergabung membuatnya. Katryn hanya diminta memberi arahan saja.
Katryn memberi arahan sesuai permintaan Selena. Tak lama, Ruldolf datang bersama Allard. Allard duduk di sampingnya dan Ruldolf duduk di samping Allard. Katryn melihat Selena kaku di tempat, ia menunduk malu menatap Allard.
“Kau sedang membuat apa, Selena?” tanya Ruldolf.
“Kue!”
“Aduk hingga rata, secara perlahan.” Katryn memberi arahan pada Selena. Allard memperhatikan Katryn yang terus memberikan arahan Selena. Katryn sadar, hanya mendiami saja.
“Kau mengabaikan suamimu?” Katryn tersenyum manis. Allard menghela nafas kasar, Katryn kembali dengan wajah senyuman yang menyebalkan.
Belum selesai Katryn mengarahkan, Allard menarik Katryn pelan ke kamar mereka, ia masih ingat sang istri hamil. Jika tidak, mungkin Allard akan berlaku kasar karena Katryn mengabaikannya.
“Jangan bergerak. Tunggu disini!” Ucap Allard sesampai mereka di kamar dan menundukkan Katryn di sofa.
Hanya butuh 10 menit, Allard telah selasai mandi dan berpakaian. Ia menghampiri Katryn, lalu mencium hidungnya.
“Aku tidak suka kau mengabaikan ku!” ucap Allard mencium kedua pipinya.
“Aku tak suka kau lebih mementing orang lain!” Allard mencium bibirnya.
“Jangan mengabaikanku lagi, mengerti?!” Katryn mengagguk polos dan tersenyum.
“Oh, God. Aku benci senyuman itu!” gerutu Allard dan mencium bibir Katryn kasar.
...***...
__ADS_1