Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 68. Traumatic


__ADS_3

...Telah direvisi! ...


...Mengandung kesedihan!!...


...Aku nulis itu gak kuat. Mata berkaca kaca!!...


...HAPPY READING!!...


...-----...


Dua bulan kemudian~


Allanzel berumur dua bulan dua minggu. Hari di mana yang paling Katryn hindari, akan tetapi pendapatnya kalah dengan pendapat semua keluarga Helbert yang mendukung Nyle, termasuk Allard. Pria itu setuju atas ucapan Nyle, sedangkan Fillbert sependapat dengannya. Katryn berdebar tak kuat menjalani hari ini, tangisnya pecah.


“Sayang, mom pernah di posisimu. Reaksi dad saat itu sama seperti yang Allard lakukan. Semua orang tidak akan menang melawan Nyle.”


“Jangan menangis dihadapan anak tampan ini, dia juga pasti merasakan kesedihan ibunya.” Caroline menghapus air matanya.


Mereka sekarang berada di markas utama. Jantung Katryn ingin lepas rasanya, semua telah berada di ruang tinju, di depan sana dua orang bersiap untuk bertarung di atas ring. Allanzel tidak melihat karena berada di gendongannya. Tapi, bayi akan bisa mendengar lebih jelas di sekitarnya.


Katryn duduk, sedangkan Caroline, Fillbert, Nyle dan Allard berdiri di samping kanan dan kirinya. Bertarungan dimulai, Allanzel masih tersenyum dan melihat ke arahnya. Namun, saat suara tinju yang semakin terdengar. Allanzel mulai bergerak tidak nyaman dalam gendongannya.


“It’s okey, Baby.” Katryn menepuk bokong Allanzel menenangkan.


Bukannya semakin tenang, Allanzel semakin bergerak gelisah dan berakhir menangis kencang. Katryn langsung keluar dengan langkah cepat, tangisnya meledak melihat sang anak menangis sangat kencang dan bergerak gelisah menandakan ketakutan. Caroline langsung menyusul dan membawa Katryn masuk ke dalam mobil. Selanjutnya, disusul oleh Fillbert dan Allard.


Allard mengemudi mobil tersebut, Katryn berada di belakang bersama Caroline sedikit pun tidak membuka suara. Caroline memberikan sebotol air pada Katrym, tetapi Katryn tolak.


Beberapa jam di perjalanan. Mereka sampai, dan Katryn langsung turun dari mobil. Ia menidurkan Allanzel di box yang telah tertidur selama diperjalanan tadi. Setelah meletakkan Allanzel, Allard masuk dan duduk di atas kasur. Ia memperhatikan Katryn yang masuk ke kamar mandi. Allard menghela nafas, merasa bodoh dengan sikapnya.


Dia juga merasa sakit mendengar tangisan Allanzel. Allard berjalan ke arah box memandang Allanzel, dia mengingat masa lalu itu, di mana dia harus melihat darah di usianya yang masih sangat kecil..


Pintu kamar mandi terbuka, Katryn keluar dengan handuk menutupi tubuhnya. Dia berjalan ke arah walk in closet, dan tak lama keluar dengan daster rumahan.


“Aku tidak ingin bayiku dididik dengan cara seperti itu,” ucap Katryn tanpa berbasa basi.


“Nanti. Sesudah dia dewasa, kalian bisa mendidiknya dengan keras!” Allard hanya diam. Setelah lama Allard diam, dia berkata dengan tawa yang lirih:


“Bayiku...”


“Ya, bayiku!” tegas Katryn.


“Jika bukan karenaku, Allanzel tidak ada,” ucap Allard dengan suara yang pelan. Katryn tertawa meremahkan.


“Seharusnya, Allanzel tidak punya ayah sepertimu!” Allard berhenti mengelus bayi kecil itu. lalu, matanya memandang Katryn dengan sarat kesedihan.


“Kau hanya diam melihat Allanzel menangis!” ucap Katryn berteriak.


Allanzel terbangun, dan menangis kencang mendengar suara teriakan itu. Allard yang berada di samping box mengendong Allanzel.


“Kau tidak berbuat apapun!” teriak Katryn mulai emosi.


“Ya. Aku tak bisa berbuat apapun, Katryna!” Allard menjawab dengan sedikit nada yang tinggi.


Allanzel semakin menangis. Pintu kamar mereka terbuka, Caroline masuk mendengar tangisan Allanzel. Dia paham, Allard dan Katryn butuh waktu untuk membahas masalah ini. Caroline meminta Allanzel dari gendongan Allard.


