Psychopath & My Possessive Devil

Psychopath & My Possessive Devil
Chapter 70. Gone


__ADS_3

...Telah direvisi!...


...Selamat membaca! ...


...---...


Katryn tengah mendengar cerita Selena bersama Alessa di taman kolam teratai. Selena bercerita bahwa hubungannya dengan Keynand begitu rumit, Katryn tidak begitu mengerti kisah cinta kedua manusia ini. Sejauh yang Katryn tangkap, Selena terkesan menjauh dari Keynand. Satu hal lainnya adalah, Keynand kabarnya akan segera melamar Lyla dalam waktu dekat.


Kini giliran Alessa yang bercerita masalah Nick, dia masih dalam kebimbangan dengan sikap Nick. Kadangkala pria itu menanyakan Alessa secara langsung pada Allard, Katryn juga sempat memperingati Nick agar tidak menyakiti sahabatnya itu.


“Siapa?” tanya Katryn menatap Alessa yang memandang ponselnya lama.


“Katryn, ini bukan waktu yang pas untuk aku mengatakannya.”


“Apa? Jangan membuatku penasaran!” gerutu Katryn kesal.


“Aku akan mengatakan nanti.”


“Tidak, sekarang!” paksa Katryn, hatinya mulai tak tenang.


“Uncle Thomas ... dia meninggal.”


“Apa? Tidak mungkin! Jangan bercanda, Alessa! Tidak lucu!”


“Uncle Jo, dimana papaku?” tanya Katryn langsung ketika melihat Jordan datang dengan wajah panik.


“Nyonya, lebih baik Anda―”


“Tidak, katakan sejujurnya! Jangan coba-coba menyembunyikannya dariku!” potong Katryn cepat.


“Beliau sudah meninggal,” ucap Jordan menunduk. Katryn sangat tidak sapat mempercayai itu, detik itu pula Katryn jatuh tak sadarkan diri.


Alessa meletakkan kepala Katryn dipangkannya, tangannya menepuk pipi Katryn pelan seraya memanggil namanya.


“Paman, hubungi Allard!”


“Tidak terhubung.”


...***...


Katryn menatap mata Aleesa lekat, berharap itu adalah kenyataan semu. Namun, hati kecil Katryn berkata itu benar. Katryn tidak tahu harus melakukan apa, pikirannya kosong.


"Amour.”Allard duduk di samping ranjang membelai kepala Katryn.


“Nyle yang membunuh papa?”

__ADS_1


“Iya ‘kan? Jawab, Al!” paksa Katryn. Allard memeluk Katryn, hatinya merasakan kesedihan yang Katryn rasakan.


“Benar, bukan? Nyle membunuh papa?” Katryn terus saja meracau.


Allard memejamkan matanya, bukti yang terungkap menyatakan Nyle lah yang membunuh Thomas. Allard benar-benar marah karena Nyle berani menyentuh keluarga Katryn. Nyle boleh menyiksa dirinya dengan cara apapun. Dia tidak peduli seberat apa siksaan itu, akan tetapi, ketika bersangkutan dengan Katryn dan keluarganya, artinya Nyle mengibarkan bendera perang!


Siang hari mereka tiba di mansion Vinson. Katryn terpaku di tempat, jasad sang ayah terlihat berada di dalam peti mati. Ini bagaikan mimpi buruk, Katryn mencubit dirinya agar terbangun dari mimpi ini.


"Papa..."


Ini nyata, ini bukan mimpi. Katryn dapat menyentuh wajah itu. Tidak ada raut ketegangan, hanya ada senyum di wajah Thomas. Bukankah, ketika seseorang mati terbunuh, wajahnya tegang penuh ketakutan?


Suara tangis mengiringi pemakaman Thomas. Katryn memejamkan mata, menyampaikan doa untuk Thomas. Semoga sang papa tenang di alam sana dan bertemu Katlyna.


Selesai pemakaman, mereka kembali ke mansion. Katryn duduk di samping Allard dan keluarga Helbert juga berada di sini menemaninya. Katryn masih tak menyangka, padahal dua hari lalu Thomas berjanji akan membawanya berlibur bersama. Kenyataannya, itu adalah janji yang tidak akan pernah bisa tercapai.


Lamunan Katryn buyar, Allard menyerang Nyle brutal. Ia menghajar pria tua itu tanpa ampun, hingga Fillbert turun tangan melerai perkalahian itu. Katryn tidak punya tenaga untuk melarang. Dia hanya bisa diam dan menyaksikan itu semua. Air matanya menetes deras, dadanya begitu sesak menerima kenyataan yang ada di depan matanya.


"Grandpa, jika kau ingin mencelakaiku, celakai aku. Jangan mencelakai kelurgaku..." lirih Katryn serak.


"Maafkan aku, Katryna..." ucap Nyle di luar prediksi.


