
...Telah direvisi! ...
...Selamat membaca! ✨...
...---...
“Paman Jo, kau di sini? Sudah lama aku tidak melihatmu,”ucap Katryn pertama kali melihat Jordan. Sedangkan Allard memutar bola matanya jengah, peduli sekali dia dengan bawahannya ini!
“Iya, Nyonya. Saya memiliki urusan di sini,” jawab Jordan sopan.
“Peduli sekali kau dengan dia!” komentar Allard, Jordan diam-diam tersenyum melihat kecemburuan sang tuan.
“Aku bukan kau!” balas Katryn.
“Kau terlalu sibuk menanyakan orang lain, berlebihan!” dengus Allard.
“Apa salahnya? Itu namanya beramah-tamah,” ucap Katryn membela diri.
Tak sabaran, Allard menarik Katryn memasuki mobil. Butuh waktu sejam lebih mereka sampai di sebuah rumah besar bergaya minimalis. Terkesan mewah dan indah dipandang mata, Katryn menyukai desain rumah ini.
“Katryna... aku merindukanmu,” sambut Marchell pertama kali memeluk Katryn.
“Aku juga. Sudah lama sekali kita tidak bertemu,” balas Katryn.
Katryn beralih memeluk kedua orang tuanya. Kemudian, mereka bercengkerama, kecuali Allard yang hanya diam mendengarkan.
“Nak Allard, bagaimana kabar orang tuamu?” tanya Thomas membuka pembicaraan dengan Allard, Katryn menoleh pada sang suami.
“Baik. Mereka memberi salam padamu dan Mama Aleysia,” jawab Allard. Katryn menggeleng heran, Allard ditanya dulu baru menyampaikan salam kedua orang tuanya, aneh.
“Salam kembali pada mereka. Kapan-kapan ajaklah mereka kemari,” ucap Thomas.
“Tentu, Pa.” Sebuah senyum terbit di bibir Allard, Katryn seketika takjub.
Sebatas itu saja, Allard kembali dalam mode diamnya. Kedua orang tua Katryn memakluminya, terbiasa dengan sikap menantu mereka yang sedari dulu cenderung pendiam, kecuali pada Katryn
“Allard ... dulunya mengenal kita, kan, Pa?” Tiba-tiba Katryn bertanya.
“Kau mengingatnya?”
“Sedikit. Lebih banyak Alessa yang menceritakannya,” akunya.
“Kau dan Allard dulunya sangat dekat. Ke mana Allard pergi, kau suka mengikutinya.”
...***...
Menghabiskan malam terakhir di Itali, Allard menawarkan makan malam bersama di luar. Katryn setuju, demikian juga dengan keluarga Katryn. Satu hal menarik Katryn dapatkan, Allard begitu berbeda dua hari terakhir ini, suaminya lebih banyak tersenyum dan begitu hangat.
“Sudah selesai, Amour?” tanya Allard yang baru memasuki kamar.
“Sedikit lagi.”
Allard duduk dimeja rias berhadapan dengan Katryn. Memandang wajah cantik dihadapannya, tak pernah membuatnya bosan. Katryn seolah tak peduli, memoles lipstik bewarna merah yang terlihat cocok di bibirnya.
“Want to wear this?” tanya Katryn bermaksud bercanda seraya memperlihatkan lipstik kedepan wajah Allard.
__ADS_1
“Yes!” ucap Allard, lalu dengan cepat menyambar bibir Katryn.
“Bagaimana? Sudah, bukan?” Katryn kaget.
“Not funny!” ketusnya.
Ia memoleskan kembali lipstik tersebut. Kemudian, meninggalkan Allard tanpa mengajak turun. Allard terkekeh senang. Baiklah, dia hanya bercanda.
Bagaimana mungkin seorang pria memakai seperti itu. That’s crazy man! Batinnya. Mengambil selembar tisu, Allard mengusap bibirnya dan menyusul sang istri.
Allard memilih sebuah restoran terbaik di Itali, yaitu VUN Andrea Aprea. Mereka menikmati makan malam dengan tenang. Perbincangan demi perbincangan mengalir apa adanya. Selesai dengan santapan mereka, Katryn meminta pada Allard segelas es krim coklat.
“Masih sanggup menghabiskannya?” tanya Allard pelan, Katryn menganggguk.
Allard mengangkat tangannya memanggil pelayan, lalu memesan keinginan Katryn. Tiba pesanan di depannya, Katryn mengucapkan terima kasih. Saat tengah asyik dengan es krim-nya, Katryn terlonjak kaget karena suara tembakkan memekakkan telinga.
Allard sangat jeli, matanya beralih pada asal tembakan tersebut. Ia memegang tangan Katryn yang gemetar.
“Jordan, tangkap pria itu!” teriak Allard, Jordan berlari cepat mengejar sang pelaku.