“Kalian boleh bertengkar. Tapi, jangan dihadapan Allanzel.” Nasihat Caroline pada mereka berdua. Lalu, Caroline keluar memberi waktu mereka untuk berbicara.


Keduanya hanya diam, Katryn ingin mengeluarkan semua kata-katanya, tapi tangisan Allanzel berputar di kepalanya.


“Kau tidak bisa melindungi Allanzel dari kakekmu.”


“Katryna, apa yang harus aku lakukan? Nyle, akan mencelakai keluargamu jika aku menolak itu...” lirih Allard. Katryn menatap Allard tak percaya.


“Keputusanku sekarang pun membuatmu marah,” lanjut Allard.

__ADS_1


“Apalagi jika Nyle mencelakai keluargamu.” Allard menghela nafas, menghilangkan rasa sesak di dadanya.


“Aku tahu apa yang ada dipikiranmu saat ini, kau ingin meninggalkanku,” ucap Allard dengan mata berkaca-kaca dan suara serak menahan tangis.


“Keluar!” Katryn berteriak. Allard berdiri, menatap Katryn yang berdiri sedikit jauh.


“Sebesar apapun keinginan itu. Aku harap, kau tidak meninggalkanku.” Allard berucap, lalu menelan ludahnya dengan bersusah payah.


“Sejauh apapun kau meninggalkanku, aku akan mendapatkanmu, tidak peduli dengan cara keji sekalipun!” ucap Allard, ia mendongak sedikit guna menghalau air mata. Lalu, Allard berjalan keluar meninggalkan Katryn. Pintu tertutup dan Katryn jatuh terduduk di lantai. Menangis sebisa mungkin, mengeluarkan rasa sakit dan sesak ini.


Inilah alasan Allard mendiami Katryn, dia tidak tega mengatakan pada Katryn. Namun, pada saat Nyle berbicara padanya di meja makan berdua saat itu, Nyle memberikan pilihan tersebut. Allard bimbang ingin memilih keputusan yang mana, pemikiran Nyle susah di tebak.


Dan pembicaraan Katryn dan Aleysia semakin mendominasi pemikiran Allard. Jangan menanyakan, darimana Allard tahu. Dia punya mata-mata yang selalu melaporkan apapun yang Katryn lakukan, termasuk Katryn berbicara pada Nyle di ruang musik.


Katryn adalah wanita yang mudah ditebak. Dia hapal bagaimana pola berpikir Katryn. Dan pilihan meninggalkannya adalah yang tepat saat ini dipikiran wanita itu.


Allard turun dan menemukan ayah dan ibunya duduk di kursi tamu. Matanya beralih pada Allanzel, yang tertidur di gendongan Caroline.


Allard mendekati Caroline dan terduduk dihadapan sang ibu. Tangannya terulur, Caroline memberikan Allanzel padanya. Matanya menatap Allanzel lekat, lalu air matanya mengalir setetes demi setetes. Allard menatap anaknya dengan pandangan sedih luar biasa.


“Maafkan aku. Karenaku, kau harus menghadapi semua bahaya di masa yang akan datang.” lirih Allard.


Fillbert yang duduk di sebelah Caroline, membuang wajahnya agar tidak menatap pemandangan berat itu.


“Aku mencintaimu..” lirihnya, lalu mencium dahi Allanzel pelan.


Kembali Allard menyerahkan Allanzel pada Caroline. Allard berdiri, dan tanpa sepatah kata pun meninggalkan Allanzel pada kedua orangtuanya yang menangis.


...***...


Katryn menghampiri Caroline yang tengah mengendong Allenzel. Caroline menyerahkan bayi itu pada Katryn.


“Dad kemana, Mom?”


“Keluar, urusan kantor.”


“Belum kembali sejak kemarin malam.” Katryn mengangguk.


“Makan dulu. Biar Anzel bersama mom,” ucap Caroline dan Katryn mengangguk.


Menyerahkan Allanzel kepada Caroline. Wanita yang melahirkan Allard itu, memandang kepergian Katryn dengan rasa tidak tega. Pasti rasanya marah, begitupun dengan dia dulu. Berada di keluarga ini tidak seperti yang orang pikirkan. Mereka punya banyak harta, mereka punya keluarga harmonis. Tapi, di balik ke harmonisan itu, ada kejadian yang sulit di hadapi.