"Kau senang dengan ini, haa?!" Teriak Allard emosi.


“Berapa kali aku katakan untuk tidak menyentuh Katryn dan keluarganya. Tapi, kau melakukan itu pada mereka yang tidak bersalah!” Mata Allard memerah karena amarahnya.


Allard tak terkendali. Katryn menghampiri Allard, dia berdiri di depan Allard. Seketika Allard terdiam menatap Katryn lemah. Allard menggeleng, matanya memancarkan kesedihan. Sorot matanya memperlihatkan rasa bersalah dan keputusasaan.


Katryn berjalan mendekat dan menggelamkan wajahnya di dada bidang Allard. Ia menangis tersedu-sedu hingga segugukan.


...***...


"Makan dulu," ucap Allard. Tangannya tergantung di udara, menunggu Katryn menerima suapannya.


"Aku tidak lapar." Allard menghela nafas. Lalu, meletakan piring di nakas dan meninggalkan Katryn menuju balkon. Udara segar menerpa wajahnya, andai angin ini bisa mendinginkan pikiranku, pikirnya.


Allard semakin terobsesi melenyapkan Nyle. Akan tetapi, dia menahan karena alasannya adalah Katryn. Wanita itu sudah memperingatinya untuk diam tanpa membalas. Kedua tangan Allard menggenggam erat besi pembatas balkon. Nyle mengajarkan pada mereka untuk membalas semua kesalahan orang dengan lebih kejam lagi, dan itu yang saat ini ingin Allard lakukan.


"Allard!" Dia menoleh ke belakang, Katryn berdiri seraya menggendong Allanzel.


"Hm."


"Tolong suapi aku. Tanganku sibuk mengendong Allanzel," ucap Katryn. Allard masuk, disusul oleh Katryn. Wanita itu menunggu Allard menyuapinya.


"Kau marah karena aku menolak perkataanmu?" tanya Katryn.

__ADS_1


"Tidak!"


"Lalu, kenapa wajahmu seperti itu?"


"Tidak ada!"


"Kau marah padaku?" ulang Katryn. Allard memberi suapan pertama, Katryn menerimanya.


"Aku lebih marah pada diriku sendiri."


"Kenapa tuhan melahirkanku ke dunia ini, dengan keluarga pembunuh itu." Jika bisa memilih, Allard ingin lahir dari keluarga biasa.


“Semua sudah terjadi, Al. Jadikan ini sebagai pembelajaran kepada anak-anak kita kelak,” ucap Katryn.


"Aku berpikir, untuk menghancurkannya.” Allard berucap setelah beberapa lama keterdiaman mereka.


"Itu akan menimbulkan masalah baru," komentar Katryn tidak setuju.


"Katryna. Hukum aku," ucap Allard serius. Katryn tersenyum, dia tidak akan bisa melakukan itu.


"Itu bukan salahmu," ucap Katryn.


"Kau kembali merasa hancur dan sedih karenaku," jawab Allard.


"Aku kecewa pada Nyle. Bukan padamu! Ada rasa dimana, kenapa harus papa yang terseret dalam hal ini."


"Maaf.." lirih Allard.


"Sudahlah.. Aku tak ingin membahas itu!" ucap Katryn lelah.


...***...


Katryn bersantai memandang kolam teratai sambil menikmati secangkir teh bersama Allard. Semenjak meninggalnya Thomas, Katryn menjalani kehidupannya seperti biasa. Meski berat, Katryn berusaha untuk mengikhlaskannya. Berbeda dengan Allard, pria itu berubah total. Berubah dalam artian, menjadi lebih dingin dan emosi yang tidak kendali. Apapun yang menurutnya salah, akan terkena kemarahannya.


Di sisi lain, Allard pelan-pelan mengajari Marcell untuk mengelola perusahaan Vinson. Dan juga ia mengajari Marcel dalam bela diri. Terkadang, Marcel berkunjung hanya sekedar belajar menembak atau pun bercengkerama bersama Allard.


Di awal, Marcell tidak menerima Thomas meninggal. Ia tentu menyalahkan Allard yang menurutnya membawa sial di kehidupan mereka. Namun, perlahan Katryn memberi pengertian pada Marcell. Sedikit demi sedikit, Marcell menerima kenyataan yang menimpanya.


“Allard.” Allard hanya melihat sekilas, lalu fokus memeriksa email yang masuk di ipad-nya.


“Bagaimana pendapatmu, jika aku mengunjungi Lyiana?” Seketika Allard menoleh dan menatap Katryna lama.


“Bagus. Sudah sebaiknya kau mengunjungi kembaranmu.”


“Kapan kau punya waktu luang? Aku ingin kau menemaniku berkunjung ke makan Lyina,” ucap Katryn.

__ADS_1


“Setelah selesai urusanku dengan Mr. Fernand,” ucap Allard datar.


__ADS_2