“Earnest...” Suara lirihan Katryn membuat Allard secepat kilat menoleh pada Katryn, pandangan wanitanya berpusat pada titik di ujung sana.
“Hai, My Baby Cat.”
Katryn ketakutan, genggamannya di tangan Allard menguat. Bayangan perlakuan pria itu terngiang-ngiang di kepalanya.
“Its okey. Kau aman,” bisik Alllard menenangkan.
“Hai Mr and Mrs Vinson...” sapa Earnest tersenyum manis.
“Hai, Marcell.”
Allard menuntun Katryn berdiri, wanitanya menurut seraya tidak melepaskan genggamannya. Kedua orang tua Katryn dan juga Marcell sudah berdiri di belakang Allard berkat tuntunan pengawal Allard.
“Pergi dari sini, Ford!” peringat Allard pelan.
“Aku sedang merindukan kekasihku, Helbert. Beri aku kesempatan bertemu wanita dipelukanmu itu,” balas Earnest.
“Tutup mulutmu itu, dia istriku!” Earnest tertawa mengejek,
“Kau bertanya-tanya, ya? Kenapa aku bisa lepas? Kenapa aku bisa mengetahui acara keluarga kalian ini?”
“Gampang sekali, kau tidak sehebat itu rupanya!” cecarnya.
“Tahu, kau menghabisi bawahanku. Jadi, kuputuskan melepaskanmu!” jawab Allard santai.
“Oh, begitu? Kau menyayangi bawahanmu ternyata!”
“Tidak juga. Ingin melihat sampai mana kemampuanmu dan orang yang membantumu,” ucapnya.
Allard mengangguk sekali pada Jordan yang kini sudah berada di belakang tubuh Earnest. tidak lama pria itu tumbang karena obat bius yang Jordan suntikkan.
...***...
Katryn fokus mencatat materi yang disampaikan dosen seraya mendengarkan materi yang dijelaskan. Tiba-tiba, pintuk kelas diketuk oleh seseorang.
__ADS_1
“Selamat siang, Mr. Axel. Maaf saya terlambat.” Katryn spontan menoleh ke depan.
“Miss Green, right?”
“Benar, Sir.”
“Oke. Silakan masuk, tapi kedepannya jangan terlambat lagi!”
“Baik, Sir. Terima kasih banyak!”
Katryn melongo di tempat, di sana Alessa dengan santainya berjalan ke arahnya. Ia mengedip pada Katryn dan duduk di kursi belakangnya.
“Long time no see you, Mrs Helbert.” Alessa berbisik pelan yang masih dapat didengar Katryn.
Mr. Axel menutup kelas siang ini sejam kemudian. Lauren dengan riangnya menyapa Alessa, Katryn tersenyum ketika Alessa mengenalkan dirinya sebagai Green. Tidak heran, Alessa mengubah identitas diri sama sepertinya.
“Elena, setelah ini ada kelas lagi?” tanya Lauren, Katryn menggangguk.
“Yah... padahal mau ngajak nongkrong.”
“Lain kali saja,”tolak Katryn lembut.
“Nah, bagaimana denganmu Mrs Green?”
“Aku juga ada kelas,”jawab Alessa santai.
“Ya sudah kalau begitu. Aku ingin ke perpus saja,” ucap Lauren tak bersemangat.
“Bye, Elena. Bye, Green!” pamitnya berlari.
"Hiperaktif," komentar Aleesa menatap kepergian Lauren.
“So, kenapa kau bisa berada di sini? Di kampus yang sama denganku pula!”tuntut Katryn.
“Permintaan Allard,” jawab Alessa.
“Allard?”beonya.
“Ya. Dia memintaku menjagamu.” Katryn mengehela nafas.
“Ayo. Lima menit lagi kelas akan dimulai,” ajak Alessa.
“Kau juga?”
“Jadwalku dan jadwalmu sama.”
“Sejak kapan seorang Alessa menyukai pelajaran?” sindirnya dan Alessa terkekeh, benar apa yang dikatakan Katryn, Alessa tidak suka pelajaran secara teori.
Di kelas mata kuliah desain, Katryn bosan mendengar gerutuan Alessa. Tiada hentinya mengatakan, lebih baik aku bertarung daripada mendengar ocehan dosen. Bahagianya Alessa ketika dosen mengakhiri kelas. Katryn memutuskan mengajak Alessa makan Alessa, perutnya tiba-tiba lapar.
“Apa hanya aku yang merasa kalau kau ini aneh?” tanya Alessa saat mereka berada di sebuah kafe.
“Aneh kenapa?”tanya Katryn.
“Es krim. Kau tidak biasanya memakan itu,” komentar Alessa.
__ADS_1
“Aku merasa juga begitu.”
“Kau hamil?” Gerakan Katryn yang menyendok es krim terhenti.