
...Telah direvisi!...
...-----...
Mereka tiba di tempat Katryn di sekap. Tak ada pilihan, mereka harus kembali ke tempat itu, karena Allard harus segera ditangani. Darick dan Jordan, berada di dalam ruangan sana mengobati Allard. Tak lama Jordan keluar, memberitahu Allard kekurangan darah.
Alessa melihat Selena menangis mendengarkan perkataan Jordan, sedikit merasa keanehan dengan wanita ini. Selena menawarkan diri mendonorkan darahnya. Aleesa menghela nafas, menyingkirkan pemikirannya.
Setidaknya ia bersyukur sebelumnya mereka menyiapkan segala sesuatu dengan baik, dan untung di sini Darick dan Jordan paham tentang kedokteran sehingga mempersingkat waktu dalam mengobati Allard..
Pintu terbuka, Selena keluar dengan senyuman kecil. Lalu, menghampirinya dan memeluk Alessa erat. Dia tahu, bagaimana perasaan Selena terhadap Allard. Pandangannya beralih pada Katryn yang berbaring di atas sofa.
Beberapa saat kemudian. Allard, Darick dan Jordan keluar. Alessa tentu mengeluarkan sumpah serapahnya pada Allard, pria itu meminta untuk pulang sekarang juga. Sedangkan dia masih dalam keadaan yang lemas dan jangan lupakan tangannya di inpus dengan sekantong darah yang di pegang oleh Darick.
“Kau tidak perlu menceramahiku,” ucap Allard lemas.
“Allard, pikirkan kesehatanmu!” peringat Aleesa
“Katryn sedang hamil dan harus di periksa,”paksa Allard.
“Aku tak ingin terjadi sesuatu pada mereka,” sambung Allard.
Allard mengangguk pada Jordan. Lalu, Jordan berjalan ke arah Katryn dan mengendong Katryn perlahan. Selanjutnya, mereka meninggalkan tempat itu.
...***...
Jordan menatap lekat nyonya-nya yang betah sekali tidur. Delapan jam telah berlalu, belum ada tanda bahwa Katryn akan bangun. Di samping ranjang Katryn, terdapat Allard yang juga sedang tertidur.
Dia jadi teringat, ketika sampai di rumah sakit ini, tuannya lebih mementingkan sang nyonya dibanding dengan dirinya. Hingga Aleesa yang jengah dengan kekerasan kepalaan Allard, meminta pada dokter untuk menyuntikkan obat tidur. Akhirnya sang tuan dapat memejamkan matanya setelah memaki Alessa.
Jam menunjukkan pukul satu dini lewat lima menit, Jordan dikejutkan dengan kedatangan Fillbert. Tuan besarnya ini datang dengan wajah tak senang dan kemarahan. Jordan menutupi rasa takutnya, sebab ia belum memberitahu perkara ini pada sang tuan.
“Apa yang terjadi? Jelaskan padaku Jordan, jangan kau tutupi!” Jordan menceritakan semuanya.
“Kenapa kau tak mengatakan padaku, Jo?”
“Maaf, Tuan. Mr Nyle meminta saya untuk tidak mengatakan apapun pada Anda,” ucap Jordan menunduk.
“Dad?!”
“Benar, Tuan.”
“Tua bangka itu!” geram Filbert.
“Kau memanggilku tua bangka, Boy?!” Tiba-tiba, Mr Nyle sudah berada di depan pintu menatap anaknya santai.
“Ya. You are!”
__ADS_1
“Jo. Pulanglah, kau butuh istirahat!” ucap Mr. Filbert.
“Baik, Tuan. Saya permisi!” pamit Jordan.
Kepergian Jordan, membuat suasana di ruangan tersebut panas. Filbert menatap ayahnya tajam, kesal bukan main pada ayahnya.
“Aku ingin berbicara di luar!” ucap Filbert, lalu berlalu keluar ruangan.
Kakek Allard ini mengikuti Filbert, memasang wajah tanpa dosa. Nyle berdiri, sedangkan Filbert duduk di bangku yang di sediakan di di depan ruangan.
“Dad, apa kau ingin membunuh cucumu sendiri?!”
“Tidak sama sekali!” ucap Kakek Allard santai.
“Kau benar-benar tak punya hati!”
“Anak dan bapak sama saja. Sama-sama mengatakan ku tak punya hati,” ucapnya merajuk.
“Dad!!” Filbert geram pada sang ayah.
“Kau ingin menanyakan hal itu, kan?” Nyle menatap anaknya lekat.
“Dia harus menyelesaikan masalahnya, tanpa bantuan darimu atau pun dariku.”
“Lagipula. Dia berhasil bukan, mengalahkan musuh-musuhnya,” sambung Nyle.
"Ya! Dan cucumu hampir mati kehabisan darah!" sengit Filbert.
"Karena dia istri dari cucumu!!" ucap Filbert membela Katryn. Nyle menatap anaknya malas.
"Lalu, masalahnya apa?" tanya Nyle merasa sang anak terlalu mempermasalahkan masalah ini.
“Masalahnya adalah, aku tidak tahu apapun masalah ini!” balas Filbert semakin sengit.