Malam hari Allard pulang. Keadaanya baik, akan tetapi ekspresi wajahnya semakin datar. Dia mengabaikan panggilan Caroline yang memanggilnya. Katryn meminta tolong pada Caroline untuk menjaga Allanzel sebentar. Sementara, dia menyusul Allard yang berjalan ke ruang kerja.


“Kau mabuk?”


“Apa yang bisa kulakukan selain itu?”


“Bermain dengan wanita, misalnya!” ucap Katryn santai.


“Kau sudah berpikir jernih sekarang?”


“Mungkin!”


“Lalu apa? Aku tidak ingin berdebat sekarang!”


“Aku ingin tinggal bersama keluargaku selama seminggu kedepan!” ucap Katryn.


“Kau ingin meninggalkanku?”


“Mungkin!” Allard emosi dengan jawaban yang membingungkan itu, ia membanting benda apa saja yang berada di meja kerjanya. Allard menopang kedua tangannya di atas meja seraya menunduk.


“Katryna. Jika ingin membuatku emosi, jangan sekarang!” Allard memperingati.


Katryn berjalan mendekati Allard. Ia memegang tangan Allard di atas meja, menuntun Allard untuk duduk. Lalu, Katryn duduk di atas pangkuan Allard. Sedangkan Allard, menutup matanya, ia sangat lelah dengan emosi yang menguasainya.

__ADS_1


“Mom, menceritakan padaku. Kau memiliki trauma di masa kecil dengan didikan kasar itu,” ucap Katryn lembut.


“Malam itu, pikiranku dipenuhi kenegatifan,” ucap Katryn mengelus lengan Allard.


“Katryna. Melihat Allan menangis, seperti melihat diriku di masa kecil. Nyle memberi hukuman yang tidak bisa kuterima!” cerita Allard lirih.


“Aku tahu.”


“Kau hebat. Kau bisa melewati semua traumamu,” ucap Katryn memeluk Allard. Rasa emosi dan kegelisahan Allard berangsur membaik.


“Kau akan meninggalkanku, kan?”


“Tidak, Allard.”


“Kau bohong.”


“Aku rindu keluargaku.” Allard menghela nafas.


“Kau berjanji, tidak meninggalkanku?”


“Hellbert. Kau sendiri yang mengatakan, kau akan mendapatkanku kembali, apapun caranya!”


“Biarkan mereka yang menginap disini," ucap Allard.


...***...


Mereka sampai di mansion baru keluarga Vinson. Katryn pertama kali menginjak kaki di mansion ini tersenyum, terasa seperti ia pulang ke rumahnya. Nuansa cream―warna kesukaan Thomas―tidak lepas dari mansion ini. Walau tidak sebesar Mansion Helbert, Katryn lebih nyaman berada di sini.


"Welcome, Princess!" Thomas menyambut seraya merentangkan tangannya.


"Papa!" Katryn berlari memasuki pelukan hangat sang ayah. Tangannya yang sedang mengendong Allanzel, mengakibatkan ia susah membalas pelukan sang ayah.


Allard disambut baik oleh Thomas. Tentu Allard merasa senang, pasalnya setelah Thomas mengetahui pekerjaannya di dunia gelap, Thomas sempat marah dan meminta Katryn kembali. Berkat cinta besar Allard pada Katryn selama ini, Thomas mempercayai Allard yang akan menjaga putrinya.


"Sekitar empat hari yang lalu, Caroline dan Fillbert menemui kami," ucap Thomas, setelah mereka duduk di ruang tamu.


"Mereka mengatakan apa?” tanya Allard.


"Tidak ada. Hanya berkunjung dan memberikan tiket liburan."


“Kalian akan berlibur, tanpaku?” protes Marcell.


"Ya.”


"Kapan?”


“Minggu depan.”


Bercakap sebentar, Allard akhirnya pamit pulang. Katryn mengantarkan Allard hingga pintu keluar.


"Persyaratan itu minggu depan, bukan?" tanya Katryn lemas.


"Minggu depan, kita akan berlibur."


“Maksudmu, semacam pelarian?”


“Bisa dikatakan begitu.”


“Allard...” ucap Katryn, lalu mendesah.


"Jika kau siap, Katryna."


“Kau tidak pernah memanggil ‘Katryna’ dengan selembut itu,” komentar Katryn kesal. Allard diam saja, dan Katryn menghela nafas kuat.


"Aku belum siap!" ucap Katryn menatap Allard.

__ADS_1


"Maka, kita akan berlibur!"


__ADS_2