“Apa kau tidak mengerti, Dad. Aku khawatir padanya. Sedangkan kau, kau sengaja menutup mulut orang-orangku untuk tidak mengatakannya padaku!” ucap Filbert kesal.
“Filbert. Jika kau tahu, kau akan mengirim bantuan padanya.”
“Dan itu memang yang akan kulakukan?!”terang Fillbert.
“Dia harus belajar melakukan sesuatu, tanpa bantuan orang lain!”
Filbert terdiam, bukan dia tak mempunyai argument. Hanya saja, percuma berbicara pada sang ayah. Nyle mendidik keturunanya dengan sangat keras. Walaupun cara mendidiknya dengan cara yang kasar, tetapi di balik itu Nyle adalah seorang kakek yang yang baik.
Dia mengerti kenapa Nyle mendidik keturunannya seperti itu. Keluarga mereka, bukanlah keluarga yang biasa. Banyak musuh yang ingin menghancurkan keluarga mereka. Maka dari itu, Nyle mendidik mental dan fisik mereka agar tidak takut dan mengubah karekter mereka menjadi kuat.
“Dad. Jangan pisahkan Allard dan Katryn seperti apa yang pernah kau lakukan padaku dan Caroline,” ucap Filbert memohon setelah beberapa saat mereka terdiam.
__ADS_1
“Aku tidak janji!”
"Wanita itu hanya akan menjadi kelemahan untuk cucuku," lanjut Nyle lagi.
...***...
Ruang rawat Katryn dan Allard ramai oleh Aleesa, Caroline, Evelyn, Selena dan Darick. Tidak ada yang bersuara, mereka hanya diam menunggu keduanya siuman. Jam menunjukkan pukul delapan pagi, baik Allard dan Katryn belum membuka matanya sejak kemarin. Keduanya tampak lelah setelah kejadian kemarin, terlebih Katryn.
Tak lama kemudian, Allard terbangun dengan rasa sakit kepala yang luar biasa. Selena yang sadar terlebih dahulu, menghampirinya.
“Tuan, Anda sadar!” seru Selena gembira.
Semua orang menghampiri Allard, sedangkan Aleesa dan Darick hanya duduk di sofa melihat saja. Tak berniat menghampirinya, mata Aleesa lagi-lagi menatap Selena yang menangis tersedu-sedu.
“Rasa itu sangat besar,” batin Aleesa menyimpulkan.
Tanpa mereka sadari, Katryn perlahan-lahan membuka matanya. Ia mengedarkan pandangannya, matanya terkunci tepat pada Selena yang menangis. Katryn membuang pandangannya, matanya terpejam membayangkan hari kemarin yang mengerikan baginya. Ia memijat pelipisnya pelan untuk mengurangi rasa pusingnya.
“Katryn!” ucap Aleesa sadar tangan Katryn yang memijit pelipisnya.
Katryn kembali membuka matanya, menatap Aleesa yang sudah berdiri di kaki ranjang. Semua mata beralih pada Katryn, termasuk Allard yang membalikkan kepalanya ke arah kanan demi melihat sang istri. Tubuhnya telungkup karena luka tusukan itu cukup dalam, jadi dokter menyarankan posisi Allard telungkup.
Alessa dengan sigap membantu Katryn bangun dan menyandarkan beberapa bantal di punggung Katryn agar sahabat ini bersandar lebih nyaman.
“Bayiku?” ucap Katryn serak. Alessa menyerahkan segela air putih dan disambut Katryn dengan baik.
“Dia bayi yang kuat, dia baik-baik saja,” jawab Alessa setelah Katryn selesai meneguk air putih tersebut. Katryn menghela nafas lega.
“You okey, Dear?” tanya Ibu Allard sendu kini beralih duduk di samping Katryn.
“I'm okey, Mom,” jawab Katryn dengan nada yang sedikit serak.
“Katryna...” lirih Allard.
“Satukan saja ranjang mereka, dan setelah itu ayo kita tinggalkan mereka!” usul Darick mengerti. Allard tidak bisa bergerak banyak ingin menemui istrinya secara langsung.
Darick yang hanya laki-laki di sini berinsiatif menggeser ranjang Allard agar bersatu dengan ranjang Katryn. Ketika ranjang telah di satukan, Allard memegang tangan Katryn erat.
“Allard bagaikan anak kehilangan induknya!” komentar Aleesa sarkas dan pergi. Caroline dan Evelyn terkekeh mendengar itu.
“Amour!” Ucap Allard lirih.
Panggilan yang amat sangat Katryn rindukan dan ingin dia dengar langsung dari pria ini, yang akhirnya dapat dia dengar. Air mata Katryn lolos, kembali membayangkan tusukkan itu tepat di hadapannya.
“Allard, berbaring saja. Punggungmu masih sakit,” ucapnya pelan ketika Allard ingin bangun.
“Aku ingin memelukmu,” balas Allard. Katryn tersenyum, ia mengelus rambut Allard.
__ADS_1
“Punggungmu sembuh dulu, aku tidak mau kau memaksa diri.”
...***...